Hadits Tentang Tetangga
233 hadits shahih ditemukan
Sunan An-Nasa'i : 81
Amr bin al-Sharid (RA)
Sahih
أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَجُلاً، قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرْضِي لَيْسَ لأَحَدٍ فِيهَا شَرِكَةٌ وَلاَ قِسْمَةٌ إِلاَّ الْجُوَارَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" الْجَارُ أَحَقُّ بِسَقَبِهِ " .
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] telah menceritakan kepada kami ['Isa bin Yunus] telah menceritakan kepada kami [Husain Al Mu'allim] dari ['Amru bin Syu'aib] dari ['Amru bin Asy Syarid] dari [ayahnya] bahwa seseorang berkata; "Wahai Rasulullah, tidak ada yang berserikat dalam kepemilikan tanahku dan tidak ada yang mendapatkan bagian kecuali hanya tetangga." Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang tetangga itu lebih berhak terhadap apa yang dekat dengannya
Sunan An-Nasa'i : 82
It Was
Sahih Lighairihi
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي رِزْمَةَ، قَالَ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى، عَنْ حُسَيْنٍ، - وَهُوَ ابْنُ وَاقِدٍ - عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالشُّفْعَةِ وَالْجِوَارِ .
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Abdul Aziz bin Abu Rizmah] telah menceritakan kepada kami [Al Fadhl bin Musa] dari [Husain yaitu Ibnu Waqid] dari [Abu Az Zubair] dari [Jabir], dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memutuskan dengan hak membeli terlebih dahulu dan hak tetangga
Sunan An-Nasa'i : 83
It Was
Daif Isnaad
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو، عَنْ أَسْبَاطٍ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ كَانَتِ امْرَأَتَانِ جَارَتَانِ كَانَ بَيْنَهُمَا صَخَبٌ فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى بِحَجَرٍ فَأَسْقَطَتْ غُلاَمًا قَدْ نَبَتَ شَعْرُهُ مَيْتًا وَمَاتَتِ الْمَرْأَةُ فَقَضَى عَلَى الْعَاقِلَةِ الدِّيَةَ . فَقَالَ عَمُّهَا إِنَّهَا قَدْ أَسْقَطَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ غُلاَمًا قَدْ نَبَتَ شَعْرُهُ . فَقَالَ أَبُو الْقَاتِلَةِ إِنَّهُ كَاذِبٌ إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا اسْتَهَلّ وَلاَ شَرِبَ وَلاَ أَكَلْ فَمِثْلُهُ يُطَلّ . قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم
" أَسَجْعٌ كَسَجْعِ الْجَاهِلِيَّةِ وَكِهَانَتِهَا إِنَّ فِي الصَّبِيِّ غُرَّةً " . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا مُلَيْكَةَ وَالأُخْرَى أُمَّ غَطِيفٍ .
Telah mengabarkan kepada kami [Ahmad bin Utsman bin Hakim] telah menceritakan kepada kami ['Amru] dari [Asbath] dari [Simak] dari [Ikrimah] dari [Ibn Abbas], dia berkata; ada dua orang wanita yang bertetangga, diantara keduanya terjadi percecokan lalu salah seorang dari mereka melempar yang lainnya dengan batu hingga menggugurkan anaknya yang telah tumbuh rambutnya, dan wanita itupun mati, lalu ditetapkan atas 'ashabah agar membayar diyat, pamannya berkata; "Sesungguhnya dia telah mengugurkan seorang anak yang telah tumbuh rambutnya wahai Rasulullah." Lalu ayah wanita yang membunuh berkata; "Dia berdusta, sungguh demi Allah, anak itu tidak menangis, tidak makan dan tidak minum. Maka hal seperti ini adalah sesuatu yang dibatalkan." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apakah ini sebuah sajak seperti sajak orang-orang Jahiliyah dan perdukunannya? Sesungguhnya denda untuk seorang bayi berupa seorang budak, " Ibnu Abbas berkata; "Salah satunya bernama Mulaikah dan yang lainnya adalah Ummi Ghathif
Sunan An-Nasa'i : 84
It Was
Sahih
أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رضى الله عنهما قَالَ كَانَتِ امْرَأَةٌ مَخْزُومِيَّةٌ تَسْتَعِيرُ مَتَاعًا عَلَى أَلْسِنَةِ جَارَاتِهَا وَتَجْحَدُهُ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقَطْعِ يَدِهَا .
Telah mengkhabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim], dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Abdur Razzaq], dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Ma'mar] dari [Ayyub] dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar radliallahu 'anhuma], dia berkata; "Ada seorang wanita Makhzum yang meminjam barang melalui lisan beberapa wanita tetangganya, lalu dia mengingkarinya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar tangannya dipotong
Sunan An-Nasa'i : 85
It Was
Sahih
أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، وَالْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ، عَنِ ابْنِ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ، وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ، حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ، أَنَّهُ خَاصَمَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي شِرَاجِ الْحَرَّةِ كَانَا يَسْقِيَانِ بِهِ كِلاَهُمَا النَّخْلَ فَقَالَ الأَنْصَارِيُّ سَرِّحِ الْمَاءَ يَمُرَّ عَلَيْهِ . فَأَبَى عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلِ الْمَاءَ إِلَى جَارِكَ " . فَغَضِبَ الأَنْصَارِيُّ وَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ " يَا زُبَيْرُ اسْقِ ثُمَّ احْبِسِ الْمَاءَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى الْجَدْرِ " . فَاسْتَوْفَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِلزُّبَيْرِ حَقَّهُ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ ذَلِكَ أَشَارَ عَلَى الزُّبَيْرِ بِرَأْىٍ فِيهِ السَّعَةُ لَهُ وَلِلأَنْصَارِيِّ فَلَمَّا أَحْفَظَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الأَنْصَارِيُّ اسْتَوْفَى لِلزُّبَيْرِ حَقَّهُ فِي صَرِيحِ الْحُكْمِ . قَالَ الزُّبَيْرُ لاَ أَحْسَبُ هَذِهِ الآيَةَ أُنْزِلَتْ إِلاَّ فِي ذَلِكَ { فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ } وَأَحَدُهُمَا يَزِيدُ عَلَى صَاحِبِهِ فِي الْقِصَّةِ .
Telah mengabarkan kepada kami [Yunus bin Abdul A'la] dan [Al Harits bin Miskin] dari [Ibnu Wahb] ia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Yunus bin Yazid] dan [Al Laits bin Sa'd] dari [Ibnu Syihab] bahwa ['Urwah Ibnu Az Zubair] menceritakan kepadanya, bahwa [Abdullah bin Az Zubair] menceritakan kepadanya, bahwa [Az Zubair bin 'Awwam] pernah berselisih dengan seorang laki-laki Anshar yang pernah ikut perang badar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam masalah mata air harrah yang biasa mereka gunakan untuk mengairi kebun kurma mereka. Laki-laki Anshar itu berkata; "Biarkanlah air itu mengalir." Namun Az Zubair menolaknya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian berkata kepada Az Zubair: "Wahai Zubair, airilah kebunmu. Setelah itu berikanlah kepada tetanggamu." Orang Anshar itu marah dan berkata; "Wahai Rasulullah, apakah karena ia anak pamanmu?" maka menjadi merahlah wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau kemudian bersabda: "Wahai Zubair, airilah kebunmu. Setelah itu tahanlah airnya hingga ia kembali ke dalam tanah." Lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memenuhi haknya Zubair. Padahal sebelum itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat kepada Zubair untuk berlaku fleksibel baik untuknya maupun untuk laki-laki Anshar itu. Ketika laki-laki Anshar itu marah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau hanya memenuhi haknya Zubair dalam putusannya." Az Zubair berkata; "Aku tidak berpendapat kecuali ayat ini hanya turun berkenaan dengan kasus itu: ' Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan." QS An Nisa`;
Sunan An-Nasa'i : 86
Urwah (RA)
Sahih
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ خَاصَمَ الزُّبَيْرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي شِرَاجِ الْحَرَّةِ الَّتِي يَسْقُونَ بِهَا النَّخْلَ فَقَالَ الأَنْصَارِيُّ سَرِّحِ الْمَاءَ يَمُرَّ . فَأَبَى عَلَيْهِ فَاخْتَصَمُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلِ الْمَاءَ إِلَى جَارِكَ " . فَغَضِبَ الأَنْصَارِيُّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ " يَا زُبَيْرُ اسْقِ ثُمَّ احْبِسِ الْمَاءَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى الْجَدْرِ " . فَقَالَ الزُّبَيْرُ إِنِّي أَحْسَبُ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ نَزَلَتْ فِي ذَلِكَ { فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ } الآيَةَ .
Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Ibnu Syihab] dari ['Urwah] Bahwasanya ia menceritakan kepadanya, bahwa [Abdullah bin Az Zubair] menceritakan kepadanya, bahwa ada seorang laki-laki Anshar yang berselisih dengan Az Zubair mengadu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yakni dalam masalah mata air Al Harrah yang biasa mereka gunakan untuk mengairi pohon kurma. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Wahai Zubair, airilah (kebun milikmu), setelah itu alirkanlah air itu untuk tetanggamu." Laki-laki Anshar itu pun marah, ia lalu berkata, "Wahai Rasulullah, apakah karena ia anak pamanmu!" Maka menjadi merahlah wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau kemudian bersabda: "Wahai Zubair, airilah (kebunmu), setelah itu tahanlah hingga airnya kembali ke dalam tanah." Az Zubair berkata, "Aku kira ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa itu: ' Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman." QS An Nisa`;
Sunan An-Nasa'i : 87
Nafi' bin Umar (RA)
Sahih
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ سَعِيدِ بْنِ مَسْرُوقٍ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ نَافِعِ بْنِ عُمَرَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ كَانَتْ جَارِيَتَانِ تَخْرُزَانِ بِالطَّائِفِ فَخَرَجَتْ إِحْدَاهُمَا وَيَدُهَا تَدْمَى فَزَعَمَتْ أَنَّ صَاحِبَتَهَا أَصَابَتْهَا وَأَنْكَرَتِ الأُخْرَى فَكَتَبْتُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فِي ذَلِكَ فَكَتَبَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَضَى أَنَّ الْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ وَلَوْ أَنَّ النَّاسَ أُعْطُوا بِدَعْوَاهُمْ لاَدَّعَى نَاسٌ أَمْوَالَ نَاسٍ وَدِمَاءَهُمْ فَادْعُهَا وَاتْلُ عَلَيْهَا هَذِهِ الآيَةَ { إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلاً أُولَئِكَ لاَ خَلاَقَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ } حَتَّى خَتَمَ الآيَةَ فَدَعَوْتُهَا فَتَلَوْتُ عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ بِذَلِكَ فَسَرَّهُ .
Telah mengabarkan kepada kami [Ali bin Sa'id bin Masruq] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Abu Zaidah] dari [Nafi' bin Umar] dari [Ibnu Abu Mulaikah] ia berkata, "Dua orang wanita masuk ke dalam gua di wilayah Tha'if. Lalu salah seorang dari keduanya keluar dengan tangan terluka. Maka ia menyangka bahwa temannya yang telah melukainya, namun temannya mengingkari. Aku lalu menulis surat kepada Ibnu Abbas berkenaan dengan masalah tersebut, [Ibnu Abbas] membalas; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memberi putusan, bahwa sumpah itu bagi orang yang dituduh (terdakwa). Sebab jika manusia dibiarkan memberikan dakwaan, maka mereka akan mendakwa harta dan nyawa orang banyak. Oleh karena itu panggillah wanita itu dan bacakanlah ayat ini kepadanya: ' Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat' QS Ali Imran; 77 hingga akhir ayat. Kemudian aku memanggil wanita tersebut dan aku bacakan ayat itu kepadanya, akhirnya ia mengakuinya
Sunan An-Nasa'i : 88
It Was
Hasan Sahih
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلاَنَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارِ السَّوْءِ فِي دَارِ الْمُقَامِ فَإِنَّ جَارَ الْبَادِيَةِ يَتَحَوَّلُ عَنْكَ " .
Telah mengabarkan kepada kami [Amru bin Ali] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Yahya] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Ajlan] dari [Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi] dari [Abu Hurairah] ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang jahat di tempat tinggal, sebab tetangga yang nomaden (badui) akan menjauh darimu
Jami at-Tirmidzi : 89
Anas bin Malik (RA)
Hasan
حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ، حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ سَمِعْتُ لَيْثًا، يُحَدِّثُ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبَّادٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ أَبِي طَلْحَةَ، أَنَّهُ قَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنِّي اشْتَرَيْتُ خَمْرًا لأَيْتَامٍ فِي حِجْرِي . قَالَ
" أَهْرِقِ الْخَمْرَ وَاكْسِرِ الدِّنَانَ " . قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ جَابِرٍ وَعَائِشَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عُمَرَ وَأَنَسٍ . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي طَلْحَةَ رَوَى الثَّوْرِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ عَنِ السُّدِّيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبَّادٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أَبَا طَلْحَةَ كَانَ عِنْدَهُ . وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ اللَّيْثِ .
Humayd bin Masada meriwayatkan kepada kami, Al-Mu`tamar bin Sulaiman meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Laith, berbicara atas wewenang Yahya bin Abbad, atas wewenang Anas, atas wewenang Abu Thalhah, dia berkata, Wahai Nabi Allah, aku membeli anggur untuk anak-anak yatim di lingkunganku. Dia berkata, “Tumpahkan anggurnya dan pecahkan airnya.” Dia berkata, “Dan masuk Bab tentang kekuasaan Jabir, Aisha, Abu Saeed, Ibnu Masoud, Ibnu Omar dan Anas. Abu Issa berkata bahwa hadits Abu Thalhah Al-Thawri meriwayatkan hal ini. Hadits tentang wewenang Al-Suddi, berdasarkan wewenang Yahya bin Abbad, berdasarkan wewenang Anas, adalah bahwa Abu Thalhah ada bersamanya. Ini lebih shahih dari hadis Al-Layth.
Jami at-Tirmidzi : 90
al-A'raj (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدَكُمْ جَارُهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِي جِدَارِهِ فَلاَ يَمْنَعْهُ " . فَلَمَّا حَدَّثَ أَبُو هُرَيْرَةَ طَأْطَئُوا رُءُوسَهُمْ فَقَالَ مَا لِي أَرَاكُمْ عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَاللَّهِ لأَرْمِيَنَّ بِهَا بَيْنَ أَكْتَافِكُمْ . قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَمُجَمِّعِ بْنِ جَارِيَةَ . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ . وَرُوِيَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْهُمْ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ قَالُوا لَهُ أَنْ يَمْنَعَ جَارَهُ أَنْ يَضَعَ خَشَبَهُ فِي جِدَارِهِ . وَالْقَوْلُ الأَوَّلُ أَصَحُّ .
Saeed bin Abdul Rahman Al Makhzoumi menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyaynah menceritakan kepada kami, atas wewenang Al-Zuhri, atas wewenang Al-Araj, atas wewenang Abu Hurairah, dia berkata, aku mendengarnya. Dia mengatakan bahwa Rasulullah, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, bersabda, “Jika salah satu dari kalian meminta izin kepada tetangganya untuk menanam balok di temboknya, janganlah dia menghalanginya.” Ketika Abu Hurairah meriwayatkan, mereka menundukkan kepala, dan dia berkata, "Mengapa saya harus melihat Anda berpaling darinya? Demi Allah, saya akan melemparkannya ke pundak Anda." Beliau bersabda, “Dan dalam bab tentang kewibawaan Ibnu Abbas dan Mujma’ bin Jariyah, Abu Issa berkata: Hadits Abu Hurairah adalah hadits yang baik dan shahih. Dan hendaknya hal ini ditindaklanjuti ketika Beberapa orang yang berilmu, dan inilah yang dikatakan Al-Syafi’i. Diriwayatkan dari sebagian ulama, termasuk Malik bin Anas, bahwa mereka menyuruhnya untuk mencegah tetangganya agar tidak meletakkan kayunya di temboknya. Pepatah pertama lebih tepat.
Jami at-Tirmidzi : 91
Abdullah ibn Az-Zubayr (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ خَاصَمَ الزُّبَيْرَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي شِرَاجِ الْحَرَّةِ الَّتِي يَسْقُونَ بِهَا النَّخْلَ فَقَالَ الأَنْصَارِيُّ سَرِّحِ الْمَاءَ يَمُرُّ . فَأَبَى عَلَيْهِ فَاخْتَصَمُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِلزُّبَيْرِ " اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلِ الْمَاءَ إِلَى جَارِكَ " . فَغَضِبَ الأَنْصَارِيُّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ " يَا زُبَيْرُ اسْقِ ثُمَّ احْبِسِ الْمَاءَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى الْجَدْرِ " . فَقَالَ الزُّبَيْرُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَحْسِبُ نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ فِي ذَلِكَ : (فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ) . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَرَوَى شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنِ الزُّبَيْرِ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ . وَرَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنِ اللَّيْثِ وَيُونُسَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ نَحْوَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ .
Qutaibah meriwayatkan kepada kami, Al-Layth meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Ibnu Shihab, atas wewenang Urwa, bahwa dia meriwayatkan kepadanya bahwa Abdullah bin Al-Zubayr meriwayatkan kepadanya bahwa ada seorang laki-laki dari kaum Ansar yang berselisih dengan Al-Zubayr di hadapan Rasulullah, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, atas pohon-pohon di tanah bebas yang dengannya mereka mengairi pohon-pohon palem. Orang Ansari itu berkata, “Biarkan dia pergi.” Airnya mengalir, namun dia menolaknya, sehingga mereka berselisih dengan Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW berkata kepada Zubair, “Air, wahai Zubair, kirimkanlah air itu.” “Kepada tetanggamu.” Kemudian orang Ansari itu marah dan berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya dia adalah sepupumu.” Kemudian wajah Rasulullah SAW berubah warna. Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian. Lalu beliau bersabda, “Wahai Zubair, siramlah, lalu tahan airnya sampai kembali ke tembok.” Lalu Zubair berkata, Demi Allah, saya kira hal ini diturunkan. Ayat dalam hal ini adalah: (Tetapi tidak, demi Tuhanmu, mereka tidak akan beriman sampai mereka menjadikanmu hakim dalam perselisihan di antara mereka.) Abu Issa mengatakan ini adalah hadis yang baik dan shahih. Shuaib bin Abi Hamzah meriwayatkan dari riwayat Al-Zuhri, dari riwayat Urwa bin Al-Zubayr, dari riwayat Al-Zubayr, namun beliau tidak menyebutkannya dari riwayat Abdullah bin Al-Zubayr. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Wahb atas wewenang Al-Layth dan Yunus atas wewenang Al-Zuhri atas wewenang Urwa atas wewenang Abdullah bin Al-Zubayr, serupa dengan hadis pertama.
Jami at-Tirmidzi : 92
Samurah (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ سَمُرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" جَارُ الدَّارِ أَحَقُّ بِالدَّارِ " . قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنِ الشَّرِيدِ وَأَبِي رَافِعٍ وَأَنَسٍ . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ سَمُرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَرَوَى عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِثْلَهُ . وَرُوِيَ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم . وَالصَّحِيحُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ حَدِيثُ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ وَلاَ نَعْرِفُ حَدِيثَ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ عِيسَى بْنِ يُونُسَ . وَحَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّائِفِيِّ عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي هَذَا الْبَابِ هُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ . وَرَوَى إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَيْسَرَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم . قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ كِلاَ الْحَدِيثَيْنِ عِنْدِي صَحِيحٌ .
Ali bin Hajar menceritakan kepada kami, Ismail bin Ulayya menceritakan kepada kami, atas wewenang Sa`id, atas wewenang Qatada, atas wewenang Al-Hasan, atas wewenang Samurah, Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, bersabda: “Tetangga rumah lebih berhak atas rumah itu.” Katanya, dan pada bab tentang kewibawaan al-Sharid, Abu Rafi’ dan Anas. Abu Issa mengatakan hadits Samurah adalah hadits Hassan Sahih. Isa bin Yunus meriwayatkan atas wewenang Sa`id bin Abi Arouba, atas wewenang Qatada, atas wewenang Anas, atas wewenang Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian. Kisah serupa diriwayatkan pada otoritas Saeed, pada otoritas Qatada, pada otoritas Al-Hasan, pada otoritas Samurah, pada otoritas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang shahih menurut ahli ilmu adalah hadis Al-Hasan otoritas Samurah, bukan Kita mengetahui hadits Qatada dari Anas kecuali dari hadits Isa bin Yunus, dan hadits Abdullah bin Abdul Rahman Al-Taifi dari Amr bin Al-Sharid Dari bapaknya, dari Nabi Muhammad SAW, pada bagian ini adalah hadis yang baik. Dan Ibrahim bin Maysarah meriwayatkan atas wewenang Amr bin Al-Sharid, atas wewenang Abu Rafi' atas wewenang Nabi Muhammad SAW. Dia berkata, “Saya mendengar Muhammad berkata, bagi saya, kedua hadis tersebut shahih.”
Jami at-Tirmidzi : 93
Jabir (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْوَاسِطِيُّ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" الْجَارُ أَحَقُّ بِشُفْعَتِهِ يُنْتَظَرُ بِهِ وَإِنْ كَانَ غَائِبًا إِذَا كَانَ طَرِيقُهُمَا وَاحِدًا " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَلاَ نَعْلَمُ أَحَدًا رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ غَيْرَ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ . وَقَدْ تَكَلَّمَ شُعْبَةُ فِي عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ مِنْ أَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ وَعَبْدُ الْمَلِكِ هُوَ ثِقَةٌ مَأْمُونٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ لاَ نَعْلَمُ أَحَدًا تَكَلَّمَ فِيهِ غَيْرَ شُعْبَةَ مِنْ أَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ . وَقَدْ رَوَى وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ هَذَا الْحَدِيثَ . وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ قَالَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ مِيزَانٌ . يَعْنِي فِي الْعِلْمِ . وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرَّجُلَ أَحَقُّ بِشُفْعَتِهِ وَإِنْ كَانَ غَائِبًا فَإِذَا قَدِمَ فَلَهُ الشُّفْعَةُ وَإِنْ تَطَاوَلَ ذَلِكَ .
Qutaibah menceritakan kepada kami, Khaled bin Abdullah Al-Wasiti menceritakan kepada kami, atas wewenang Abdul-Malik bin Abi Suleiman, atas wewenang Ata', atas wewenang Jabir, katanya, katanya Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, "Tetangga lebih layak mendapat syafaatnya. Dia bisa diharapkan meskipun dia tidak hadir, jika jalan mereka sama." kata Abu Issa. Ini adalah hadits yang baik dan aneh, dan kami tidak mengetahui siapa pun yang meriwayatkan hadits ini kecuali Abd al-Malik bin Abi Suleiman, dari Ata', dari Jabir. Syu'bah berbicara tentang Abd al-Malik ibn Abi Suleiman demi hadits ini, dan Abd al-Malik adalah orang yang dapat dipercaya dan dipercaya menurut ahli hadits. Kami tahu Tidak ada seorang pun yang membicarakannya selain Syu`bah karena hadis ini. Waki` meriwayatkan ini dari otoritas Syu`bah, dari otoritas Abd al-Malik bin Abi Sulaiman. Hadits: Diriwayatkan dari Ibnu al-Mubarak, dari Sufyan al-Thawri, yang mengatakan: Abd al-Malik bin Abi Suleiman adalah keseimbangan, makna dalam ilmu. Dan bekerja Berdasarkan hadis ini, menurut para ahli ilmu, laki-laki lebih berhak mendapat keutamaan, meskipun ia tidak hadir. Jika dia hadir, dia berhak melakukan pre-emption, meski memakan waktu lama.
Jami at-Tirmidzi : 94
Jabir bin Abdullah (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " إِذَا وَقَعَتِ الْحُدُودُ وَصُرِّفَتِ الطُّرُقُ فَلاَ شُفْعَةَ " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَقَدْ رَوَاهُ بَعْضُهُمْ مُرْسَلاً عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم . وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنْهُمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ وَبِهِ يَقُولُ بَعْضُ فُقَهَاءِ التَّابِعِينَ مِثْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَغَيْرِهِ وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مِنْهُمْ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيُّ وَرَبِيعَةُ بْنُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ لاَ يَرَوْنَ الشُّفْعَةَ إِلاَّ لِلْخَلِيطِ وَلاَ يَرَوْنَ لِلْجَارِ شُفْعَةً إِذَا لَمْ يَكُنْ خَلِيطًا . وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَغَيْرِهِمُ الشُّفْعَةُ لِلْجَارِ . وَاحْتَجُّوا بِالْحَدِيثِ الْمَرْفُوعِ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " جَارُ الدَّارِ أَحَقُّ بِالدَّارِ " . وَقَالَ " الْجَارُ أَحَقُّ بِسَقَبِهِ " . وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَأَهْلِ الْكُوفَةِ .
Abdul bin Humaid menceritakan kepada kami, Abdul Razzaq menceritakan kepada kami, Muammar menceritakan kepada kami, atas wewenang Al-Zuhri, atas wewenang Abu Salamah bin Abdul Rahman, atas wewenang Jabir bin Abdullah, Rasulullah, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, bersabda, “Ketika perbatasan ditetapkan dan jalan-jalan dibersihkan, maka tidak ada tindakan pendahuluan.” Abu Issa mengatakan hal ini. Sebuah hadits yang baik dan shahih. Ada pula yang meriwayatkan dari Abu Salamah, dari Nabi Muhammad SAW. Hal ini ditindaklanjuti menurut sebagian orang yang berilmu. Di antara para sahabat Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, adalah Umar bin al-Khattab dan Utsman bin Affan, dan beberapa ahli hukum Tabi'in mengatakan tentang dia, seperti Umar bin Abdul Aziz dan lain-lainnya, dan demikianlah yang dikatakan oleh penduduk Madinah, antara lain Yahya bin Saeed Al-Ansari dan Rabia bin Abi Abdul Rahman. Dan Malik bin Anas juga mengatakan bahwa Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq tidak melihat adanya keutamaan kecuali pihak campuran, dan mereka tidak melihat tetangga mempunyai keutamaan jika tidak ada. Campur aduk. Ada yang berilmu di antara para sahabat Nabi, semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian, dan yang lain mengatakan bahwa keutamaan adalah untuk tetangga. Mereka menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW sebagai bukti. Beliau bersabda, “Tetangga rumah lebih berhak atas rumah tersebut.” Dan dia berkata, “Tetangga lebih berhak atas hartanya.” Demikianlah perkataan Al-Thawri. Ibnu Al-Mubarak dan masyarakat Kufah.
Jami at-Tirmidzi : 95
Al-Bara' Bin 'azib
Sahih
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ، أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي يَوْمِ نَحْرٍ فَقَالَ " لاَ يَذْبَحَنَّ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُصَلِّيَ " . قَالَ فَقَامَ خَالِي فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا يَوْمٌ اللَّحْمُ فِيهِ مَكْرُوهٌ وَإِنِّي عَجَّلْتُ نُسُكِي لأُطْعِمَ أَهْلِي وَأَهْلَ دَارِي أَوْ جِيرَانِي . قَالَ " فَأَعِدْ ذَبْحًا آخَرَ " . فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدِي عَنَاقُ لَبَنٍ وَهِيَ خَيْرٌ مِنْ شَاتَىْ لَحْمٍ أَفَأَذْبَحُهَا قَالَ " نَعَمْ وَهِيَ خَيْرُ نَسِيكَتَيْكَ وَلاَ تُجْزِئُ جَذَعَةٌ لأَحَدٍ بَعْدَكَ " . قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ جَابِرٍ وَجُنْدَبٍ وَأَنَسٍ وَعُوَيْمِرِ بْنِ أَشْقَرَ وَابْنِ عُمَرَ وَأَبِي زَيْدٍ الأَنْصَارِيِّ . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ لاَ يُضَحَّى بِالْمِصْرِ حَتَّى يُصَلِّيَ الإِمَامُ وَقَدْ رَخَّصَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لأَهْلِ الْقُرَى فِي الذَّبْحِ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُبَارَكِ . قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنْ لاَ يُجْزِئَ الْجَذَعُ مِنَ الْمَعْزِ وَقَالُوا إِنَّمَا يُجْزِئُ الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ .
Ali bin Hajar menceritakan kepada kami, Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, atas wewenang Dawud bin Abi Hind, atas wewenang Al-Sha'bi, atas wewenang Al-Bara' bin Azib, beliau bersabda, Rasulullah SAW, semoga Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian, bersabda kepada kami pada Hari Kurban dan bersabda, “Tidak seorang pun di antara kalian boleh menyembelih sebelum ia selesai shalat.” Kemudian pamanku berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah.” Demi Allah, ini adalah hari dimana daging dibenci, dan aku mempercepat pengorbananku untuk memberi makan keluargaku, rumah tanggaku, atau tetanggaku. Dia berkata, “Siapkan pembantaian lagi.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai seekor unta betina yang susunya, dan itu lebih baik dari pada seekor domba pedaging. Apakah aku harus menyembelihnya?” Beliau menjawab, “Ya, dan itu adalah dagingmu yang paling baik, dan itu tidak cukup.” Sebuah tunggul bagi seseorang yang mengejarmu.” Beliau berkata, “Dan atas wewenang Jabir, Jundub, Anas, Uwaimir bin Ashqar, Ibnu Umar, dan Abu Zaid Al-Ansari.” Abu Issa berkata: Ini adalah hadis yang hasan dan shahih. Amalannya, menurut sebagian besar ulama, adalah tidak berkurban secuil pun daging sampai imam shalat. Sekelompok ulama telah memberikan izin kepada masyarakat desa untuk menyembelih ketika fajar menyingsing, dan ini adalah pernyataan Ibnu al-Mubarak. Abu Issa berkata: Para ahli sepakat bahwa belalai kambing saja tidak cukup, dan mereka mengatakan bahwa belalai domba saja diperbolehkan.
Jami at-Tirmidzi : 96
Abu Dzar Al-Ghifari (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الأَسْوَدِ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنْقَزِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ صَالِحِ بْنِ رُسْتُمَ أَبِي عَامِرٍ الْخَزَّازِ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" لاَ يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَلْقَ أَخَاهُ بِوَجْهٍ طَلِيقٍ وَإِنِ اشْتَرَيْتَ لَحْمًا أَوْ طَبَخْتَ قِدْرًا فَأَكْثِرْ مَرَقَتَهُ وَاغْرِفْ لِجَارِكَ مِنْهُ " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَاهُ شُعْبَةُ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ .
Al-Hussein bin Ali bin Al-Aswad Al-Baghdadi meriwayatkan kepada kami, Amr bin Muhammad Al-Anqazi meriwayatkan kepada kami, Israel meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Salih bin Rustum Abi Amer Al-Khazzaz, atas wewenang Abu Imran Al-Juni, atas wewenang Abdullah bin Al-Samit, atas wewenang Abu Dzar, katanya, Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, bersabda Dan saw, “Tidak seorang pun di antara kalian yang boleh meremehkan suatu kebaikan, dan jika dia tidak menemukannya, maka hendaklah dia menemui saudaranya dengan wajah terbuka, meskipun kamu membeli daging atau memasak panci.” Jadi tambahlah kuahnya dan ambilkan sedikit untuk tetanggamu.” Abu Issa berkata: Ini adalah hadis yang hasan dan shahih. Syu'bah meriwayatkannya atas wewenang Abu Imran. Al-Juniyy
Jami at-Tirmidzi : 97
Aisyah (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ، هُوَ ابْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ - عَنْ عَمْرَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ
" مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ .
Qutaibah meriwayatkan kepada kami, Al-Layth bin Saad meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Yahya bin Saeed, atas wewenang Abu Bakar, dia adalah putra Muhammad bin Amr bin Hazm - atas wewenang Amra, atas wewenang Aisha, bahwa Rasulullah, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, bersabda, “Jibril terus menasihati saya tentang tetangga saya sampai-sampai saya berpikir dia akan menjadikannya ahli waris.” Dia berkata. Abu Issa Ini adalah hadis yang baik dan shahih
Jami at-Tirmidzi : 98
Mujahid (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ شَابُورَ، وَبَشِيرٍ أَبِي إِسْمَاعِيلَ، عَنْ مُجَاهِدٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو، ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ فِي أَهْلِهِ فَلَمَّا جَاءَ قَالَ أَهْدَيْتُمْ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ أَهْدَيْتُمْ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ
" مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ " . قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَنَسٍ وَالْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ وَعُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ وَأَبِي شُرَيْحٍ وَأَبِي أُمَامَةَ . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ . وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَائِشَةَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَيْضًا .
Muhammad bin Abdul-Ala memberitahu kami, Sufyan bin Uyaynah menceritakan kepada kami, atas wewenang Dawud bin Shabur, dan Bashir Abi Ismail, atas wewenang Mujahid, bahwa Abdullah bin Amr, seekor domba disembelih untuknya untuk keluarganya, dan ketika dia datang dia berkata, “Kamu memberikan hadiah kepada tetangga Yahudi kami. Kamu memberikan hadiah kepada tetangga Yahudi kami.” saya dengar Rasulullah SAW bersabda: “Jibril terus-menerus merekomendasikan kepadaku tetanggaku hingga aku mengira dia akan menjadikannya ahli waris.” Katanya, dan pada bab tentang kewibawaan Aisyah Dan Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Anas, Al-Miqdad bin Al-Aswad, Uqba bin Amir, Abu Shurayh, dan Abu Umamah. kata Abu Issa. Ini Ini adalah hadis yang baik dan aneh jika dilihat dari sudut pandang ini. Hadits ini diriwayatkan atas wewenang Mujahid, atas wewenang Aisyah, dan Abu Hurairah, atas wewenang Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, juga.
Jami at-Tirmidzi : 99
Abdullah Ibin Amr (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ شُرَحْبِيلَ بْنِ شَرِيكٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ . وَأَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيُّ اسْمُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ .
Ahmad bin Muhammad menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al-Mubarak menceritakan kepada kami, atas wewenang Haywa bin Shurayh, atas wewenang Shurahbil bin Sharik, atas wewenang Abu Abdul Rahman Al-Hubli, atas wewenang Abdullah bin Amr, bersabda: Rasulullah SAW bersabda: “Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap temannya.” Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap sesamanya. Abu Issa berkata: Ini adalah hadis yang baik dan aneh. Namanya Abu Abd al-Rahman al-Hubli. Abdullah bin Yazid...
Jami at-Tirmidzi : 100
"abu Saeed Al Khudri
Sahih
حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى، مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا الْمُتَوَكِّلِ، يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ نَاسًا، مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَرُّوا بِحَىٍّ مِنَ الْعَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ وَلَمْ يُضَيِّفُوهُمْ فَاشْتَكَى سَيِّدُهُمْ فَأَتَوْنَا فَقَالُوا هَلْ عِنْدَكُمْ دَوَاءٌ قُلْنَا نَعَمْ وَلَكِنْ لَمْ تَقْرُونَا وَلَمْ تُضَيِّفُونَا فَلاَ نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلاً . فَجَعَلُوا عَلَى ذَلِكَ قَطِيعًا مِنَ الْغَنَمِ . قَالَ فَجَعَلَ رَجُلٌ مِنَّا يَقْرَأُ عَلَيْهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَلَمَّا أَتَيْنَا النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ قَالَ " وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ " . وَلَمْ يَذْكُرْ نَهْيًا مِنْهُ وَقَالَ " كُلُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ بِسَهْمٍ " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ الأَعْمَشِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ إِيَاسٍ . وَهَكَذَا رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي وَحْشِيَّةَ عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ . وَجَعْفَرُ بْنُ إِيَاسٍ هُوَ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي وَحْشِيَّةَ .
Abu Musa memberitahu kami, Muhammad bin Al-Muthanna memberitahu kami, Abd al-Samad bin Abdul-Warith memberitahu kami, Shu'bah memberitahu kami, Abu Bishr memberitahu kami, dia mengatakan saya mendengar Abu Al-Mutawakkil, atas wewenang Abu Sa'id, mengatakan bahwa beberapa Sahabat Nabi, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, melewati lingkungan Arab dan tidak bertemu atau menemui mereka. Mereka akan memberi mereka keramahtamahan, tapi tuan mereka mengeluh, jadi mereka mendatangi kami dan berkata, “Apakah kamu punya obat?” Kami berkata: "Ya, tetapi kamu tidak datang kepada kami dan tidak memberi kami keramahtamahan, jadi kami tidak akan melakukannya sampai membuat beban bagi kami. Maka mereka membuat sekawanan domba untuk itu. Katanya, maka ada seorang di antara kami yang membacakan kepadanya pembukaan kitab itu, dan dia pun sembuh. Ketika kami menemui Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, kami menyebutkan hal itu kepadanya. Beliau bertanya, “Dan tidakkah kamu mengetahui bahwa itu adalah ruqyah?” Beliau tidak menyebutkan larangannya, namun beliau berkata, “Makanlah.” Dan seranglah aku dengan anak panah.” Abu Issa berkata: Ini adalah hadis shahih, dan ini lebih shahih dari hadis Al-A’mash dari Ja’far bin Iyas. Dan seterusnya Lebih dari satu orang meriwayatkan hadits ini atas wewenang Abu Bishr, Ja`far bin Abi Wahshiyah, atas wewenang Abu al-Mutawakkil, atas wewenang Abu Sa`id. Dan Ja`far bin Iyas Dialah Jafar bin Abi Wahshiyah.