Hadits Tentang Knowledge
1254 hadits shahih ditemukan
Shahih Muslim : 161
Sahih
حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، وَحَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ، قَالاَ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِشَهْرٍ " تَسْأَلُونِي عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَأُقْسِمُ بِاللَّهِ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ تَأْتِي عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ " .
Telah menceritakan kepadaku [Harun bin 'Abdullah] dan [Hajjaj bin Asy Sya'ir] keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami [Hajjaj bin Muhammad] dia berkata; Berkata [Ibnu Juraij]; Telah mengabarkan kepadaku [Abu Az Zubair] bahwasannya dia mendengar [Jabir bin 'Abdullah] berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda sebulan sebelum wafatnya: "Kalian menanyakan kepadaku tentang Hari Kiamat, ketahuilah bahwa ilmunya di sisi Allah. Saya bersumpah demi Allah, tidak akan ada manusia yang hidup pada hari ini di atas bumi, setelah seratus tahun yang akan datang." Dan telah menceritakannya kepada kami [Muhammad bin Hatim]; Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bakr]; Telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Juraij] melalui jalur ini. Namun dia tidak menyebutkan perkataan; 'sebulan sebelum wafatnya
Shahih Muslim : 162
Sahih
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ " تَحَاجَّ آدَمُ وَمُوسَى فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى فَقَالَ لَهُ مُوسَى أَنْتَ آدَمُ الَّذِي أَغْوَيْتَ النَّاسَ وَأَخْرَجْتَهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ فَقَالَ آدَمُ أَنْتَ الَّذِي أَعْطَاهُ اللَّهُ عِلْمَ كُلِّ شَىْءٍ وَاصْطَفَاهُ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَتِهِ قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قُدِّرَ عَلَىَّ قَبْلَ أَنْ أُخْلَقَ " .
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] dari [Malik bin Anas] dari apa yang telah dibacakan kepadanya dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Adam dan Musa pernah berdebat. Musa berkata kepada Adam; 'Kamu yang telah menyesatkan manusia dan mengeluarkan mereka dari Surga. Adam menjawab: 'Bukankah kamu yang telah diberikan oleh Allah ilmu tentang segala sesuatu dan dipilihnya dari yang lain dengan risalah-Nya? Musa menjawab: 'Ya.' Adam berkata; 'kalau begitu kenapa kamu mencelaku karena suatu perkara yang telah ditetapkan Allah Azza wa Jalla kepadaku sebelum aku diciptakan?
Shahih Muslim : 163
Sahih
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التُّسْتَرِيُّ، عَنْ عَبْدِ، اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ تَلاَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم { هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُو الأَلْبَابِ} قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ " .
Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Ibrahim At Tusturi] dari ['Abdullah bin Abu Mulaikah] dari [Al Qasim bin Muhammad] dari ['Aisyah] dia berkata; bahwa Nabi shallaallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca ayat berikut ini: "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah." Aisyah berkata; kemudian Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat, maka mereka itulah adalah yang disebutkan oleh Allah 'Waspadalah kalian terhadap mereka
Shahih Muslim : 164
Sahih
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ " .
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Ibnu Juraij] dari [Ibnu Abi Mulaikah] dari ['Aisyah] dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang paling Allah benci adalah orang yang keras kepala lagi suka bermusuhan
Shahih Muslim : 165
Sahih
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا أَبُو التَّيَّاحِ، حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ، مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا " .
Telah menceritakan kepada kami [Syaiban bin Farrukh] telah menceritakan kepada kami ['Abdul Warits] telah menceritakan kepada kami [Abu At Tayyah] telah menceritakan kepadaku [Anas bin Malik] dia berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda: "Diantara tanda-tanda terjadinya hari kiamat yaitu: diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, banyaknya orang yang meminum minuman keras, dan zina dilakukan dengan terang-terangan
Shahih Muslim : 166
Sahih
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ، بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، سَمِعْتُ قَتَادَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ، رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ يُحَدِّثُكُمْ أَحَدٌ بَعْدِي سَمِعَهُ مِنْهُ " إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَفْشُوَ الزِّنَا وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ وَتَبْقَى النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ " .
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Ibnu Basysyar] mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] aku mendengar [Qatadah] bercerita dari [Anas bin Malik] dia berkata; "Ketahuilah, saya akan memberitahukan kepada kalian suatu hadits yang pernah saya dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang tidak akan ada seorang pun yang menceritakan kembali kepada kalian sepeninggal saya kelak. Beliau telah bersabda: 'Di antara tanda-tanda kiamat adalah hilangnya ilmu (keIslaman), maraknya kebodohan, merajalelanya perzinaan, banyaknya orang yang meminum minuman keras, berkurangnya populasi kaum pria dan bertambahnya kaum wanita, hingga akhirnya seorang pria akan menjadi penanggungjawab bagi lima puluh orang wanita.' Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bisyr] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] telah menceritakan kepada kami ['Abdah] dan [Abu Usamah] semuanya dari [Sa'id bin Abu 'Urwah] dari [Qatadah] dari [Anas bin Malik] dari Nabi Shallalahu 'Alaihi Wasallam. Dan di dalam hadits Ibnu Bisyr dan 'Abdah disebutkan; yang tidak seorangpun menceritakannya kepada kalian sepeninggalku; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata -lalu dia menyebutkan Hadits yang serupa
Shahih Muslim : 167
Sahih
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، وَأَبِي، قَالاَ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، ح وَحَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الأَشَجُّ، - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ وَأَبِي مُوسَى فَقَالاَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " إِنَّ بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ أَيَّامًا يُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ " .
Abu Wa'il meriwayatkan: Aku sedang duduk bersama Abdullah dan Abu Musa, dan mereka meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Sebelum Hari Kiamat, akan ada masa di mana ilmu akan lenyap, dan kebodohan akan menggantikannya, serta akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran.
Shahih Muslim : 168
Sahih
أخبرني [حرملة بن يحيى]، وأخبرنا [ابن وهب]، وأخبرني [يونس] عن [ابن شهاب]، وأخبرني [حميد بن عبد الرحمن بن عوف] أن [أبا هريرة] قال: "قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عن علامات الرحيل: اقترب الزمان، وتراجعت العلوم، وكثرت المصائب، وانتشر البخل، وكثرت الحراج". فسأل الصحابة: يا رسول الله، ما الحراج؟ فأجاب رسول الله صلى الله عليه وسلم: "القتل". أخبرنا [عبد الله بن عبد الرحمن الدارمي]، وأخبرنا [أبو اليمان]، وأخبرنا [سيعيب] عن [الزهري]، وأخبرني [حميد بن عبد الرحمن الزهري] أن [أبا هريرة] قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: «إذا اقترب يوم القيامة، ضاع العلم». -ثم ذكر حديثًا مشابهًا.- أخبرنا أبو بكر بن أبي شيبة عن عبد الأعلى عن معمر عن الزهري عن سعيد عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم: «إذا اقترب يوم القيامة، ضاع العلم». -ثم ذكر حديثًا مشابهًا لهما.- أخبرنا يحيى بن أيوب وقتيبة وابن حجر، يقولون: أخبرنا [إسماعيل]، أي ابن جعفر، عن [الأعلى] عن [والده] عن [أبو هريرة]. وكذلك رُوي من طريق آخر، وأخبرنا [ابن نمير] و[أبو كريب] و[عمرو الناقد]، قالوا؛ أخبرنا [إسحاق بن سليمان] عن [حنزلة] عن [سليم] عن [أبو هريرة]. وكذلك رُوي من طريق آخر، وأخبرنا [محمد بن رافع]، أخبرنا [عبد الرزاق]، أخبرنا [معمر] عن [حمام بن منبه] عن [أبو هريرة]. وكذلك رُوي من طريق آخر، وأخبرني [أبو الطاهر]، أخبرنا [ابن وهب] عن [عمرو بن الحارث] عن [أبو يونس] عن [أبو هريرة] بكل شيء. قال عن النبي صلى الله عليه وسلم، وهو نفس حديث الزهري عن حميد عن أبي هريرة. إلا أنهم لم يذكروا كلمة البخل.
Telah menceritakan kepadaku [Harmalah bin Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahb] telah mengabarkan kepadaku [Yunus] dari [Ibnu Syihab] telah menceritakan kepadaku [Humaid bin 'Abdurrahman bin 'Auf] bahwasanya [Abu Hurairah] berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda tentang tanda-tandaKiamat; Jaman (Waktu) terasa dekat (ringkas), ilmu agama dicabut, banyaknya bencana/kekacauan, kekikiran merajalela dan banyak alharj.' Para sahabat bertanya; 'Ya Rasulullah, apakah itu Al Harj? ' Rasulullah menjawab: 'Pembunuhan.' Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin 'Abdurrahman Ad Darimi] telah mengabarkan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] telah menceritakan kepadaku [Humaid bin 'Abdurrahman Az Zuhri] bahwasanya [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bila hari kiamat sudah dekat, maka ilmu akan dicabut." -lalu dia menyebutkan Hadits yang serupa.- Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami ['Abdul A'la] dari [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dari [Sa'id] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam "Bila hari kiamat sudah dekat, maka ilmu akan berkurang." -lalu dia menyebutkan Hadits yang serupa dengan mereka berdua.- Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] dan [Qutaibah] dan [Ibnu Hujr], mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma'il] yaitu Ibnu Ja'far dari [Al 'Ala] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] dan [Abu Kuraib] dan ['Amr An Naqid] mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Sulaiman] dari [Hanzhalah] dari [Salim] dari [Abu Hurairah] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Rafi'] telah menceritakan kepada kami ['Abdurrazzaq] telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Hammam bin Munabbih] dari [Abu Hurairah] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepadaku [Abu Ath Thahir] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahb] dari ['Amr bin Al Harits] dari [Abu Yunus] dari [Abu Hurairah] semuanya. dia berkata dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang sama dengan Hadits Az Zuhri dari Humaid dari Abu Hurairah. Namun mereka tidak menyebutkan lafazh kekikiran
Shahih Muslim : 169
Sahih
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، حَدَّثَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ " . قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ " الْقَتْلُ " .
Abu Huraira meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: (Ketika) waktu mendekati Hari Kiamat, ilmu akan direnggut, kekacauan akan merajalela, kekikiran akan ditanamkan (di hati manusia) dan akan terjadi banyak pertumpahan darah. Mereka bertanya: Apakah al-harj itu? Kemudian beliau menjawab: Itu adalah pertumpahan darah.
Shahih Muslim : 170
Sahih
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، سَمِعْتُ عَبْدَ، اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ " إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا " .
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [bapaknya]; aku mendengar ['Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash] berkata; "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Allah Azza wa Jalla menghapuskan ilmu agama tidak dengan cara mencabutnya secara langsung dari hati umat manusia. Tetapi Allah akan menghapuskan ilmu agama dengan mewafatkan para ulama, hingga tidak ada seorang ulama pun yang akan tersisa. Kemudian mereka akan mengangkat para pemimpin yang bodoh. Apabila mereka, para pemimpin bodoh itu dimintai fatwa, maka mereka akan berfatwa tanpa berlandaskan ilmu hingga mereka tersesat dan menyesatkan.' Telah menceritakan kepada kami [Abu Ar Rabi' Al 'Atki] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] telah mengabarkan kepada kami ['Abbad bin 'Abbad] dan [Abu Mu'awiyah] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] dan [Zuhair bin Harb] mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Waki'] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Idris] dan [Abu Usamah] dan [Ibnu Numair] dan ['Abdah] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu 'Umar] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Hatim] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepadaku [Abu Bakr bin Nafi'] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami ['Umar bin 'Ali] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami ['Abd bin Humaid] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] telah mengabarkan kepada kami [Syu'bah bin Al Hajjaj] semuanya dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [bapaknya] dari ['Abdullah bin 'Amr] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang sama dengan Hadits Jarir. Namun di dalam Hadits [Umar bin Ali] ada tambahan kalimat; 'kemudian di akhir tahun aku bertemu dengan [Abdullah bin Amru], lalu aku tanyakan kepadanya tentang hadist di atas, dan dia menjawab dengan Hadits yang telah diceritakannya itu. Dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda. Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Humran] dari ['Abdul Hamid bin Ja'far] telah mengabarkan kepadaku [ayahku, Ja'far] dari ['Umar bin Al Hakim] dari ['Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang serupa dengan Hadits Hisyam bin Urwah
Shahih Muslim : 171
Sahih
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ الْهَمْدَانِيُّ - وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى - قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ " .
Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya At Tamimi] dan [Abu Bakr bin Abu Syaibah] dan [Muhammad bin Al 'Ala Al Hamdani] -dan lafadh ini milik Yahya- dia berkata; telah mengabarkan kepada kami, dan berkata yang lainnya, telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari [Al A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.' Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah bin Numair] telah menceritakan kepada kami [Bapakku] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakannya kepada kami [Nashr bin 'Ali Al Jahdhami] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] -telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair- dari [Abu Shalih]. Sebagaimana di dalam hadits Abu Usamah Telah menceritakan kepada kami Abu Shalih dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata dengan lantang, -sebagaimana Hadits Abu Mu'awiyah, hanya saja di dalam Hadits Abu Usamah tidak disebutkan; memberi kemudahan kepada orang yang kesusahan
Shahih Muslim : 172
Sahih
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، - وَاللَّفْظُ لاِبْنِ نُمَيْرٍ - قَالَ إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآَخَرَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، وَعَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ، قَالَ لاَ أَقُولُ لَكُمْ إِلاَّ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ كَانَ يَقُولُ " اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا " .
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] dan [Ishaq bin Ibrahim] dan [Muhammad bin 'Abdullah bin Numair] -dan lafadh ini milik Ibnu Numair- Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami, sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari [Ashim] dari [Abdullah bin Al Harits] dan dari [Abu Utsman An Nahdi] dari [Zaid bin Arqam] dia berkata; "Saya tidak akan mengatakan kepada kalian kecuali seperti apa yang pernah diucapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam doanya yang berbunyi: "ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL 'AJZI WAL KASALI, WAL JUBNI WAL BUKHLI WAL HAROMI, WA'ADZAABIL QOBRI, ALLOOHUMMA AATI NAFSII TAQWAAHAA, WAZAKKIHAA ANTA KHOIRU MAN ZAKKAAHAA, ANTA WALIYYUHAA WAMAULAAHAA, ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN 'ILMIN LAA YANFA'U WAMIN QOLBIN LAA YAKHSYA'U WAMIN NAFSIN LAA TASYBA'U WAMIN DA'WATIN LAA YUSTAJAABA LAHU' Ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, kepikunan, dan siksa kubur. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak khusyu', diri yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabulkan
Shahih Muslim : 173
Sahih
روى لي أبو الطاهر أحمد بن عمرو بن عبد الله بن عمرو بن سِش، وهو مولى مُعتَق من بني أمية: وأخبرني ابن وهب: وأخبرني يونس، ناقلاً عن ابن شهاب. قال ابن شهاب: ثم خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى غزوة تبوك، ولكنه أراد أن يقاتل الروم والعرب النصارى في الشام. قال شهاب: أخبرني عبد الرحمن بن عبد الله بن كعب بن مالك أنه لما أصيب كعب، أحد أبناء عبد الله بن كعب، بالعمى، أصبح خليفةً له. سمعت كعب بن مالك يروي تجربته عندما تأخر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك. قال كعب بن مالك: لم أغب عن أي غزوة شارك فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا غزوة تبوك! كما غبت عن غزوة بدر، لكنه لم يوبخ أحدًا غائبًا عنها. كان رسول الله صلى الله عليه وسلم والمسلمون قد انطلقوا لاستهداف قافلة قريش، وفي النهاية ساقهم الله وأعداءهم إلى مكان لم يتوقعوه. في الواقع، كنت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة العقبة حين عاهدناه على الإسلام. مع أن بدر أشهر بين الناس من العقبة، إلا أنني لا أتمنى لو وقعت غزوة بدر بدلًا من العقبة. قصتي منذ أن فارقت رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك... قال كعب: لم أكن أقوى ولا أغنى مما كنت عليه حين فارقته في تلك المعركة. والله، ما كنت قد جمعت قطّتين من الإبل معًا. وأخيرًا، في تلك المعركة، جمعت جملين معًا. خاض رسول الله صلى الله عليه وسلم هذه المعركة في حرّ شديد. وسار في رحلة طويلة في الصحراء. وواجه جيشًا كبيرًا من الأعداء، وشرح للمسلمين بوضوح ما عليهم فعله حتى يستعدوا لمعركتهم. وأخبرهم إلى أين ينوي أن يقودهم. وكان عدد المسلمين مع رسول الله صلى الله عليه وسلم كبيرًا جدًا حتى أن سجل الحرس لم يسعهم. (يشير كعب بهذا القول إلى سجل الجيش). وتابع روايته: كان هناك قليل ممن أرادوا الفرار (من الجيش) ولم يظنوا أن النبي صلى الله عليه وسلم لن يعلم بذلك إلا إذا جاء وحي من الله سبحانه وتعالى. وقد قام رسول الله صلى الله عليه وسلم بهذه الحملة حين كانت الثمار والظلال في في أوج ازدهاري. كنتُ أكثر المشاركين حماسًا في هذه الحملة. ثم استعد رسول الله صلى الله عليه وسلم والمسلمين معه. بدأتُ أسهر الليل لأستعد معهم. لكنني عدتُ دون أن أفعل شيئًا؛ وقلتُ في نفسي: أنا قادر على ذلك متى شئت. واستمر هذا الحال معي. استمر الناس في العمل. وسهر رسول الله صلى الله عليه وسلم مع المسلمين معه الليل لينطلقوا. لم أفعل شيئًا من ناحية الاستعداد. ثم سهرتُ الليل وعدتُ مرة أخرى دون أن أفعل شيئًا. واستمر هذا الحال. حتى المسلمون أسرعوا إلى وجهتهم، وتقدم المحاربون. شعرتُ برغبة ملحة في الانطلاق واللحاق بهم. ليتني فعلت. لكن لم يُكتب لي ذلك. بعد أن خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم وخرج إلى الناس، بدأتُ أشعر بالحزن لأني لم أتبعه. فقط من اتُهموا بالنفاق أو الضعفاء الذين عذرهم الله يمكن إعفاؤهم من ذلك. رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يذكرني (عليه السلام) حتى وصل إلى تبوك. وبينما كان جالسًا بين الناس في تبوك، سأل: "ماذا فعل كعب بن مالك؟" فقال رجل من بني سليمة: "يا رسول الله، إن ثوبه ونظرته إلى ياقته منعته". فقال له معاذ بن جبل: "يا لك من قول فظيع!" فقال: "والله يا رسول الله، ما نعلم عنه إلا خيرًا". فسكت رسول الله (صلى الله عليه وسلم). وبينما هو على هذه الحال، رأى رجلاً يرتدي ثيابًا بيضاء اختفى السراب معه. فقال رسول الله (صلى الله عليه وسلم): "لا بد أنك أبو حيسمة!" فرأوا أنه أبو حيسرات الأنصاري. هذا هو الرجل الذي إذا عيَّره المنافقون، تصدق بكيل من التمر. ب. وتابع مالك قصته: "لما سمعت أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) عائد من يا تبوك، غمرني الحزن. بدأت تراودني أفكار الكذب. كنت أفكر: "كيف لي أن أهرب من أقاربه غدًا؟" استشرت كل ذي علم في عائلتي في هذا الأمر. عندما أُخبرت باقتراب مجيء رسول الله صلى الله عليه وسلم، تلاشت مني الأفكار الخاطئة. أدركت أنني لن أستطيع التخلص منها بأي حال من الأحوال. فقررت أن أقول له الحقيقة. كان مجيء رسول الله صلى الله عليه وسلم في الصباح. عندما يعود من سفره، كان يبدأ عمله في المسجد. هناك يصلي ركعتين. ثم يجلس للقاء الناس. عندما يفعل ذلك، يأتي إليه من لم يشاركوا في المعركة ويعتذرون إليه ويحلفون له. وكان عددهم يزيد عن ثمانين. قبل رسول الله صلى الله عليه وسلم اعترافاتهم العلنية. بايعهم واستغفر لهم. كما أوكل خفاياهم إلى الله. أخيرًا، جئت إلى هنا. عندما سلمت... ابتسم له ابتسامة غاضبة، ثم قال: جئتُ ماشيًا وجلستُ في حضرته. فقال لي: هل تخلفتَ عن المعركة؟ وسألني: ألم تشترِ دابتك؟ فأجبته: يا رسول الله، والله، لو كنتُ جالسًا مع أحدٍ من أهل الدنيا غيرك، لأظننتُ أنني نجوتُ من غضب الله بعذر. لقد أُعطيتُ الفصاحة، ولكن والله، أعلم أنني لو كذبتُ عليك اليوم كذبةً تُرضيك، لَسأواجه غضب الله قريبًا. ولو قلتُ لك الحق، لَأغضبتَ مني. إني أطلب أجر الله على كلامي. والله، ليس لي عذر. والله، ما كنتُ يومًا أقوى ولا أغنى مما كنتُ عليه حين تخلفتُ عنك. فلما جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: صدقتَ، فقم حتى يقضي الله بك! فقمتُ. فجاءت مجموعة من قام رجال من بني سليمة وتبعوني، فقالوا لي: والله ما نعلم أنك ارتكبت ذنبًا قبل هذا. قالوا: بل لم تستطع أن تقدم لرسول الله صلى الله عليه وسلم نفس العذر الذي قدمه الذين لم يشاركوا في المعركة. كان يكفي رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يستغفر لك. فأجبت: والله لقد وبخوني حتى كدت أرجع إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وأكذب عليه. ثم سألتهم: هل أصاب أحدٌ مثلي؟ قالوا: نعم! أصاب رجلان مثلك. قالا ما قلت، وقيل لهما ما قيل لك. سألت: من هما؟ قالوا: مَرّة بن ربيعة العامري وهلال بن أمية الواقفي. وأخبراني عن رجلين صالحين. رجالٌ شاركوا في غزوة بدر وكانوا جديرين بالاتباع. بعد أن أخبروني بذلك، انصرفت. نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم المسلمين عن التحدث إلينا نحن الثلاثة الذين انفصلنا عنه. ولهذا السبب، تجنبنا الناس. تغيرت نظرتهم إلينا. حتى المكان الذي عرفته تغير في عيني. لم يعد هو المكان الذي عرفته. مكثنا على هذه الحال خمسين ليلة. جلس رفيقيّ في بيتيهما، مطأطئي الرؤوس يبكان. أما أنا: فكنت أصغر الناس وأكثرهم ثباتًا. كنت أخرج من بيتي، وأصلي الصلاة، وأتجول في الأسواق. لكن لم يكن أحد يكلمني. بعد الصلاة، وأنا جالس في مكاني، كنت أقترب من رسول الله صلى الله عليه وسلم وأسلم عليه؛ وأتساءل في نفسي: "هل حركت شفتي لأرد عليه السلام أم لا؟" ثم أصلي قربه، أنظر إليه سرًا. إذا التفت إلى صلاتي، نظر إليّ؛ وإذا التفت إليه، أعرض عني مني. ولما استمر هذا الاضطهاد من المسلمين مدة طويلة، تسلقتُ تدريجيًا سور حديقة أبي قتادة. أبو قتادة هو عمي وأحب الناس إليّ. سلمتُ عليه، والله لم يردّ عليّ السلام. فقلتُ له: "يا أبا قتادة! بالله عليك، أخبرني، هل تعلم أنني أحب الله ورسوله؟" فصمت أبو قتادة. فسألته ثانيةً، بالله عليك، أن يخبرني، فصمت ثانيةً. فسألته ثانيةً (هذه المرة): "الله ورسوله يعلمان!" عندئذٍ امتلأت عيناي بالدموع، وعدتُ أدراجي. وتسلقتُ السور. وبعد ذلك، بينما كنتُ أسير في سوق المدينة، التقيتُ بفلاح من فلاحي دمشق الفرس، كان قد أتى إلى المدينة ليبيع الطعام. وكان يسأل: "من يدلني على كعب بن مالك؟" فبدأ الناس يشيرون إليّ ويدلونه عليّ. وأخيرًا، جاء إليّ وأعطاني رسالة من ملك غسان. كنتُ كاتبًا. قرأت الرسالة، فرأيت فيها ما يلي: "ثم (عليه أن يعلم) بلغنا أن زوجتك قد ظلمتك. لم يخلقك الله في أرض ذل، ولا في مكان تُفقد فيه حقوقك. انضم إلينا فورًا لنعينك." فلما قرأت هذا قلت: "هذا أيضًا نوع من المصائب"، فذهبت إلى الفرن وأحرقت الرسالة هناك. وأخيرًا، بعد انقضاء أربعين ليلة من الخمسين ليلة، وانقطاع الوحي، جاءني رسول رسول الله (صلى الله عليه وسلم) فجأة، فقال: "يأمرك رسول الله (صلى الله عليه وسلم) بالابتعاد عن زوجتك." فقلت: "أطلقها، أم ماذا أفعل؟" فقال: "لا! ابتعد عنها ولا تقترب منها أبدًا!" وكان قد أرسل رسائل مماثلة إلى اثنين من أصحابي. فقلت لزوجتي: "ارجعي إلى أهلك واسكني معهم حتى يأمر الله في هذا الأمر!" ثم... أتت زوجة أمية إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقالت له: يا رسول الله، إن هلال بن أمية شيخ طاعن في السن، ليس له خادم، أتمانع أن أخدمه؟ فقال صلى الله عليه وسلم: ولكن لا ينبغي له أن يقترب منكِ أبدًا! فقالت المرأة: والله، ما لديه وقت لفعل شيء! والله، ما زال يبكي منذ أن أصابه هذا الأمر. فقال لي أحد أهلي: ما أترك رسول الله صلى الله عليه وسلم يستأذن في زوجتك؟ انظر، لقد أذن لزوجة هلال بن أمية أن تخدمه. فقلت: لا أستطيع أن أسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عنها، فأنا شاب. فلما سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عنه، قلت: ماذا سيقول؟ من يدري؟ وبقيت على هذه الحال عشر ليالٍ. وهكذا، انقضت خمسون ليلة منذ أن مُنعنا من الكلام. ثم في صباح الليلة الخمسين، صليت صلاة الصبح في أحد بيوتنا. وبينما كنت جالسًا في الحال الذي قدره الله تعالى لنا، انتابني حزن شديد. شعرتُ بضيق المكان رغم اتساعه. سمعتُ صوتًا ينادي من أعلى جبل سلع. كان يصيح بصوت عالٍ: "كعب بن مالك، بشرى!" فسجدتُ على الفور. وعرفتُ أن الشدوماني قد أتى. ثم بعد أن صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة الصبح، أخبر الناس أن الله قد قبل توبتنا. عندئذٍ، ذهب الناس ليبشرونا. ذهب اثنان من أصحابي ليبشرونا. حثّ رجل فرسه ليأتي إليّ. جاء رجل من قبيلة أسلم يركض نحوي. وصعد الجبل. كان صوته أسرع من صوت الفرس. عندما جاءني من سمعتُ صوته بالبشرى، خلعتُ على الفور اثنين من أعطيته ثيابي ابتهاجًا ببشارته. والله، لم يكن لي شيء آخر في ذلك اليوم. فاستعرت ثوبين وارتديتهما. ثم انطلقت في الطريق، راغبًا في رؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم. فخرج الناس جماعاتٍ لاستقبالي، يهنئونني على توبتي قائلين: "بارك الله في قبول توبتك!". وأخيرًا، دخلت المسجد، فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم جالسًا فيه، محاطًا بالناس. ثم قام طلحة بن عبيد الله، فأسرع إليّ، فصافحني وهنأني. والله، لم يقم من المهاجرين سواه، ولم ينسَ كعب ما فعله طلحة. قال: إذا سلمت على رسول الله صلى الله عليه وسلم، كان وجهه يشرق فرحًا، ويقول: "بشارة لك، هذا أفضل يوم مضى منذ أن ولدتك!". فقلت: "هذا...". قال: «هذا منك أم من الله يا رسول الله؟» قال: «بل هو من الله!» وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا فرح أشرق وجهه كأنه قطعة من القمر، وكنا نعلم ذلك. فلما جلست قلت: يا رسول الله، من توبتي أن أتخلى عن بعض مالي صدقةً لله ورسوله صلى الله عليه وسلم. فقال: «احتفظ ببعضه، فهذا خير لك.» فقلت: «إني أحتفظ بنصيبي من خيبر»، وأضفت: يا رسول الله، إن الله قد أنقذني بالحق. ومن نذوري ألا أقول الحق ما حييت. ومنذ أن أخبرت رسول الله صلى الله عليه وسلم بذلك، لا أعرف مسلماً أنعم الله عليه بنعمة أعظم من نعمة قول الحق. والله، منذ أن أخبرت رسول الله صلى الله عليه وسلم بذلك (عليه السلام)، لم أكذب قط عن قصد. أدعو الله أن يحفظني ما تبقى من حياتي. قال كعب: عندئذٍ أنزل الله تعالى الآيتين ١١٧-١١٨ من سورة التوبة: "إن الله قد قبل توبة الرسول والمهاجرين والأنصار الذين تبعوه في شدائد قوم كادوا يضلون إن الله قد قبل توبتهم وكان بهم لطف ورحمة. وقبل توبة الثلاثة الذين تخلفوا وشعروا بضيق أنفسهم على الرغم من اتساع دنياهم." ووصل الأمر إلى الآية: "والذين آمنوا فاتقوا الله وكونوا مع الصادقين!" ثم: "والله ما أنعم عليّ بعد أن هداني إلى الإسلام بنعمة أعظم من الصدق الذي قلته لرسول الله صلى الله عليه وسلم." هلكوا كما هلك الكاذبون لكذبهم عليه! بل إن الله لما أنزل الوحي في الكاذبين، قال أسوأ ما يمكن أن يُقال لأحد. يقول الله تعالى: «إذا رجعتم إليهم أقسموا بالله ألا تقولوا لهم شيئًا، فأعرضوا عنهم إنهم نجسون ومأواهم جهنم بما كسبوا، يقسمون لك لعلكم ترضون عنهم، فإن رضيتم عنهم فإن الله لا يرضى عن القوم الفاسقين». (سورة التوبة، الآيتان 95-96). قال: «كنا ثلاثة قوم تخلفوا عن أمر الذين بايعهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقبل أيمانهم وبايعهم واستغفر لهم، وأرجأ رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرنا حتى قضى الله، ولذلك قال الله تعالى: «وتوبة الثلاثة الذين تُركوا...» إن تركنا كما ذكر الله ليس يعني تركنا من المعركة، وإنما إن النبي صلى الله عليه وسلم أخّرنا وترك شؤوننا حتى بعد الذين أقسموا عليه واعتذروا، فقبل أعذارهم.
(Abu't-Tahir Ahmed b. Amr b. Abdillah b. Amr b. Sech, seorang budak yang dibebaskan dari Bani Umayyah, meriwayatkan kepadaku:) Ibn Wahb memberitahuku:) Yunus memberitahuku, mengutip Ibn Shihab. Ibn Shihab berkata: Kemudian Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) pergi ke perang Tabuk. Namun, beliau ingin melawan bangsa Romawi dan Arab Kristen di Suriah. Shihab berkata: Abdurrahman b. Abdillah b. Ka'b b. Malik memberitahuku bahwa ketika Ka'b, salah satu putra Abdullah b. Ka'b, menjadi buta, ia menjadi wakilnya. (Aku mendengar Ka'b bin Malik menceritakan pengalamannya ketika ia tertinggal di belakang Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) dalam Perang Tabuk. Ka'b bin Malik berkata: Aku tidak pernah melewatkan satu pun pertempuran yang diikuti Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya), kecuali Perang Tabuk! Aku juga absen dari Perang Badar. Tetapi beliau tidak pernah menegur siapa pun yang absen dari pertempuran itu. Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) dan kaum Muslimin hanya bertujuan untuk menargetkan kafilah Quraisy. Pada akhirnya, Allah membawa mereka dan musuh-musuh mereka ke tempat yang tak terduga. Sesungguhnya, aku bersama Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) pada malam Aqaba ketika kami membuat perjanjian dengannya tentang Islam. Meskipun Badar lebih terkenal di kalangan orang-orang daripada Aqaba, aku tidak berharap Perang Badar terjadi sebagai pengganti Aqaba. Kisahku sejak aku berpisah dari Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya). (Semoga Allah memberkati beliau) selama Perang Tabuk adalah ini: Aku tidak pernah sekuat atau sekaya ini daripada ketika aku berpisah dengannya selama pertempuran itu. Demi Allah, aku belum pernah mengumpulkan dua kawanan unta bersama-sama sebelumnya. Akhirnya, selama pertempuran itu, aku mengumpulkan dua unta bersama-sama. Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) memimpin pertempuran ini dalam cuaca yang sangat panas. Beliau melakukan perjalanan panjang ke padang pasir. Beliau menghadapi pasukan musuh yang besar dan menjelaskan dengan jelas kepada kaum Muslimin apa yang harus mereka lakukan agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk pertempuran mereka. Beliau memberi tahu mereka ke mana beliau bermaksud memimpin mereka. Jumlah kaum Muslimin bersama Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) sangat banyak sehingga bahkan buku penjaga pun tidak dapat mencatat jumlah mereka. (Dia merujuk pada daftar tentara dengan pernyataan ini.) Ka'b melanjutkan kisahnya: Ada beberapa orang yang ingin membelot (dari tentara) dan tidak berpikir bahwa Nabi (shalawat dan salam kepadanya) tidak akan mengetahuinya kecuali ada wahyu dari Allah (Maha Mulia dan Maha Tinggi). Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) (Semoga Allah memberkati beliau) melakukan kampanye ini ketika buah-buahan dan naungan sedang mekar penuh. Akulah yang paling bersemangat berpartisipasi dalam kampanye ini. Kemudian Rasulullah (shalawat dan salam Allah memberkati beliau) dan kaum Muslimin bersamanya bersiap-siap. Aku mulai begadang sepanjang malam untuk bersiap bersama mereka. Tetapi aku kembali tanpa melakukan apa pun; aku berkata pada diriku sendiri: Aku mampu melakukan ini kapan pun aku mau. Hal ini terus berlanjut padaku. Orang-orang terus bekerja. Dan Rasulullah (shalawat dan salam Allah memberkati beliau), bersama kaum Muslimin bersamanya, begadang sepanjang malam untuk berangkat. Aku tidak melakukan apa pun dalam hal persiapan. Kemudian aku begadang sepanjang malam dan kembali lagi tanpa melakukan apa pun. Keadaan ini terus berlanjut. Bahkan kaum Muslimin bergegas ke tujuan mereka, dan para pejuang maju. Aku merasa ingin berangkat dan menyusul mereka. Aku berharap aku telah melakukannya. Tetapi ini bukanlah takdirku. Setelah Rasulullah (shalawat dan salam Allah memberkati beliau) pergi dan keluar di antara orang-orang, aku mulai merasa sedih karena aku tidak mengikutinya. Hanya mereka yang dituduh munafik atau mereka yang lemah Orang-orang yang menurut izin Allah dapat dikecualikan dari hal ini. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam tidak menyebut namaku sampai beliau sampai di Tabuk. Ketika duduk di antara jamaah di Tabuk, beliau bertanya, "Apa yang dilakukan Ka'b bin Malik?" Seorang pria dari suku Bani Salima berkata, "Wahai Rasulullah! Pakaiannya dan cara pandangnya pada kerah pakaian itu menghalanginya." Mendengar itu, Mu'adz bin Jabal berkata kepadanya, "Sungguh mengerikan ucapanmu!" "Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui apa pun selain kebaikan tentangnya," katanya. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam terdiam. Ketika beliau dalam keadaan itu, beliau melihat seorang pria berpakaian putih yang bersamanya fatamorgana itu menghilang. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam berkata, "Engkau pastilah Abu Haysema!" Dan mereka melihat bahwa itu adalah Abu Haysera'at al-Ansari. Dialah orang yang, ketika orang-orang munafik mengkritiknya, memberikan segenggam kurma kering sebagai sedekah. b. Malik Ia melanjutkan kisahnya: "Ketika aku mendengar bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam akan kembali dari Tabuk, aku dipenuhi kesedihan. Aku mulai berpikir untuk berbohong. Aku berpikir, 'Bagaimana aku bisa lolos dari kerabatnya besok?' Aku meminta bantuan dari setiap orang yang berilmu di keluargaku mengenai masalah ini." Ketika aku diberitahu bahwa kedatangan Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam sudah dekat, pikiran-pikiran palsu itu meninggalkanku. Aku mengerti bahwa aku tidak akan pernah bisa lolos dari mereka dengan cara apa pun. Dan aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Kedatangan Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam adalah di pagi hari. Ketika beliau kembali dari suatu perjalanan, beliau pertama-tama akan memulai pekerjaannya di masjid. Di sana beliau shalat dua rakaat. Kemudian beliau duduk untuk bertemu dengan orang-orang. Ketika beliau melakukan ini, orang-orang yang tidak ikut berperang datang dan mulai meminta maaf kepadanya dan bersumpah setia kepadanya. Ada lebih dari delapan puluh orang. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam menerima pernyataan terbuka mereka. Beliau berbaiat kepada mereka. dan memohon ampunan untuk mereka. Beliau juga menyerahkan aspek-aspek tersembunyi mereka kepada Allah. Akhirnya, aku datang ke sini. Ketika aku memberi salam kepadanya, beliau tersenyum dengan senyum orang yang marah. Kemudian beliau berkata: Aku datang berjalan dan duduk di hadapannya. Beliau berkata kepadaku: Kau tertinggal dari medan perang? "Bukankah kau sudah membeli hewanmu?" tanyanya. Aku menjawab, "Wahai Rasulullah! Demi Allah, jika aku duduk dengan orang lain selain engkau dari kalangan manusia di dunia, aku pikir aku akan lolos dari murka Allah dengan alasan. Aku telah diberi kemampuan berbicara yang baik. Tetapi demi Allah, aku tahu bahwa jika aku berbohong kepadamu hari ini yang akan menyenangkanmu, aku akan segera menghadapi murka Allah. Jika aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, engkau akan tersinggung olehku. Aku mencari pahala Allah atas perkataanku. Demi Allah, aku tidak punya alasan. Demi Allah, tidak pernah ada waktu di mana aku lebih kuat atau lebih kaya daripada ketika aku tertinggal di belakangmu." Ketika Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) tiba, beliau berkata, "Sesungguhnya engkau telah berkata benar." Sekarang, bangunlah (pergilah) sampai Allah memberikan keputusan-Nya tentangmu!" Maka aku pun bangun. Sekelompok orang dari Bani Salima juga bangun dan mengikutiku, dan mereka berkata kepadaku, "Demi Allah! Kami tidak mengetahui dosa apa pun yang telah kau lakukan sebelumnya." Mereka berkata, "Memang, kau tidak mampu memberikan alasan yang sama kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) seperti yang diberikan oleh orang-orang yang tidak ikut berperang. Seharusnya Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) memohon ampunan atas dosamu." Dia menjawab, "Demi Allah! Mereka mencelaku begitu keras sehingga aku hampir kembali kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) dan berbohong kepadanya. Kemudian aku bertanya kepada mereka, 'Apakah ada orang lain yang mengalami nasib yang sama sepertiku?' Mereka berkata, 'Ya! Dua orang mengalami nasib yang sama sepertimu. Mereka mengatakan hal yang sama seperti yang kau katakan, dan mereka diberitahu hal yang sama sepertimu.' Aku bertanya, 'Siapakah mereka?' Mereka berkata, 'Murarah ibn Rabi'ah al-Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.' Dan mereka menceritakan kepadaku tentang dua orang saleh yang telah ikut serta dalam Perang Badar dan layak untuk diikuti. Setelah mereka menceritakan hal ini kepadaku, aku pergi." Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam melarang kaum Muslimin berbicara kepada kami bertiga yang telah berpisah darinya. Karena itu, orang-orang menjauhi kami. Sikap mereka terhadap kami berubah. Bahkan tempat yang kukenal pun berubah di mataku. Itu bukan lagi tempat yang kukenal. Kami tetap dalam keadaan ini selama lima puluh malam. Dua sahabatku duduk di rumah mereka, menundukkan kepala dan menangis. Adapun aku: aku adalah yang termuda dan paling teguh di antara kami. Aku akan meninggalkan rumahku, datang untuk shalat, dan berjalan di pasar. Tetapi tidak ada seorang pun yang berbicara kepadaku. Setelah shalat, sambil duduk di tempatku, aku akan mendekati Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam dan memberi salam kepadanya; dan aku akan berpikir dalam hati, "Apakah aku menggerakkan bibirku untuk membalas salam atau tidak?" Kemudian aku akan shalat di dekatnya, diam-diam memandanginya. Ketika aku Ketika aku menoleh ke arah salatku, dia akan menatapku; ketika aku menatapnya, dia akan memalingkan muka dariku. Ketika penganiayaan oleh kaum Muslim ini berlanjut untuk waktu yang lama, aku perlahan-lahan memanjat tembok taman Abu Qatada. Abu Qatada adalah pamanku dan orang yang paling kusayangi. Aku memberi salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak membalas salamku. Aku berkata kepadanya: "Wahai Abu Qatada! Demi Allah, katakan padaku, apakah engkau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Abu Qatada tetap diam. Aku bertanya lagi kepadanya, demi Allah, untuk memberitahuku. Dia tetap diam lagi. Aku bertanya lagi (kali ini): "Allah dan Rasul-Nya tahu!" Mendengar itu, mataku berlinang air mata, dan aku berbalik. Aku memanjat tembok. Kemudian, ketika berjalan di pasar Madinah, aku bertemu dengan seorang petani Persia dari Damaskus yang datang ke Madinah untuk berjualan makanan. Dia bertanya, "Siapa yang akan menunjukkan kepadaku Ka'b bin Malik?" Orang-orang mulai menunjukku dan mengarahkanku kepadanya. Akhirnya, dia datang kepadaku dan Ia memberiku surat dari Raja Ghassan. Aku adalah seorang juru tulis. Aku membaca surat itu. Aku melihat bahwa isinya sebagai berikut: "Kemudian (perlu diketahui) kami mendengar bahwa istrimu telah berbuat zalim kepadamu. Allah tidak menciptakanmu di negeri yang hina, atau di tempat di mana hak-hakmu akan hilang. Segera bergabunglah dengan kami agar kami dapat membantumu." Ketika aku membaca ini, aku berkata, "Ini juga semacam musibah," dan aku pergi ke tungku dan membakar surat itu di sana. Akhirnya, setelah empat puluh dari lima puluh malam berlalu dan wahyu telah berhenti, utusan Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) tiba-tiba datang kepadaku. Dan beliau berkata, "Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) memerintahkanmu untuk menjauhkan diri dari istrimu." Aku berkata, "Haruskah aku menceraikannya, atau apa yang harus kulakukan?" Beliau berkata, "Tidak! Jauhkan saja dirimu darinya dan jangan pernah mendekatinya lagi!" Beliau telah mengirimkan pesan serupa kepada dua sahabatku. Kemudian aku berkata kepada istriku, "Kembalilah kepada keluargamu dan tinggallah di sini." bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan tentang masalah ini!" Kemudian, istri Hilal bin Umayya datang kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) dan berkata kepadanya: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayya adalah seorang lelaki tua yang lemah; dia tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau tidak menyetujui jika aku melayaninya?" Beliau (shalawat dan salam kepadanya) berkata: "Tetapi dia tidak boleh mendekatimu!" Wanita itu berkata: "Demi Allah, dia tidak punya waktu untuk melakukan apa pun! Dan demi Allah, dia terus menangis sejak masalah ini terjadi padanya." Kemudian salah seorang anggota keluargaku berkata kepadaku: "Mengapa kamu tidak meminta izin kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) mengenai istrimu? (Lihat) istri Hilal bin Umayya, beliau mengizinkannya untuk melayani Hilal." Aku berkata: "Aku tidak dapat meminta izin kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) tentang dia. Aku masih muda." Ketika aku bertanya kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) Ketika saya meminta izin kepadanya (untuk berbicara dengannya), saya berkata, "Apa yang akan dia katakan? Siapa yang tahu?" Dan saya tetap dalam keadaan ini selama sepuluh malam. Dengan cara ini, lima puluh malam telah genap sejak kami dilarang berbicara. Kemudian, pada pagi hari kelima puluh, saya melaksanakan salat subuh di salah satu rumah kami. Dan ketika saya duduk dalam keadaan yang telah Allah SWT tetapkan bagi kami, saya diliputi kesedihan. Tempat itu, meskipun luas, terasa sempit bagi saya. Saya mendengar suara seseorang berteriak dari puncak Gunung Sel'. Dia berteriak dengan suara keras: "Ka'b bin Malik, kabar gembira!" Saya segera bersujud. Dan saya mengerti bahwa Shadumani telah datang. Kemudian, setelah Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam melaksanakan salat subuh, beliau memberitahu orang-orang bahwa Allah telah menerima taubat kami. Setelah itu, orang-orang pergi untuk memberi tahu kami kabar gembira tersebut. Dua sahabat saya pergi untuk menyampaikan kabar gembira itu. Seorang pria memacu kudanya untuk datang kepada saya. Seorang pria dari suku Aslam berlari ke arah saya. Dan dia naik ke atas gunung. Suaranya lebih cepat dari kuda. Ketika orang yang suaranya kudengar datang kepadaku dengan kabar gembira, aku segera melepas dua pakaianku dan memberikannya kepadanya untuk merayakan kabar gembiranya. Demi Allah, aku tidak memiliki apa pun selain itu pada hari itu. Dan aku meminjam dua pakaian dan memakainya. Aku segera berangkat, ingin melihat Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya). Orang-orang keluar berkelompok untuk menemuiku, memberi selamat kepadaku atas taubatku dan berkata, "Semoga taubatmu diterima oleh Allah!" Akhirnya, aku memasuki masjid. Dan aku melihat Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) duduk di masjid, dikelilingi oleh orang-orang. Kemudian Talha bin Ubaydillah bangkit dan segera datang kepadaku. Dia menjabat tanganku dan memberi selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang bangkit kecuali dia, dan Ka'b tidak pernah melupakan apa yang telah dilakukan Talha. Dia berkata: Ketika aku memberi salam kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya), wajahnya akan berseri-seri dengan gembira dan dia Beliau akan berkata: "Kabar gembira bagimu, ini adalah hari terbaik yang telah berlalu sejak aku melahirkanmu!" Aku bertanya: "Apakah ini darimu atau dari Allah, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Tentu saja, ini dari Allah!" Ketika Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) bergembira, wajahnya berseri-seri, seolah-olah wajahnya seperti sepotong bulan. Kami mengetahui hal ini. Ketika aku duduk, aku berkata: "Wahai Rasulullah! Salah satu perbuatan taubatku adalah memberikan sebagian hartaku sebagai sedekah untuk Allah dan Rasul-Nya (shalawat dan salam kepadanya)." Beliau (shalawat dan salam kepadanya) berkata: "Simpanlah sebagiannya! Ini lebih baik untukmu." Aku berkata: "Aku menyimpan bagianku dari Khaybar," dan aku menambahkan: "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah menyelamatkanku melalui kebaikan." Salah satu nazarku adalah tidak akan pernah lagi mengatakan kebenaran selama aku hidup. Sejak aku menceritakan ini kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya), aku tidak tahu Tidak ada Muslim lain yang diberi karunia lebih besar daripada Allah dalam memberikan kemampuan untuk berbicara jujur. Demi Allah, sejak saya menceritakan hal ini kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya), saya tidak pernah dengan sengaja berbohong. Saya berdoa semoga Allah melindungi saya selama sisa hidup saya. Ka'b berkata: Kemudian Allah (Maha Mulia dan Maha Tinggi) menurunkan ayat 117-118 Surah At-Tawbah: "Sesungguhnya Allah menerima taubat Rasulullah dan kaum Muhajirin dan Ansar yang mengikutinya di masa-masa sulit—sekelompok yang hampir tersesat. Sesungguhnya Dia menerima taubat mereka, karena Allah Maha Baik dan Maha Penyayang kepada mereka. Dan Dia juga menerima taubat tiga orang yang tertinggal, dan yang merasa terkekang oleh diri mereka sendiri, meskipun dunia mereka sangat luas." Ayat itu berlanjut hingga: "Orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan bergaullah dengan orang-orang yang berbicara jujur!" Dan kemudian, "Demi Allah, setelah Dia membimbing saya kepada Islam, Dia tidak Tidak ada nikmat yang lebih besar yang diberikan kepadaku selain kebenaran yang kuucapkan kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam. Masalahku akan dihancurkan seperti para pendusta yang berbohong kepadanya! Sesungguhnya, ketika Allah menurunkan wahyu tentang para pendusta, Dia mengatakan hal terburuk yang dapat dikatakan kepada siapa pun. Allah berfirman: 'Ketika kamu kembali kepada mereka, mereka akan bersumpah demi Allah bahwa kamu tidak akan mengatakan apa pun kepada mereka. Maka berpalinglah dari mereka! Karena mereka najis, dan tempat tinggal mereka adalah neraka karena apa yang mereka peroleh. Mereka bersumpah kepadamu agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang jahat.'" (Surah At-Tawbah, ayat 95-96) Dia berkata: "Kami bertiga adalah orang-orang yang tertinggal dari urusan orang-orang yang telah disumpah oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, dan beliau menerima sumpah mereka dan berbaiat untuk mereka, dan beliau memohonkan ampunan untuk mereka. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam menunda urusan kita hingga Allah memberikan keputusan-Nya. Karena alasan inilah Allah (Maha Mulia dan Maha Tinggi) berfirman: 'Dan taubat tiga orang yang tertinggal...' Tertinggalnya kita sebagaimana disebutkan oleh Allah bukanlah karena kita tertinggal dari pertempuran. Hanya saja Nabi (shalawat dan salam kepadanya) menunda urusan kita hingga setelah orang-orang yang telah bersumpah dan memberikan alasan kepadanya, dan beliau menerima alasan mereka."
Shahih Muslim : 174
Sahih
حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ، الأَيْلِيُّ ح وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، وَالسِّيَاقُ، حَدِيثُ مَعْمَرٍ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدٍ وَابْنِ رَافِعٍ قَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ جَمِيعًا عَنِ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ وَعَلْقَمَةُ بْنِ وَقَّاصٍ وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حِينَ قَالَ لَهَا أَهْلُ الإِفْكِ مَا قَالُوا فَبَرَّأَهَا اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكُلُّهُمْ حَدَّثَنِي طَائِفَةً مِنْ حَدِيثِهَا وَبَعْضُهُمْ كَانَ أَوْعَى لِحَدِيثِهَا مِنْ بَعْضٍ وَأَثْبَتَ اقْتِصَاصًا وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمُ الْحَدِيثَ الَّذِي حَدَّثَنِي وَبَعْضُ حَدِيثِهِمْ يُصَدِّقُ بَعْضًا ذَكَرُوا أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَعَهُ - قَالَتْ عَائِشَةُ - فَأَقْرَعَ بَيْنَنَا فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا فَخَرَجَ فِيهَا سَهْمِي فَخَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَذَلِكَ بَعْدَ مَا أُنْزِلَ الْحِجَابُ فَأَنَا أُحْمَلُ فِي هَوْدَجِي وَأُنْزَلُ فِيهِ مَسِيرَنَا حَتَّى إِذَا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ غَزْوِهِ وَقَفَلَ وَدَنَوْنَا مِنَ الْمَدِينَةِ آذَنَ لَيْلَةً بِالرَّحِيلِ فَقُمْتُ حِينَ آذَنُوا بِالرَّحِيلِ فَمَشَيْتُ حَتَّى جَاوَزْتُ الْجَيْشَ فَلَمَّا قَضَيْتُ مِنْ شَأْنِي أَقْبَلْتُ إِلَى الرَّحْلِ فَلَمَسْتُ صَدْرِي فَإِذَا عِقْدِي مِنْ جَزْعِ ظَفَارِ قَدِ انْقَطَعَ فَرَجَعْتُ فَالْتَمَسْتُ عِقْدِي فَحَبَسَنِي ابْتِغَاؤُهُ وَأَقْبَلَ الرَّهْطُ الَّذِينَ كَانُوا يَرْحَلُونَ لِي فَحَمَلُوا هَوْدَجِي فَرَحَلُوهُ عَلَى بَعِيرِيَ الَّذِي كُنْتُ أَرْكَبُ وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنِّي فِيهِ - قَالَتْ - وَكَانَتِ النِّسَاءُ إِذْ ذَاكَ خِفَافًا لَمْ يُهَبَّلْنَ وَلَمْ يَغْشَهُنَّ اللَّحْمُ إِنَّمَا يَأْكُلْنَ الْعُلْقَةَ مِنَ الطَّعَامِ فَلَمْ يَسْتَنْكِرِ الْقَوْمُ ثِقَلَ الْهَوْدَجِ حِينَ رَحَلُوهُ وَرَفَعُوهُ وَكُنْتُ جَارِيَةً حَدِيثَةَ السِّنِّ فَبَعَثُوا الْجَمَلَ وَسَارُوا وَوَجَدْتُ عِقْدِي بَعْدَ مَا اسْتَمَرَّ الْجَيْشُ فَجِئْتُ مَنَازِلَهُمْ وَلَيْسَ بِهَا دَاعٍ وَلاَ مُجِيبٌ فَتَيَمَّمْتُ مَنْزِلِي الَّذِي كُنْتُ فِيهِ وَظَنَنْتُ أَنَّ الْقَوْمَ سَيَفْقِدُونِي فَيَرْجِعُونَ إِلَىَّ فَبَيْنَا أَنَا جَالِسَةٌ فِي مَنْزِلِي غَلَبَتْنِي عَيْنِي فَنِمْتُ وَكَانَ صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ قَدْ عَرَّسَ مِنْ وَرَاءِ الْجَيْشِ فَادَّلَجَ فَأَصْبَحَ عِنْدَ مَنْزِلِي فَرَأَى سَوَادَ إِنْسَانٍ نَائِمٍ فَأَتَانِي فَعَرَفَنِي حِينَ رَآنِي وَقَدْ كَانَ يَرَانِي قَبْلَ أَنْ يُضْرَبَ الْحِجَابُ عَلَىَّ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي وَوَاللَّهِ مَا يُكَلِّمُنِي كَلِمَةً وَلاَ سَمِعْتُ مِنْهُ كَلِمَةً غَيْرَ اسْتِرْجَاعِهِ حَتَّى أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ فَوَطِئَ عَلَى يَدِهَا فَرَكِبْتُهَا فَانْطَلَقَ يَقُودُ بِي الرَّاحِلَةَ حَتَّى أَتَيْنَا الْجَيْشَ بَعْدَ مَا نَزَلُوا مُوغِرِينَ فِي نَحْرِ الظَّهِيرَةِ فَهَلَكَ مَنْ هَلَكَ فِي شَأْنِي وَكَانَ الَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَىٍّ ابْنُ سَلُولَ فَقَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَاشْتَكَيْتُ حِينَ قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ شَهْرًا وَالنَّاسُ يُفِيضُونَ فِي قَوْلِ أَهْلِ الإِفْكِ وَلاَ أَشْعُرُ بِشَىْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَهُوَ يَرِيبُنِي فِي وَجَعِي أَنِّي لاَ أَعْرِفُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اللُّطْفَ الَّذِي كُنْتُ أَرَى مِنْهُ حِينَ أَشْتَكِي إِنَّمَا يَدْخُلُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُولُ " كَيْفَ تِيكُمْ " . فَذَاكَ يَرِيبُنِي وَلاَ أَشْعُرُ بِالشَّرِّ حَتَّى خَرَجْتُ بَعْدَ مَا نَقِهْتُ وَخَرَجَتْ مَعِي أُمُّ مِسْطَحٍ قِبَلَ الْمَنَاصِعِ وَهُوَ مُتَبَرَّزُنَا وَلاَ نَخْرُجُ إِلاَّ لَيْلاً إِلَى لَيْلٍ وَذَلِكَ قَبْلَ أَنَّ نَتَّخِذَ الْكُنُفَ قَرِيبًا مِنْ بُيُوتِنَا وَأَمْرُنَا أَمْرُ الْعَرَبِ الأُوَلِ فِي التَّنَزُّهِ وَكُنَّا نَتَأَذَّى بِالْكُنُفِ أَنْ نَتَّخِذَهَا عِنْدَ بُيُوتِنَا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأُمُّ مِسْطَحٍ وَهِيَ بِنْتُ أَبِي رُهْمِ بْنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ وَأُمُّهَا ابْنَةُ صَخْرِ بْنِ عَامِرٍ خَالَةُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَابْنُهَا مِسْطَحُ بْنُ أُثَاثَةَ بْنِ عَبَّادِ بْنِ الْمُطَّلِبِ فَأَقْبَلْتُ أَنَا وَبِنْتُ أَبِي رُهْمٍ قِبَلَ بَيْتِي حِينَ فَرَغْنَا مِنْ شَأْنِنَا فَعَثَرَتْ أُمُّ مِسْطَحٍ فِي مِرْطِهَا فَقَالَتْ تَعِسَ مِسْطَحٌ . فَقُلْتُ لَهَا بِئْسَ مَا قُلْتِ أَتَسُبِّينَ رَجُلاً قَدْ شَهِدَ بَدْرًا . قَالَتْ أَىْ هَنْتَاهُ أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قَالَ قُلْتُ وَمَاذَا قَالَ قَالَتْ فَأَخْبَرَتْنِي بِقَوْلِ أَهْلِ الإِفْكِ فَازْدَدْتُ مَرَضًا إِلَى مَرَضِي فَلَمَّا رَجَعْتُ إِلَى بَيْتِي فَدَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ " كَيْفَ تِيكُمْ " . قُلْتُ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ آتِيَ أَبَوَىَّ قَالَتْ وَأَنَا حِينَئِذٍ أُرِيدُ أَنْ أَتَيَقَّنَ الْخَبَرَ مِنْ قِبَلِهِمَا . فَأَذِنَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَجِئْتُ أَبَوَىَّ فَقُلْتُ لأُمِّي يَا أُمَّتَاهْ مَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ فَقَالَتْ يَا بُنَيَّةُ هَوِّنِي عَلَيْكِ فَوَاللَّهِ لَقَلَّمَا كَانَتِ امْرَأَةٌ قَطُّ وَضِيئَةٌ عِنْدَ رَجُلٍ يُحِبُّهَا وَلَهَا ضَرَائِرُ إِلاَّ كَثَّرْنَ عَلَيْهَا - قَالَتْ - قُلْتُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَقَدْ تَحَدَّثَ النَّاسُ بِهَذَا قَالَتْ فَبَكَيْتُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ حَتَّى أَصْبَحْتُ لاَ يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ وَلاَ أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ ثُمَّ أَصَبَحْتُ أَبْكِي وَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَأُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ حِينَ اسْتَلْبَثَ الْوَحْىُ يَسْتَشِيرُهُمَا فِي فِرَاقِ أَهْلِهِ - قَالَتْ - فَأَمَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ فَأَشَارَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالَّذِي يَعْلَمُ مِنْ بَرَاءَةِ أَهْلِهِ وَبِالَّذِي يَعْلَمُ فِي نَفْسِهِ لَهُمْ مِنَ الْوُدِّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُمْ أَهْلُكَ وَلاَ نَعْلَمُ إِلاَّ خَيْرًا . وَأَمَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لَمْ يُضَيِّقِ اللَّهُ عَلَيْكَ وَالنِّسَاءُ سِوَاهَا كَثِيرٌ وَإِنْ تَسْأَلِ الْجَارِيَةَ تَصْدُقْكَ - قَالَتْ - فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَرِيرَةَ فَقَالَ " أَىْ بَرِيرَةُ هَلْ رَأَيْتِ مِنْ شَىْءٍ يَرِيبُكِ مِنْ عَائِشَةَ " . قَالَتْ لَهُ بَرِيرَةُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنْ رَأَيْتُ عَلَيْهَا أَمْرًا قَطُّ أَغْمِصُهُ عَلَيْهَا أَكْثَرَ مِنْ أَنَّهَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ تَنَامُ عَنْ عَجِينِ أَهْلِهَا فَتَأْتِي الدَّاجِنُ فَتَأْكُلُهُ - قَالَتْ - فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى الْمِنْبَرِ فَاسْتَعْذَرَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَىٍّ ابْنِ سَلُولَ - قَالَتْ - فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ " يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ رَجُلٍ قَدْ بَلَغَ أَذَاهُ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلاَّ خَيْرًا وَلَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلاً مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلاَّ خَيْرًا وَمَا كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِي إِلاَّ مَعِي " . فَقَامَ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ الأَنْصَارِيُّ فَقَالَ أَنَا أَعْذِرُكَ مِنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَ مِنَ الأَوْسِ ضَرَبْنَا عُنُقَهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا الْخَزْرَجِ أَمَرْتَنَا فَفَعَلْنَا أَمْرَكَ - قَالَتْ - فَقَامَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ وَهُوَ سَيِّدُ الْخَزْرَجِ وَكَانَ رَجُلاً صَالِحًا وَلَكِنِ اجْتَهَلَتْهُ الْحَمِيَّةُ فَقَالَ لِسَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ كَذَبْتَ لَعَمْرُ اللَّهِ لاَ تَقْتُلُهُ وَلاَ تَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ . فَقَامَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ وَهُوَ ابْنُ عَمِّ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فَقَالَ لِسَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ كَذَبْتَ لَعَمْرُ اللَّهِ لَنَقْتُلَنَّهُ فَإِنَّكَ مُنَافِقٌ تُجَادِلُ عَنِ الْمُنَافِقِينَ فَثَارَ الْحَيَّانِ الأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ حَتَّى هَمُّوا أَنْ يَقْتَتِلُوا وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَائِمٌ عَلَى الْمِنْبَرِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُخَفِّضُهُمْ حَتَّى سَكَتُوا وَسَكَتَ - قَالَتْ - وَبَكَيْتُ يَوْمِي ذَلِكَ لاَ يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ وَلاَ أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ ثُمَّ بَكَيْتُ لَيْلَتِي الْمُقْبِلَةَ لاَ يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ وَلاَ أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ وَأَبَوَاىَ يَظُنَّانِ أَنَّ الْبُكَاءَ فَالِقٌ كَبِدِي فَبَيْنَمَا هُمَا جَالِسَانِ عِنْدِي وَأَنَا أَبْكِي اسْتَأْذَنَتْ عَلَىَّ امْرَأَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَأَذِنْتُ لَهَا فَجَلَسَتْ تَبْكِي - قَالَتْ - فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَسَ - قَالَتْ - وَلَمْ يَجْلِسْ عِنْدِي مُنْذُ قِيلَ لِي مَا قِيلَ وَقَدْ لَبِثَ شَهْرًا لاَ يُوحَى إِلَيْهِ فِي شَأْنِي بِشَىْءٍ - قَالَتْ - فَتَشَهَّدَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ جَلَسَ ثُمَّ قَالَ " أَمَّا بَعْدُ يَا عَائِشَةُ فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبٍ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ " . قَالَتْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَقَالَتَهُ قَلَصَ دَمْعِي حَتَّى مَا أُحِسُّ مِنْهُ قَطْرَةً فَقُلْتُ لأَبِي أَجِبْ عَنِّي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِيمَا قَالَ . فَقَالَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ لأُمِيِّ أَجِيبِي عَنِّي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ وَأَنَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ لاَ أَقْرَأُ كَثِيرًا مِنَ الْقُرْآنِ إِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَرَفْتُ أَنَّكُمْ قَدْ سَمِعْتُمْ بِهَذَا حَتَّى اسْتَقَرَّ فِي نُفُوسِكُمْ وَصَدَّقْتُمْ بِهِ فَإِنْ قُلْتُ لَكُمْ إِنِّي بَرِيئَةٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ لاَ تُصَدِّقُونِي بِذَلِكَ وَلَئِنِ اعْتَرَفْتُ لَكُمْ بِأَمْرٍ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ لَتُصَدِّقُونَنِي وَإِنِّي وَاللَّهِ مَا أَجِدُ لِي وَلَكُمْ مَثَلاً إِلاَّ كَمَا قَالَ أَبُو يُوسُفَ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ . قَالَتْ ثُمَّ تَحَوَّلْتُ فَاضْطَجَعْتُ عَلَى فِرَاشِي - قَالَتْ - وَأَنَا وَاللَّهِ حِينَئِذٍ أَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ مُبَرِّئِي بِبَرَاءَتِي وَلَكِنْ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ أَظُنُّ أَنْ يُنْزَلَ فِي شَأْنِي وَحْىٌ يُتْلَى وَلَشَأْنِي كَانَ أَحْقَرَ فِي نَفْسِي مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيَّ بِأَمْرٍ يُتْلَى وَلَكِنِّي كُنْتُ أَرْجُو أَنْ يَرَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي النَّوْمِ رُؤْيَا يُبَرِّئُنِي اللَّهُ بِهَا قَالَتْ فَوَاللَّهِ مَا رَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَجْلِسَهُ وَلاَ خَرَجَ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ أَحَدٌ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخَذَهُ مَا كَانَ يَأْخُذُهُ مِنَ الْبُرَحَاءِ عِنْدَ الْوَحْىِ حَتَّى إِنَّهُ لَيَتَحَدَّرُ مِنْهُ مِثْلُ الْجُمَانِ مِنَ الْعَرَقِ فِي الْيَوْمِ الشَّاتِ مِنْ ثِقَلِ الْقَوْلِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْهِ - قَالَتْ - فَلَمَّا سُرِّيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَضْحَكُ فَكَانَ أَوَّلَ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا أَنْ قَالَ " أَبْشِرِي يَا عَائِشَةُ أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ بَرَّأَكِ " . فَقَالَتْ لِي أُمِّي قُومِي إِلَيْهِ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لاَ أَقُومُ إِلَيْهِ وَلاَ أَحْمَدُ إِلاَّ اللَّهَ هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ بَرَاءَتِي - قَالَتْ - فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ} عَشْرَ آيَاتٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَؤُلاَءِ الآيَاتِ بَرَاءَتِي - قَالَتْ - فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ لِقَرَابَتِهِ مِنْهُ وَفَقْرِهِ وَاللَّهِ لاَ أُنْفِقُ عَلَيْهِ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِي قَالَ لِعَائِشَةَ . فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى} إِلَى قَوْلِهِ { أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ} قَالَ حِبَّانُ بْنُ مُوسَى قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ هَذِهِ أَرْجَى آيَةٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ . فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَاللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي . فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ وَقَالَ لاَ أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا . قَالَتْ عَائِشَةُ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَأَلَ زَيْنَبَ بِنْتَ جَحْشٍ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَمْرِي " مَا عَلِمْتِ أَوْ مَا رَأَيْتِ " . فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحْمِي سَمْعِي وَبَصَرِي وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِلاَّ خَيْرًا . قَالَتْ عَائِشَةُ وَهِيَ الَّتِي كَانَتْ تُسَامِينِي مِنْ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَعَصَمَهَا اللَّهُ بِالْوَرَعِ وَطَفِقَتْ أُخْتُهَا حَمْنَةُ بِنْتُ جَحْشٍ تُحَارِبُ لَهَا فَهَلَكَتْ فِيمَنْ هَلَكَ . قَالَ الزُّهْرِيُّ فَهَذَا مَا انْتَهَى إِلَيْنَا مِنْ أَمْرِ هَؤُلاَءِ الرَّهْطِ . وَقَالَ فِي حَدِيثِ يُونُسَ احْتَمَلَتْهُ الْحَمِيَّةُ .
Sa'id bin Musayyib, 'Urwa bin Zubair, 'Alqama bin Waqqas dan 'Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utba bin Mas'ud—mereka semua meriwayatkan kisah tentang tuduhan palsu terhadap 'Aisyah, istri Rasulullah ﷺ. Dan mereka (para pencela) mengatakan apa yang harus mereka katakan, tetapi Allah membebaskannya dari tuduhan ini dan mereka semua meriwayatkan sebagian dari hadits tersebut dan sebagian dari mereka yang memiliki daya ingat lebih baik meriwayatkan lebih banyak dan dengan daya ingat yang lebih baik, dan saya mencoba mengingat hadits ini (mendengarkan) dari setiap orang yang mereka laporkan kepada saya dan sebagian dari mereka membenarkan yang lain. (Ringkasan inti dari tuduhan palsu itu adalah ini): 'Aisyah berkata: Setiap kali Rasulullah ﷺ hendak melakukan perjalanan, beliau mengundi di antara istri-istrinya dan beliau membawa serta salah satu dari mereka yang dipilih dalam undian tersebut. Suatu ketika, saat hendak berangkat berperang, beliau mengundi di antara kami dan hasilnya menguntungkan saya, sehingga saya berangkat bersama Rasulullah ﷺ. Ini berkaitan dengan masa ketika wahyu tentang perintah berjilbab diturunkan. Saya digendong di atas tandu dan diturunkan di tempat kami harus tinggal. Singkatnya, ketika kami berangkat kembali dari ekspedisi dan kafilah kami berada di dekat Madinah, Rasulullah ﷺ memerintahkan pada suatu malam untuk maju. Saya pun bangun ketika perintah untuk maju diberikan dan bergerak hingga keluar dari perkemahan tentara. Setelah buang air, saya kembali ke tempat saya. Saya meraba dada saya dan mendapati kalung saya yang terbuat dari batu zafar telah putus. Saya menelusuri kembali langkah saya dan mencoba mencari kalung saya, dan hal ini membuat saya tertahan di sana. Kelompok orang yang memasang pelana untuk saya dan menempatkan tandu yang membawa saya di atas unta terus berjalan. Mereka mengira saya ada di dalamnya. Para wanita pada masa itu bertubuh ringan dan tidak banyak mengenakan pakaian karena mereka makan sedikit; jadi mereka tidak merasakan berat haudaj saya ketika mereka meletakkannya di atas unta karena saya masih gadis muda saat itu. Jadi mereka mengusir unta dan Eet keluar dan saya menemukan kalung saya setelah pasukan berbaris. Saya kembali ke tempat saya dan tidak ada yang memanggil dan tidak ada yang menjawab (panggilan). Saya menunggu di tempat saya dengan anggapan bahwa ketika orang-orang menemukan saya, mereka akan kembali. Jadi saya terus duduk di tempat saya. Saya diliputi rasa kantuk dan tertidur. Safwan b. Mu'attal Sulami Dhakwini, yang tertinggal di belakang pasukan karena beristirahat, datang ke tempat saya berjalan di akhir malam dan dia melihat tubuh seseorang yang sedang tidur. Dia datang kepada saya dan mengenali saya karena dia pernah melihat saya sebelum diwajibkan untuk menjaga purda. Aku terbuai oleh suaranya saat ia melafalkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un [Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali] dan aku menutupi kepalaku dengan jilbabku. Demi Allah, ia tidak berbicara sepatah kata pun kepadaku dan aku tidak mendengar sepatah kata pun darinya kecuali Inna lillahi. Ia menyuruh untanya berlutut dan aku menaiki unta itu sementara ia menekan kaki depan unta dan ia terus berjalan sambil menyandarkan unta pada tali hidungnya tempat aku menungganginya sampai kami sampai di tempat perkemahan tentara yang sedang beristirahat karena panas yang ekstrem. Celakalah bagi mereka yang meragukan aku dan yang paling terkenal di antara mereka adalah Abdullah bin Ubayy, si munafik besar. Kami sampai di Madinah dan aku jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang telah membahas pernyataan-pernyataan orang-orang yang telah menyebarkan fitnah terhadapku. Aku sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang hal itu. Namun, hal ini menimbulkan keraguan dalam pikiran saya, bahwa saya tidak melihat Rasulullah ﷺ memperlakukan saya dengan kebaikan seperti yang beliau lakukan ketika saya sakit sebelumnya. Nabi ﷺ biasa datang dan menyapa saya dengan Assalamualaikum dan hanya menanyakan kabar saya. Hal ini menimbulkan keraguan dalam pikiran saya, tetapi saya tidak menyadari kejahatan yang akan terjadi. Saya menangis di luar meskipun kesehatan saya memburuk dan Umm Mistah ikut bersama saya dan dia berkata bahwa putri Abu Rahm bin Muttalib bin 'Abd Manaf dan ibunya adalah putri Sakhr bin 'Amir, saudara perempuan ibu Abu Bakar Sidiq dan putranya adalah Mistah bin Uthatha bin 'Abbad bin Muttalib. Saya dan putri Abu Rahm berjalan menuju rumah saya. Sesuatu mengenai penutup kepala Umm Mistah dan dia berkata: Celakalah Mistah. Dan saya berkata: Celakalah apa yang kau katakan. Apakah kau mengutuk orang-orang yang telah ikut serta dalam Perang Badar? Dia berkata: Wahai perempuan yang tidak bersalah, tidakkah kau mendengar apa yang dia katakan? Aku berkata: Apa yang dia katakan? Dia menyampaikan kepadaku pernyataan orang-orang yang telah membuat tuduhan palsu terhadapku. Maka penyakitku semakin parah. Aku pergi ke rumahku dan Rasulullah ﷺ datang kepadaku dan beliau memberi salam kepadaku lalu berkata: Bagaimana keadaan perempuan itu? Aku berkata: Apakah engkau mengizinkanku pergi ke rumah orang tuaku? Dia (lanjut) berkata: Pada saat itu aku telah memutuskan untuk memastikan kabar ini dari mereka. Rasulullah ﷺ mengizinkanku. Maka aku datang ke rumah orang tuaku dan berkata kepada ibuku: Ibu, tahukah engkau apa yang dibicarakan orang-orang? Dia berkata: Anakku, jangan khawatir. Demi Allah, jika ada perempuan cantik yang dicintai suaminya dan suaminya mempunyai istri-istri lain, mereka akan membicarakan banyak hal tentangnya. Aku berkata: Maha Suci Allah, apa yang dibicarakan orang-orang? Aku menangis sepanjang malam hingga pagi hari dan aku tidak bisa tidur sedikit pun, bahkan aku menangis di pagi hari. Karena wahyu (tentang masalah ini) tertunda, maka Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abu Talib dan Usama bin Zaid untuk meminta nasihat mereka tentang perpisahannya dengan istrinya. Usama bin Zaid menceritakan kepada Rasulullah ﷺ tentang kesucian istri-istrinya dan apa yang dia ketahui tentang cintanya kepada mereka. Dia berkata: Wahai Rasulullah, mereka adalah istri-istrimu dan kami tidak mengetahui hal lain tentang mereka selain kebaikan. Adapun Ali bin Abu Talib, dia berkata: Allah tidak membebani engkau dengan beban yang tidak perlu (tentang istri-istrimu). Ada banyak wanita selain dia dan jika engkau bertanya kepada pelayan wanita itu (Barira), dia akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Maka Rasulullah ﷺ memanggil Barira dan berkata: Barira, apakah kamu melihat sesuatu pada Aisyah yang dapat menimbulkan keraguan tentangnya? Barira berkata: Demi Dia yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak melihat sesuatu pun yang patut dicela darinya, kecuali bahwa dia masih gadis muda dan dia tertidur saat menguleni tepung dan domba memakan itu. Kemudian Rasulullah ﷺ naik ke mimbar dan memohon pembelaan terhadap Abdullah bin Ubayy bin Salul, dan beliau melanjutkan: Siapa yang akan membebaskanku dari tuduhan orang yang telah menyusahkan (aku) terkait keluargaku? Demi Allah, aku tidak menemukan apa pun pada istriku selain kebaikan dan orang yang disebut-sebut orang-orang dalam hal ini, menurut pengetahuanku, adalah orang yang sangat saleh, dan dia tidak pernah masuk ke rumahku kecuali bersamaku. Sa'd bin Mu'adh berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, aku membela kehormatanmu darinya. Jika dia berasal dari suku Aus, kami akan memenggal lehernya dan jika dia berasal dari suku saudara kami Khazraj dan engkau memerintahkan kami, kami akan mematuhi perintahmu. Kemudian Sa'd bin Ubayy bin Salul berdiri. Dia adalah kepala suku Khazraj. Dia pada umumnya adalah orang yang saleh, tetapi dia memiliki sedikit keberpihakan kesukuan dan dia berkata kepada Sa'd bin Mu'adh: Demi kekekalan Allah, kamu tidak mengatakan fakta, kamu tidak akan mampu membunuhnya dan kamu tidak akan memiliki kekuatan untuk melakukannya. Kemudian, Usaid bin Hudair berdiri, dan dia adalah sepupu pertama Sa'd bin Mu'adh dan berkata kepada Sa'd bin 'Ubada: Demi kekekalan Allah, kamu tidak mengatakan fakta. Kami akan membunuhnya. Kamu adalah orang munafik dan karena itu kamu membela orang-orang munafik, dan dengan demikian kedua suku Aus dan Khazraj menjadi marah, sampai mereka hampir saling menyerang dan Rasulullah ﷺ tetap berdiri di atas mimbar dan Rasulullah ﷺ berusaha meredakan kemarahan mereka sampai mereka menjadi tenang dan terjadilah keheningan. Aisyah kemudian meriwayatkan: Aku menghabiskan sepanjang hari menangis dan bahkan sepanjang malam dan tidak bisa tidur sedikit pun hingga malam berikutnya. Orang tuaku mengira bahwa tangisanku yang terus-menerus ini akan menghancurkan hatiku. Aku menangis dan mereka duduk di sampingku. Sementara itu, seorang wanita dari kaum Ansar datang menemuiku. Aku mengizinkannya menemuiku dan dia pun mulai menangis. Dan kami berada dalam keadaan seperti itu ketika Rasulullah ﷺ datang dan memberi salam kepadaku lalu duduk. Beliau belum pernah duduk bersamaku sejak sebulan ketika desas-desus ini beredar, dan belum ada wahyu (untuk memperjelas) kasusku. Rasulullah ﷺ membaca Tasyahhud (tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya) lalu berkata: Langsung saja, Aisyah, inilah yang telah sampai kepadaku tentangmu dan jika engkau tidak bersalah, Allah sendiri akan membela kehormatanmu, dan jika secara tidak sengaja terjadi kesalahan di pihakmu, mohon ampunan kepada Allah; Dia akan mengampunimu karena ketika seorang hamba mengakui kesalahannya dan bertaubat (kepada-Nya), Allah pun berpaling kepadanya (dengan penuh rahmat) dan menerima taubatnya. Ketika Rasulullah ﷺ berbicara, air mataku mengering dan bahkan tidak setetes pun air mata yang terlihat (mengalir dari mataku). Aku berkata kepada ayahku: Jawablah Rasulullah ﷺ untukku. Dia berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian aku berkata kepada ibuku: Jawablah Rasulullah ﷺ untukku, tetapi dia berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah ﷺ. Saat itu aku masih gadis kecil dan belum banyak membaca Al-Qur'an (tetapi aku berkata): Demi Allah, aku menyadari bahwa kalian telah mendengar tentang ini dan hal itu telah tertanam dalam pikiran kalian dan kalian telah menganggapnya benar, jadi jika aku mengatakan kepada kalian bahwa aku benar-benar tidak bersalah, dan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah, kalian tidak akan pernah mempercayaiku, dan jika aku mengakui (kesalahan yang dituduhkan) di hadapan kalian, padahal Allah mengetahui bahwa aku benar-benar tidak bersalah (dan aku sama sekali tidak melakukan dosa ini), maka kalian akan menganggapku benar dan, demi Allah, oleh karena itu, aku tidak menemukan alternatif lain bagiku dan bagi kalian kecuali apa yang dikatakan ayah Yusuf: (Jalan hidupku adalah) kesabaran yang pantas. “Dan Allah-lah yang seharusnya kita mintai pertolongan dalam (kesulitan) yang kamu gambarkan itu” (12:18). Setelah itu aku memalingkan wajahku ke sisi lain dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, aku sepenuhnya menyadari fakta bahwa aku tidak bersalah, tetapi aku tidak menyangka bahwa Allah akan menurunkan Wahy Matlu (wahyu Al-Qur'an) dalam kasusku karena aku tidak menganggap diriku begitu penting sehingga Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia akan berbicara dalam hal ini dengan kata-kata yang harus dibaca. Aku hanya berharap bahwa Allah akan memberikan petunjuk tentang ketidakbersalahanku kepada Rasulullah ﷺ dalam tidurnya. Dan, demi Allah, Rasulullah ﷺ tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya dan tidak seorang pun dari anggota keluargaku yang pergi ketika Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia menurunkan wahyu kepada Rasulullah ﷺ saat itu juga dan beliau merasakan beban yang biasa beliau rasakan pada saat menerima wahyu. Beliau mulai berkeringat karena beban firman Allah saat turun. Bahkan di musim dingin pun, keringatnya menetes seperti butiran perak. Setelah menerima wahyu itu, Rasulullah ﷺ tersenyum dan kata-kata pertama yang beliau ucapkan kepadaku adalah: 'Aisyah, ada kabar gembira untukmu. Sesungguhnya Allah telah membela kehormatanmu,' dan ibuku yang berdiri di sampingku berkata: 'Bangunlah (dan ucapkan terima kasih kepadanya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ).' Aku berkata: 'Demi Allah, aku tidak akan berterima kasih dan memujinya kecuali Allah yang telah menurunkan wahyu untuk membela kehormatanku.' Aisyah berkata: 'Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia telah menurunkan: 'Sesungguhnya orang-orang yang menyebarkan fitnah adalah sekelompok orang di antara kalian' dan sepuluh ayat (selanjutnya) mengenai ketidakbersalahanku.' Ia melanjutkan: 'Abu Bakar biasa memberi kepada Mistah (uang saku) sebagai tanda kekerabatan dengannya dan untuk kemiskinannya dan dia (Abu Bakar) berkata: 'Demi Allah, sekarang aku tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk Aisyah berkata: Atas dasar inilah Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia menurunkan ayat ini: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai martabat dan kemudahan di antara kamu bersumpah untuk memberi kepada kerabat dekat" sampai "Tidakkah kamu mendambakan agar Allah mengampuni kamu?" Hibban bin Musa berkata bahwa Abdullah bin Mubarak biasa berkata: Ini adalah ayat yang terdapat dalam Kitab yang paling (sangat) mencerahkan harapan. Abu Bakar berkata: Demi Allah, aku berharap Allah mengampuni aku. Aku tidak akan pernah menghentikan pemberian ini. Maka ia terus memberikan kepadanya pemberian yang telah ditariknya. Aisyah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bertanya kepada Zainab, putri Jahsh, istri Rasulullah ﷺ, tentang diriku apa yang ia ketahui atau apa yang telah ia lihat pada diriku, dan ia berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak akan mengatakan apa pun tanpa mendengar (dengan telingaku) dan melihat dengan mataku. Demi Allah, aku tidak menemukan apa pun padanya selain kebaikan. (Dan ia menyatakan ini) (Meskipun kenyataannya) bahwa dia adalah satu-satunya wanita di antara istri-istri Rasulullah ﷺ yang pernah bersaing denganku, tetapi Allah menyelamatkannya dari tuduhan palsu terhadapku karena ketakwaannya kepada Allah. Namun, saudara perempuannya, Hamna binti Jahsh, menentangnya dan dia binasa bersama dengan yang lain.
Shahih Muslim : 175
Sahih
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ بَيْنَمَا أَنَا أَمْشِي، مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي حَرْثٍ وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى عَسِيبٍ إِذْ مَرَّ بِنَفَرٍ مِنَ الْيَهُودِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ سَلُوهُ عَنِ الرُّوحِ فَقَالُوا مَا رَابَكُمْ إِلَيْهِ لاَ يَسْتَقْبِلُكُمْ بِشَىْءٍ تَكْرَهُونَهُ . فَقَالُوا سَلُوهُ فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُهُمْ فَسَأَلَهُ عَنِ الرُّوحِ - قَالَ - فَأَسْكَتَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا فَعَلِمْتُ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْهِ - قَالَ - فَقُمْتُ مَكَانِي فَلَمَّا نَزَلَ الْوَحْىُ قَالَ { وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً}
Telah menceritakan kepada kami [Umar bin Hafsh bin Giyats] telah menceritakan kepada kami [ayahku] telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] telah menceritakan kepadaku [Ibrahim] dari [Alqamah] dari [Abdullah] berkata: "Saat aku berjalan dengan nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam disuatu ladang sementara beliau tengah bersandar, tiba-tiba beberapa orang Yahudi lewat, mereka saling berkata satu sama lain: 'Tanyakan padanya tentang ruh.' Mereka berkata: 'Apa yang meragukan kalian (hingga bertanya padanya) agar ia tidak menyambut dengan sesuatu yang tidak kalian sukai.' Mereka berkata, 'Bertanyalah padanya.' Kemudian sebagaian dari mereka menghampiri beliau lalu bertanya tentang ruh pada beliau'." Abdullah berkata: "Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam diam dan tidak menjawab apa pun. Aku tahu beliau tengah diberi wahyu. Aku berdiri dari tempatku. Saat wahyu turun, beliau bersabda: 'Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: 'Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Al Israa`: 85) Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] dan [Abu Sa'id Al Asyuj] telah menceritakan kepada kami [Waki']. Dan telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali] dan [Ali bin Khasyram] keduanya berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami [Isa bin Yunus] keduanya dari [Al A'masy] dari [Ibrahim] dari [Alqamah] dari [Abdullah] berkata: Aku berjalan bersama nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam di sebuah ladang Madinah, seperti hadits Hafsh, hanya saja dalam hadits Waki' disebutkan: "Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Al Israa`: 85) dan dalam hadits Isa bin Yunus disebutkan: "Dan tidaklah kamu diberi." Dari Rasulullah Ibnu Khasyram. Telah menceritakan kepada kami [Abu Sa'id Al Asyujj] berkata: Aku mendengar [Abdullah bin Idris] berkata: Aku mendengar [Al A'masy] meriwayatkannya dari [Abdullah bin Murrah] dari [Masruq] dari [Abdullah] berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam berada di kebun kurma, beliau telah bersandar pada pangkal kurma, Abdullah menyebut hadits yang sama seperti hadits dari Al A'masy dan ia berkata dalam riwayatnya: "dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Al Israa`:)
Shahih Muslim : 176
Sahih
أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ كُنَّا عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ جُلُوسًا وَهُوَ مُضْطَجِعٌ بَيْنَنَا فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّ قَاصًّا عِنْدَ أَبْوَابِ كِنْدَةَ يَقُصُّ وَيَزْعُمُ أَنَّ آيَةَ الدُّخَانِ تَجِيءُ فَتَأْخُذُ بِأَنْفَاسِ الْكُفَّارِ وَيَأْخُذُ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ كَهَيْئَةِ الزُّكَامِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَجَلَسَ وَهُوَ غَضْبَانُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ مَنْ عَلِمَ مِنْكُمْ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِمَا يَعْلَمُ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ فَإِنَّهُ أَعْلَمُ لأَحَدِكُمْ أَنْ يَقُولَ لِمَا لاَ يَعْلَمُ اللَّهُ أَعْلَمُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ لِنَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم { قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ} إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَمَّا رَأَى مِنَ النَّاسِ إِدْبَارًا فَقَالَ " اللَّهُمَّ سَبْعٌ كَسَبْعِ يُوسُفَ " . قَالَ فَأَخَذَتْهُمْ سَنَةٌ حَصَّتْ كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى أَكَلُوا الْجُلُودَ وَالْمَيْتَةَ مِنَ الْجُوعِ وَيَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ أَحَدُهُمْ فَيَرَى كَهَيْئَةِ الدُّخَانِ فَأَتَاهُ أَبُو سُفْيَانَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ جِئْتَ تَأْمُرُ بِطَاعَةِ اللَّهِ وَبِصِلَةِ الرَّحِمِ وَإِنَّ قَوْمَكَ قَدْ هَلَكُوا فَادْعُ اللَّهَ لَهُمْ - قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ * يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ} إِلَى قَوْلِهِ { إِنَّكُمْ عَائِدُونَ} . قَالَ أَفَيُكْشَفُ عَذَابُ الآخِرَةِ { يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ} فَالْبَطْشَةُ يَوْمَ بَدْرٍ وَقَدْ مَضَتْ آيَةُ الدُّخَانِ وَالْبَطْشَةُ وَاللِّزَامُ وَآيَةُ الرُّومِ .
Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] telah mengkhabarkan kepada kami [Jarir] dari [Manshur] dari [Abu Adh Dhuha] dari [Masruq] berkata: Kami duduk didekat [Abdullah] dan ia tengah berbaring. Seseorang mendatanginya lalu berkata: Hai Abu Abdurrahman, seseorang bercerita didekat pintu gerbang Kindah, ia mengira bahwa tanda-tanda (kebesaran berupa) kabut datang lalu merenggut nyawa orang-orang kafir, kabut itu mencabut nyawa orang-orang mu`min seperti kondisi selesma. Abdullah duduk kemudian berkata dengan marah: Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah, barangsiapa diantara kalian yang mengetahui sesuatu, hendaklah mengatakan seperti yang ia ketahui dan barangsiapa diantara kalian tidak mengetahui, hendaklah mengucapkan: Allahu a'lam, karena orang yang paling tahu diantara kalian adalah yang mengatakan untuk sesuatu yang tidak ia ketahui: Allahu a'lam, karena Allah Azza wa Jalla berfirman kepada nabiNya: "Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da'wahku dan bukanlah Aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan." (Shaad: 86) Saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam melihat orang-orang berpaling, beliau berdoa: "Ya Allah, (turunkanlah) kelaparan seperti kelaparannya Yusuf." Masruq berkata: Mereka pun tertimpa kelaparan yang menyerang segala sesuatu hingga mereka makan kulit dan bangkai karena lapar. Seseorang dari mereka melihat ke langit seperti wujud kabut lalu mereka mendatangi Abu Sufyan, ia berkata: Hai Muhammad, kau datang memerintahkan untuk menaati Allah dan menyambung silaturrahim, kaummu telah binasa, berdoalah kepada Allah 'azza wajalla untuk mereka."Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. inilah azab yang pedih" hingga fimranNya "Sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar)." (Ad Dukhaan: 10-15) ia berkata: Apakah siksaan akhirat akan dihilangkan?"(Ingatlah) hari (ketika) kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya kami adalah pemberi balasan." (Ad Dukhaan: 16) hantaman keras adalah perang Badar. Tanda-tanda asap, hantaman keras, kematian dan ayat tentang (kemenangan) Romawi telah berlalu
Shahih Muslim : 177
Sahih
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، ح وَحَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ، الأَشَجُّ أَخْبَرَنَا وَكِيعٌ، ح وَحَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، كُلُّهُمْ عَنِ الأَعْمَشِ، ح وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَأَبُو كُرَيْبٍ - وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى - قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ مُسْلِمِ بْنِ صُبَيْحٍ، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ جَاءَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ رَجُلٌ فَقَالَ تَرَكْتُ فِي الْمَسْجِدِ رَجُلاً يُفَسِّرُ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ يُفَسِّرُ هَذِهِ الآيَةَ { يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ} قَالَ يَأْتِي النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ دُخَانٌ فَيَأْخُذُ بِأَنْفَاسِهِمْ حَتَّى يَأْخُذَهُمْ مِنْهُ كَهَيْئَةِ الزُّكَامِ . فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ مَنْ عَلِمَ عِلْمًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ فَإِنَّ مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لاَ عِلْمَ لَهُ بِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ . إِنَّمَا كَانَ هَذَا أَنَّ قُرَيْشًا لَمَّا اسْتَعْصَتْ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم دَعَا عَلَيْهِمْ بِسِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ فَأَصَابَهُمْ قَحْطٌ وَجَهْدٌ حَتَّى جَعَلَ الرَّجُلُ يَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا كَهَيْئَةِ الدُّخَانِ مِنَ الْجَهْدِ وَحَتَّى أَكَلُوا الْعِظَامَ فَأَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَغْفِرِ اللَّهَ لِمُضَرَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوا فَقَالَ " لِمُضَرَ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ " . قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِنَّا كَاشِفُو الْعَذَابِ قَلِيلاً إِنَّكُمْ عَائِدُونَ} قَالَ فَمُطِرُوا فَلَمَّا أَصَابَتْهُمُ الرَّفَاهِيَةُ - قَالَ - عَادُوا إِلَى مَا كَانُوا عَلَيْهِ - قَالَ - فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ * يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ} { يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ} قَالَ يَعْنِي يَوْمَ بَدْرٍ .
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dan [Waki']. Telah menceritakan kepadaku [Abu Sa'id Al Asyujj] dan [Waki']. Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Jarir], semuanya dari [Al A'masy]. Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Abu Yahya] dan [Abu Kuraib], teks milik Yahya, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari [Al A'masy] dari [Muslim bin Shubaih] dari [Masruq] berkata: Seseorang mendatangi [Abdullah] lalu berkata: Aku meninggalkan seseorang di masjid yang menafsirkan ayat Al Qur'an berdasarkan pendapatnya: "Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia." (Ad Dukhaan: 10) ia berkata: Pada hari kiamat, kabut mendatangi manusia lalu mencabut nyawa mereka seperti wujud selesma. Setelah itu Abdullah berkata: Barangsiapa mengetahui sesuatu hendaklah disampaikan dan barangsiapa tidak tahu, hendaklah mengucapkan: Allahu a'lam. Salah satu pemahaman seseorang adalah dengan mengatakan Allahu a'lam untuk sesuatu yang tidak ia ketahui. Itu (kabut) terjadi saat kaum Quraisy mendurhakai nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam. Beliau mendoakan mereka agar tertimpa kelaparan seperti kaum Yusuf. Mereka tertimpa kemarau dan keletihan hingga seseorang melihat ke langit, ia melihat seperti wujud kabut antara dirinya dan langit karena keletihan dan hingga mereka memakan tulang. Seseorang kemudian mendatangi nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam dan berkata: Wahai Rasulullah, mintakan ampunan pada Allah untuk Mudlar karena mereka telah binasa. Beliau bersabda kepada Mudlar: "Sesungguhnya kau gegabah." Abdullah berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam berdoa untuk mereka lalu Allah 'azza wajalla menurunkan: "Sesungguhnya (kalau) kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit. Sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar)." (Ad Dukhaan: 10-15) Abdullah berkata: Lalu mereka diberi hujan dan saat mereka mendapatkan kemakmuran, mereka kembali lagi seperti semula. Abdullah berkata: Lalu Allah 'azza wajalla menurunkan: "Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. inilah azab yang pedih." (Ad Dukhaan: 10) Abdullah berkata: Yaitu perang Badar
Shahih Muslim : 178
Sahih
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا مَعْنٌ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، ح وَحَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِيُّ، - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ " إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ مِنَ الأُفُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ " . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الأَنْبِيَاءِ لاَ يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ . قَالَ " بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ " .
Abu Sa'id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Penghuni surga akan melihat penghuni ruangan di atas mereka, seperti halnya kalian melihat planet-planet yang bersinar yang tetap berada di cakrawala timur dan barat karena keunggulan sebagian planet atas planet lainnya." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah di tempat tinggal para Rasul ini orang-orang selain mereka tidak dapat mencapainya?" Beliau menjawab: "Ya, mereka akan dapat mencapainya. Demi Dia, yang nyawaku berada di tangan-Nya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengakui kebenaran akan dapat mencapainya."
Shahih Muslim : 179
Sahih
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ أَبَا إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيَّ، كَانَ يَقُولُ قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ وَاللَّهِ إِنِّي لأَعْلَمُ النَّاسِ بِكُلِّ فِتْنَةٍ هِيَ كَائِنَةٌ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ السَّاعَةِ وَمَا بِي إِلاَّ أَنْ يَكُونَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَسَرَّ إِلَىَّ فِي ذَلِكَ شَيْئًا لَمْ يُحَدِّثْهُ غَيْرِي وَلَكِنْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ مَجْلِسًا أَنَا فِيهِ عَنِ الْفِتَنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَعُدُّ الْفِتَنَ " مِنْهُنَّ ثَلاَثٌ لاَ يَكَدْنَ يَذَرْنَ شَيْئًا وَمِنْهُنَّ فِتَنٌ كَرِيَاحِ الصَّيْفِ مِنْهَا صِغَارٌ وَمِنْهَا كِبَارٌ " . قَالَ حُذَيْفَةُ فَذَهَبَ أُولَئِكَ الرَّهْطُ كُلُّهُمْ غَيْرِي .
Telah menceritakan kepada kami [Harmalah bin Yahya At Tujibi] telah mengkhabarkan kepada kami [Ibnu Wahb] telah mengkhabarkan kepadaku [Yunus] dari [Ibnu Syihab] bahwa [Abu Idris Al Khaulani] berkata: [Hudzaifah bin Al Yaman] berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling tahu tentang fitnah yang terjadi antara aku hingga kiamat. Itu karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam memberitahukan sesuatu tentang hal itu secara rahasia, beliau tidak menceritakannya pada selainku, tapi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bercerita tentang fitnah kepada majlis dimana aku berada disana, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda, beliau menghitung fitnah-fitnah, diantaranya ada tiga fitnah yang hampir tidak meninggalkan apa pun, ada fitnah-fitnah seperti angin musim panas, ada yang kecil dan ada yang besar. Hudzaifah berkata: Lalu mereka pergi semua kecuali aku
Shahih Muslim : 180
Sahih
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا سَالِمُ بْنُ نُوحٍ، أَخْبَرَنِي الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ خَرَجْنَا حُجَّاجًا أَوْ عُمَّارًا وَمَعَنَا ابْنُ صَائِدٍ - قَالَ - فَنَزَلْنَا مَنْزِلاً فَتَفَرَّقَ النَّاسُ وَبَقِيتُ أَنَا وَهُوَ فَاسْتَوْحَشْتُ مِنْهُ وَحْشَةً شَدِيدَةً مِمَّا يُقَالُ عَلَيْهِ - قَالَ - وَجَاءَ بِمَتَاعِهِ فَوَضَعَهُ مَعَ مَتَاعِي . فَقُلْتُ إِنَّ الْحَرَّ شَدِيدٌ فَلَوْ وَضَعْتَهُ تَحْتَ تِلْكَ الشَّجَرَةِ - قَالَ - فَفَعَلَ - قَالَ - فَرُفِعَتْ لَنَا غَنَمٌ فَانْطَلَقَ فَجَاءَ بِعُسٍّ فَقَالَ اشْرَبْ أَبَا سَعِيدٍ . فَقُلْتُ إِنَّ الْحَرَّ شَدِيدٌ وَاللَّبَنُ حَارٌّ . مَا بِي إِلاَّ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أَشْرَبَ عَنْ يَدِهِ - أَوْ قَالَ آخُذَ عَنْ يَدِهِ - فَقَالَ أَبَا سَعِيدٍ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آخُذَ حَبْلاً فَأُعَلِّقَهُ بِشَجَرَةٍ ثُمَّ أَخْتَنِقَ مِمَّا يَقُولُ لِيَ النَّاسُ يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ خَفِيَ عَلَيْهِ حَدِيثُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا خَفِيَ عَلَيْكُمْ مَعْشَرَ الأَنْصَارِ أَلَسْتَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِحَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَلَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " هُوَ كَافِرٌ " . وَأَنَا مُسْلِمٌ أَوَلَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " هُوَ عَقِيمٌ لاَ يُولَدُ لَهُ " . وَقَدْ تَرَكْتُ وَلَدِي بِالْمَدِينَةِ أَوَ لَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " لاَ يَدْخُلُ الْمَدِينَةَ وَلاَ مَكَّةَ " . وَقَدْ أَقْبَلْتُ مِنَ الْمَدِينَةِ وَأَنَا أُرِيدُ مَكَّةَ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ حَتَّى كِدْتُ أَنْ أَعْذِرَهُ . ثُمَّ قَالَ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لأَعْرِفُهُ وَأَعْرِفُ مَوْلِدَهُ وَأَيْنَ هُوَ الآنَ . قَالَ قُلْتُ لَهُ تَبًّا لَكَ سَائِرَ الْيَوْمِ .
Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Al Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Salim bin Nuh] telah mengkhabarkan kepadaku [Al Jurairi] dari [Abu Nadhrah] dari [Abu Sa'id Al Khudri] berkata: Kami pergi menunaikan haji atau umrah, Ibnu Sha'id bersama kami. kami singgah disuatu tempat, orang-orang berpencar dan yang tersisa hanya aku dan dia, aku sangat tidak senang padanya karena yang dikatakan orang-orang tentang dia. Ia membawa barang-barang perbekalannya lalu diletakkan bersamaan dengan barang-barangku. Aku berkata: Panas sekali, andai kau meletakkanya di bawah pohon itu. Abu Sa'id berkata: Ia melakukannya. Abu Sa'id berkata: Lalu seekor kambing diangkat, ia pergi lalu datang dengan membawa gelas. Ia berkata: Minumlah wahai Abu Sa'id. Aku berkata: Panas sekali, susu itu juga panas. Tidak ada apa-apa denganku selain hanya karena aku tidak suka minum dari tangannya -atau ia berkata: Aku mengambil dari tangannya. Lalu Abu Sha'id berkata: Wahai Abu Sa'id, aku ingin mengambil tali lalu aku gantungkan dipohon kemudian aku gantung diri karena yang dikatakan banyak orang terhadapku. Wahai Abu Sa'id, siapa yang tidak mengetahui hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam, kalian wahai kaum Anshar, tidaklah samar bagi kalian. Bukankah kalian termasuk yang paling tahu hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam? Bukankah beliau pernah bersabda bahwa ia (Dajjal) kafir sementara aku muslim, bukankah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda bahwa ia (Dajjal) mandul sementara aku punya anak? Dan aku tinggalkan ayahku di Madinah. Bukankah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam pernah bersabda bahwa ia (Dajjal) tidak bisa memasuki Madinah dan Makkah sementara aku telah meninggalkan Madinah dan sekarang aku hendak ke Makkah? Abu Sa'id Al Khudri berkata: Hampir saja aku menerima alasannya (Abu Sha'id). Setelah itu ia berkata: Ingat, demi Allah aku mengetahuinya (Dajjal), aku mengetahui kelahirannya dan dimana sekarang ia berada. Abu Sa'id berkata: Aku berkata padanya: Celakalah kau sepanjang hari ini