Hadits Tentang Repentance
232 hadits shahih ditemukan
Shahih Muslim : 81
Sahih
حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ " لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ إِذَا اسْتَيْقَظَ عَلَى بَعِيرِهِ قَدْ أَضَلَّهُ بِأَرْضِ فَلاَةٍ " . وَحَدَّثَنِيهِ أَحْمَدُ الدَّارِمِيُّ، حَدَّثَنَا حَبَّانُ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ، مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمِثْلِهِ .
Telah menceritakan kepada kami [Haddab bin Khalid] telah menceritakan kepada kami [Hammam] telah menceritakan kepada kami [Qatadah] dari [Anas bin Malik] bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; "Sungguh ke gembiraan Allah karena taubatnya hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian ketika bangun dari tidurnya lalu menemukan hewan tunggangannya yang telah hilang di padang pasir yang luas. Dan telah menceritakannya kepada kami [Ahmad Ad Darimi] telah menceritakan kepada kami [Habban] telah menceritakan kepada kami [Hammam] telah menceritakan kepada kami [Qatadah] telah menceritakan kepada kami [Anas bin Malik] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang serupa dengannya
Shahih Muslim : 82
Sahih
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عُبَيْدَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا " . وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، بِهَذَا الإِسْنَادِ نَحْوَهُ .
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari ['Amru bin Murrah] dia berkata; aku mendengar [Abu 'Ubaidah] bercerita dari [Abu Musa] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: " Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orng yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat." Dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] telah menceritakan kepada kami [Abu Dawud] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dengan sanad ini yang serupa dengan Hadits tersebut
Shahih Muslim : 83
Sahih
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عُبَيْدَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا " . وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، بِهَذَا الإِسْنَادِ نَحْوَهُ .
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari ['Amru bin Murrah] dia berkata; aku mendengar [Abu 'Ubaidah] bercerita dari [Abu Musa] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: " Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orng yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat." Dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] telah menceritakan kepada kami [Abu Dawud] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dengan sanad ini yang serupa dengan Hadits tersebut
Shahih Muslim : 84
Sahih
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، - وَاللَّفْظُ لاِبْنِ الْمُثَنَّى - قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ " كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ . فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ . فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ . وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ . فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ . فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ " . قَالَ قَتَادَةُ فَقَالَ الْحَسَنُ ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ .
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Muhammad bin Basysyar] -dan lafadh ini miliki Ibnul Mutsanna- mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami [Mu'adz bin Hisyam] telah menceritakan kepadaku [bapakku] dari [Qatadah] dari [Abu Ash Shiddiq] dari [Abu Sa'id Al Khudri] bahwasanya Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu malahan menjawab; 'Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.' Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata; 'Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima? ' Orang alim itu menjawab; 'Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.' Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata; 'Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.' Malaikat Azab membantah; 'Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.' Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata; 'Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.' Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat Rahmat.' Qatadah berkata; 'Al Hasan berkata; 'Seseorang telah berkata pada kami bahwasanya laki-laki itu meninggal dunia dalam kondisi jatuh terlungkup
Shahih Muslim : 85
Sahih
حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الصِّدِّيقِ النَّاجِيَّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم " أَنَّ رَجُلاً قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَجَعَلَ يَسْأَلُ هَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَأَتَى رَاهِبًا فَسَأَلَهُ فَقَالَ لَيْسَتْ لَكَ تَوْبَةٌ . فَقَتَلَ الرَّاهِبَ ثُمَّ جَعَلَ يَسْأَلُ ثُمَّ خَرَجَ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَى قَرْيَةٍ فِيهَا قَوْمٌ صَالِحُونَ فَلَمَّا كَانَ فِي بَعْضِ الطَّرِيقِ أَدْرَكَهُ الْمَوْتُ فَنَأَى بِصَدْرِهِ ثُمَّ مَاتَ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَكَانَ إِلَى الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ أَقْرَبَ مِنْهَا بِشِبْرٍ فَجُعِلَ مِنْ أَهْلِهَا " .
Telah menceritakan kepadaku ['Ubaidullah bin Mu'adz Al 'Anbari] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Qatadah] bahwasanya ia mendengar [Abu Ash Shiddiq An Naji] dari [Abu Sa'id Al Khudri] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, lalu ia bertanya apakah masih ada pintu taubat untuknya?" kemudian ia menemui seorang rahib dan bertanya kepadanya. Dia menjawab; 'Tidak ada pintu taubat untukmu.' Lalu ia membunuh rahib tersebut. Kemudian ia terus bertanya, hingga keluar dari desanya menuju desa yang lain yang di dalamnya terdapat orang-orang shalih. Namun ketika di tengah perjalanan, ajal menjemputnya. Ia pun meninggal dalam keadaan telungkup."Lalu Malaikat rahmat dan Malaikat azab saling berebut, setelah diukur jarak perjalanannya ternyata ia lebih dekat sejengkal dengan desa yang baik, maka ia pun digolongkan sebagai penghuni desa tersebut. Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu 'Adi] Telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Qatadah] dengan sanad ini seperti hadits Mu'adz bin Mu'adz di dalamnya ada tambahan; 'Maka Allah mewahyukan kepada desa ini untuk menjauh sedangkan ke desa yang satunya lagi diperintahkan agar mendekat
Shahih Muslim : 86
Sahih
روى لي أبو الطاهر أحمد بن عمرو بن عبد الله بن عمرو بن سِش، وهو مولى مُعتَق من بني أمية: وأخبرني ابن وهب: وأخبرني يونس، ناقلاً عن ابن شهاب. قال ابن شهاب: ثم خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى غزوة تبوك، ولكنه أراد أن يقاتل الروم والعرب النصارى في الشام. قال شهاب: أخبرني عبد الرحمن بن عبد الله بن كعب بن مالك أنه لما أصيب كعب، أحد أبناء عبد الله بن كعب، بالعمى، أصبح خليفةً له. سمعت كعب بن مالك يروي تجربته عندما تأخر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك. قال كعب بن مالك: لم أغب عن أي غزوة شارك فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا غزوة تبوك! كما غبت عن غزوة بدر، لكنه لم يوبخ أحدًا غائبًا عنها. كان رسول الله صلى الله عليه وسلم والمسلمون قد انطلقوا لاستهداف قافلة قريش، وفي النهاية ساقهم الله وأعداءهم إلى مكان لم يتوقعوه. في الواقع، كنت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة العقبة حين عاهدناه على الإسلام. مع أن بدر أشهر بين الناس من العقبة، إلا أنني لا أتمنى لو وقعت غزوة بدر بدلًا من العقبة. قصتي منذ أن فارقت رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك... قال كعب: لم أكن أقوى ولا أغنى مما كنت عليه حين فارقته في تلك المعركة. والله، ما كنت قد جمعت قطّتين من الإبل معًا. وأخيرًا، في تلك المعركة، جمعت جملين معًا. خاض رسول الله صلى الله عليه وسلم هذه المعركة في حرّ شديد. وسار في رحلة طويلة في الصحراء. وواجه جيشًا كبيرًا من الأعداء، وشرح للمسلمين بوضوح ما عليهم فعله حتى يستعدوا لمعركتهم. وأخبرهم إلى أين ينوي أن يقودهم. وكان عدد المسلمين مع رسول الله صلى الله عليه وسلم كبيرًا جدًا حتى أن سجل الحرس لم يسعهم. (يشير كعب بهذا القول إلى سجل الجيش). وتابع روايته: كان هناك قليل ممن أرادوا الفرار (من الجيش) ولم يظنوا أن النبي صلى الله عليه وسلم لن يعلم بذلك إلا إذا جاء وحي من الله سبحانه وتعالى. وقد قام رسول الله صلى الله عليه وسلم بهذه الحملة حين كانت الثمار والظلال في في أوج ازدهاري. كنتُ أكثر المشاركين حماسًا في هذه الحملة. ثم استعد رسول الله صلى الله عليه وسلم والمسلمين معه. بدأتُ أسهر الليل لأستعد معهم. لكنني عدتُ دون أن أفعل شيئًا؛ وقلتُ في نفسي: أنا قادر على ذلك متى شئت. واستمر هذا الحال معي. استمر الناس في العمل. وسهر رسول الله صلى الله عليه وسلم مع المسلمين معه الليل لينطلقوا. لم أفعل شيئًا من ناحية الاستعداد. ثم سهرتُ الليل وعدتُ مرة أخرى دون أن أفعل شيئًا. واستمر هذا الحال. حتى المسلمون أسرعوا إلى وجهتهم، وتقدم المحاربون. شعرتُ برغبة ملحة في الانطلاق واللحاق بهم. ليتني فعلت. لكن لم يُكتب لي ذلك. بعد أن خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم وخرج إلى الناس، بدأتُ أشعر بالحزن لأني لم أتبعه. فقط من اتُهموا بالنفاق أو الضعفاء الذين عذرهم الله يمكن إعفاؤهم من ذلك. رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يذكرني (عليه السلام) حتى وصل إلى تبوك. وبينما كان جالسًا بين الناس في تبوك، سأل: "ماذا فعل كعب بن مالك؟" فقال رجل من بني سليمة: "يا رسول الله، إن ثوبه ونظرته إلى ياقته منعته". فقال له معاذ بن جبل: "يا لك من قول فظيع!" فقال: "والله يا رسول الله، ما نعلم عنه إلا خيرًا". فسكت رسول الله (صلى الله عليه وسلم). وبينما هو على هذه الحال، رأى رجلاً يرتدي ثيابًا بيضاء اختفى السراب معه. فقال رسول الله (صلى الله عليه وسلم): "لا بد أنك أبو حيسمة!" فرأوا أنه أبو حيسرات الأنصاري. هذا هو الرجل الذي إذا عيَّره المنافقون، تصدق بكيل من التمر. ب. وتابع مالك قصته: "لما سمعت أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) عائد من يا تبوك، غمرني الحزن. بدأت تراودني أفكار الكذب. كنت أفكر: "كيف لي أن أهرب من أقاربه غدًا؟" استشرت كل ذي علم في عائلتي في هذا الأمر. عندما أُخبرت باقتراب مجيء رسول الله صلى الله عليه وسلم، تلاشت مني الأفكار الخاطئة. أدركت أنني لن أستطيع التخلص منها بأي حال من الأحوال. فقررت أن أقول له الحقيقة. كان مجيء رسول الله صلى الله عليه وسلم في الصباح. عندما يعود من سفره، كان يبدأ عمله في المسجد. هناك يصلي ركعتين. ثم يجلس للقاء الناس. عندما يفعل ذلك، يأتي إليه من لم يشاركوا في المعركة ويعتذرون إليه ويحلفون له. وكان عددهم يزيد عن ثمانين. قبل رسول الله صلى الله عليه وسلم اعترافاتهم العلنية. بايعهم واستغفر لهم. كما أوكل خفاياهم إلى الله. أخيرًا، جئت إلى هنا. عندما سلمت... ابتسم له ابتسامة غاضبة، ثم قال: جئتُ ماشيًا وجلستُ في حضرته. فقال لي: هل تخلفتَ عن المعركة؟ وسألني: ألم تشترِ دابتك؟ فأجبته: يا رسول الله، والله، لو كنتُ جالسًا مع أحدٍ من أهل الدنيا غيرك، لأظننتُ أنني نجوتُ من غضب الله بعذر. لقد أُعطيتُ الفصاحة، ولكن والله، أعلم أنني لو كذبتُ عليك اليوم كذبةً تُرضيك، لَسأواجه غضب الله قريبًا. ولو قلتُ لك الحق، لَأغضبتَ مني. إني أطلب أجر الله على كلامي. والله، ليس لي عذر. والله، ما كنتُ يومًا أقوى ولا أغنى مما كنتُ عليه حين تخلفتُ عنك. فلما جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: صدقتَ، فقم حتى يقضي الله بك! فقمتُ. فجاءت مجموعة من قام رجال من بني سليمة وتبعوني، فقالوا لي: والله ما نعلم أنك ارتكبت ذنبًا قبل هذا. قالوا: بل لم تستطع أن تقدم لرسول الله صلى الله عليه وسلم نفس العذر الذي قدمه الذين لم يشاركوا في المعركة. كان يكفي رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يستغفر لك. فأجبت: والله لقد وبخوني حتى كدت أرجع إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وأكذب عليه. ثم سألتهم: هل أصاب أحدٌ مثلي؟ قالوا: نعم! أصاب رجلان مثلك. قالا ما قلت، وقيل لهما ما قيل لك. سألت: من هما؟ قالوا: مَرّة بن ربيعة العامري وهلال بن أمية الواقفي. وأخبراني عن رجلين صالحين. رجالٌ شاركوا في غزوة بدر وكانوا جديرين بالاتباع. بعد أن أخبروني بذلك، انصرفت. نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم المسلمين عن التحدث إلينا نحن الثلاثة الذين انفصلنا عنه. ولهذا السبب، تجنبنا الناس. تغيرت نظرتهم إلينا. حتى المكان الذي عرفته تغير في عيني. لم يعد هو المكان الذي عرفته. مكثنا على هذه الحال خمسين ليلة. جلس رفيقيّ في بيتيهما، مطأطئي الرؤوس يبكان. أما أنا: فكنت أصغر الناس وأكثرهم ثباتًا. كنت أخرج من بيتي، وأصلي الصلاة، وأتجول في الأسواق. لكن لم يكن أحد يكلمني. بعد الصلاة، وأنا جالس في مكاني، كنت أقترب من رسول الله صلى الله عليه وسلم وأسلم عليه؛ وأتساءل في نفسي: "هل حركت شفتي لأرد عليه السلام أم لا؟" ثم أصلي قربه، أنظر إليه سرًا. إذا التفت إلى صلاتي، نظر إليّ؛ وإذا التفت إليه، أعرض عني مني. ولما استمر هذا الاضطهاد من المسلمين مدة طويلة، تسلقتُ تدريجيًا سور حديقة أبي قتادة. أبو قتادة هو عمي وأحب الناس إليّ. سلمتُ عليه، والله لم يردّ عليّ السلام. فقلتُ له: "يا أبا قتادة! بالله عليك، أخبرني، هل تعلم أنني أحب الله ورسوله؟" فصمت أبو قتادة. فسألته ثانيةً، بالله عليك، أن يخبرني، فصمت ثانيةً. فسألته ثانيةً (هذه المرة): "الله ورسوله يعلمان!" عندئذٍ امتلأت عيناي بالدموع، وعدتُ أدراجي. وتسلقتُ السور. وبعد ذلك، بينما كنتُ أسير في سوق المدينة، التقيتُ بفلاح من فلاحي دمشق الفرس، كان قد أتى إلى المدينة ليبيع الطعام. وكان يسأل: "من يدلني على كعب بن مالك؟" فبدأ الناس يشيرون إليّ ويدلونه عليّ. وأخيرًا، جاء إليّ وأعطاني رسالة من ملك غسان. كنتُ كاتبًا. قرأت الرسالة، فرأيت فيها ما يلي: "ثم (عليه أن يعلم) بلغنا أن زوجتك قد ظلمتك. لم يخلقك الله في أرض ذل، ولا في مكان تُفقد فيه حقوقك. انضم إلينا فورًا لنعينك." فلما قرأت هذا قلت: "هذا أيضًا نوع من المصائب"، فذهبت إلى الفرن وأحرقت الرسالة هناك. وأخيرًا، بعد انقضاء أربعين ليلة من الخمسين ليلة، وانقطاع الوحي، جاءني رسول رسول الله (صلى الله عليه وسلم) فجأة، فقال: "يأمرك رسول الله (صلى الله عليه وسلم) بالابتعاد عن زوجتك." فقلت: "أطلقها، أم ماذا أفعل؟" فقال: "لا! ابتعد عنها ولا تقترب منها أبدًا!" وكان قد أرسل رسائل مماثلة إلى اثنين من أصحابي. فقلت لزوجتي: "ارجعي إلى أهلك واسكني معهم حتى يأمر الله في هذا الأمر!" ثم... أتت زوجة أمية إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقالت له: يا رسول الله، إن هلال بن أمية شيخ طاعن في السن، ليس له خادم، أتمانع أن أخدمه؟ فقال صلى الله عليه وسلم: ولكن لا ينبغي له أن يقترب منكِ أبدًا! فقالت المرأة: والله، ما لديه وقت لفعل شيء! والله، ما زال يبكي منذ أن أصابه هذا الأمر. فقال لي أحد أهلي: ما أترك رسول الله صلى الله عليه وسلم يستأذن في زوجتك؟ انظر، لقد أذن لزوجة هلال بن أمية أن تخدمه. فقلت: لا أستطيع أن أسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عنها، فأنا شاب. فلما سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عنه، قلت: ماذا سيقول؟ من يدري؟ وبقيت على هذه الحال عشر ليالٍ. وهكذا، انقضت خمسون ليلة منذ أن مُنعنا من الكلام. ثم في صباح الليلة الخمسين، صليت صلاة الصبح في أحد بيوتنا. وبينما كنت جالسًا في الحال الذي قدره الله تعالى لنا، انتابني حزن شديد. شعرتُ بضيق المكان رغم اتساعه. سمعتُ صوتًا ينادي من أعلى جبل سلع. كان يصيح بصوت عالٍ: "كعب بن مالك، بشرى!" فسجدتُ على الفور. وعرفتُ أن الشدوماني قد أتى. ثم بعد أن صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة الصبح، أخبر الناس أن الله قد قبل توبتنا. عندئذٍ، ذهب الناس ليبشرونا. ذهب اثنان من أصحابي ليبشرونا. حثّ رجل فرسه ليأتي إليّ. جاء رجل من قبيلة أسلم يركض نحوي. وصعد الجبل. كان صوته أسرع من صوت الفرس. عندما جاءني من سمعتُ صوته بالبشرى، خلعتُ على الفور اثنين من أعطيته ثيابي ابتهاجًا ببشارته. والله، لم يكن لي شيء آخر في ذلك اليوم. فاستعرت ثوبين وارتديتهما. ثم انطلقت في الطريق، راغبًا في رؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم. فخرج الناس جماعاتٍ لاستقبالي، يهنئونني على توبتي قائلين: "بارك الله في قبول توبتك!". وأخيرًا، دخلت المسجد، فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم جالسًا فيه، محاطًا بالناس. ثم قام طلحة بن عبيد الله، فأسرع إليّ، فصافحني وهنأني. والله، لم يقم من المهاجرين سواه، ولم ينسَ كعب ما فعله طلحة. قال: إذا سلمت على رسول الله صلى الله عليه وسلم، كان وجهه يشرق فرحًا، ويقول: "بشارة لك، هذا أفضل يوم مضى منذ أن ولدتك!". فقلت: "هذا...". قال: «هذا منك أم من الله يا رسول الله؟» قال: «بل هو من الله!» وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا فرح أشرق وجهه كأنه قطعة من القمر، وكنا نعلم ذلك. فلما جلست قلت: يا رسول الله، من توبتي أن أتخلى عن بعض مالي صدقةً لله ورسوله صلى الله عليه وسلم. فقال: «احتفظ ببعضه، فهذا خير لك.» فقلت: «إني أحتفظ بنصيبي من خيبر»، وأضفت: يا رسول الله، إن الله قد أنقذني بالحق. ومن نذوري ألا أقول الحق ما حييت. ومنذ أن أخبرت رسول الله صلى الله عليه وسلم بذلك، لا أعرف مسلماً أنعم الله عليه بنعمة أعظم من نعمة قول الحق. والله، منذ أن أخبرت رسول الله صلى الله عليه وسلم بذلك (عليه السلام)، لم أكذب قط عن قصد. أدعو الله أن يحفظني ما تبقى من حياتي. قال كعب: عندئذٍ أنزل الله تعالى الآيتين ١١٧-١١٨ من سورة التوبة: "إن الله قد قبل توبة الرسول والمهاجرين والأنصار الذين تبعوه في شدائد قوم كادوا يضلون إن الله قد قبل توبتهم وكان بهم لطف ورحمة. وقبل توبة الثلاثة الذين تخلفوا وشعروا بضيق أنفسهم على الرغم من اتساع دنياهم." ووصل الأمر إلى الآية: "والذين آمنوا فاتقوا الله وكونوا مع الصادقين!" ثم: "والله ما أنعم عليّ بعد أن هداني إلى الإسلام بنعمة أعظم من الصدق الذي قلته لرسول الله صلى الله عليه وسلم." هلكوا كما هلك الكاذبون لكذبهم عليه! بل إن الله لما أنزل الوحي في الكاذبين، قال أسوأ ما يمكن أن يُقال لأحد. يقول الله تعالى: «إذا رجعتم إليهم أقسموا بالله ألا تقولوا لهم شيئًا، فأعرضوا عنهم إنهم نجسون ومأواهم جهنم بما كسبوا، يقسمون لك لعلكم ترضون عنهم، فإن رضيتم عنهم فإن الله لا يرضى عن القوم الفاسقين». (سورة التوبة، الآيتان 95-96). قال: «كنا ثلاثة قوم تخلفوا عن أمر الذين بايعهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقبل أيمانهم وبايعهم واستغفر لهم، وأرجأ رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرنا حتى قضى الله، ولذلك قال الله تعالى: «وتوبة الثلاثة الذين تُركوا...» إن تركنا كما ذكر الله ليس يعني تركنا من المعركة، وإنما إن النبي صلى الله عليه وسلم أخّرنا وترك شؤوننا حتى بعد الذين أقسموا عليه واعتذروا، فقبل أعذارهم.
(Abu't-Tahir Ahmed b. Amr b. Abdillah b. Amr b. Sech, seorang budak yang dibebaskan dari Bani Umayyah, meriwayatkan kepadaku:) Ibn Wahb memberitahuku:) Yunus memberitahuku, mengutip Ibn Shihab. Ibn Shihab berkata: Kemudian Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) pergi ke perang Tabuk. Namun, beliau ingin melawan bangsa Romawi dan Arab Kristen di Suriah. Shihab berkata: Abdurrahman b. Abdillah b. Ka'b b. Malik memberitahuku bahwa ketika Ka'b, salah satu putra Abdullah b. Ka'b, menjadi buta, ia menjadi wakilnya. (Aku mendengar Ka'b bin Malik menceritakan pengalamannya ketika ia tertinggal di belakang Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) dalam Perang Tabuk. Ka'b bin Malik berkata: Aku tidak pernah melewatkan satu pun pertempuran yang diikuti Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya), kecuali Perang Tabuk! Aku juga absen dari Perang Badar. Tetapi beliau tidak pernah menegur siapa pun yang absen dari pertempuran itu. Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) dan kaum Muslimin hanya bertujuan untuk menargetkan kafilah Quraisy. Pada akhirnya, Allah membawa mereka dan musuh-musuh mereka ke tempat yang tak terduga. Sesungguhnya, aku bersama Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) pada malam Aqaba ketika kami membuat perjanjian dengannya tentang Islam. Meskipun Badar lebih terkenal di kalangan orang-orang daripada Aqaba, aku tidak berharap Perang Badar terjadi sebagai pengganti Aqaba. Kisahku sejak aku berpisah dari Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya). (Semoga Allah memberkati beliau) selama Perang Tabuk adalah ini: Aku tidak pernah sekuat atau sekaya ini daripada ketika aku berpisah dengannya selama pertempuran itu. Demi Allah, aku belum pernah mengumpulkan dua kawanan unta bersama-sama sebelumnya. Akhirnya, selama pertempuran itu, aku mengumpulkan dua unta bersama-sama. Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) memimpin pertempuran ini dalam cuaca yang sangat panas. Beliau melakukan perjalanan panjang ke padang pasir. Beliau menghadapi pasukan musuh yang besar dan menjelaskan dengan jelas kepada kaum Muslimin apa yang harus mereka lakukan agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk pertempuran mereka. Beliau memberi tahu mereka ke mana beliau bermaksud memimpin mereka. Jumlah kaum Muslimin bersama Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) sangat banyak sehingga bahkan buku penjaga pun tidak dapat mencatat jumlah mereka. (Dia merujuk pada daftar tentara dengan pernyataan ini.) Ka'b melanjutkan kisahnya: Ada beberapa orang yang ingin membelot (dari tentara) dan tidak berpikir bahwa Nabi (shalawat dan salam kepadanya) tidak akan mengetahuinya kecuali ada wahyu dari Allah (Maha Mulia dan Maha Tinggi). Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) (Semoga Allah memberkati beliau) melakukan kampanye ini ketika buah-buahan dan naungan sedang mekar penuh. Akulah yang paling bersemangat berpartisipasi dalam kampanye ini. Kemudian Rasulullah (shalawat dan salam Allah memberkati beliau) dan kaum Muslimin bersamanya bersiap-siap. Aku mulai begadang sepanjang malam untuk bersiap bersama mereka. Tetapi aku kembali tanpa melakukan apa pun; aku berkata pada diriku sendiri: Aku mampu melakukan ini kapan pun aku mau. Hal ini terus berlanjut padaku. Orang-orang terus bekerja. Dan Rasulullah (shalawat dan salam Allah memberkati beliau), bersama kaum Muslimin bersamanya, begadang sepanjang malam untuk berangkat. Aku tidak melakukan apa pun dalam hal persiapan. Kemudian aku begadang sepanjang malam dan kembali lagi tanpa melakukan apa pun. Keadaan ini terus berlanjut. Bahkan kaum Muslimin bergegas ke tujuan mereka, dan para pejuang maju. Aku merasa ingin berangkat dan menyusul mereka. Aku berharap aku telah melakukannya. Tetapi ini bukanlah takdirku. Setelah Rasulullah (shalawat dan salam Allah memberkati beliau) pergi dan keluar di antara orang-orang, aku mulai merasa sedih karena aku tidak mengikutinya. Hanya mereka yang dituduh munafik atau mereka yang lemah Orang-orang yang menurut izin Allah dapat dikecualikan dari hal ini. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam tidak menyebut namaku sampai beliau sampai di Tabuk. Ketika duduk di antara jamaah di Tabuk, beliau bertanya, "Apa yang dilakukan Ka'b bin Malik?" Seorang pria dari suku Bani Salima berkata, "Wahai Rasulullah! Pakaiannya dan cara pandangnya pada kerah pakaian itu menghalanginya." Mendengar itu, Mu'adz bin Jabal berkata kepadanya, "Sungguh mengerikan ucapanmu!" "Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui apa pun selain kebaikan tentangnya," katanya. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam terdiam. Ketika beliau dalam keadaan itu, beliau melihat seorang pria berpakaian putih yang bersamanya fatamorgana itu menghilang. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam berkata, "Engkau pastilah Abu Haysema!" Dan mereka melihat bahwa itu adalah Abu Haysera'at al-Ansari. Dialah orang yang, ketika orang-orang munafik mengkritiknya, memberikan segenggam kurma kering sebagai sedekah. b. Malik Ia melanjutkan kisahnya: "Ketika aku mendengar bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam akan kembali dari Tabuk, aku dipenuhi kesedihan. Aku mulai berpikir untuk berbohong. Aku berpikir, 'Bagaimana aku bisa lolos dari kerabatnya besok?' Aku meminta bantuan dari setiap orang yang berilmu di keluargaku mengenai masalah ini." Ketika aku diberitahu bahwa kedatangan Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam sudah dekat, pikiran-pikiran palsu itu meninggalkanku. Aku mengerti bahwa aku tidak akan pernah bisa lolos dari mereka dengan cara apa pun. Dan aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Kedatangan Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam adalah di pagi hari. Ketika beliau kembali dari suatu perjalanan, beliau pertama-tama akan memulai pekerjaannya di masjid. Di sana beliau shalat dua rakaat. Kemudian beliau duduk untuk bertemu dengan orang-orang. Ketika beliau melakukan ini, orang-orang yang tidak ikut berperang datang dan mulai meminta maaf kepadanya dan bersumpah setia kepadanya. Ada lebih dari delapan puluh orang. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam menerima pernyataan terbuka mereka. Beliau berbaiat kepada mereka. dan memohon ampunan untuk mereka. Beliau juga menyerahkan aspek-aspek tersembunyi mereka kepada Allah. Akhirnya, aku datang ke sini. Ketika aku memberi salam kepadanya, beliau tersenyum dengan senyum orang yang marah. Kemudian beliau berkata: Aku datang berjalan dan duduk di hadapannya. Beliau berkata kepadaku: Kau tertinggal dari medan perang? "Bukankah kau sudah membeli hewanmu?" tanyanya. Aku menjawab, "Wahai Rasulullah! Demi Allah, jika aku duduk dengan orang lain selain engkau dari kalangan manusia di dunia, aku pikir aku akan lolos dari murka Allah dengan alasan. Aku telah diberi kemampuan berbicara yang baik. Tetapi demi Allah, aku tahu bahwa jika aku berbohong kepadamu hari ini yang akan menyenangkanmu, aku akan segera menghadapi murka Allah. Jika aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, engkau akan tersinggung olehku. Aku mencari pahala Allah atas perkataanku. Demi Allah, aku tidak punya alasan. Demi Allah, tidak pernah ada waktu di mana aku lebih kuat atau lebih kaya daripada ketika aku tertinggal di belakangmu." Ketika Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) tiba, beliau berkata, "Sesungguhnya engkau telah berkata benar." Sekarang, bangunlah (pergilah) sampai Allah memberikan keputusan-Nya tentangmu!" Maka aku pun bangun. Sekelompok orang dari Bani Salima juga bangun dan mengikutiku, dan mereka berkata kepadaku, "Demi Allah! Kami tidak mengetahui dosa apa pun yang telah kau lakukan sebelumnya." Mereka berkata, "Memang, kau tidak mampu memberikan alasan yang sama kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) seperti yang diberikan oleh orang-orang yang tidak ikut berperang. Seharusnya Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) memohon ampunan atas dosamu." Dia menjawab, "Demi Allah! Mereka mencelaku begitu keras sehingga aku hampir kembali kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) dan berbohong kepadanya. Kemudian aku bertanya kepada mereka, 'Apakah ada orang lain yang mengalami nasib yang sama sepertiku?' Mereka berkata, 'Ya! Dua orang mengalami nasib yang sama sepertimu. Mereka mengatakan hal yang sama seperti yang kau katakan, dan mereka diberitahu hal yang sama sepertimu.' Aku bertanya, 'Siapakah mereka?' Mereka berkata, 'Murarah ibn Rabi'ah al-Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.' Dan mereka menceritakan kepadaku tentang dua orang saleh yang telah ikut serta dalam Perang Badar dan layak untuk diikuti. Setelah mereka menceritakan hal ini kepadaku, aku pergi." Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam melarang kaum Muslimin berbicara kepada kami bertiga yang telah berpisah darinya. Karena itu, orang-orang menjauhi kami. Sikap mereka terhadap kami berubah. Bahkan tempat yang kukenal pun berubah di mataku. Itu bukan lagi tempat yang kukenal. Kami tetap dalam keadaan ini selama lima puluh malam. Dua sahabatku duduk di rumah mereka, menundukkan kepala dan menangis. Adapun aku: aku adalah yang termuda dan paling teguh di antara kami. Aku akan meninggalkan rumahku, datang untuk shalat, dan berjalan di pasar. Tetapi tidak ada seorang pun yang berbicara kepadaku. Setelah shalat, sambil duduk di tempatku, aku akan mendekati Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam dan memberi salam kepadanya; dan aku akan berpikir dalam hati, "Apakah aku menggerakkan bibirku untuk membalas salam atau tidak?" Kemudian aku akan shalat di dekatnya, diam-diam memandanginya. Ketika aku Ketika aku menoleh ke arah salatku, dia akan menatapku; ketika aku menatapnya, dia akan memalingkan muka dariku. Ketika penganiayaan oleh kaum Muslim ini berlanjut untuk waktu yang lama, aku perlahan-lahan memanjat tembok taman Abu Qatada. Abu Qatada adalah pamanku dan orang yang paling kusayangi. Aku memberi salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak membalas salamku. Aku berkata kepadanya: "Wahai Abu Qatada! Demi Allah, katakan padaku, apakah engkau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Abu Qatada tetap diam. Aku bertanya lagi kepadanya, demi Allah, untuk memberitahuku. Dia tetap diam lagi. Aku bertanya lagi (kali ini): "Allah dan Rasul-Nya tahu!" Mendengar itu, mataku berlinang air mata, dan aku berbalik. Aku memanjat tembok. Kemudian, ketika berjalan di pasar Madinah, aku bertemu dengan seorang petani Persia dari Damaskus yang datang ke Madinah untuk berjualan makanan. Dia bertanya, "Siapa yang akan menunjukkan kepadaku Ka'b bin Malik?" Orang-orang mulai menunjukku dan mengarahkanku kepadanya. Akhirnya, dia datang kepadaku dan Ia memberiku surat dari Raja Ghassan. Aku adalah seorang juru tulis. Aku membaca surat itu. Aku melihat bahwa isinya sebagai berikut: "Kemudian (perlu diketahui) kami mendengar bahwa istrimu telah berbuat zalim kepadamu. Allah tidak menciptakanmu di negeri yang hina, atau di tempat di mana hak-hakmu akan hilang. Segera bergabunglah dengan kami agar kami dapat membantumu." Ketika aku membaca ini, aku berkata, "Ini juga semacam musibah," dan aku pergi ke tungku dan membakar surat itu di sana. Akhirnya, setelah empat puluh dari lima puluh malam berlalu dan wahyu telah berhenti, utusan Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) tiba-tiba datang kepadaku. Dan beliau berkata, "Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) memerintahkanmu untuk menjauhkan diri dari istrimu." Aku berkata, "Haruskah aku menceraikannya, atau apa yang harus kulakukan?" Beliau berkata, "Tidak! Jauhkan saja dirimu darinya dan jangan pernah mendekatinya lagi!" Beliau telah mengirimkan pesan serupa kepada dua sahabatku. Kemudian aku berkata kepada istriku, "Kembalilah kepada keluargamu dan tinggallah di sini." bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan tentang masalah ini!" Kemudian, istri Hilal bin Umayya datang kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) dan berkata kepadanya: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayya adalah seorang lelaki tua yang lemah; dia tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau tidak menyetujui jika aku melayaninya?" Beliau (shalawat dan salam kepadanya) berkata: "Tetapi dia tidak boleh mendekatimu!" Wanita itu berkata: "Demi Allah, dia tidak punya waktu untuk melakukan apa pun! Dan demi Allah, dia terus menangis sejak masalah ini terjadi padanya." Kemudian salah seorang anggota keluargaku berkata kepadaku: "Mengapa kamu tidak meminta izin kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) mengenai istrimu? (Lihat) istri Hilal bin Umayya, beliau mengizinkannya untuk melayani Hilal." Aku berkata: "Aku tidak dapat meminta izin kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) tentang dia. Aku masih muda." Ketika aku bertanya kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) Ketika saya meminta izin kepadanya (untuk berbicara dengannya), saya berkata, "Apa yang akan dia katakan? Siapa yang tahu?" Dan saya tetap dalam keadaan ini selama sepuluh malam. Dengan cara ini, lima puluh malam telah genap sejak kami dilarang berbicara. Kemudian, pada pagi hari kelima puluh, saya melaksanakan salat subuh di salah satu rumah kami. Dan ketika saya duduk dalam keadaan yang telah Allah SWT tetapkan bagi kami, saya diliputi kesedihan. Tempat itu, meskipun luas, terasa sempit bagi saya. Saya mendengar suara seseorang berteriak dari puncak Gunung Sel'. Dia berteriak dengan suara keras: "Ka'b bin Malik, kabar gembira!" Saya segera bersujud. Dan saya mengerti bahwa Shadumani telah datang. Kemudian, setelah Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam melaksanakan salat subuh, beliau memberitahu orang-orang bahwa Allah telah menerima taubat kami. Setelah itu, orang-orang pergi untuk memberi tahu kami kabar gembira tersebut. Dua sahabat saya pergi untuk menyampaikan kabar gembira itu. Seorang pria memacu kudanya untuk datang kepada saya. Seorang pria dari suku Aslam berlari ke arah saya. Dan dia naik ke atas gunung. Suaranya lebih cepat dari kuda. Ketika orang yang suaranya kudengar datang kepadaku dengan kabar gembira, aku segera melepas dua pakaianku dan memberikannya kepadanya untuk merayakan kabar gembiranya. Demi Allah, aku tidak memiliki apa pun selain itu pada hari itu. Dan aku meminjam dua pakaian dan memakainya. Aku segera berangkat, ingin melihat Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya). Orang-orang keluar berkelompok untuk menemuiku, memberi selamat kepadaku atas taubatku dan berkata, "Semoga taubatmu diterima oleh Allah!" Akhirnya, aku memasuki masjid. Dan aku melihat Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) duduk di masjid, dikelilingi oleh orang-orang. Kemudian Talha bin Ubaydillah bangkit dan segera datang kepadaku. Dia menjabat tanganku dan memberi selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang bangkit kecuali dia, dan Ka'b tidak pernah melupakan apa yang telah dilakukan Talha. Dia berkata: Ketika aku memberi salam kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya), wajahnya akan berseri-seri dengan gembira dan dia Beliau akan berkata: "Kabar gembira bagimu, ini adalah hari terbaik yang telah berlalu sejak aku melahirkanmu!" Aku bertanya: "Apakah ini darimu atau dari Allah, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Tentu saja, ini dari Allah!" Ketika Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) bergembira, wajahnya berseri-seri, seolah-olah wajahnya seperti sepotong bulan. Kami mengetahui hal ini. Ketika aku duduk, aku berkata: "Wahai Rasulullah! Salah satu perbuatan taubatku adalah memberikan sebagian hartaku sebagai sedekah untuk Allah dan Rasul-Nya (shalawat dan salam kepadanya)." Beliau (shalawat dan salam kepadanya) berkata: "Simpanlah sebagiannya! Ini lebih baik untukmu." Aku berkata: "Aku menyimpan bagianku dari Khaybar," dan aku menambahkan: "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah menyelamatkanku melalui kebaikan." Salah satu nazarku adalah tidak akan pernah lagi mengatakan kebenaran selama aku hidup. Sejak aku menceritakan ini kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya), aku tidak tahu Tidak ada Muslim lain yang diberi karunia lebih besar daripada Allah dalam memberikan kemampuan untuk berbicara jujur. Demi Allah, sejak saya menceritakan hal ini kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya), saya tidak pernah dengan sengaja berbohong. Saya berdoa semoga Allah melindungi saya selama sisa hidup saya. Ka'b berkata: Kemudian Allah (Maha Mulia dan Maha Tinggi) menurunkan ayat 117-118 Surah At-Tawbah: "Sesungguhnya Allah menerima taubat Rasulullah dan kaum Muhajirin dan Ansar yang mengikutinya di masa-masa sulit—sekelompok yang hampir tersesat. Sesungguhnya Dia menerima taubat mereka, karena Allah Maha Baik dan Maha Penyayang kepada mereka. Dan Dia juga menerima taubat tiga orang yang tertinggal, dan yang merasa terkekang oleh diri mereka sendiri, meskipun dunia mereka sangat luas." Ayat itu berlanjut hingga: "Orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan bergaullah dengan orang-orang yang berbicara jujur!" Dan kemudian, "Demi Allah, setelah Dia membimbing saya kepada Islam, Dia tidak Tidak ada nikmat yang lebih besar yang diberikan kepadaku selain kebenaran yang kuucapkan kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam. Masalahku akan dihancurkan seperti para pendusta yang berbohong kepadanya! Sesungguhnya, ketika Allah menurunkan wahyu tentang para pendusta, Dia mengatakan hal terburuk yang dapat dikatakan kepada siapa pun. Allah berfirman: 'Ketika kamu kembali kepada mereka, mereka akan bersumpah demi Allah bahwa kamu tidak akan mengatakan apa pun kepada mereka. Maka berpalinglah dari mereka! Karena mereka najis, dan tempat tinggal mereka adalah neraka karena apa yang mereka peroleh. Mereka bersumpah kepadamu agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang jahat.'" (Surah At-Tawbah, ayat 95-96) Dia berkata: "Kami bertiga adalah orang-orang yang tertinggal dari urusan orang-orang yang telah disumpah oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, dan beliau menerima sumpah mereka dan berbaiat untuk mereka, dan beliau memohonkan ampunan untuk mereka. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam menunda urusan kita hingga Allah memberikan keputusan-Nya. Karena alasan inilah Allah (Maha Mulia dan Maha Tinggi) berfirman: 'Dan taubat tiga orang yang tertinggal...' Tertinggalnya kita sebagaimana disebutkan oleh Allah bukanlah karena kita tertinggal dari pertempuran. Hanya saja Nabi (shalawat dan salam kepadanya) menunda urusan kita hingga setelah orang-orang yang telah bersumpah dan memberikan alasan kepadanya, dan beliau menerima alasan mereka."
Shahih Muslim : 87
Sahih
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ مَوْلَى بَنِي أُمَيَّةَ أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ ثُمَّ غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَزْوَةَ تَبُوكَ وَهُوَ يُرِيدُ الرُّومَ وَنَصَارَى الْعَرَبِ بِالشَّامِ . قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ كَعْبٍ كَانَ قَائِدَ كَعْبٍ مِنْ بَنِيهِ حِينَ عَمِيَ قَالَ سَمِعْتُ كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ حَدِيثَهُ حِينَ تَخَلَّفَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ قَالَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ لَمْ أَتَخَلَّفْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا قَطُّ إِلاَّ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ غَيْرَ أَنِّي قَدْ تَخَلَّفْتُ فِي غَزْوَةِ بَدْرٍ وَلَمْ يُعَاتِبْ أَحَدًا تَخَلَّفَ عَنْهُ إِنَّمَا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْمُسْلِمُونَ يُرِيدُونَ عِيرَ قُرَيْشٍ حَتَّى جَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ عَدُوِّهُمْ عَلَى غَيْرِ مِيعَادٍ وَلَقَدْ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ حِينَ تَوَاثَقْنَا عَلَى الإِسْلاَمِ وَمَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهَا مَشْهَدَ بَدْرٍ وَإِنْ كَانَتْ بَدْرٌ أَذْكَرَ فِي النَّاسِ مِنْهَا وَكَانَ مِنْ خَبَرِي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ أَنِّي لَمْ أَكُنْ قَطُّ أَقْوَى وَلاَ أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْهُ فِي تِلْكَ الْغَزْوَةِ وَاللَّهِ مَا جَمَعْتُ قَبْلَهَا رَاحِلَتَيْنِ قَطُّ حَتَّى جَمَعْتُهُمَا فِي تِلْكَ الْغَزْوَةِ فَغَزَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي حَرٍّ شَدِيدٍ وَاسْتَقْبَلَ سَفَرًا بَعِيدًا وَمَفَازًا وَاسْتَقْبَلَ عَدُوًّا كَثِيرًا فَجَلاَ لِلْمُسْلِمِينَ أَمْرَهُمْ لِيَتَأَهَّبُوا أُهْبَةَ غَزْوِهِمْ فَأَخْبَرَهُمْ بِوَجْهِهِمُ الَّذِي يُرِيدُ وَالْمُسْلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَثِيرٌ وَلاَ يَجْمَعُهُمْ كِتَابُ حَافِظٍ - يُرِيدُ بِذَلِكَ الدِّيوَانَ - قَالَ كَعْبٌ فَقَلَّ رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَتَغَيَّبَ يَظُنُّ أَنَّ ذَلِكَ سَيَخْفَى لَهُ مَا لَمْ يَنْزِلْ فِيهِ وَحْىٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَغَزَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تِلْكَ الْغَزْوَةَ حِينَ طَابَتِ الثِّمَارُ وَالظِّلاَلُ فَأَنَا إِلَيْهَا أَصْعَرُ فَتَجَهَّزَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْمُسْلِمُونَ مَعَهُ وَطَفِقْتُ أَغْدُو لِكَىْ أَتَجَهَّزَ مَعَهُمْ فَأَرْجِعُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا . وَأَقُولُ فِي نَفْسِي أَنَا قَادِرٌ عَلَى ذَلِكَ إِذَا أَرَدْتُ . فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ يَتَمَادَى بِي حَتَّى اسْتَمَرَّ بِالنَّاسِ الْجِدُّ فَأَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَادِيًا وَالْمُسْلِمُونَ مَعَهُ وَلَمْ أَقْضِ مِنْ جَهَازِي شَيْئًا ثُمَّ غَدَوْتُ فَرَجَعْتُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ يَتَمَادَى بِي حَتَّى أَسْرَعُوا وَتَفَارَطَ الْغَزْوُ فَهَمَمْتُ أَنْ أَرْتَحِلَ فَأُدْرِكَهُمْ فَيَا لَيْتَنِي فَعَلْتُ ثُمَّ لَمْ يُقَدَّرْ ذَلِكَ لِي فَطَفِقْتُ إِذَا خَرَجْتُ فِي النَّاسِ بَعْدَ خُرُوجِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَحْزُنُنِي أَنِّي لاَ أَرَى لِي أُسْوَةً إِلاَّ رَجُلاً مَغْمُوصًا عَلَيْهِ فِي النِّفَاقِ أَوْ رَجُلاً مِمَّنْ عَذَرَ اللَّهُ مِنَ الضُّعَفَاءِ وَلَمْ يَذْكُرْنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى بَلَغَ تَبُوكًا فَقَالَ وَهُوَ جَالِسٌ فِي الْقَوْمِ بِتَبُوكَ " مَا فَعَلَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ " . قَالَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَبَسَهُ بُرْدَاهُ وَالنَّظَرُ فِي عِطْفَيْهِ . فَقَالَ لَهُ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ بِئْسَ مَا قُلْتَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ إِلاَّ خَيْرًا . فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَيْنَمَا هُوَ عَلَى ذَلِكَ رَأَى رَجُلاً مُبَيِّضًا يَزُولُ بِهِ السَّرَابُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " كُنْ أَبَا خَيْثَمَةَ " . فَإِذَا هُو أَبُو خَيْثَمَةَ الأَنْصَارِيُّ وَهُوَ الَّذِي تَصَدَّقَ بِصَاعِ التَّمْرِ حِينَ لَمَزَهُ الْمُنَافِقُونَ . فَقَالَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ فَلَمَّا بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَدْ تَوَجَّهَ قَافِلاً مِنْ تَبُوكَ حَضَرَنِي بَثِّي فَطَفِقْتُ أَتَذَكَّرُ الْكَذِبَ وَأَقُولُ بِمَ أَخْرُجُ مِنْ سَخَطِهِ غَدًا وَأَسْتَعِينُ عَلَى ذَلِكَ كُلَّ ذِي رَأْىٍ مِنْ أَهْلِي فَلَمَّا قِيلَ لِي إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَدْ أَظَلَّ قَادِمًا زَاحَ عَنِّي الْبَاطِلُ حَتَّى عَرَفْتُ أَنِّي لَنْ أَنْجُوَ مِنْهُ بِشَىْءٍ أَبَدًا فَأَجْمَعْتُ صِدْقَهُ وَصَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَادِمًا وَكَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ فَرَكَعَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ لِلنَّاسِ فَلَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ جَاءَهُ الْمُخَلَّفُونَ فَطَفِقُوا يَعْتَذِرُونَ إِلَيْهِ وَيَحْلِفُونَ لَهُ وَكَانُوا بِضْعَةً وَثَمَانِينَ رَجُلاً فَقَبِلَ مِنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلاَنِيَتَهُمْ وَبَايَعَهُمْ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ وَوَكَلَ سَرَائِرَهُمْ إِلَى اللَّهِ حَتَّى جِئْتُ فَلَمَّا سَلَّمْتُ تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ الْمُغْضَبِ ثُمَّ قَالَ " تَعَالَ " . فَجِئْتُ أَمْشِي حَتَّى جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ لِي " مَا خَلَّفَكَ " . أَلَمْ تَكُنْ قَدِ ابْتَعْتَ ظَهْرَكَ " . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي وَاللَّهِ لَوْ جَلَسْتُ عِنْدَ غَيْرِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا لَرَأَيْتُ أَنِّي سَأَخْرُجُ مِنْ سَخَطِهِ بِعُذْرٍ وَلَقَدْ أُعْطِيتُ جَدَلاً وَلَكِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَى بِهِ عَنِّي لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَىَّ وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَىَّ فِيهِ إِنِّي لأَرْجُو فِيهِ عُقْبَى اللَّهِ وَاللَّهِ مَا كَانَ لِي عُذْرٌ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَى وَلاَ أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " أَمَّا هَذَا فَقَدْ صَدَقَ فَقُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِيكَ " . فَقُمْتُ وَثَارَ رِجَالٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ فَاتَّبَعُونِي فَقَالُوا لِي وَاللَّهِ مَا عَلِمْنَاكَ أَذْنَبْتَ ذَنْبًا قَبْلَ هَذَا لَقَدْ عَجَزْتَ فِي أَنْ لاَ تَكُونَ اعْتَذَرْتَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمَا اعْتَذَرَ بِهِ إِلَيْهِ الْمُخَلَّفُونَ فَقَدْ كَانَ كَافِيَكَ ذَنْبَكَ اسْتِغْفَارُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَكَ . قَالَ فَوَاللَّهِ مَا زَالُوا يُؤَنِّبُونَنِي حَتَّى أَرَدْتُ أَنْ أَرْجِعَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأُكَذِّبَ نَفْسِي - قَالَ - ثُمَّ قُلْتُ لَهُمْ هَلْ لَقِيَ هَذَا مَعِي مِنْ أَحَدٍ قَالُوا نَعَمْ لَقِيَهُ مَعَكَ رَجُلاَنِ قَالاَ مِثْلَ مَا قُلْتَ فَقِيلَ لَهُمَا مِثْلُ مَا قِيلَ لَكَ - قَالَ - قُلْتُ مَنْ هُمَا قَالُوا مُرَارَةُ بْنُ رَبِيعَةَ الْعَامِرِيُّ وَهِلاَلُ بْنُ أُمَيَّةَ الْوَاقِفِيُّ - قَالَ - فَذَكَرُوا لِي رَجُلَيْنِ صَالِحَيْنِ قَدْ شِهِدَا بَدْرًا فِيهِمَا أُسْوَةٌ - قَالَ - فَمَضَيْتُ حِينَ ذَكَرُوهُمَا لِي . قَالَ وَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمُسْلِمِينَ عَنْ كَلاَمِنَا أَيُّهَا الثَّلاَثَةُ مِنْ بَيْنِ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهُ - قَالَ - فَاجْتَنَبَنَا النَّاسُ - وَقَالَ - تَغَيَّرُوا لَنَا حَتَّى تَنَكَّرَتْ لِي فِي نَفْسِيَ الأَرْضُ فَمَا هِيَ بِالأَرْضِ الَّتِي أَعْرِفُ فَلَبِثْنَا عَلَى ذَلِكَ خَمْسِينَ لَيْلَةً فَأَمَّا صَاحِبَاىَ فَاسْتَكَانَا وَقَعَدَا فِي بُيُوتِهِمَا يَبْكِيَانِ وَأَمَّا أَنَا فَكُنْتُ أَشَبَّ الْقَوْمِ وَأَجْلَدَهُمْ فَكُنْتُ أَخْرُجُ فَأَشْهَدُ الصَّلاَةَ وَأَطُوفُ فِي الأَسْوَاقِ وَلاَ يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ وَآتِي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأُسَلِّمُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي مَجْلِسِهِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَأَقُولُ فِي نَفْسِي هَلْ حَرَّكَ شَفَتَيْهِ بِرَدِّ السَّلاَمِ أَمْ لاَ ثُمَّ أُصَلِّي قَرِيبًا مِنْهُ وَأُسَارِقُهُ النَّظَرَ فَإِذَا أَقْبَلْتُ عَلَى صَلاَتِي نَظَرَ إِلَىَّ وَإِذَا الْتَفَتُّ نَحْوَهُ أَعْرَضَ عَنِّي حَتَّى إِذَا طَالَ ذَلِكَ عَلَىَّ مِنْ جَفْوَةِ الْمُسْلِمِينَ مَشَيْتُ حَتَّى تَسَوَّرْتُ جِدَارَ حَائِطِ أَبِي قَتَادَةَ وَهُوَ ابْنُ عَمِّي وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَوَاللَّهِ مَا رَدَّ عَلَىَّ السَّلاَمَ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا قَتَادَةَ أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمَنَّ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ فَسَكَتَ فَعُدْتُ فَنَاشَدْتُهُ فَسَكَتَ فَعُدْتُ فَنَاشَدْتُهُ فَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . فَفَاضَتْ عَيْنَاىَ وَتَوَلَّيْتُ حَتَّى تَسَوَّرْتُ الْجِدَارَ فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي فِي سُوقِ الْمَدِينَةِ إِذَا نَبَطِيٌّ مِنْ نَبَطِ أَهْلِ الشَّامِ مِمَّنْ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيعُهُ بِالْمَدِينَةِ يَقُولُ مَنْ يَدُلُّ عَلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ - قَالَ - فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيرُونَ لَهُ إِلَىَّ حَتَّى جَاءَنِي فَدَفَعَ إِلَىَّ كِتَابًا مِنْ مَلِكِ غَسَّانَ وَكُنْتُ كَاتِبًا فَقَرَأْتُهُ فَإِذَا فِيهِ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنَا أَنَّ صَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ وَلَمْ يَجْعَلْكَ اللَّهُ بِدَارِ هَوَانٍ وَلاَ مَضْيَعَةٍ فَالْحَقْ بِنَا نُوَاسِكَ . قَالَ فَقُلْتُ حِينَ قَرَأْتُهَا وَهَذِهِ أَيْضًا مِنَ الْبَلاَءِ . فَتَيَامَمْتُ بِهَا التَّنُّورَ فَسَجَرْتُهَا بِهَا حَتَّى إِذَا مَضَتْ أَرْبَعُونَ مِنَ الْخَمْسِينَ وَاسْتَلْبَثَ الْوَحْىُ إِذَا رَسُولُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْتِينِي فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُكَ أَنْ تَعْتَزِلَ امْرَأَتَكَ . قَالَ فَقُلْتُ أُطَلِّقُهَا أَمْ مَاذَا أَفْعَلُ قَالَ لاَ بَلِ اعْتَزِلْهَا فَلاَ تَقْرَبَنَّهَا - قَالَ - فَأَرْسَلَ إِلَى صَاحِبَىَّ بِمِثْلِ ذَلِكَ - قَالَ - فَقُلْتُ لاِمْرَأَتِي الْحَقِي بِأَهْلِكِ فَكُونِي عِنْدَهُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِي هَذَا الأَمْرِ - قَالَ - فَجَاءَتِ امْرَأَةُ هِلاَلِ بْنِ أُمَيَّةَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هِلاَلَ بْنَ أُمَيَّةَ شَيْخٌ ضَائِعٌ لَيْسَ لَهُ خَادِمٌ فَهَلْ تَكْرَهُ أَنْ أَخْدُمَهُ قَالَ " لاَ وَلَكِنْ لاَ يَقْرَبَنَّكِ " . فَقَالَتْ إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا بِهِ حَرَكَةٌ إِلَى شَىْءٍ وَوَاللَّهِ مَا زَالَ يَبْكِي مُنْذُ كَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ إِلَى يَوْمِهِ هَذَا . قَالَ فَقَالَ لِي بَعْضُ أَهْلِي لَوِ اسْتَأْذَنْتَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي امْرَأَتِكَ فَقَدْ أَذِنَ لاِمْرَأَةِ هِلاَلِ بْنِ أُمَيَّةَ أَنْ تَخْدُمَهُ - قَالَ - فَقُلْتُ لاَ أَسْتَأْذِنُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِينِي مَاذَا يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اسْتَأْذَنْتُهُ فِيهَا وَأَنَا رَجُلٌ شَابٌّ - قَالَ - فَلَبِثْتُ بِذَلِكَ عَشْرَ لَيَالٍ فَكَمُلَ لَنَا خَمْسُونَ لَيْلَةً مِنْ حِينَ نُهِيَ عَنْ كَلاَمِنَا - قَالَ - ثُمَّ صَلَّيْتُ صَلاَةَ الْفَجْرِ صَبَاحَ خَمْسِينَ لَيْلَةً عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِنَا فَبَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عَلَى الْحَالِ الَّتِي ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَّا قَدْ ضَاقَتْ عَلَىَّ نَفْسِي وَضَاقَتْ عَلَىَّ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ سَمِعْتُ صَوْتَ صَارِخٍ أَوْفَى عَلَى سَلْعٍ يَقُولُ بِأَعْلَى صَوْتِهِ يَا كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ أَبْشِرْ - قَالَ - فَخَرَرْتُ سَاجِدًا وَعَرَفْتُ أَنْ قَدْ جَاءَ فَرَجٌ . - قَالَ - فَآذَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم النَّاسَ بِتَوْبَةِ اللَّهِ عَلَيْنَا حِينَ صَلَّى صَلاَةَ الْفَجْرِ فَذَهَبَ النَّاسُ يُبَشِّرُونَنَا فَذَهَبَ قِبَلَ صَاحِبَىَّ مُبَشِّرُونَ وَرَكَضَ رَجُلٌ إِلَىَّ فَرَسًا وَسَعَى سَاعٍ مِنْ أَسْلَمَ قِبَلِي وَأَوْفَى الْجَبَلَ فَكَانَ الصَّوْتُ أَسْرَعَ مِنَ الْفَرَسِ فَلَمَّا جَاءَنِي الَّذِي سَمِعْتُ صَوْتَهُ يُبَشِّرُنِي فَنَزَعْتُ لَهُ ثَوْبَىَّ فَكَسَوْتُهُمَا إِيَّاهُ بِبِشَارَتِهِ وَاللَّهِ مَا أَمْلِكُ غَيْرَهُمَا يَوْمَئِذٍ وَاسْتَعَرْتُ ثَوْبَيْنِ . فَلَبِسْتُهُمَا فَانْطَلَقْتُ أَتَأَمَّمُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَتَلَقَّانِي النَّاسُ فَوْجًا فَوْجًا يُهَنِّئُونِي بِالتَّوْبَةِ وَيَقُولُونَ لِتَهْنِئْكَ تَوْبَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ . حَتَّى دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَحَوْلَهُ النَّاسُ فَقَامَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي وَاللَّهِ مَا قَامَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ غَيْرُهُ . قَالَ فَكَانَ كَعْبٌ لاَ يَنْسَاهَا لِطَلْحَةَ . قَالَ كَعْبٌ فَلَمَّا سَلَّمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ وَهُوَ يَبْرُقُ وَجْهُهُ مِنَ السُّرُورِ وَيَقُولُ " أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ " . قَالَ فَقُلْتُ أَمِنْ عِنْدِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَقَالَ " لاَ بَلْ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ " . وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا سُرَّ اسْتَنَارَ وَجْهُهُ كَأَنَّ وَجْهَهُ قِطْعَةُ قَمَرٍ - قَالَ - وَكُنَّا نَعْرِفُ ذَلِكَ - قَالَ - فَلَمَّا جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ أَنْخَلِعَ مِنْ مَالِي صَدَقَةً إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ صلى الله عليه وسلم . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " أَمْسِكْ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ " . قَالَ فَقُلْتُ فَإِنِّي أُمْسِكُ سَهْمِيَ الَّذِي بِخَيْبَرَ - قَالَ - وَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ إِنَّمَا أَنْجَانِي بِالصِّدْقِ وَإِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ لاَ أُحَدِّثَ إِلاَّ صِدْقًا مَا بَقِيتُ - قَالَ - فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ أَنَّ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَبْلاَهُ اللَّهُ فِي صِدْقِ الْحَدِيثِ مُنْذُ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى يَوْمِي هَذَا أَحْسَنَ مِمَّا أَبْلاَنِي اللَّهُ بِهِ وَاللَّهِ مَا تَعَمَّدْتُ كَذْبَةً مُنْذُ قُلْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى يَوْمِي هَذَا وَإِنِّي لأَرْجُو أَنْ يَحْفَظَنِيَ اللَّهُ فِيمَا بَقِيَ . قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ * وَعَلَى الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ} حَتَّى بَلَغَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} قَالَ كَعْبٌ وَاللَّهِ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنْ نِعْمَةٍ قَطُّ بَعْدَ إِذْ هَدَانِي اللَّهُ لِلإِسْلاَمِ أَعْظَمَ فِي نَفْسِي مِنْ صِدْقِي رَسُولَ اللَّهُ صلى الله عليه وسلم أَنْ لاَ أَكُونَ كَذَبْتُهُ فَأَهْلِكَ كَمَا هَلَكَ الَّذِينَ كَذَبُوا إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِلَّذِينَ كَذَبُوا حِينَ أَنْزَلَ الْوَحْىَ شَرَّ مَا قَالَ لأَحَدٍ وَقَالَ اللَّهُ { سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ * يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ} قَالَ كَعْبٌ كُنَّا خُلِّفْنَا أَيُّهَا الثَّلاَثَةُ عَنْ أَمْرِ أُولَئِكَ الَّذِينَ قَبِلَ مِنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ حَلَفُوا لَهُ فَبَايَعَهُمْ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ وَأَرْجَأَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَنَا حَتَّى قَضَى اللَّهُ فِيهِ فَبِذَلِكَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَعَلَى الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا} وَلَيْسَ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ مِمَّا خُلِّفْنَا تَخَلُّفَنَا عَنِ الْغَزْوِ وَإِنَّمَا هُوَ تَخْلِيفُهُ إِيَّانَا وَإِرْجَاؤُهُ أَمْرَنَا عَمَّنْ حَلَفَ لَهُ وَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَبِلَ مِنْهُ . وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، بِإِسْنَادِ يُونُسَ عَنِ الزُّهْرِيِّ، سَوَاءً .
Ibn Shihab meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan ekspedisi ke Tabuk dan beliau (Nabi Muhammad ﷺ) memiliki niat untuk mengancam orang-orang Kristen di Arab Saudi, Suriah, dan Roma. Ibn Shihab (lebih lanjut) meriwayatkan bahwa Abdullah bin Ka'b memberitahunya bahwa Abdullah bin Ka'b, yang menjadi pemandu Ka'b bin Malik ketika ia menjadi buta, mendengar Ka'b bin Malik menceritakan kisah dirinya tertinggal di belakang Rasulullah ﷺ dari Perang Tabuk. Ka'b bin Malik berkata: "Aku tidak pernah tertinggal di belakang Rasulullah ﷺ dari ekspedisi apa pun yang beliau lakukan kecuali Perang Tabuk dan Perang Badar." Sejauh menyangkut Perang Badar, tidak ada yang disalahkan karena tertinggal karena Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin (tidak berangkat untuk menyerang tetapi untuk menyergap) kafilah Quraisy, tetapi Allah-lah yang membuat mereka menghadapi musuh mereka tanpa niat mereka (untuk melakukannya). Saya mendapat kehormatan berada bersama Rasulullah ﷺ pada malam Aqaba ketika kami mengucapkan baiat kepada Islam dan itu lebih berharga bagi saya daripada partisipasi saya dalam Perang Badar, meskipun Badar lebih populer di kalangan masyarakat dibandingkan dengan itu (Tabuk). Dan inilah kisah saya tentang tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada kesempatan Perang Tabuk. Tidak pernah saya memiliki cukup sarana dan (keadaan saya) lebih menguntungkan daripada pada kesempatan ekspedisi ini. Dan, demi Allah, saya tidak pernah sebelum ekspedisi ini memiliki dua kendaraan sekaligus. Rasulullah ﷺ berangkat untuk ekspedisi ini pada musim yang sangat panas; Perjalanan itu panjang dan tanah (yang harus dilalui beliau dan pasukannya) tidak berair dan beliau harus menghadapi pasukan yang besar, maka beliau memberitahukan kepada kaum Muslimin tentang situasi sebenarnya (yang harus mereka hadapi), agar mereka mempersiapkan diri dengan baik untuk ekspedisi ini, dan beliau juga memberitahukan kepada mereka tujuan yang akan beliau tuju. Dan kaum Muslimin yang menyertai Rasulullah ﷺ pada waktu itu berjumlah banyak tetapi tidak ada catatan yang layak tentang mereka. Ka'b (lebih lanjut) berkata: Hanya sedikit orang yang ingin meninggalkan diri mereka sendiri, dan mereka beranggapan bahwa mereka dapat dengan mudah menyembunyikan diri (dan dengan demikian tetap tidak terdeteksi) sampai wahyu dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia (turun terkait dengan mereka). Dan Rasulullah ﷺ memulai ekspedisi ketika buah-buahan sudah matang dan bayangannya telah memanjang. Aku merasa lemah terhadap buah-buahan itu dan pada musim inilah Rasulullah ﷺ melakukan persiapan dan kaum Muslimin pun ikut serta. Aku pun berangkat pagi-pagi agar bisa bersiap-siap bersama mereka, tetapi aku kembali dan tidak melakukan apa pun, lalu berkata dalam hati: Aku memiliki cukup sarana (untuk bersiap-siap) kapan pun aku mau. Dan aku terus melakukan ini (menunda persiapan) sampai orang-orang hendak berangkat, dan pagi-pagi sekali Rasulullah ﷺ berangkat bersama kaum Muslimin, tetapi aku tidak bersiap-siap. Aku pergi pagi-pagi sekali dan kembali, tetapi aku tidak mengambil keputusan. Aku terus melakukan itu sampai mereka (kaum Muslimin) bergegas dan menempuh jarak yang cukup jauh. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan menemui mereka. Seandainya aku melakukan itu, tetapi mungkin itu bukan takdirku. Setelah kepergian Rasulullah ﷺ, ketika aku keluar di antara orang-orang, aku terkejut mendapati bahwa aku tidak menemukan siapa pun seperti aku, tetapi orang-orang yang dicap sebagai munafik atau orang-orang yang diberi pengecualian oleh Allah karena ketidakmampuan mereka, dan Rasulullah ﷺ tidak memperhatikanku sampai beliau sampai di Tabuk. (Suatu hari ketika beliau sedang duduk di antara orang-orang di Tabuk) beliau berkata: Apa yang terjadi pada Ka'b bin Malik? Seseorang dari Bani Salama berkata: Wahai Rasulullah, keindahan jubahnya dan keindahan sisi tubuhnya telah memikatnya sehingga ia ditahan. Mua'dh bin Jabal berkata: Celakalah atas apa yang kalian perdebatkan. Wahai Rasulullah, demi Allah, kami tidak mengetahui apa pun tentangnya selain kebaikan. Namun, Rasulullah ﷺ tetap diam. Pada saat itulah beliau (Nabi Muhammad ﷺ) melihat seseorang (berpakaian serba putih) yang menghancurkan ilusi mata (fatamorgana). Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Semoga dia adalah Abu Khaithama, dan ternyata memang benar Abu Khaithama al-Ansari, orang yang menyumbangkan satu sa' kurma dan dicemooh oleh orang-orang munafik. Ka'b bin Malik selanjutnya berkata: Ketika berita ini sampai kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan pulang dari Tabuk, aku sangat gelisah. Aku berpikir untuk mengarang cerita palsu dan bertanya pada diriku sendiri bagaimana aku akan menyelamatkan diriku dari kemarahan beliau keesokan harinya. Dalam hal ini, aku meminta bantuan setiap orang bijak dari anggota keluargaku dan ketika dikatakan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ akan segera tiba, semua pikiran palsu itu lenyap (dari pikiranku) dan aku sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain mengatakan yang sebenarnya, jadi aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya dan pada pagi harinya Allah... Rasulullah ﷺ tiba (di Madinah). Dan sudah menjadi kebiasaannya bahwa setelah kembali dari perjalanan, beliau terlebih dahulu pergi ke masjid dan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat (sebagai tanda syukur) lalu duduk di antara orang-orang. Dan ketika beliau melakukan itu, orang-orang yang tertinggal di belakangnya mulai mengemukakan alasan mereka dan bersumpah di hadapannya, dan jumlah mereka lebih dari delapan puluh orang. Rasulullah ﷺ menerima alasan mereka secara langsung, menerima baiat mereka, memohon ampunan bagi mereka, dan menyerahkan niat rahasia mereka kepada Allah, sampai aku menghadap beliau. Aku memberi salam kepadanya dan beliau tersenyum, dan ada sedikit kemarahan dalam senyumannya. Kemudian beliau (Nabi Muhammad ﷺ) berkata kepadaku: Majulah. Aku maju hingga duduk di depannya. Beliau berkata kepadaku: Apa yang menghalangimu? Tidak bisakah kau ikut naik? Aku berkata: Wahai Rasulullah, demi Allah, jika aku duduk di hadapan orang lain dari kalangan manusia duniawi, aku pasti akan menyelamatkan diriku dari kemarahannya dengan satu alasan. (atau yang lain) dan aku juga punya kecenderungan untuk terjerumus ke dalam perdebatan, tetapi, demi Allah, aku sepenuhnya menyadari fakta bahwa jika aku mengajukan alasan palsu di hadapanmu untuk menyenangkanmu, Allah pasti akan membangkitkan murkamu kepadaku, dan jika aku mengatakan yang sebenarnya, engkau mungkin akan marah kepadaku, tetapi aku berharap Allah akan menjadikan akhirnya baik dan, demi Allah, tidak ada alasan yang sah bagiku. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki sarana sebaik ini, dan aku tidak pernah memiliki kondisi sebaik ini seperti ketika aku tinggal di belakangmu (gagal bergabung dengan ekspedisi). Kemudian, Rasulullah ﷺ bersabda: Orang ini telah mengatakan yang sebenarnya, maka bangunlah sampai Allah memberikan keputusan dalam perkaramu. Aku berdiri dan beberapa orang dari Bani Salama mengikutiku dengan tergesa-gesa, dan mereka berkata kepadaku: Demi Allah, kami tidak tahu tentangmu bahwa engkau telah berbuat dosa sebelumnya. Namun, engkau menunjukkan ketidakmampuan untuk mengajukan alasan di hadapan Rasulullah ﷺ sebagaimana orang-orang yang tinggal di belakangnya telah mengajukan alasan. Itu sudah cukup bagiku Pengampunan dosamu yang akan dimohonkan oleh Rasulullah ﷺ untuk mengampunimu. Demi Allah, mereka terus menghasutku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah ﷺ dan membantah diriku sendiri. Kemudian aku berkata kepada mereka: Apakah ada orang lain yang juga mengalami nasib yang sama? Mereka berkata: Ya, dua orang telah mengalami nasib yang sama seperti yang menimpamu dan mereka telah membuat pernyataan yang sama seperti yang telah kau buat, dan vonis yang sama telah dijatuhkan dalam kasus mereka seperti yang telah dijatuhkan dalam kasusmu. Aku berkata: Siapakah mereka? Mereka berkata: Murara bin ar-Rabi'a 'Amiri dan Hilal bin Umayya al-Waqafi. Mereka menyebutkan dua orang saleh ini kepadaku yang telah ikut serta dalam Perang Badar dan ada contoh bagiku dalam diri mereka. Aku pergi ketika mereka menyebutkan kedua orang ini. Rasulullah ﷺ melarang kaum Muslim untuk berbicara dengan tiga dari kami dari antara orang-orang yang tinggal di belakangnya. Orang-orang mulai menghindari kami dan sikap mereka terhadap kami berubah dan tampaknya Seolah-olah seluruh suasana telah berubah (bermusuhan) melawan kami, dan memang suasana itulah yang sepenuhnya saya sadari dan di mana saya telah hidup (untuk waktu yang cukup lama). Kami menghabiskan lima puluh malam dalam keadaan seperti itu, dan kedua teman saya mengurung diri di rumah mereka dan menghabiskan (sebagian besar) waktu dengan menangis, tetapi karena saya masih muda dan kuat di antara mereka, saya keluar (rumah), ikut serta dalam salat berjamaah, berjalan-jalan di pasar; tetapi tidak ada yang berbicara kepada saya. Saya datang kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau duduk di antara (orang-orang) setelah salat, memberi salam kepadanya dan bertanya pada diri sendiri apakah bibirnya bergerak sebagai balasan atas salam saya (atau tidak). Kemudian saya salat di sampingnya dan memandanginya dengan pandangan sembunyi-sembunyi, dan ketika saya melaksanakan salat, beliau memandang saya, dan ketika saya meliriknya, beliau memalingkan pandangannya dari saya. Dan ketika perlakuan kasar kaum Muslimin terhadap saya berlangsung cukup lama, saya berjalan sampai saya memanjat tembok taman Abu Qatada, dan dia adalah sepupu saya, dan saya sangat menyayanginya. Aku menyapanya, tetapi demi Allah, dia tidak membalas sapaanku. Aku berkata kepadanya: Abu Qatada, aku bersumpah demi Allah, tidakkah kau tahu bahwa aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya (ﷺ)? Dia tetap diam. Aku mengulangi lagi: Aku bersumpah demi Allah, tidakkah kau tahu bahwa aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya (ﷺ)? Dia tetap diam. Aku bersumpah lagi kepadanya, lalu dia berkata: Allah dan Rasul-Nya (ﷺ) lebih mengetahuinya. Air mataku mulai mengalir dan aku kembali turun dari tembok. Saat aku berjalan di pasar Madinah, seorang Nabatea dari kalangan Nabatea Suriah, yang datang untuk menjual hasil bumi di Madinah, meminta orang-orang untuk menunjukkan jalan kepadanya kepada Ka'b bin Malik. Orang-orang memberi isyarat dengan menunjuk ke arahku. Dia datang kepadaku dan menyerahkan surat dari Raja Ghassan, dan karena aku seorang juru tulis, aku membaca surat itu. Dan tertulis seperti ini: "Sampai pada intinya, telah disampaikan kepada kami bahwa sahabatmu (Nabi Muhammad SAW) memperlakukanmu dengan kejam dan Allah tidak menciptakanmu untuk tempat di mana kamu akan direndahkan dan di mana kamu tidak dapat menemukan tempatmu yang seharusnya, jadi kamu datang kepada kami agar kami menghormatimu. Ketika aku membaca surat itu, aku berkata: Ini juga sebuah musibah, jadi aku membakarnya di dalam oven. Ketika dari lima puluh hari, empat puluh hari telah berlalu dan Rasulullah SAW belum menerima wahyu, datanglah utusan Rasulullah SAW kepadaku dan berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memerintahkanmu untuk berpisah dari istrimu. Aku berkata: Haruskah aku menceraikannya atau apa (lagi) yang harus kulakukan? Beliau berkata: Tidak, tetapi hanya berpisah darinya dan jangan berhubungan seksual dengannya. Pesan yang sama disampaikan kepada para sahabatku. Maka aku berkata kepada istriku: Lebih baik kau pergi ke rumah orang tuamu dan tinggal di sana bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan dalam kasusku. Istri dari Hilal bin Umayya datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, Hilal bin Umayya sudah tua dan pikun, ia tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau tidak menyetujui aku melayaninya?" Beliau menjawab: "Tidak, tetapi jangan mendekatinya." Hilal berkata: "Demi Allah, ia tidak memiliki naluri seperti itu. Demi Allah, ia menghabiskan waktunya dengan menangis sejak hari itu hingga hari ini." Beberapa anggota keluargaku berkata kepadaku: "Seandainya engkau meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istrimu sebagaimana beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayya untuk melayaninya." Aku menjawab: "Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ, karena aku tidak dapat mengatakan apa yang mungkin dikatakan Rasulullah ﷺ sebagai tanggapan atas permintaan izinku. Lagipula, aku masih muda." Dalam keadaan inilah aku menghabiskan sepuluh malam lagi dan dengan demikian lima puluh malam telah berlalu di mana (orang-orang) melakukan boikot terhadap kami. Pada pagi hari kelima puluh malam itulah aku melaksanakan salat subuh dan... Aku sedang duduk di salah satu atap rumah kami. Dan sesungguhnya aku sedang duduk dalam keadaan yang telah Allah, Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, gambarkan tentang kami dengan firman-Nya: "Hidupku menjadi sulit dan bumi terasa sempit meskipun luasnya," ketika aku mendengar suara seorang penyebar kabar dari puncak bukit Sal' berkata dengan suara lantang: "Ka'b bin Malik, ada kabar gembira untukmu." Aku pun sujud dan menyadari bahwa ada (pesan) kelegaan untukku. Rasulullah ﷺ telah memberitahu orang-orang tentang diterimanya taubat kami oleh Allah ketika beliau melaksanakan salat subuh. Maka orang-orang pun menyampaikan kabar gembira kepada kami dan sebagian dari mereka pergi kepada teman-temanku untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, dan seseorang memacu kudanya dan datang dari suku Aslam, dan kudanya sampai kepadaku lebih cepat daripada suaranya. Dan ketika dia datang kepadaku, yang suaranya kudengar, dia menyampaikan kabar gembira kepadaku. Aku menanggalkan pakaianku dan memakaikannya kepadanya karena kebaikannya. Kabar gembira bagiku dan, demi Allah, aku tidak memiliki apa pun (berupa pakaian) selain kedua kain ini pada kesempatan itu, dan aku meminta seseorang untuk meminjamkan dua kain kepadaku dan mengenakannya. Aku datang kepada Rasulullah ﷺ dan dalam perjalanan aku bertemu dengan sekelompok orang yang memberi salam kepadaku karena (taubatku diterima) dan mereka berkata: Ini salam untukmu karena taubatmu diterima oleh Allah. (Aku melanjutkan perjalanan) sampai aku tiba di masjid dan Rasulullah ﷺ sedang duduk di sana di antara orang-orang. Maka Talha bin 'Ubaidullah bangkit dan bergegas menghampiriku dan dia berjabat tangan denganku dan memberi salam kepadaku dan, demi Allah, tidak ada seorang pun yang berdiri (untuk memberi salam kepadaku) dari kalangan para emigran kecuali dia. Ka'b berkata bahwa dia tidak pernah melupakan (sikap baik) Talha ini. Ka'b selanjutnya berkata: Aku memberi salam kepada Rasulullah ﷺ dengan Assalam-o-'Alaikam dan wajah beliau berseri-seri karena gembira, dan beliau berkata: Semoga ada kabar gembira dan berkah bagi kalian, Seperti yang (belum pernah kamu temukan dan tidak akan kamu temukan, seperti yang kamu temukan hari ini) sejak ibumu melahirkanmu. Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah penerimaan taubat ini darimu atau dari Allah? Beliau menjawab: Tidak, (bukan dari ibumu), melainkan dari Allah, dan sudah menjadi kebiasaan Rasulullah ﷺ bahwa ketika beliau gembira, wajahnya berseri-seri dan tampak seperti sebagian bulan, dan dari situlah kami mengenalinya (kegembiraannya). Ketika aku duduk di hadapannya, aku berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberikan sedekah hartaku demi Allah dan demi Rasul-Nya ﷺ? Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Simpanlah sebagian hartamu karena itu lebih baik bagimu. Aku berkata: Aku akan menyimpan sebagian (hartaku) yang menjadi bagianku (pada ekspedisi) Khaibar. Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kebenaran dan karena itu, (aku berpikir) bahwa taubat berarti aku tidak boleh mengucapkan apa pun tetapi kebenaran selama aku hidup. Dia berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apakah ada orang di antara kaum Muslimin yang diuji lebih berat daripada aku oleh Allah karena mengatakan kebenaran. Dan sejak aku menyebutkan hal ini kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini aku belum pernah berbohong dan, demi Allah, aku telah memutuskan untuk tidak berbohong dan aku berharap Allah akan menyelamatkanku (dari cobaan) selama sisa hidupku dan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia menurunkan ayat-ayat ini: "Sesungguhnya Allah telah berpaling kepada Nabi dan para muhajirin dan para penolong yang mengikutinya pada saat kesulitan setelah hati sebagian dari mereka hampir menyimpang; kemudian Dia berpaling kepada mereka dengan rahmat. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih kepada mereka, Maha Penyayang dan (Dia berpaling kepada) tiga orang yang tertinggal sampai bumi yang luas sekalipun menjadi sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun menjadi sempit bagi mereka." Dan wahyu ini sampai pada (kata-kata): "Wahai orang-orang yang beriman, kembangkanlah kesadaran akan Allah, dan "Berada di sisi orang-orang yang jujur" (ix. 117-118). Ka'b berkata: Demi Allah, sejak Allah membimbingku kepada Islam, tidak ada nikmat yang lebih besar bagiku selain kebenaran yang kukatakan kepada Rasulullah ﷺ ini, dan jika aku berbohong, aku akan binasa seperti orang-orang yang berbohong, karena terhadap orang-orang yang berbohong, Allah menggunakan kata-kata yang paling keras yang pernah digunakan untuk siapa pun ketika Dia menurunkan wahyu (dan firman Allah adalah): "Mereka akan bersumpah demi Allah kepadamu ketika kamu kembali kepada mereka agar kamu meninggalkan mereka. Maka tinggalkanlah mereka. Sesungguhnya mereka najis dan tempat tinggal mereka adalah neraka, balasan atas apa yang mereka peroleh. Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu ridha kepada mereka, tetapi sekalipun kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang melanggar" (ix. 95-96). Ka'b berkata bahwa masalah kami bertiga ditunda dibandingkan dengan orang-orang yang bersumpah di hadapan Rasulullah ﷺ dan beliau menerima baiat mereka dan memohon ampunan atas Mereka dan Allah tidak memberikan keputusan apa pun mengenai kami. Allah-lah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia yang memberikan keputusan dalam perkara kami, tiga orang yang tertinggal. (Firman Al-Qur'an) "tiga orang yang tertinggal" tidak berarti bahwa kami tertinggal dari jihad, tetapi ini menyiratkan bahwa Dia menyimpan perkara kami di belakang mereka yang telah bersumpah dan memberikan alasan di hadapan-Nya. Hadits ini diriwayatkan dari Zuhri dengan sanad yang sama.
Shahih Muslim : 88
Sahih
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ مَوْلَى بَنِي أُمَيَّةَ أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ ثُمَّ غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَزْوَةَ تَبُوكَ وَهُوَ يُرِيدُ الرُّومَ وَنَصَارَى الْعَرَبِ بِالشَّامِ . قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ كَعْبٍ كَانَ قَائِدَ كَعْبٍ مِنْ بَنِيهِ حِينَ عَمِيَ قَالَ سَمِعْتُ كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ حَدِيثَهُ حِينَ تَخَلَّفَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ قَالَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ لَمْ أَتَخَلَّفْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا قَطُّ إِلاَّ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ غَيْرَ أَنِّي قَدْ تَخَلَّفْتُ فِي غَزْوَةِ بَدْرٍ وَلَمْ يُعَاتِبْ أَحَدًا تَخَلَّفَ عَنْهُ إِنَّمَا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْمُسْلِمُونَ يُرِيدُونَ عِيرَ قُرَيْشٍ حَتَّى جَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ عَدُوِّهُمْ عَلَى غَيْرِ مِيعَادٍ وَلَقَدْ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ حِينَ تَوَاثَقْنَا عَلَى الإِسْلاَمِ وَمَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهَا مَشْهَدَ بَدْرٍ وَإِنْ كَانَتْ بَدْرٌ أَذْكَرَ فِي النَّاسِ مِنْهَا وَكَانَ مِنْ خَبَرِي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ أَنِّي لَمْ أَكُنْ قَطُّ أَقْوَى وَلاَ أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْهُ فِي تِلْكَ الْغَزْوَةِ وَاللَّهِ مَا جَمَعْتُ قَبْلَهَا رَاحِلَتَيْنِ قَطُّ حَتَّى جَمَعْتُهُمَا فِي تِلْكَ الْغَزْوَةِ فَغَزَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي حَرٍّ شَدِيدٍ وَاسْتَقْبَلَ سَفَرًا بَعِيدًا وَمَفَازًا وَاسْتَقْبَلَ عَدُوًّا كَثِيرًا فَجَلاَ لِلْمُسْلِمِينَ أَمْرَهُمْ لِيَتَأَهَّبُوا أُهْبَةَ غَزْوِهِمْ فَأَخْبَرَهُمْ بِوَجْهِهِمُ الَّذِي يُرِيدُ وَالْمُسْلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَثِيرٌ وَلاَ يَجْمَعُهُمْ كِتَابُ حَافِظٍ - يُرِيدُ بِذَلِكَ الدِّيوَانَ - قَالَ كَعْبٌ فَقَلَّ رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَتَغَيَّبَ يَظُنُّ أَنَّ ذَلِكَ سَيَخْفَى لَهُ مَا لَمْ يَنْزِلْ فِيهِ وَحْىٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَغَزَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تِلْكَ الْغَزْوَةَ حِينَ طَابَتِ الثِّمَارُ وَالظِّلاَلُ فَأَنَا إِلَيْهَا أَصْعَرُ فَتَجَهَّزَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْمُسْلِمُونَ مَعَهُ وَطَفِقْتُ أَغْدُو لِكَىْ أَتَجَهَّزَ مَعَهُمْ فَأَرْجِعُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا . وَأَقُولُ فِي نَفْسِي أَنَا قَادِرٌ عَلَى ذَلِكَ إِذَا أَرَدْتُ . فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ يَتَمَادَى بِي حَتَّى اسْتَمَرَّ بِالنَّاسِ الْجِدُّ فَأَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَادِيًا وَالْمُسْلِمُونَ مَعَهُ وَلَمْ أَقْضِ مِنْ جَهَازِي شَيْئًا ثُمَّ غَدَوْتُ فَرَجَعْتُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ يَتَمَادَى بِي حَتَّى أَسْرَعُوا وَتَفَارَطَ الْغَزْوُ فَهَمَمْتُ أَنْ أَرْتَحِلَ فَأُدْرِكَهُمْ فَيَا لَيْتَنِي فَعَلْتُ ثُمَّ لَمْ يُقَدَّرْ ذَلِكَ لِي فَطَفِقْتُ إِذَا خَرَجْتُ فِي النَّاسِ بَعْدَ خُرُوجِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَحْزُنُنِي أَنِّي لاَ أَرَى لِي أُسْوَةً إِلاَّ رَجُلاً مَغْمُوصًا عَلَيْهِ فِي النِّفَاقِ أَوْ رَجُلاً مِمَّنْ عَذَرَ اللَّهُ مِنَ الضُّعَفَاءِ وَلَمْ يَذْكُرْنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى بَلَغَ تَبُوكًا فَقَالَ وَهُوَ جَالِسٌ فِي الْقَوْمِ بِتَبُوكَ " مَا فَعَلَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ " . قَالَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَبَسَهُ بُرْدَاهُ وَالنَّظَرُ فِي عِطْفَيْهِ . فَقَالَ لَهُ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ بِئْسَ مَا قُلْتَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ إِلاَّ خَيْرًا . فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَيْنَمَا هُوَ عَلَى ذَلِكَ رَأَى رَجُلاً مُبَيِّضًا يَزُولُ بِهِ السَّرَابُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " كُنْ أَبَا خَيْثَمَةَ " . فَإِذَا هُو أَبُو خَيْثَمَةَ الأَنْصَارِيُّ وَهُوَ الَّذِي تَصَدَّقَ بِصَاعِ التَّمْرِ حِينَ لَمَزَهُ الْمُنَافِقُونَ . فَقَالَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ فَلَمَّا بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَدْ تَوَجَّهَ قَافِلاً مِنْ تَبُوكَ حَضَرَنِي بَثِّي فَطَفِقْتُ أَتَذَكَّرُ الْكَذِبَ وَأَقُولُ بِمَ أَخْرُجُ مِنْ سَخَطِهِ غَدًا وَأَسْتَعِينُ عَلَى ذَلِكَ كُلَّ ذِي رَأْىٍ مِنْ أَهْلِي فَلَمَّا قِيلَ لِي إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَدْ أَظَلَّ قَادِمًا زَاحَ عَنِّي الْبَاطِلُ حَتَّى عَرَفْتُ أَنِّي لَنْ أَنْجُوَ مِنْهُ بِشَىْءٍ أَبَدًا فَأَجْمَعْتُ صِدْقَهُ وَصَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَادِمًا وَكَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ فَرَكَعَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ لِلنَّاسِ فَلَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ جَاءَهُ الْمُخَلَّفُونَ فَطَفِقُوا يَعْتَذِرُونَ إِلَيْهِ وَيَحْلِفُونَ لَهُ وَكَانُوا بِضْعَةً وَثَمَانِينَ رَجُلاً فَقَبِلَ مِنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلاَنِيَتَهُمْ وَبَايَعَهُمْ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ وَوَكَلَ سَرَائِرَهُمْ إِلَى اللَّهِ حَتَّى جِئْتُ فَلَمَّا سَلَّمْتُ تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ الْمُغْضَبِ ثُمَّ قَالَ " تَعَالَ " . فَجِئْتُ أَمْشِي حَتَّى جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ لِي " مَا خَلَّفَكَ " . أَلَمْ تَكُنْ قَدِ ابْتَعْتَ ظَهْرَكَ " . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي وَاللَّهِ لَوْ جَلَسْتُ عِنْدَ غَيْرِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا لَرَأَيْتُ أَنِّي سَأَخْرُجُ مِنْ سَخَطِهِ بِعُذْرٍ وَلَقَدْ أُعْطِيتُ جَدَلاً وَلَكِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَى بِهِ عَنِّي لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَىَّ وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَىَّ فِيهِ إِنِّي لأَرْجُو فِيهِ عُقْبَى اللَّهِ وَاللَّهِ مَا كَانَ لِي عُذْرٌ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَى وَلاَ أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " أَمَّا هَذَا فَقَدْ صَدَقَ فَقُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِيكَ " . فَقُمْتُ وَثَارَ رِجَالٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ فَاتَّبَعُونِي فَقَالُوا لِي وَاللَّهِ مَا عَلِمْنَاكَ أَذْنَبْتَ ذَنْبًا قَبْلَ هَذَا لَقَدْ عَجَزْتَ فِي أَنْ لاَ تَكُونَ اعْتَذَرْتَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمَا اعْتَذَرَ بِهِ إِلَيْهِ الْمُخَلَّفُونَ فَقَدْ كَانَ كَافِيَكَ ذَنْبَكَ اسْتِغْفَارُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَكَ . قَالَ فَوَاللَّهِ مَا زَالُوا يُؤَنِّبُونَنِي حَتَّى أَرَدْتُ أَنْ أَرْجِعَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأُكَذِّبَ نَفْسِي - قَالَ - ثُمَّ قُلْتُ لَهُمْ هَلْ لَقِيَ هَذَا مَعِي مِنْ أَحَدٍ قَالُوا نَعَمْ لَقِيَهُ مَعَكَ رَجُلاَنِ قَالاَ مِثْلَ مَا قُلْتَ فَقِيلَ لَهُمَا مِثْلُ مَا قِيلَ لَكَ - قَالَ - قُلْتُ مَنْ هُمَا قَالُوا مُرَارَةُ بْنُ رَبِيعَةَ الْعَامِرِيُّ وَهِلاَلُ بْنُ أُمَيَّةَ الْوَاقِفِيُّ - قَالَ - فَذَكَرُوا لِي رَجُلَيْنِ صَالِحَيْنِ قَدْ شِهِدَا بَدْرًا فِيهِمَا أُسْوَةٌ - قَالَ - فَمَضَيْتُ حِينَ ذَكَرُوهُمَا لِي . قَالَ وَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمُسْلِمِينَ عَنْ كَلاَمِنَا أَيُّهَا الثَّلاَثَةُ مِنْ بَيْنِ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهُ - قَالَ - فَاجْتَنَبَنَا النَّاسُ - وَقَالَ - تَغَيَّرُوا لَنَا حَتَّى تَنَكَّرَتْ لِي فِي نَفْسِيَ الأَرْضُ فَمَا هِيَ بِالأَرْضِ الَّتِي أَعْرِفُ فَلَبِثْنَا عَلَى ذَلِكَ خَمْسِينَ لَيْلَةً فَأَمَّا صَاحِبَاىَ فَاسْتَكَانَا وَقَعَدَا فِي بُيُوتِهِمَا يَبْكِيَانِ وَأَمَّا أَنَا فَكُنْتُ أَشَبَّ الْقَوْمِ وَأَجْلَدَهُمْ فَكُنْتُ أَخْرُجُ فَأَشْهَدُ الصَّلاَةَ وَأَطُوفُ فِي الأَسْوَاقِ وَلاَ يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ وَآتِي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأُسَلِّمُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي مَجْلِسِهِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَأَقُولُ فِي نَفْسِي هَلْ حَرَّكَ شَفَتَيْهِ بِرَدِّ السَّلاَمِ أَمْ لاَ ثُمَّ أُصَلِّي قَرِيبًا مِنْهُ وَأُسَارِقُهُ النَّظَرَ فَإِذَا أَقْبَلْتُ عَلَى صَلاَتِي نَظَرَ إِلَىَّ وَإِذَا الْتَفَتُّ نَحْوَهُ أَعْرَضَ عَنِّي حَتَّى إِذَا طَالَ ذَلِكَ عَلَىَّ مِنْ جَفْوَةِ الْمُسْلِمِينَ مَشَيْتُ حَتَّى تَسَوَّرْتُ جِدَارَ حَائِطِ أَبِي قَتَادَةَ وَهُوَ ابْنُ عَمِّي وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَوَاللَّهِ مَا رَدَّ عَلَىَّ السَّلاَمَ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا قَتَادَةَ أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمَنَّ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ فَسَكَتَ فَعُدْتُ فَنَاشَدْتُهُ فَسَكَتَ فَعُدْتُ فَنَاشَدْتُهُ فَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . فَفَاضَتْ عَيْنَاىَ وَتَوَلَّيْتُ حَتَّى تَسَوَّرْتُ الْجِدَارَ فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي فِي سُوقِ الْمَدِينَةِ إِذَا نَبَطِيٌّ مِنْ نَبَطِ أَهْلِ الشَّامِ مِمَّنْ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيعُهُ بِالْمَدِينَةِ يَقُولُ مَنْ يَدُلُّ عَلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ - قَالَ - فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيرُونَ لَهُ إِلَىَّ حَتَّى جَاءَنِي فَدَفَعَ إِلَىَّ كِتَابًا مِنْ مَلِكِ غَسَّانَ وَكُنْتُ كَاتِبًا فَقَرَأْتُهُ فَإِذَا فِيهِ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنَا أَنَّ صَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ وَلَمْ يَجْعَلْكَ اللَّهُ بِدَارِ هَوَانٍ وَلاَ مَضْيَعَةٍ فَالْحَقْ بِنَا نُوَاسِكَ . قَالَ فَقُلْتُ حِينَ قَرَأْتُهَا وَهَذِهِ أَيْضًا مِنَ الْبَلاَءِ . فَتَيَامَمْتُ بِهَا التَّنُّورَ فَسَجَرْتُهَا بِهَا حَتَّى إِذَا مَضَتْ أَرْبَعُونَ مِنَ الْخَمْسِينَ وَاسْتَلْبَثَ الْوَحْىُ إِذَا رَسُولُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْتِينِي فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُكَ أَنْ تَعْتَزِلَ امْرَأَتَكَ . قَالَ فَقُلْتُ أُطَلِّقُهَا أَمْ مَاذَا أَفْعَلُ قَالَ لاَ بَلِ اعْتَزِلْهَا فَلاَ تَقْرَبَنَّهَا - قَالَ - فَأَرْسَلَ إِلَى صَاحِبَىَّ بِمِثْلِ ذَلِكَ - قَالَ - فَقُلْتُ لاِمْرَأَتِي الْحَقِي بِأَهْلِكِ فَكُونِي عِنْدَهُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِي هَذَا الأَمْرِ - قَالَ - فَجَاءَتِ امْرَأَةُ هِلاَلِ بْنِ أُمَيَّةَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هِلاَلَ بْنَ أُمَيَّةَ شَيْخٌ ضَائِعٌ لَيْسَ لَهُ خَادِمٌ فَهَلْ تَكْرَهُ أَنْ أَخْدُمَهُ قَالَ " لاَ وَلَكِنْ لاَ يَقْرَبَنَّكِ " . فَقَالَتْ إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا بِهِ حَرَكَةٌ إِلَى شَىْءٍ وَوَاللَّهِ مَا زَالَ يَبْكِي مُنْذُ كَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ إِلَى يَوْمِهِ هَذَا . قَالَ فَقَالَ لِي بَعْضُ أَهْلِي لَوِ اسْتَأْذَنْتَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي امْرَأَتِكَ فَقَدْ أَذِنَ لاِمْرَأَةِ هِلاَلِ بْنِ أُمَيَّةَ أَنْ تَخْدُمَهُ - قَالَ - فَقُلْتُ لاَ أَسْتَأْذِنُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِينِي مَاذَا يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اسْتَأْذَنْتُهُ فِيهَا وَأَنَا رَجُلٌ شَابٌّ - قَالَ - فَلَبِثْتُ بِذَلِكَ عَشْرَ لَيَالٍ فَكَمُلَ لَنَا خَمْسُونَ لَيْلَةً مِنْ حِينَ نُهِيَ عَنْ كَلاَمِنَا - قَالَ - ثُمَّ صَلَّيْتُ صَلاَةَ الْفَجْرِ صَبَاحَ خَمْسِينَ لَيْلَةً عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِنَا فَبَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عَلَى الْحَالِ الَّتِي ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَّا قَدْ ضَاقَتْ عَلَىَّ نَفْسِي وَضَاقَتْ عَلَىَّ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ سَمِعْتُ صَوْتَ صَارِخٍ أَوْفَى عَلَى سَلْعٍ يَقُولُ بِأَعْلَى صَوْتِهِ يَا كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ أَبْشِرْ - قَالَ - فَخَرَرْتُ سَاجِدًا وَعَرَفْتُ أَنْ قَدْ جَاءَ فَرَجٌ . - قَالَ - فَآذَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم النَّاسَ بِتَوْبَةِ اللَّهِ عَلَيْنَا حِينَ صَلَّى صَلاَةَ الْفَجْرِ فَذَهَبَ النَّاسُ يُبَشِّرُونَنَا فَذَهَبَ قِبَلَ صَاحِبَىَّ مُبَشِّرُونَ وَرَكَضَ رَجُلٌ إِلَىَّ فَرَسًا وَسَعَى سَاعٍ مِنْ أَسْلَمَ قِبَلِي وَأَوْفَى الْجَبَلَ فَكَانَ الصَّوْتُ أَسْرَعَ مِنَ الْفَرَسِ فَلَمَّا جَاءَنِي الَّذِي سَمِعْتُ صَوْتَهُ يُبَشِّرُنِي فَنَزَعْتُ لَهُ ثَوْبَىَّ فَكَسَوْتُهُمَا إِيَّاهُ بِبِشَارَتِهِ وَاللَّهِ مَا أَمْلِكُ غَيْرَهُمَا يَوْمَئِذٍ وَاسْتَعَرْتُ ثَوْبَيْنِ . فَلَبِسْتُهُمَا فَانْطَلَقْتُ أَتَأَمَّمُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَتَلَقَّانِي النَّاسُ فَوْجًا فَوْجًا يُهَنِّئُونِي بِالتَّوْبَةِ وَيَقُولُونَ لِتَهْنِئْكَ تَوْبَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ . حَتَّى دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَحَوْلَهُ النَّاسُ فَقَامَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي وَاللَّهِ مَا قَامَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ غَيْرُهُ . قَالَ فَكَانَ كَعْبٌ لاَ يَنْسَاهَا لِطَلْحَةَ . قَالَ كَعْبٌ فَلَمَّا سَلَّمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ وَهُوَ يَبْرُقُ وَجْهُهُ مِنَ السُّرُورِ وَيَقُولُ " أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ " . قَالَ فَقُلْتُ أَمِنْ عِنْدِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَقَالَ " لاَ بَلْ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ " . وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا سُرَّ اسْتَنَارَ وَجْهُهُ كَأَنَّ وَجْهَهُ قِطْعَةُ قَمَرٍ - قَالَ - وَكُنَّا نَعْرِفُ ذَلِكَ - قَالَ - فَلَمَّا جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ أَنْخَلِعَ مِنْ مَالِي صَدَقَةً إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ صلى الله عليه وسلم . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " أَمْسِكْ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ " . قَالَ فَقُلْتُ فَإِنِّي أُمْسِكُ سَهْمِيَ الَّذِي بِخَيْبَرَ - قَالَ - وَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ إِنَّمَا أَنْجَانِي بِالصِّدْقِ وَإِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ لاَ أُحَدِّثَ إِلاَّ صِدْقًا مَا بَقِيتُ - قَالَ - فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ أَنَّ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَبْلاَهُ اللَّهُ فِي صِدْقِ الْحَدِيثِ مُنْذُ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى يَوْمِي هَذَا أَحْسَنَ مِمَّا أَبْلاَنِي اللَّهُ بِهِ وَاللَّهِ مَا تَعَمَّدْتُ كَذْبَةً مُنْذُ قُلْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى يَوْمِي هَذَا وَإِنِّي لأَرْجُو أَنْ يَحْفَظَنِيَ اللَّهُ فِيمَا بَقِيَ . قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ * وَعَلَى الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ} حَتَّى بَلَغَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} قَالَ كَعْبٌ وَاللَّهِ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنْ نِعْمَةٍ قَطُّ بَعْدَ إِذْ هَدَانِي اللَّهُ لِلإِسْلاَمِ أَعْظَمَ فِي نَفْسِي مِنْ صِدْقِي رَسُولَ اللَّهُ صلى الله عليه وسلم أَنْ لاَ أَكُونَ كَذَبْتُهُ فَأَهْلِكَ كَمَا هَلَكَ الَّذِينَ كَذَبُوا إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِلَّذِينَ كَذَبُوا حِينَ أَنْزَلَ الْوَحْىَ شَرَّ مَا قَالَ لأَحَدٍ وَقَالَ اللَّهُ { سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ * يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ} قَالَ كَعْبٌ كُنَّا خُلِّفْنَا أَيُّهَا الثَّلاَثَةُ عَنْ أَمْرِ أُولَئِكَ الَّذِينَ قَبِلَ مِنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ حَلَفُوا لَهُ فَبَايَعَهُمْ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ وَأَرْجَأَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَنَا حَتَّى قَضَى اللَّهُ فِيهِ فَبِذَلِكَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَعَلَى الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا} وَلَيْسَ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ مِمَّا خُلِّفْنَا تَخَلُّفَنَا عَنِ الْغَزْوِ وَإِنَّمَا هُوَ تَخْلِيفُهُ إِيَّانَا وَإِرْجَاؤُهُ أَمْرَنَا عَمَّنْ حَلَفَ لَهُ وَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَبِلَ مِنْهُ . وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، بِإِسْنَادِ يُونُسَ عَنِ الزُّهْرِيِّ، سَوَاءً .
Ibn Shihab meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan ekspedisi ke Tabuk dan beliau (Nabi Muhammad ﷺ) memiliki niat untuk mengancam orang-orang Kristen di Arab Saudi, Suriah, dan Roma. Ibn Shihab (lebih lanjut) meriwayatkan bahwa Abdullah bin Ka'b memberitahunya bahwa Abdullah bin Ka'b, yang menjadi pemandu Ka'b bin Malik ketika ia menjadi buta, mendengar Ka'b bin Malik menceritakan kisah dirinya tertinggal di belakang Rasulullah ﷺ dari Perang Tabuk. Ka'b bin Malik berkata: "Aku tidak pernah tertinggal di belakang Rasulullah ﷺ dari ekspedisi apa pun yang beliau lakukan kecuali Perang Tabuk dan Perang Badar." Sejauh menyangkut Perang Badar, tidak ada yang disalahkan karena tertinggal karena Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin (tidak berangkat untuk menyerang tetapi untuk menyergap) kafilah Quraisy, tetapi Allah-lah yang membuat mereka menghadapi musuh mereka tanpa niat mereka (untuk melakukannya). Saya mendapat kehormatan berada bersama Rasulullah ﷺ pada malam Aqaba ketika kami mengucapkan baiat kepada Islam dan itu lebih berharga bagi saya daripada partisipasi saya dalam Perang Badar, meskipun Badar lebih populer di kalangan masyarakat dibandingkan dengan itu (Tabuk). Dan inilah kisah saya tentang tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada kesempatan Perang Tabuk. Tidak pernah saya memiliki cukup sarana dan (keadaan saya) lebih menguntungkan daripada pada kesempatan ekspedisi ini. Dan, demi Allah, saya tidak pernah sebelum ekspedisi ini memiliki dua kendaraan sekaligus. Rasulullah ﷺ berangkat untuk ekspedisi ini pada musim yang sangat panas; Perjalanan itu panjang dan tanah (yang harus dilalui beliau dan pasukannya) tidak berair dan beliau harus menghadapi pasukan yang besar, maka beliau memberitahukan kepada kaum Muslimin tentang situasi sebenarnya (yang harus mereka hadapi), agar mereka mempersiapkan diri dengan baik untuk ekspedisi ini, dan beliau juga memberitahukan kepada mereka tujuan yang akan beliau tuju. Dan kaum Muslimin yang menyertai Rasulullah ﷺ pada waktu itu berjumlah banyak tetapi tidak ada catatan yang layak tentang mereka. Ka'b (lebih lanjut) berkata: Hanya sedikit orang yang ingin meninggalkan diri mereka sendiri, dan mereka beranggapan bahwa mereka dapat dengan mudah menyembunyikan diri (dan dengan demikian tetap tidak terdeteksi) sampai wahyu dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia (turun terkait dengan mereka). Dan Rasulullah ﷺ memulai ekspedisi ketika buah-buahan sudah matang dan bayangannya telah memanjang. Aku merasa lemah terhadap buah-buahan itu dan pada musim inilah Rasulullah ﷺ melakukan persiapan dan kaum Muslimin pun ikut serta. Aku pun berangkat pagi-pagi agar bisa bersiap-siap bersama mereka, tetapi aku kembali dan tidak melakukan apa pun, lalu berkata dalam hati: Aku memiliki cukup sarana (untuk bersiap-siap) kapan pun aku mau. Dan aku terus melakukan ini (menunda persiapan) sampai orang-orang hendak berangkat, dan pagi-pagi sekali Rasulullah ﷺ berangkat bersama kaum Muslimin, tetapi aku tidak bersiap-siap. Aku pergi pagi-pagi sekali dan kembali, tetapi aku tidak mengambil keputusan. Aku terus melakukan itu sampai mereka (kaum Muslimin) bergegas dan menempuh jarak yang cukup jauh. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan menemui mereka. Seandainya aku melakukan itu, tetapi mungkin itu bukan takdirku. Setelah kepergian Rasulullah ﷺ, ketika aku keluar di antara orang-orang, aku terkejut mendapati bahwa aku tidak menemukan siapa pun seperti aku, tetapi orang-orang yang dicap sebagai munafik atau orang-orang yang diberi pengecualian oleh Allah karena ketidakmampuan mereka, dan Rasulullah ﷺ tidak memperhatikanku sampai beliau sampai di Tabuk. (Suatu hari ketika beliau sedang duduk di antara orang-orang di Tabuk) beliau berkata: Apa yang terjadi pada Ka'b bin Malik? Seseorang dari Bani Salama berkata: Wahai Rasulullah, keindahan jubahnya dan keindahan sisi tubuhnya telah memikatnya sehingga ia ditahan. Mua'dh bin Jabal berkata: Celakalah atas apa yang kalian perdebatkan. Wahai Rasulullah, demi Allah, kami tidak mengetahui apa pun tentangnya selain kebaikan. Namun, Rasulullah ﷺ tetap diam. Pada saat itulah beliau (Nabi Muhammad ﷺ) melihat seseorang (berpakaian serba putih) yang menghancurkan ilusi mata (fatamorgana). Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Semoga dia adalah Abu Khaithama, dan ternyata memang benar Abu Khaithama al-Ansari, orang yang menyumbangkan satu sa' kurma dan dicemooh oleh orang-orang munafik. Ka'b bin Malik selanjutnya berkata: Ketika berita ini sampai kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan pulang dari Tabuk, aku sangat gelisah. Aku berpikir untuk mengarang cerita palsu dan bertanya pada diriku sendiri bagaimana aku akan menyelamatkan diriku dari kemarahan beliau keesokan harinya. Dalam hal ini, aku meminta bantuan setiap orang bijak dari anggota keluargaku dan ketika dikatakan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ akan segera tiba, semua pikiran palsu itu lenyap (dari pikiranku) dan aku sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain mengatakan yang sebenarnya, jadi aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya dan pada pagi harinya Allah... Rasulullah ﷺ tiba (di Madinah). Dan sudah menjadi kebiasaannya bahwa setelah kembali dari perjalanan, beliau terlebih dahulu pergi ke masjid dan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat (sebagai tanda syukur) lalu duduk di antara orang-orang. Dan ketika beliau melakukan itu, orang-orang yang tertinggal di belakangnya mulai mengemukakan alasan mereka dan bersumpah di hadapannya, dan jumlah mereka lebih dari delapan puluh orang. Rasulullah ﷺ menerima alasan mereka secara langsung, menerima baiat mereka, memohon ampunan bagi mereka, dan menyerahkan niat rahasia mereka kepada Allah, sampai aku menghadap beliau. Aku memberi salam kepadanya dan beliau tersenyum, dan ada sedikit kemarahan dalam senyumannya. Kemudian beliau (Nabi Muhammad ﷺ) berkata kepadaku: Majulah. Aku maju hingga duduk di depannya. Beliau berkata kepadaku: Apa yang menghalangimu? Tidak bisakah kau ikut naik? Aku berkata: Wahai Rasulullah, demi Allah, jika aku duduk di hadapan orang lain dari kalangan manusia duniawi, aku pasti akan menyelamatkan diriku dari kemarahannya dengan satu alasan. (atau yang lain) dan aku juga punya kecenderungan untuk terjerumus ke dalam perdebatan, tetapi, demi Allah, aku sepenuhnya menyadari fakta bahwa jika aku mengajukan alasan palsu di hadapanmu untuk menyenangkanmu, Allah pasti akan membangkitkan murkamu kepadaku, dan jika aku mengatakan yang sebenarnya, engkau mungkin akan marah kepadaku, tetapi aku berharap Allah akan menjadikan akhirnya baik dan, demi Allah, tidak ada alasan yang sah bagiku. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki sarana sebaik ini, dan aku tidak pernah memiliki kondisi sebaik ini seperti ketika aku tinggal di belakangmu (gagal bergabung dengan ekspedisi). Kemudian, Rasulullah ﷺ bersabda: Orang ini telah mengatakan yang sebenarnya, maka bangunlah sampai Allah memberikan keputusan dalam perkaramu. Aku berdiri dan beberapa orang dari Bani Salama mengikutiku dengan tergesa-gesa, dan mereka berkata kepadaku: Demi Allah, kami tidak tahu tentangmu bahwa engkau telah berbuat dosa sebelumnya. Namun, engkau menunjukkan ketidakmampuan untuk mengajukan alasan di hadapan Rasulullah ﷺ sebagaimana orang-orang yang tinggal di belakangnya telah mengajukan alasan. Itu sudah cukup bagiku Pengampunan dosamu yang akan dimohonkan oleh Rasulullah ﷺ untuk mengampunimu. Demi Allah, mereka terus menghasutku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah ﷺ dan membantah diriku sendiri. Kemudian aku berkata kepada mereka: Apakah ada orang lain yang juga mengalami nasib yang sama? Mereka berkata: Ya, dua orang telah mengalami nasib yang sama seperti yang menimpamu dan mereka telah membuat pernyataan yang sama seperti yang telah kau buat, dan vonis yang sama telah dijatuhkan dalam kasus mereka seperti yang telah dijatuhkan dalam kasusmu. Aku berkata: Siapakah mereka? Mereka berkata: Murara bin ar-Rabi'a 'Amiri dan Hilal bin Umayya al-Waqafi. Mereka menyebutkan dua orang saleh ini kepadaku yang telah ikut serta dalam Perang Badar dan ada contoh bagiku dalam diri mereka. Aku pergi ketika mereka menyebutkan kedua orang ini. Rasulullah ﷺ melarang kaum Muslim untuk berbicara dengan tiga dari kami dari antara orang-orang yang tinggal di belakangnya. Orang-orang mulai menghindari kami dan sikap mereka terhadap kami berubah dan tampaknya Seolah-olah seluruh suasana telah berubah (bermusuhan) melawan kami, dan memang suasana itulah yang sepenuhnya saya sadari dan di mana saya telah hidup (untuk waktu yang cukup lama). Kami menghabiskan lima puluh malam dalam keadaan seperti itu, dan kedua teman saya mengurung diri di rumah mereka dan menghabiskan (sebagian besar) waktu dengan menangis, tetapi karena saya masih muda dan kuat di antara mereka, saya keluar (rumah), ikut serta dalam salat berjamaah, berjalan-jalan di pasar; tetapi tidak ada yang berbicara kepada saya. Saya datang kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau duduk di antara (orang-orang) setelah salat, memberi salam kepadanya dan bertanya pada diri sendiri apakah bibirnya bergerak sebagai balasan atas salam saya (atau tidak). Kemudian saya salat di sampingnya dan memandanginya dengan pandangan sembunyi-sembunyi, dan ketika saya melaksanakan salat, beliau memandang saya, dan ketika saya meliriknya, beliau memalingkan pandangannya dari saya. Dan ketika perlakuan kasar kaum Muslimin terhadap saya berlangsung cukup lama, saya berjalan sampai saya memanjat tembok taman Abu Qatada, dan dia adalah sepupu saya, dan saya sangat menyayanginya. Aku menyapanya, tetapi demi Allah, dia tidak membalas sapaanku. Aku berkata kepadanya: Abu Qatada, aku bersumpah demi Allah, tidakkah kau tahu bahwa aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya (ﷺ)? Dia tetap diam. Aku mengulangi lagi: Aku bersumpah demi Allah, tidakkah kau tahu bahwa aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya (ﷺ)? Dia tetap diam. Aku bersumpah lagi kepadanya, lalu dia berkata: Allah dan Rasul-Nya (ﷺ) lebih mengetahuinya. Air mataku mulai mengalir dan aku kembali turun dari tembok. Saat aku berjalan di pasar Madinah, seorang Nabatea dari kalangan Nabatea Suriah, yang datang untuk menjual hasil bumi di Madinah, meminta orang-orang untuk menunjukkan jalan kepadanya kepada Ka'b bin Malik. Orang-orang memberi isyarat dengan menunjuk ke arahku. Dia datang kepadaku dan menyerahkan surat dari Raja Ghassan, dan karena aku seorang juru tulis, aku membaca surat itu. Dan tertulis seperti ini: "Sampai pada intinya, telah disampaikan kepada kami bahwa sahabatmu (Nabi Muhammad SAW) memperlakukanmu dengan kejam dan Allah tidak menciptakanmu untuk tempat di mana kamu akan direndahkan dan di mana kamu tidak dapat menemukan tempatmu yang seharusnya, jadi kamu datang kepada kami agar kami menghormatimu. Ketika aku membaca surat itu, aku berkata: Ini juga sebuah musibah, jadi aku membakarnya di dalam oven. Ketika dari lima puluh hari, empat puluh hari telah berlalu dan Rasulullah SAW belum menerima wahyu, datanglah utusan Rasulullah SAW kepadaku dan berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memerintahkanmu untuk berpisah dari istrimu. Aku berkata: Haruskah aku menceraikannya atau apa (lagi) yang harus kulakukan? Beliau berkata: Tidak, tetapi hanya berpisah darinya dan jangan berhubungan seksual dengannya. Pesan yang sama disampaikan kepada para sahabatku. Maka aku berkata kepada istriku: Lebih baik kau pergi ke rumah orang tuamu dan tinggal di sana bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan dalam kasusku. Istri dari Hilal bin Umayya datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, Hilal bin Umayya sudah tua dan pikun, ia tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau tidak menyetujui aku melayaninya?" Beliau menjawab: "Tidak, tetapi jangan mendekatinya." Hilal berkata: "Demi Allah, ia tidak memiliki naluri seperti itu. Demi Allah, ia menghabiskan waktunya dengan menangis sejak hari itu hingga hari ini." Beberapa anggota keluargaku berkata kepadaku: "Seandainya engkau meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istrimu sebagaimana beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayya untuk melayaninya." Aku menjawab: "Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ, karena aku tidak dapat mengatakan apa yang mungkin dikatakan Rasulullah ﷺ sebagai tanggapan atas permintaan izinku. Lagipula, aku masih muda." Dalam keadaan inilah aku menghabiskan sepuluh malam lagi dan dengan demikian lima puluh malam telah berlalu di mana (orang-orang) melakukan boikot terhadap kami. Pada pagi hari kelima puluh malam itulah aku melaksanakan salat subuh dan... Aku sedang duduk di salah satu atap rumah kami. Dan sesungguhnya aku sedang duduk dalam keadaan yang telah Allah, Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, gambarkan tentang kami dengan firman-Nya: "Hidupku menjadi sulit dan bumi terasa sempit meskipun luasnya," ketika aku mendengar suara seorang penyebar kabar dari puncak bukit Sal' berkata dengan suara lantang: "Ka'b bin Malik, ada kabar gembira untukmu." Aku pun sujud dan menyadari bahwa ada (pesan) kelegaan untukku. Rasulullah ﷺ telah memberitahu orang-orang tentang diterimanya taubat kami oleh Allah ketika beliau melaksanakan salat subuh. Maka orang-orang pun menyampaikan kabar gembira kepada kami dan sebagian dari mereka pergi kepada teman-temanku untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, dan seseorang memacu kudanya dan datang dari suku Aslam, dan kudanya sampai kepadaku lebih cepat daripada suaranya. Dan ketika dia datang kepadaku, yang suaranya kudengar, dia menyampaikan kabar gembira kepadaku. Aku menanggalkan pakaianku dan memakaikannya kepadanya karena kebaikannya. Kabar gembira bagiku dan, demi Allah, aku tidak memiliki apa pun (berupa pakaian) selain kedua kain ini pada kesempatan itu, dan aku meminta seseorang untuk meminjamkan dua kain kepadaku dan mengenakannya. Aku datang kepada Rasulullah ﷺ dan dalam perjalanan aku bertemu dengan sekelompok orang yang memberi salam kepadaku karena (taubatku diterima) dan mereka berkata: Ini salam untukmu karena taubatmu diterima oleh Allah. (Aku melanjutkan perjalanan) sampai aku tiba di masjid dan Rasulullah ﷺ sedang duduk di sana di antara orang-orang. Maka Talha bin 'Ubaidullah bangkit dan bergegas menghampiriku dan dia berjabat tangan denganku dan memberi salam kepadaku dan, demi Allah, tidak ada seorang pun yang berdiri (untuk memberi salam kepadaku) dari kalangan para emigran kecuali dia. Ka'b berkata bahwa dia tidak pernah melupakan (sikap baik) Talha ini. Ka'b selanjutnya berkata: Aku memberi salam kepada Rasulullah ﷺ dengan Assalam-o-'Alaikam dan wajah beliau berseri-seri karena gembira, dan beliau berkata: Semoga ada kabar gembira dan berkah bagi kalian, Seperti yang (belum pernah kamu temukan dan tidak akan kamu temukan, seperti yang kamu temukan hari ini) sejak ibumu melahirkanmu. Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah penerimaan taubat ini darimu atau dari Allah? Beliau menjawab: Tidak, (bukan dari ibumu), melainkan dari Allah, dan sudah menjadi kebiasaan Rasulullah ﷺ bahwa ketika beliau gembira, wajahnya berseri-seri dan tampak seperti sebagian bulan, dan dari situlah kami mengenalinya (kegembiraannya). Ketika aku duduk di hadapannya, aku berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberikan sedekah hartaku demi Allah dan demi Rasul-Nya ﷺ? Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Simpanlah sebagian hartamu karena itu lebih baik bagimu. Aku berkata: Aku akan menyimpan sebagian (hartaku) yang menjadi bagianku (pada ekspedisi) Khaibar. Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kebenaran dan karena itu, (aku berpikir) bahwa taubat berarti aku tidak boleh mengucapkan apa pun tetapi kebenaran selama aku hidup. Dia berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apakah ada orang di antara kaum Muslimin yang diuji lebih berat daripada aku oleh Allah karena mengatakan kebenaran. Dan sejak aku menyebutkan hal ini kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini aku belum pernah berbohong dan, demi Allah, aku telah memutuskan untuk tidak berbohong dan aku berharap Allah akan menyelamatkanku (dari cobaan) selama sisa hidupku dan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia menurunkan ayat-ayat ini: "Sesungguhnya Allah telah berpaling kepada Nabi dan para muhajirin dan para penolong yang mengikutinya pada saat kesulitan setelah hati sebagian dari mereka hampir menyimpang; kemudian Dia berpaling kepada mereka dengan rahmat. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih kepada mereka, Maha Penyayang dan (Dia berpaling kepada) tiga orang yang tertinggal sampai bumi yang luas sekalipun menjadi sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun menjadi sempit bagi mereka." Dan wahyu ini sampai pada (kata-kata): "Wahai orang-orang yang beriman, kembangkanlah kesadaran akan Allah, dan "Berada di sisi orang-orang yang jujur" (ix. 117-118). Ka'b berkata: Demi Allah, sejak Allah membimbingku kepada Islam, tidak ada nikmat yang lebih besar bagiku selain kebenaran yang kukatakan kepada Rasulullah ﷺ ini, dan jika aku berbohong, aku akan binasa seperti orang-orang yang berbohong, karena terhadap orang-orang yang berbohong, Allah menggunakan kata-kata yang paling keras yang pernah digunakan untuk siapa pun ketika Dia menurunkan wahyu (dan firman Allah adalah): "Mereka akan bersumpah demi Allah kepadamu ketika kamu kembali kepada mereka agar kamu meninggalkan mereka. Maka tinggalkanlah mereka. Sesungguhnya mereka najis dan tempat tinggal mereka adalah neraka, balasan atas apa yang mereka peroleh. Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu ridha kepada mereka, tetapi sekalipun kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang melanggar" (ix. 95-96). Ka'b berkata bahwa masalah kami bertiga ditunda dibandingkan dengan orang-orang yang bersumpah di hadapan Rasulullah ﷺ dan beliau menerima baiat mereka dan memohon ampunan atas Mereka dan Allah tidak memberikan keputusan apa pun mengenai kami. Allah-lah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia yang memberikan keputusan dalam perkara kami, tiga orang yang tertinggal. (Firman Al-Qur'an) "tiga orang yang tertinggal" tidak berarti bahwa kami tertinggal dari jihad, tetapi ini menyiratkan bahwa Dia menyimpan perkara kami di belakang mereka yang telah bersumpah dan memberikan alasan di hadapan-Nya. Hadits ini diriwayatkan dari Zuhri dengan sanad yang sama.
Shahih Muslim : 89
Sahih
وَحَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ، حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ، - وَهُوَ ابْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ - عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ عَمِّهِ، عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبٍ وَكَانَ قَائِدَ كَعْبٍ حِينَ أُصِيبَ بَصَرُهُ وَكَانَ أَعْلَمَ قَوْمِهِ وَأَوْعَاهُمْ لأَحَادِيثِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ سَمِعْتُ أَبِي كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ وَهُوَ أَحَدُ الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ تِيبَ عَلَيْهِمْ يُحَدِّثُ أَنَّهُ لَمْ يَتَخَلَّفْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا قَطُّ غَيْرَ غَزْوَتَيْنِ . وَسَاقَ الْحَدِيثَ وَقَالَ فِيهِ وَغَزَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِنَاسٍ كَثِيرٍ يَزِيدُونَ عَلَى عَشْرَةِ آلاَفٍ وَلاَ يَجْمَعُهُمْ دِيوَانُ حَافِظٍ .
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ka'ab, yang merupakan pembimbing Ka'ab ketika Ka'ab kehilangan penglihatannya. Beliau adalah ulama terbesar di kalangan kaumnya dan mengingat banyak hadits dari para Sahabat Rasulullah ﷺ. Beliau berkata: "Aku mendengar ayahku, Ka'ab bin Malik, dan beliau adalah salah satu dari tiga orang yang taubatnya diterima (oleh Allah)." Beliau meriwayatkan bahwa beliau tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam ekspedisi apa pun yang dilakukannya kecuali dua ekspedisi; bagian hadits selanjutnya sama, dan dalam riwayat yang dinarasikan melalui jalur perawi lain, kata-katanya adalah: "Bahwa Rasulullah ﷺ berangkat dalam sebuah ekspedisi dengan sejumlah besar orang, lebih dari sepuluh ribu, dan ini tidak dapat dicatat dalam daftar sensus."
Shahih Muslim : 90
Sahih
حبان ب. حدثنا موسى. (قال): عبد الله ب. أخبرنا مبارك. (قال): يونس ب. أخبرنا يزيد العيلي. إسحاق ب. إبراهيم الحنظلي، محمد ب. رافع، وعبد بن. وروى حميد أيضاً. (استخدم ابن رافع "حدسناً" وقال الآخرون: أخبرنا عبد الرزاق. قال): أخبرنا معمر. السياق حديث معمر من رواية عبد وابن رافع. وقال يونس ومعمر عن الزهري. (قال الزهري): سعيد بن. المسيب، عروة ب. الزبير، علقمة ب. وقاص، وعبيد الله ب. عبد الله ب. عتبة ب. روى مسعود عن عائشة رضي الله عنها، زوجة النبي صلى الله عليه وسلم، أنه لما قال لها المفترون ما قالوه، وبرأها الله من تهمهم، جاءني جميع الرواة بجزء من حديثها. وكان بعضهم أحفظ حديثها من بعض، فكانت روايته أصح. فحفظت الحديث الذي روته لي عن كل واحد منهم. وتؤيد الأحاديث بعضها بعضًا. وبحسب ما قالته عائشة رضي الله عنها، زوجة النبي صلى الله عليه وسلم، قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أراد أن يخرج في غزوة، كان يقرع بين نسائه، فمن وقعت عليها القرعة خرج معها رسول الله صلى الله عليه وسلم. وقالت: لقد قرعت بيننا في غزوة كانت ستخوضها، فوقعت عليّ القرعة، فخرجت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم. وكان ذلك بعد نزول آية الحجاب. كنتُ راكبةً على الجمل داخل هودجي، ونزلتُ منه عند وصولنا. ولما انتهى رسول الله صلى الله عليه وسلم من حملته وعاد، وكنا نقترب من المدينة، أعلن عن مسيرة ليلية. فلما أعلن المسيرة، نهضتُ على الفور وسرتُ، حتى أنني سبقتُ الجيش. ولما قضيتُ حاجتي، ذهبتُ إلى أغراضي. لمستُ صدري فرأيتُ أن قلادتي المصنوعة من حبات الزعفران قد انقطعت. فالتفتُّ على الفور وبحثتُ عنها. وقد منعني البحث عنها من المضيّ. أما المجموعة التي حمّلت سرجي فقد حمّلت هودجي وانصرفت. وحمّلته على الجمل الذي كنتُ راكبةً عليه. ظنّوا أنني بداخله أيضًا. قال: في ذلك الوقت، كانت النساء ذوات بشرة فاتحة. لم يكنّ قد سمنّ، ولم تكن أجسادهنّ مغطاة باللحم. كنّ يأكلن القليل من الطعام. حمّل الجمع الهودج على الجمل ورفعوها دون أن يسألوا عن وزنها. كنتُ فتاةً صغيرةً رقيقة. طار الجمل بعيدًا. وجدتُ قلادتي بعد رحيل الجيش. ثم وصلتُ إلى المكان الذي كانوا فيه، فلم أجد أحدًا يناديني أو يجيبني. عدتُ إلى مكاني، ظنًا مني أن الجماعة ستبحث عني وتعود. وبينما كنتُ جالسة، شعرتُ بالنعاس وغفوت. استراح صفوان بن معطل السلام لاحقًا خلف جيش زكوان. وفي نهاية الليل، انطلق في الطريق، وقضى الليلة حيث كنتُ، فرأى خيال شخص نائم. فأتى إليّ على الفور وعرفني؛ بل إنه رآني قبل أن يُفرض عليّ ارتداء الحجاب. ولما عرفني، استيقظتُ على استرجائه. وغطيتُ وجهي على الفور بحجابي. والله، لم ينطق بكلمة. لم أسمع منه شيئًا سوى استرجائه. ثم أنزل جمله، وداس على رجله الأمامية، فركبتُ الجمل. وقادني على جملي وانطلقنا. وأخيرًا، لحقنا بالجيش بعد أن خيّموا حين اشتدّ حرّ الظهيرة. حينها، كان ما قُدّر لي قد تمّ. تولّى عبد الله بن أبيّ بن سلول معظم هذه المهمة. بعد ذلك، وصلنا إلى المدينة المنورة. ولما وصلنا، كنت مريضًا لمدة شهر. كان الناس ينشرون كلام المُفترين. لم أشعر بشيء من ذلك. لكن خلال مرضي، أثار شكوكي عدم رؤيتي نفس اللطف من رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي رأيته من قبل حين كنت مريضًا. كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يدخل، يُسلّم، ثم يقول: [يقول شيئًا]. وهذا أيضًا أثار شكوكي. لكنني لم أشعر بأي ضغينة. أخيرًا، بعد أن شفيت، خرجت. وذهبت معي أم مسته إلى مناسي. كان هذا المكان مرحاضنا. كنا نخرج فقط في الليل. حدث هذا قبل أن نبني المراحيض قرب بيوتنا. كانت عادتنا في المراحيض عادة العرب الأوائل، وكنا نجد صعوبة في بنائها بجوار بيوتنا. مشينا أنا وأم مسته، وهي ابنة أبي رم بن مطلب بن عبدي مناف، وأمها ابنة سحر بن عامر، عمة أبي بكر الصديق. وابن أم مسته هو مسته بن أساسة بن عباد بن مطلفة. وبعد أن قضينا أنا وبنت أبي رم حاجتنا، توجهنا نحو بيتي. فدست أم مسته على نقابها وقالت: "لعنة مسته!" فقلت لها: "يا لكِ من امرأة عظيمة! أتلعنين رجلاً كان في بدر؟" فقالت: "يا امرأة، ألم تسمعي ما قاله؟" فسألتها: "ماذا قال؟" فأخبرتني بما قاله المفترون، فازداد مرضي سوءًا. عندما عدتُ إلى المنزل، دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم وسلم عليّ، ثم سألني: "أتأذنين لي بالذهاب إلى والديّ؟" فقلت: "أردتُ في تلك اللحظة أن أفهم الخبر منهما جيدًا". فأذن لي رسول الله صلى الله عليه وسلم، فذهبتُ إلى والديّ وقلتُ لأمي: "يا أمي! ما يقول الناس؟" فقالت أمي: "يا ابنتي، اهدئي! والله، ما أقلّ امرأة جميلة متزوجة من رجل يحبها، وإن كان لها أزواج، إلا وتكلمت عليهم بسوء". فقلت: "سبحان الله! هل يقول الناس هذا حقًا؟" ثم بكيتُ تلك الليلة، وقضيتُها أبكي بلا انقطاع، ولم أنم. ثم قضيتُها أبكي مرة أخرى. ولما انقطع الوحي، دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب وأسامة بن زيد ليستشيراه في أمر فراق أهله. قال أسامة بن زيد، مُظهِرًا معرفته ببراءة أهله ومحبته لهم، لرسول الله صلى الله عليه وسلم: «يا رسول الله، هؤلاء أهلك، لا نعلم إلا الخير». أما علي بن أبي طالب فقال: «لن يُصيبك الله بضيق، فهناك نساء كثيرات غيرها، ولو سألت الجارية لصدقتك». عندئذٍ دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم بريرة وسأله: «بريرة، هل رأيت في عائشة ما يُثير الشك فيك؟» فقال له بريرة: «والله الذي بعثك بالحق، ما رأيت فيه ما أُعيبه، ولكنه شاب يافع، ينام على عجينه الذي يعجنه لأهله، وتأتي الغنم فتأكله». عندئذٍ، قام رسول الله صلى الله عليه وسلم وصعد المنبر، طالباً الاعتذار من عبد الله بن أبي بن سلول. قالت عائشة رضي الله عنها: "بينما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم على المنبر، قال: يا أيها المسلمون! من يقبل اعتذاري من رجل ألحق بأهلي أشد الأذى؟ والله، ما أعلم بأهلي إلا خيراً، إنما دخل عليهم معي." فقام سعد بن معاذ الأنصاري وقال: "أنا أقبل اعتذارك منه يا رسول الله!" فإن كان من قبيلة الأوس، قطعنا عنقه. قال: "إن كان من إخواننا الخزرج، فأصدر الأمر وسنطيعه". ثم قام سعد بن عبادة، وكان شيخ الخزرج ورجلاً صالحاً، إلا أن حماسته أضلته. فقال لسعد بن معاذ: "لقد أخطأت! والله لا تستطيع قتله، ولا أنت قادر على قتله!". ثم قام أسيد بن حضير، وكان ابن عم سعد بن معاذ. فقال لسعد بن عبادة: "لقد أخطأت! والله لا بد أن نقتله. إنك منافق حقاً". «أنتم تقاتلون في سبيل المنافقين». فثارت القبيلتان (الأوس والخزرج)، بل وعزمتا على القتال. وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم واقفًا على المنبر، يُهدئهما حتى سكتتا، فسكت هو أيضًا. قالت عائشة: «بكيتُ ذلك اليوم، ولم تتوقف دموعي، ولم أستطع النوم. ثم بكيتُ في الليلة التالية، ولم تتوقف دموعي، ولم أستطع النوم. ظنّ والداي أن بكائي سيُفطر قلبي. وبينما كانا جالسين بجانبي وأنا أبكي، استأذنت امرأة من الأنصار بالدخول، فأذنتُ لها. فجلست المرأة وبدأت تبكي. وبينما كنا على هذه الحال، دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم وسلم علينا، ثم جلس. لم يكن قد جلس بجانبي منذ أن قيل ما قيل عني، فقد انتظر شهرًا ولم يُوحَ إليه شيء عني». لما جلس رسول الله صلى الله عليه وسلم، تشهد. ثم قال: يا عائشة، إن الأمر هو أنكِ قد أتيتني بتهم كذا وكذا. فإن كنتِ بريئة، برأكِ الله. وإن كنتِ قد ارتكبتِ ذنبًا، فاستغفري الله! توبي إليه! فإن العبد إذا اعترف بذنبه ثم تاب، قبل الله توبته. قالت عائشة: لما فرغ رسول الله صلى الله عليه وسلم من الكلام، انقطعت دموعي، ولم أشعر بقطرة واحدة. فقلت لأبي: أجب عني فيما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم! فقال أبي: والله، ما أدري ما أقول لرسول الله صلى الله عليه وسلم. ثم قلت لأمي: «أجيبيني عما قاله رسول الله صلى الله عليه وسلم!» فقلت: «والله ما أدري ما أقول لرسول الله صلى الله عليه وسلم». فقلت، مع أنني كنت صغيرًا لا أعرف الكثير من القرآن: «والله أعلم أنكِ سمعتِ ما قيل، بل ترسخ في حصونكِ وآمنتِ به. ولو قلت لكِ إني بريء - والله يعلم براءتي - لما صدقتني. ولو اعترفت لكِ بشيء - والله يعلم براءتي - لأثبتِ لي. والله ما أجد لكِ مثلاً أضربه لكِ. ولكن كما قال أبو يوسف، فإن أمري من صبر جميل. والله هو الذي يُستعان به فيما قلت». فقال: «ثم انقلبتُ على فراشي». والله، علمتُ في تلك اللحظة أنني بريئة وأن الله سيبرئني. ولكن والله، لم يخطر ببالي أن ينزل الوحي (القرآن) في شأني. لم تكن حالتي النفسية وتوقعاتي توحي بأن الله (جل جلاله وعظمته) سينزل آية عني. بل كنتُ أتوقع أن يرى رسول الله (صلى الله عليه وسلم) رؤيا في منامه، وأن الله سيبرئني من خلالها. والله، لم يكن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) قد غادر مجلسه، ولم يخرج أحد من أهل البيت حين أنزل الله (جل جلاله وعظمته) الوحي على نبيه (صلى الله عليه وسلم). فعادت إليه تلك الشدة التي غمرته لحظة الوحي. ومن ثقل الكلمات التي أُنزلت عليه، انهمرت حبات العرق من جبينه في ذلك اليوم البارد. ولما انقضى الوحي، ابتسم رسول الله (صلى الله عليه وسلم). وكانت أولى كلماته: "يا عائشة! قال لي الله: «لقد برأك». فقالت لي أمي: «قم واذهب إليه». فقلت: «والله لا أستطيع الذهاب إليه، ولا أستطيع أن أمدح أحدًا غير الله! فهو الذي أنزل براءتي». فأنزل الله تعالى عشر آيات، بدءًا من سورة النور، الآية 11. هذه الآيات أنزلها الله تعالى بشأن براءتي. فقال أبو بكر، الذي كان ينفق على مستة لقرابتهما وفقرهما: «والله، بعد ما قاله عن عائشة، لن أعطيه شيئًا بعد الآن!». فأنزل الله تعالى الآية: «ولا يحلف أهل البيت والمال على أن لا ينصروا أهل القربى...» حتى الآية الكريمة: «ألا تحبون أن يغفر الله لكم؟». قال ابن موسى: «عبد الله بن...» قال مبارك: "هذه أكثر الآيات رجاءً في كتاب الله". قال بكر: "والله، ليغفر لي الله"، ثم عاد يُطعم مسته كما كان يُطعمه سابقًا، قائلاً: "لن أتوقف عن إطعامه أبدًا". قال: "سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم زوجته زينب بنت جحش عن أمري، فقال: هل كنتِ تعلمين أم ماذا رأيتِ؟ فأجابت: يا رسول الله، إني أحفظ أذني وعيني، والله ما أعلم إلا خيرًا". قال: "ومع ذلك، كانت هي التي تحدتني من زوجات النبي صلى الله عليه وسلم، فحفظها الله بالتقوى والصلاح. فبدأت أختها حنينة بنت جحش تُخاصمها، فماتت مع الذين هلكوا". قال: "هذا ما جاءنا من أمر هذه الأمة!". وفي الحديث، استخدم التعبير التالي: "أغضبه حماسه..."
Hibban b. Musa meriwayatkan kepada kami. (Dia berkata): Abdullah b. Mubarak memberi tahu kami. (Dia berkata): Yunus b. Yazid al-Ayli memberi tahu kami. Ishaq b. Ibrahim al-Hanzali, Muhammad b. Rafi', dan Abd b. Humayd juga meriwayatkan. (Ibnu Rafi' menggunakan ungkapan "haddesena"; yang lain mengatakan: Abd al-Razzaq memberi tahu kami. Dia berkata): Ma'mar memberi tahu kami. Konteksnya adalah hadis Ma'mar dari riwayat Abd dan Ibnu Rafi'. Yunus dan Ma'mar sama-sama mengucapkan dari Zuhri. (Zuhri berkata): Sa'id b. Musayyib, Urwa b. Zubayr, Alkama b. Waqqas, dan Ubaydullah b. Abdillah b. Utba b. Mas'ud meriwayatkan dari Aisyah, istri Nabi (shalawat dan salam kepadanya), bahwa ketika para pencerca mengatakan apa yang mereka katakan kepadanya, dan Allah membersihkannya dari tuduhan mereka, semua perawi menyampaikan kepadaku sebagian dari haditsnya. Sebagian dari mereka menghafal haditsnya lebih baik daripada yang lain, dan riwayatnya lebih dapat dipercaya. Aku menghafal hadits yang dia riwayatkan kepadaku dari masing-masing perawi. Hadits-hadits tersebut saling menguatkan. Menurut apa yang dikatakannya, Aisyah, istri Nabi (shalawat dan salam kepadanya), berkata: Ketika Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) ingin pergi dalam suatu ekspedisi, beliau akan mengundi di antara istri-istrinya. Siapa pun yang terpilih dalam undian tersebut, Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) akan ikut dalam ekspedisi bersamanya. Dia berkata: Dia mengundi di antara kami untuk suatu pertempuran yang akan dia lakukan, dan undian itu jatuh kepadaku. Aku juga ikut pergi bersama Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya). Ini terjadi setelah ayat tentang mengenakan cadar diturunkan. Aku sedang menunggang unta di dalam tandu, dan turun darinya di tempat tujuan kami. Akhirnya, ketika Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam menyelesaikan dakwahnya dan kembali, dan kami mendekati Madinah, beliau mengumumkan pawai malam. Ketika beliau mengumumkan pawai tersebut, aku segera bangun dan berjalan, bahkan menyalip pasukan. Setelah buang air, aku pergi ke barang-barangku. Aku meraba dadaku dan melihat kalungku, yang terbuat dari manik-manik safron, telah putus. Aku segera berbalik dan mencari kalungku. Mencarinya membuatku tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kelompok yang telah memuat pelanaku telah memuat tanduku dan pergi. Mereka memuatnya ke unta yang kutunggangi. Mereka mengira aku juga ada di dalamnya. Beliau berkata: Pada waktu itu, wanita berkulit terang. Mereka belum gemuk, tubuh mereka belum tertutup daging. Mereka hanya makan sedikit makanan. Jemaah memuat tandu ke unta dan mengangkatnya tanpa mempertanyakan beratnya. Aku masih gadis muda yang lembut. Mereka mengusir unta itu. Aku menemukan kalungku setelah pasukan pergi. Kemudian aku sampai di tempat mereka berada, hanya untuk mendapati tidak ada seorang pun yang memanggilku atau menjawab. Aku kembali ke tempatku semula, berpikir bahwa jemaah akan mencariku dan kembali. Saat duduk di sana, aku merasa mengantuk dan tertidur. Safwan ibn Mu'attal al-Sulam kemudian beristirahat di belakang pasukan Zakwan. Di akhir malam, ia berangkat ke jalan, bermalam di tempatku berada, dan melihat bayangan seseorang yang sedang tidur. Ia segera mendatangiku dan mengenaliku; memang, ia telah melihatku sebelum kewajiban mengenakan jilbab diberlakukan kepadaku. Ketika ia mengenaliku, aku terbangun dengan istirjanya (doa memohon perlindungan). Dan aku segera menutupi wajahku dengan jilbabku. Demi Allah, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Aku tidak mendengar apa pun darinya kecuali istirjanya. Ia menyuruh untanya berlutut; ia menginjak kaki depannya, dan aku menaiki unta itu. Lalu ia menuntunku di atas untaku dan kami pun berangkat. Akhirnya, kami menyusul pasukan setelah mereka berkemah ketika panas terik siang hari semakin menyengat. Saat itu, apa yang ditakdirkan untukku telah terlaksana. Abdullah ibn Ubayy ibn Salul telah mengambil alih sebagian besar tugas ini. Kemudian, kami tiba di Madinah. Ketika kami tiba di Madinah, aku sakit selama sebulan. Orang-orang menyebarkan fitnah. Aku tidak merasakan apa pun dari hal itu. Tetapi selama sakitku, kenyataan bahwa aku tidak melihat kebaikan yang sama dari Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) seperti yang kulihat sebelumnya ketika aku sakit membuatku curiga. Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) hanya masuk, memberi salam, lalu berkata: [Beliau akan mengatakan sesuatu]. Ini juga membuatku curiga. Tetapi aku tidak merasakan kebencian apa pun. Akhirnya, setelah sembuh, aku keluar. Umm Mistah juga ikut denganku menuju Manasi. Tempat ini adalah jamban kami. Kami hanya keluar pada malam hari. Kejadian ini terjadi sebelum kami membangun toilet di dekat rumah kami. Kebiasaan kami mengenai jamban adalah kebiasaan orang Arab zaman dahulu. Kami merasa tidak nyaman membangun toilet di dekat rumah kami. Umm Mistah dan saya berjalan. Wanita ini adalah putri Abu Ruhm bin Muttalib bin Abdi Menaf. Ibunya adalah putri Sahr bin Amir, bibi Abu Bakr al-Siddiq. Putra Umm Mistah adalah Mistah bin Usasa bin Abbad bin Muttalifa. Kemudian, setelah saya dan Bint Abu Ruhm buang air, kami menuju rumah saya. Kemudian Umm Mistah menginjak kerudungnya dan berkata: "Semoga Mistah terkutuk!" Saya berkata kepadanya: "Sungguh mengerikan ucapanmu! Apakah kau mengutuk seorang pria yang berada di Badr?" Dia berkata: "Wanita, apakah kau tidak mendengar apa yang dia katakan?" Saya bertanya: "Apa yang dia katakan?" Setelah itu, dia memberi tahu saya apa yang dikatakan para pencerca. Dan penyakit saya semakin parah. Ketika aku pulang, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam masuk dan memberi salam kepadaku. Kemudian beliau bertanya, "Apakah kamu mengizinkanku pergi menemui orang tuaku?" Aku menjawab, "Saat itu, aku ingin memahami kabar dari mereka dengan benar." Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mengizinkanku. Maka aku pergi menemui orang tuaku dan berkata kepada ibuku, "Wahai ibuku! Apa yang orang-orang katakan?" Ibuku berkata, "Wahai putriku, tenanglah! Demi Allah, sangat sedikit wanita cantik yang menikah dengan pria yang mencintai mereka, meskipun mereka memiliki pasangan, namun mereka tidak menjelek-jelekkan pasangan mereka." Aku berkata, "Subhanallah! Benarkah orang-orang mengatakan itu?" Kemudian aku menangis malam itu. Aku menghabiskan malam dengan menangis tanpa henti dan tanpa tidur. Kemudian aku menghabiskan malam dengan menangis lagi. Ketika wahyu berhenti, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Talib dan Usama bin Zayd untuk berkonsultasi dengannya tentang perpisahan dengan keluarganya. Usama bin Zayd, yang menunjukkan bahwa ia mengetahui ketidakbersalahan keluarganya dan menunjukkan kasih sayangnya kepada mereka, berkata kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah! Mereka adalah keluargamu. Kami tidak tahu apa-apa selain kebaikan." Adapun Ali bin Abi Talib, ia berkata: "Allah tidak akan menyusahkanmu; masih banyak wanita lain selain dia. Jika engkau bertanya kepada budak perempuan itu, dia akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu." Kemudian, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam memanggil Barira dan bertanya: "Barira! Apakah engkau melihat sesuatu pada Aisyah yang akan membuatmu ragu?" Barira berkata kepadanya: "Demi Allah, yang mengutusmu dengan kebenaran, aku belum melihat sesuatu pun padanya yang dapat aku salahkan. Namun, dia masih muda, seorang pemuda. Dia tidur di atas adonan yang dia uleni untuk keluarganya, dan domba-domba datang dan memakannya." Mendengar itu, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bangkit dan naik ke mimbar, meminta maaf kepada Abdullah bin Ubayy bin Salul. Aisyah berkata: "Ketika Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam berada di mimbar, beliau bersabda: 'Wahai umat Islam! Siapa yang akan menerima permintaan maafku dari seorang laki-laki yang telah menyebabkan kerugian terbesar bagi keluargaku? Demi Allah, aku tidak tahu apa pun selain kebaikan tentang keluargaku. Dia hanya datang menemui mereka bersamaku.'" Mendengar itu, Sa'd bin Mu'adh al-Ansari berdiri dan berkata: "Aku akan menerima permintaan maafmu darinya, wahai Rasulullah!" Jika dia berasal dari suku Aws, kami akan memenggal lehernya. "Jika dia dari saudara-saudara kita Khazraj, kau beri perintah, dan kami akan menaati perintahmu," katanya. Kemudian Sa'd ibn Ubadah bangkit. Orang ini adalah kepala suku Khazraj dan orang yang baik. Namun, semangatnya telah membuatnya bodoh. Dia berkata kepada Sa'd ibn Mu'adh: "Kau telah keliru! Demi Allah, kau tidak dapat membunuhnya, dan kau tidak mampu membunuhnya!" Kemudian Usayd ibn Hudayr bangkit. Orang ini adalah sepupu Sa'd ibn Mu'adh. Dia berkata kepada Sa'd ibn Ubadah: "Kau telah keliru! Demi Allah, kami pasti akan membunuhnya. Kau benar-benar seorang munafik." "Kalian berperang atas nama orang-orang munafik." Dan kedua suku (yaitu Aws dan Khazraj) bangkit. Mereka bahkan bermaksud untuk berperang. Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam sedang berdiri di mimbar. Beliau terus menenangkan mereka, hingga mereka terdiam. Beliau pun terdiam. Aisyah berkata: "Aku menangis hari itu. Air mataku tak berhenti, dan aku tidak bisa tidur. Kemudian aku menangis lagi malam berikutnya. Air mataku tak berhenti, dan aku tidak bisa tidur. Ibu dan ayahku mengira tangisanku akan menghancurkan hatiku. Saat mereka duduk di sampingku dan aku menangis, seorang wanita dari kaum Ansar meminta izin untuk masuk. Aku mengizinkannya. Wanita itu duduk dan mulai menangis. Saat kami dalam keadaan seperti itu, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam masuk dan memberi salam kepada kami. Kemudian beliau duduk. Beliau belum pernah duduk di sampingku sejak apa yang dikatakan tentangku telah dikatakan. Beliau telah menunggu sebulan, dan tidak ada wahyu yang diturunkan kepadanya tentangku." Ketika Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam duduk, beliau membaca tasyahhud. Kemudian beliau berkata: "Wahai Aisyah, situasinya adalah tuduhan-tuduhan ini dan itu telah sampai kepadaku dari dirimu. Jika engkau tidak bersalah, Allah akan membebaskanmu. Jika engkau telah berbuat dosa, mohon ampunan kepada Allah! Bertaubatlah kepada-Nya! Karena jika seorang hamba mengakui dosa dan kemudian bertaubat, Allah menerima taubatnya." Aisyah berkata: "Ketika Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam selesai berbicara, air mataku berhenti. Aku bahkan tidak merasakan setetes pun air mata lagi. Aku berkata kepada ayahku: 'Jawablah atas namaku tentang apa yang dikatakan Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam!' Ayahku berkata: 'Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam.'" (Kemudian) aku berkata kepada ibuku: 'Jawablah atas namaku tentang apa yang dikatakan Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya)!'" kataku, dan dia menjawab, "Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya)." Lalu, meskipun aku masih muda dan tidak banyak mengetahui Al-Qur'an, aku berkata, "Demi Allah, aku mengerti dengan baik bahwa kalian telah mendengar apa yang telah dikatakan. Bahkan telah berakar di benteng-benteng kalian, dan kalian telah mempercayainya. Jika aku mengatakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah—dan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah—kalian tidak akan mempercayaiku. Jika aku mengaku sesuatu kepada kalian—dan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah—kalian akan membenarkanku. Demi Allah, aku tidak dapat menemukan contoh untuk kalian berikan. Namun, seperti yang dikatakan ayah Yusuf, perkaraku ini adalah perkara kesabaran yang indah. Allah-lah Yang Maha Pemberi pertolongan mengenai apa yang telah kau katakan." Dia berkata, "Kemudian aku berbalik dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, aku tahu pada saat itu bahwa aku tidak bersalah dan bahwa Allah akan membebaskanku. Tetapi demi Allah, aku tidak menyangka bahwa wahyu (Al-Qur'an) akan diturunkan kepadaku." Keadaan pikiran dan harapanku bukanlah seperti itu, bahwa Allah (Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi) akan menurunkan ayat tentangku. Sebaliknya, aku mengharapkan bahwa Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) akan bermimpi dalam tidurnya, dan bahwa melalui mimpi itu, Allah akan membebaskanku. Demi Allah, Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) belum meninggalkan majelisnya; tidak seorang pun dari keluarga yang pergi keluar ketika Allah (Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi) menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya (shalawat dan salam kepadanya). Intensitas yang telah melandanya pada saat wahyu itu kembali. Karena beratnya kata-kata yang diwahyukan kepadanya, butiran keringat mengalir dari dahinya pada hari yang dingin itu. Ketika wahyu berakhir, Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) tersenyum. Kata-kata pertamanya adalah: "Wahai Aisyah! Allah telah membebaskanmu." Mendengar itu, ibuku berkata kepadaku: "Bangun dan pergilah kepadanya." Aku berkata: "Demi Allah, aku tidak dapat pergi kepadanya. Aku tidak dapat memuji siapa pun selain Allah! Dialah yang telah menurunkan kesucianku." Kemudian Allah (Maha Mulia dan Maha Tinggi) menurunkan sepuluh ayat, dimulai dari Surah An-Nur, ayat 11. Ayat-ayat ini diturunkan oleh Allah (Maha Mulia dan Maha Tinggi) mengenai kesucianku. Abu Bakar—yang biasa memberi nafkah kepada Mistah karena hubungan kekerabatan dan kemiskinan mereka—berkata: "Demi Allah, setelah apa yang dia katakan tentang Aisyah, aku tidak akan pernah memberinya apa pun lagi!" Kemudian, Allah (Maha Mulia dan Maha Tinggi) menurunkan ayat, "Janganlah orang-orang yang berkedudukan tinggi dan kaya bersumpah bahwa mereka tidak akan membantu kerabat mereka..." hingga ayat yang mulia, "Tidakkah kamu berharap Allah mengampunimu?" Ibnu Musa berkata: "Abdullah bin Mubarak berkata, "Ini adalah ayat yang paling penuh harapan dalam Kitab Allah." Bakr berkata, "Demi Allah, aku berharap Allah mengampuniku," dan ia melanjutkan memberi Mistah rezeki seperti yang telah diberikannya sebelumnya, seraya berkata, "Aku tidak akan pernah berhenti memberikannya kepadanya." Ia berkata, "Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bertanya kepada istrinya, Zaynab binti Jahsy, tentang masalahku, seraya berkata, 'Apakah kamu tahu (atau) apa yang kamu lihat?' Ia menjawab, 'Wahai Rasulullah! Aku menjaga telinga dan mataku. Demi Allah, aku tidak tahu apa pun selain kebaikan.' Beliau bersabda, 'Namun, dialah salah satu istri Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam yang menantangku. Allah melindunginya dengan ketakwaan dan kebaikan.' Saudarinya, Hanina binti Jahsy, mulai berselisih dengannya, dan ia binasa di antara orang-orang yang binasa." Ia berkata, "Inilah yang sampai kepada kita dari masalah komunitas ini!" Dan dalam hadits tersebut, ia menggunakan ungkapan, "Semangatnya membuatnya marah..."
Shahih Muslim : 91
Sahih
حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ، الأَيْلِيُّ ح وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، وَالسِّيَاقُ، حَدِيثُ مَعْمَرٍ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدٍ وَابْنِ رَافِعٍ قَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ جَمِيعًا عَنِ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ وَعَلْقَمَةُ بْنِ وَقَّاصٍ وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حِينَ قَالَ لَهَا أَهْلُ الإِفْكِ مَا قَالُوا فَبَرَّأَهَا اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكُلُّهُمْ حَدَّثَنِي طَائِفَةً مِنْ حَدِيثِهَا وَبَعْضُهُمْ كَانَ أَوْعَى لِحَدِيثِهَا مِنْ بَعْضٍ وَأَثْبَتَ اقْتِصَاصًا وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمُ الْحَدِيثَ الَّذِي حَدَّثَنِي وَبَعْضُ حَدِيثِهِمْ يُصَدِّقُ بَعْضًا ذَكَرُوا أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَعَهُ - قَالَتْ عَائِشَةُ - فَأَقْرَعَ بَيْنَنَا فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا فَخَرَجَ فِيهَا سَهْمِي فَخَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَذَلِكَ بَعْدَ مَا أُنْزِلَ الْحِجَابُ فَأَنَا أُحْمَلُ فِي هَوْدَجِي وَأُنْزَلُ فِيهِ مَسِيرَنَا حَتَّى إِذَا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ غَزْوِهِ وَقَفَلَ وَدَنَوْنَا مِنَ الْمَدِينَةِ آذَنَ لَيْلَةً بِالرَّحِيلِ فَقُمْتُ حِينَ آذَنُوا بِالرَّحِيلِ فَمَشَيْتُ حَتَّى جَاوَزْتُ الْجَيْشَ فَلَمَّا قَضَيْتُ مِنْ شَأْنِي أَقْبَلْتُ إِلَى الرَّحْلِ فَلَمَسْتُ صَدْرِي فَإِذَا عِقْدِي مِنْ جَزْعِ ظَفَارِ قَدِ انْقَطَعَ فَرَجَعْتُ فَالْتَمَسْتُ عِقْدِي فَحَبَسَنِي ابْتِغَاؤُهُ وَأَقْبَلَ الرَّهْطُ الَّذِينَ كَانُوا يَرْحَلُونَ لِي فَحَمَلُوا هَوْدَجِي فَرَحَلُوهُ عَلَى بَعِيرِيَ الَّذِي كُنْتُ أَرْكَبُ وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنِّي فِيهِ - قَالَتْ - وَكَانَتِ النِّسَاءُ إِذْ ذَاكَ خِفَافًا لَمْ يُهَبَّلْنَ وَلَمْ يَغْشَهُنَّ اللَّحْمُ إِنَّمَا يَأْكُلْنَ الْعُلْقَةَ مِنَ الطَّعَامِ فَلَمْ يَسْتَنْكِرِ الْقَوْمُ ثِقَلَ الْهَوْدَجِ حِينَ رَحَلُوهُ وَرَفَعُوهُ وَكُنْتُ جَارِيَةً حَدِيثَةَ السِّنِّ فَبَعَثُوا الْجَمَلَ وَسَارُوا وَوَجَدْتُ عِقْدِي بَعْدَ مَا اسْتَمَرَّ الْجَيْشُ فَجِئْتُ مَنَازِلَهُمْ وَلَيْسَ بِهَا دَاعٍ وَلاَ مُجِيبٌ فَتَيَمَّمْتُ مَنْزِلِي الَّذِي كُنْتُ فِيهِ وَظَنَنْتُ أَنَّ الْقَوْمَ سَيَفْقِدُونِي فَيَرْجِعُونَ إِلَىَّ فَبَيْنَا أَنَا جَالِسَةٌ فِي مَنْزِلِي غَلَبَتْنِي عَيْنِي فَنِمْتُ وَكَانَ صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ قَدْ عَرَّسَ مِنْ وَرَاءِ الْجَيْشِ فَادَّلَجَ فَأَصْبَحَ عِنْدَ مَنْزِلِي فَرَأَى سَوَادَ إِنْسَانٍ نَائِمٍ فَأَتَانِي فَعَرَفَنِي حِينَ رَآنِي وَقَدْ كَانَ يَرَانِي قَبْلَ أَنْ يُضْرَبَ الْحِجَابُ عَلَىَّ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي وَوَاللَّهِ مَا يُكَلِّمُنِي كَلِمَةً وَلاَ سَمِعْتُ مِنْهُ كَلِمَةً غَيْرَ اسْتِرْجَاعِهِ حَتَّى أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ فَوَطِئَ عَلَى يَدِهَا فَرَكِبْتُهَا فَانْطَلَقَ يَقُودُ بِي الرَّاحِلَةَ حَتَّى أَتَيْنَا الْجَيْشَ بَعْدَ مَا نَزَلُوا مُوغِرِينَ فِي نَحْرِ الظَّهِيرَةِ فَهَلَكَ مَنْ هَلَكَ فِي شَأْنِي وَكَانَ الَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَىٍّ ابْنُ سَلُولَ فَقَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَاشْتَكَيْتُ حِينَ قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ شَهْرًا وَالنَّاسُ يُفِيضُونَ فِي قَوْلِ أَهْلِ الإِفْكِ وَلاَ أَشْعُرُ بِشَىْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَهُوَ يَرِيبُنِي فِي وَجَعِي أَنِّي لاَ أَعْرِفُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اللُّطْفَ الَّذِي كُنْتُ أَرَى مِنْهُ حِينَ أَشْتَكِي إِنَّمَا يَدْخُلُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُولُ " كَيْفَ تِيكُمْ " . فَذَاكَ يَرِيبُنِي وَلاَ أَشْعُرُ بِالشَّرِّ حَتَّى خَرَجْتُ بَعْدَ مَا نَقِهْتُ وَخَرَجَتْ مَعِي أُمُّ مِسْطَحٍ قِبَلَ الْمَنَاصِعِ وَهُوَ مُتَبَرَّزُنَا وَلاَ نَخْرُجُ إِلاَّ لَيْلاً إِلَى لَيْلٍ وَذَلِكَ قَبْلَ أَنَّ نَتَّخِذَ الْكُنُفَ قَرِيبًا مِنْ بُيُوتِنَا وَأَمْرُنَا أَمْرُ الْعَرَبِ الأُوَلِ فِي التَّنَزُّهِ وَكُنَّا نَتَأَذَّى بِالْكُنُفِ أَنْ نَتَّخِذَهَا عِنْدَ بُيُوتِنَا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأُمُّ مِسْطَحٍ وَهِيَ بِنْتُ أَبِي رُهْمِ بْنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ وَأُمُّهَا ابْنَةُ صَخْرِ بْنِ عَامِرٍ خَالَةُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَابْنُهَا مِسْطَحُ بْنُ أُثَاثَةَ بْنِ عَبَّادِ بْنِ الْمُطَّلِبِ فَأَقْبَلْتُ أَنَا وَبِنْتُ أَبِي رُهْمٍ قِبَلَ بَيْتِي حِينَ فَرَغْنَا مِنْ شَأْنِنَا فَعَثَرَتْ أُمُّ مِسْطَحٍ فِي مِرْطِهَا فَقَالَتْ تَعِسَ مِسْطَحٌ . فَقُلْتُ لَهَا بِئْسَ مَا قُلْتِ أَتَسُبِّينَ رَجُلاً قَدْ شَهِدَ بَدْرًا . قَالَتْ أَىْ هَنْتَاهُ أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قَالَ قُلْتُ وَمَاذَا قَالَ قَالَتْ فَأَخْبَرَتْنِي بِقَوْلِ أَهْلِ الإِفْكِ فَازْدَدْتُ مَرَضًا إِلَى مَرَضِي فَلَمَّا رَجَعْتُ إِلَى بَيْتِي فَدَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ " كَيْفَ تِيكُمْ " . قُلْتُ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ آتِيَ أَبَوَىَّ قَالَتْ وَأَنَا حِينَئِذٍ أُرِيدُ أَنْ أَتَيَقَّنَ الْخَبَرَ مِنْ قِبَلِهِمَا . فَأَذِنَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَجِئْتُ أَبَوَىَّ فَقُلْتُ لأُمِّي يَا أُمَّتَاهْ مَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ فَقَالَتْ يَا بُنَيَّةُ هَوِّنِي عَلَيْكِ فَوَاللَّهِ لَقَلَّمَا كَانَتِ امْرَأَةٌ قَطُّ وَضِيئَةٌ عِنْدَ رَجُلٍ يُحِبُّهَا وَلَهَا ضَرَائِرُ إِلاَّ كَثَّرْنَ عَلَيْهَا - قَالَتْ - قُلْتُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَقَدْ تَحَدَّثَ النَّاسُ بِهَذَا قَالَتْ فَبَكَيْتُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ حَتَّى أَصْبَحْتُ لاَ يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ وَلاَ أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ ثُمَّ أَصَبَحْتُ أَبْكِي وَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَأُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ حِينَ اسْتَلْبَثَ الْوَحْىُ يَسْتَشِيرُهُمَا فِي فِرَاقِ أَهْلِهِ - قَالَتْ - فَأَمَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ فَأَشَارَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالَّذِي يَعْلَمُ مِنْ بَرَاءَةِ أَهْلِهِ وَبِالَّذِي يَعْلَمُ فِي نَفْسِهِ لَهُمْ مِنَ الْوُدِّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُمْ أَهْلُكَ وَلاَ نَعْلَمُ إِلاَّ خَيْرًا . وَأَمَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لَمْ يُضَيِّقِ اللَّهُ عَلَيْكَ وَالنِّسَاءُ سِوَاهَا كَثِيرٌ وَإِنْ تَسْأَلِ الْجَارِيَةَ تَصْدُقْكَ - قَالَتْ - فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَرِيرَةَ فَقَالَ " أَىْ بَرِيرَةُ هَلْ رَأَيْتِ مِنْ شَىْءٍ يَرِيبُكِ مِنْ عَائِشَةَ " . قَالَتْ لَهُ بَرِيرَةُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنْ رَأَيْتُ عَلَيْهَا أَمْرًا قَطُّ أَغْمِصُهُ عَلَيْهَا أَكْثَرَ مِنْ أَنَّهَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ تَنَامُ عَنْ عَجِينِ أَهْلِهَا فَتَأْتِي الدَّاجِنُ فَتَأْكُلُهُ - قَالَتْ - فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى الْمِنْبَرِ فَاسْتَعْذَرَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَىٍّ ابْنِ سَلُولَ - قَالَتْ - فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ " يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ رَجُلٍ قَدْ بَلَغَ أَذَاهُ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلاَّ خَيْرًا وَلَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلاً مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلاَّ خَيْرًا وَمَا كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِي إِلاَّ مَعِي " . فَقَامَ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ الأَنْصَارِيُّ فَقَالَ أَنَا أَعْذِرُكَ مِنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَ مِنَ الأَوْسِ ضَرَبْنَا عُنُقَهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا الْخَزْرَجِ أَمَرْتَنَا فَفَعَلْنَا أَمْرَكَ - قَالَتْ - فَقَامَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ وَهُوَ سَيِّدُ الْخَزْرَجِ وَكَانَ رَجُلاً صَالِحًا وَلَكِنِ اجْتَهَلَتْهُ الْحَمِيَّةُ فَقَالَ لِسَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ كَذَبْتَ لَعَمْرُ اللَّهِ لاَ تَقْتُلُهُ وَلاَ تَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ . فَقَامَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ وَهُوَ ابْنُ عَمِّ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فَقَالَ لِسَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ كَذَبْتَ لَعَمْرُ اللَّهِ لَنَقْتُلَنَّهُ فَإِنَّكَ مُنَافِقٌ تُجَادِلُ عَنِ الْمُنَافِقِينَ فَثَارَ الْحَيَّانِ الأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ حَتَّى هَمُّوا أَنْ يَقْتَتِلُوا وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَائِمٌ عَلَى الْمِنْبَرِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُخَفِّضُهُمْ حَتَّى سَكَتُوا وَسَكَتَ - قَالَتْ - وَبَكَيْتُ يَوْمِي ذَلِكَ لاَ يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ وَلاَ أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ ثُمَّ بَكَيْتُ لَيْلَتِي الْمُقْبِلَةَ لاَ يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ وَلاَ أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ وَأَبَوَاىَ يَظُنَّانِ أَنَّ الْبُكَاءَ فَالِقٌ كَبِدِي فَبَيْنَمَا هُمَا جَالِسَانِ عِنْدِي وَأَنَا أَبْكِي اسْتَأْذَنَتْ عَلَىَّ امْرَأَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَأَذِنْتُ لَهَا فَجَلَسَتْ تَبْكِي - قَالَتْ - فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَسَ - قَالَتْ - وَلَمْ يَجْلِسْ عِنْدِي مُنْذُ قِيلَ لِي مَا قِيلَ وَقَدْ لَبِثَ شَهْرًا لاَ يُوحَى إِلَيْهِ فِي شَأْنِي بِشَىْءٍ - قَالَتْ - فَتَشَهَّدَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ جَلَسَ ثُمَّ قَالَ " أَمَّا بَعْدُ يَا عَائِشَةُ فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبٍ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ " . قَالَتْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَقَالَتَهُ قَلَصَ دَمْعِي حَتَّى مَا أُحِسُّ مِنْهُ قَطْرَةً فَقُلْتُ لأَبِي أَجِبْ عَنِّي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِيمَا قَالَ . فَقَالَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ لأُمِيِّ أَجِيبِي عَنِّي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ وَأَنَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ لاَ أَقْرَأُ كَثِيرًا مِنَ الْقُرْآنِ إِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَرَفْتُ أَنَّكُمْ قَدْ سَمِعْتُمْ بِهَذَا حَتَّى اسْتَقَرَّ فِي نُفُوسِكُمْ وَصَدَّقْتُمْ بِهِ فَإِنْ قُلْتُ لَكُمْ إِنِّي بَرِيئَةٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ لاَ تُصَدِّقُونِي بِذَلِكَ وَلَئِنِ اعْتَرَفْتُ لَكُمْ بِأَمْرٍ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ لَتُصَدِّقُونَنِي وَإِنِّي وَاللَّهِ مَا أَجِدُ لِي وَلَكُمْ مَثَلاً إِلاَّ كَمَا قَالَ أَبُو يُوسُفَ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ . قَالَتْ ثُمَّ تَحَوَّلْتُ فَاضْطَجَعْتُ عَلَى فِرَاشِي - قَالَتْ - وَأَنَا وَاللَّهِ حِينَئِذٍ أَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ مُبَرِّئِي بِبَرَاءَتِي وَلَكِنْ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ أَظُنُّ أَنْ يُنْزَلَ فِي شَأْنِي وَحْىٌ يُتْلَى وَلَشَأْنِي كَانَ أَحْقَرَ فِي نَفْسِي مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيَّ بِأَمْرٍ يُتْلَى وَلَكِنِّي كُنْتُ أَرْجُو أَنْ يَرَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي النَّوْمِ رُؤْيَا يُبَرِّئُنِي اللَّهُ بِهَا قَالَتْ فَوَاللَّهِ مَا رَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَجْلِسَهُ وَلاَ خَرَجَ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ أَحَدٌ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخَذَهُ مَا كَانَ يَأْخُذُهُ مِنَ الْبُرَحَاءِ عِنْدَ الْوَحْىِ حَتَّى إِنَّهُ لَيَتَحَدَّرُ مِنْهُ مِثْلُ الْجُمَانِ مِنَ الْعَرَقِ فِي الْيَوْمِ الشَّاتِ مِنْ ثِقَلِ الْقَوْلِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْهِ - قَالَتْ - فَلَمَّا سُرِّيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَضْحَكُ فَكَانَ أَوَّلَ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا أَنْ قَالَ " أَبْشِرِي يَا عَائِشَةُ أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ بَرَّأَكِ " . فَقَالَتْ لِي أُمِّي قُومِي إِلَيْهِ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لاَ أَقُومُ إِلَيْهِ وَلاَ أَحْمَدُ إِلاَّ اللَّهَ هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ بَرَاءَتِي - قَالَتْ - فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ} عَشْرَ آيَاتٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَؤُلاَءِ الآيَاتِ بَرَاءَتِي - قَالَتْ - فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ لِقَرَابَتِهِ مِنْهُ وَفَقْرِهِ وَاللَّهِ لاَ أُنْفِقُ عَلَيْهِ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِي قَالَ لِعَائِشَةَ . فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى} إِلَى قَوْلِهِ { أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ} قَالَ حِبَّانُ بْنُ مُوسَى قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ هَذِهِ أَرْجَى آيَةٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ . فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَاللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي . فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ وَقَالَ لاَ أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا . قَالَتْ عَائِشَةُ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَأَلَ زَيْنَبَ بِنْتَ جَحْشٍ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَمْرِي " مَا عَلِمْتِ أَوْ مَا رَأَيْتِ " . فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحْمِي سَمْعِي وَبَصَرِي وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِلاَّ خَيْرًا . قَالَتْ عَائِشَةُ وَهِيَ الَّتِي كَانَتْ تُسَامِينِي مِنْ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَعَصَمَهَا اللَّهُ بِالْوَرَعِ وَطَفِقَتْ أُخْتُهَا حَمْنَةُ بِنْتُ جَحْشٍ تُحَارِبُ لَهَا فَهَلَكَتْ فِيمَنْ هَلَكَ . قَالَ الزُّهْرِيُّ فَهَذَا مَا انْتَهَى إِلَيْنَا مِنْ أَمْرِ هَؤُلاَءِ الرَّهْطِ . وَقَالَ فِي حَدِيثِ يُونُسَ احْتَمَلَتْهُ الْحَمِيَّةُ .
Sa'id bin Musayyib, 'Urwa bin Zubair, 'Alqama bin Waqqas dan 'Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utba bin Mas'ud—mereka semua meriwayatkan kisah tentang tuduhan palsu terhadap 'Aisyah, istri Rasulullah ﷺ. Dan mereka (para pencela) mengatakan apa yang harus mereka katakan, tetapi Allah membebaskannya dari tuduhan ini dan mereka semua meriwayatkan sebagian dari hadits tersebut dan sebagian dari mereka yang memiliki daya ingat lebih baik meriwayatkan lebih banyak dan dengan daya ingat yang lebih baik, dan saya mencoba mengingat hadits ini (mendengarkan) dari setiap orang yang mereka laporkan kepada saya dan sebagian dari mereka membenarkan yang lain. (Ringkasan inti dari tuduhan palsu itu adalah ini): 'Aisyah berkata: Setiap kali Rasulullah ﷺ hendak melakukan perjalanan, beliau mengundi di antara istri-istrinya dan beliau membawa serta salah satu dari mereka yang dipilih dalam undian tersebut. Suatu ketika, saat hendak berangkat berperang, beliau mengundi di antara kami dan hasilnya menguntungkan saya, sehingga saya berangkat bersama Rasulullah ﷺ. Ini berkaitan dengan masa ketika wahyu tentang perintah berjilbab diturunkan. Saya digendong di atas tandu dan diturunkan di tempat kami harus tinggal. Singkatnya, ketika kami berangkat kembali dari ekspedisi dan kafilah kami berada di dekat Madinah, Rasulullah ﷺ memerintahkan pada suatu malam untuk maju. Saya pun bangun ketika perintah untuk maju diberikan dan bergerak hingga keluar dari perkemahan tentara. Setelah buang air, saya kembali ke tempat saya. Saya meraba dada saya dan mendapati kalung saya yang terbuat dari batu zafar telah putus. Saya menelusuri kembali langkah saya dan mencoba mencari kalung saya, dan hal ini membuat saya tertahan di sana. Kelompok orang yang memasang pelana untuk saya dan menempatkan tandu yang membawa saya di atas unta terus berjalan. Mereka mengira saya ada di dalamnya. Para wanita pada masa itu bertubuh ringan dan tidak banyak mengenakan pakaian karena mereka makan sedikit; jadi mereka tidak merasakan berat haudaj saya ketika mereka meletakkannya di atas unta karena saya masih gadis muda saat itu. Jadi mereka mengusir unta dan Eet keluar dan saya menemukan kalung saya setelah pasukan berbaris. Saya kembali ke tempat saya dan tidak ada yang memanggil dan tidak ada yang menjawab (panggilan). Saya menunggu di tempat saya dengan anggapan bahwa ketika orang-orang menemukan saya, mereka akan kembali. Jadi saya terus duduk di tempat saya. Saya diliputi rasa kantuk dan tertidur. Safwan b. Mu'attal Sulami Dhakwini, yang tertinggal di belakang pasukan karena beristirahat, datang ke tempat saya berjalan di akhir malam dan dia melihat tubuh seseorang yang sedang tidur. Dia datang kepada saya dan mengenali saya karena dia pernah melihat saya sebelum diwajibkan untuk menjaga purda. Aku terbuai oleh suaranya saat ia melafalkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un [Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali] dan aku menutupi kepalaku dengan jilbabku. Demi Allah, ia tidak berbicara sepatah kata pun kepadaku dan aku tidak mendengar sepatah kata pun darinya kecuali Inna lillahi. Ia menyuruh untanya berlutut dan aku menaiki unta itu sementara ia menekan kaki depan unta dan ia terus berjalan sambil menyandarkan unta pada tali hidungnya tempat aku menungganginya sampai kami sampai di tempat perkemahan tentara yang sedang beristirahat karena panas yang ekstrem. Celakalah bagi mereka yang meragukan aku dan yang paling terkenal di antara mereka adalah Abdullah bin Ubayy, si munafik besar. Kami sampai di Madinah dan aku jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang telah membahas pernyataan-pernyataan orang-orang yang telah menyebarkan fitnah terhadapku. Aku sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang hal itu. Namun, hal ini menimbulkan keraguan dalam pikiran saya, bahwa saya tidak melihat Rasulullah ﷺ memperlakukan saya dengan kebaikan seperti yang beliau lakukan ketika saya sakit sebelumnya. Nabi ﷺ biasa datang dan menyapa saya dengan Assalamualaikum dan hanya menanyakan kabar saya. Hal ini menimbulkan keraguan dalam pikiran saya, tetapi saya tidak menyadari kejahatan yang akan terjadi. Saya menangis di luar meskipun kesehatan saya memburuk dan Umm Mistah ikut bersama saya dan dia berkata bahwa putri Abu Rahm bin Muttalib bin 'Abd Manaf dan ibunya adalah putri Sakhr bin 'Amir, saudara perempuan ibu Abu Bakar Sidiq dan putranya adalah Mistah bin Uthatha bin 'Abbad bin Muttalib. Saya dan putri Abu Rahm berjalan menuju rumah saya. Sesuatu mengenai penutup kepala Umm Mistah dan dia berkata: Celakalah Mistah. Dan saya berkata: Celakalah apa yang kau katakan. Apakah kau mengutuk orang-orang yang telah ikut serta dalam Perang Badar? Dia berkata: Wahai perempuan yang tidak bersalah, tidakkah kau mendengar apa yang dia katakan? Aku berkata: Apa yang dia katakan? Dia menyampaikan kepadaku pernyataan orang-orang yang telah membuat tuduhan palsu terhadapku. Maka penyakitku semakin parah. Aku pergi ke rumahku dan Rasulullah ﷺ datang kepadaku dan beliau memberi salam kepadaku lalu berkata: Bagaimana keadaan perempuan itu? Aku berkata: Apakah engkau mengizinkanku pergi ke rumah orang tuaku? Dia (lanjut) berkata: Pada saat itu aku telah memutuskan untuk memastikan kabar ini dari mereka. Rasulullah ﷺ mengizinkanku. Maka aku datang ke rumah orang tuaku dan berkata kepada ibuku: Ibu, tahukah engkau apa yang dibicarakan orang-orang? Dia berkata: Anakku, jangan khawatir. Demi Allah, jika ada perempuan cantik yang dicintai suaminya dan suaminya mempunyai istri-istri lain, mereka akan membicarakan banyak hal tentangnya. Aku berkata: Maha Suci Allah, apa yang dibicarakan orang-orang? Aku menangis sepanjang malam hingga pagi hari dan aku tidak bisa tidur sedikit pun, bahkan aku menangis di pagi hari. Karena wahyu (tentang masalah ini) tertunda, maka Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abu Talib dan Usama bin Zaid untuk meminta nasihat mereka tentang perpisahannya dengan istrinya. Usama bin Zaid menceritakan kepada Rasulullah ﷺ tentang kesucian istri-istrinya dan apa yang dia ketahui tentang cintanya kepada mereka. Dia berkata: Wahai Rasulullah, mereka adalah istri-istrimu dan kami tidak mengetahui hal lain tentang mereka selain kebaikan. Adapun Ali bin Abu Talib, dia berkata: Allah tidak membebani engkau dengan beban yang tidak perlu (tentang istri-istrimu). Ada banyak wanita selain dia dan jika engkau bertanya kepada pelayan wanita itu (Barira), dia akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Maka Rasulullah ﷺ memanggil Barira dan berkata: Barira, apakah kamu melihat sesuatu pada Aisyah yang dapat menimbulkan keraguan tentangnya? Barira berkata: Demi Dia yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak melihat sesuatu pun yang patut dicela darinya, kecuali bahwa dia masih gadis muda dan dia tertidur saat menguleni tepung dan domba memakan itu. Kemudian Rasulullah ﷺ naik ke mimbar dan memohon pembelaan terhadap Abdullah bin Ubayy bin Salul, dan beliau melanjutkan: Siapa yang akan membebaskanku dari tuduhan orang yang telah menyusahkan (aku) terkait keluargaku? Demi Allah, aku tidak menemukan apa pun pada istriku selain kebaikan dan orang yang disebut-sebut orang-orang dalam hal ini, menurut pengetahuanku, adalah orang yang sangat saleh, dan dia tidak pernah masuk ke rumahku kecuali bersamaku. Sa'd bin Mu'adh berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, aku membela kehormatanmu darinya. Jika dia berasal dari suku Aus, kami akan memenggal lehernya dan jika dia berasal dari suku saudara kami Khazraj dan engkau memerintahkan kami, kami akan mematuhi perintahmu. Kemudian Sa'd bin Ubayy bin Salul berdiri. Dia adalah kepala suku Khazraj. Dia pada umumnya adalah orang yang saleh, tetapi dia memiliki sedikit keberpihakan kesukuan dan dia berkata kepada Sa'd bin Mu'adh: Demi kekekalan Allah, kamu tidak mengatakan fakta, kamu tidak akan mampu membunuhnya dan kamu tidak akan memiliki kekuatan untuk melakukannya. Kemudian, Usaid bin Hudair berdiri, dan dia adalah sepupu pertama Sa'd bin Mu'adh dan berkata kepada Sa'd bin 'Ubada: Demi kekekalan Allah, kamu tidak mengatakan fakta. Kami akan membunuhnya. Kamu adalah orang munafik dan karena itu kamu membela orang-orang munafik, dan dengan demikian kedua suku Aus dan Khazraj menjadi marah, sampai mereka hampir saling menyerang dan Rasulullah ﷺ tetap berdiri di atas mimbar dan Rasulullah ﷺ berusaha meredakan kemarahan mereka sampai mereka menjadi tenang dan terjadilah keheningan. Aisyah kemudian meriwayatkan: Aku menghabiskan sepanjang hari menangis dan bahkan sepanjang malam dan tidak bisa tidur sedikit pun hingga malam berikutnya. Orang tuaku mengira bahwa tangisanku yang terus-menerus ini akan menghancurkan hatiku. Aku menangis dan mereka duduk di sampingku. Sementara itu, seorang wanita dari kaum Ansar datang menemuiku. Aku mengizinkannya menemuiku dan dia pun mulai menangis. Dan kami berada dalam keadaan seperti itu ketika Rasulullah ﷺ datang dan memberi salam kepadaku lalu duduk. Beliau belum pernah duduk bersamaku sejak sebulan ketika desas-desus ini beredar, dan belum ada wahyu (untuk memperjelas) kasusku. Rasulullah ﷺ membaca Tasyahhud (tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya) lalu berkata: Langsung saja, Aisyah, inilah yang telah sampai kepadaku tentangmu dan jika engkau tidak bersalah, Allah sendiri akan membela kehormatanmu, dan jika secara tidak sengaja terjadi kesalahan di pihakmu, mohon ampunan kepada Allah; Dia akan mengampunimu karena ketika seorang hamba mengakui kesalahannya dan bertaubat (kepada-Nya), Allah pun berpaling kepadanya (dengan penuh rahmat) dan menerima taubatnya. Ketika Rasulullah ﷺ berbicara, air mataku mengering dan bahkan tidak setetes pun air mata yang terlihat (mengalir dari mataku). Aku berkata kepada ayahku: Jawablah Rasulullah ﷺ untukku. Dia berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian aku berkata kepada ibuku: Jawablah Rasulullah ﷺ untukku, tetapi dia berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah ﷺ. Saat itu aku masih gadis kecil dan belum banyak membaca Al-Qur'an (tetapi aku berkata): Demi Allah, aku menyadari bahwa kalian telah mendengar tentang ini dan hal itu telah tertanam dalam pikiran kalian dan kalian telah menganggapnya benar, jadi jika aku mengatakan kepada kalian bahwa aku benar-benar tidak bersalah, dan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah, kalian tidak akan pernah mempercayaiku, dan jika aku mengakui (kesalahan yang dituduhkan) di hadapan kalian, padahal Allah mengetahui bahwa aku benar-benar tidak bersalah (dan aku sama sekali tidak melakukan dosa ini), maka kalian akan menganggapku benar dan, demi Allah, oleh karena itu, aku tidak menemukan alternatif lain bagiku dan bagi kalian kecuali apa yang dikatakan ayah Yusuf: (Jalan hidupku adalah) kesabaran yang pantas. “Dan Allah-lah yang seharusnya kita mintai pertolongan dalam (kesulitan) yang kamu gambarkan itu” (12:18). Setelah itu aku memalingkan wajahku ke sisi lain dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, aku sepenuhnya menyadari fakta bahwa aku tidak bersalah, tetapi aku tidak menyangka bahwa Allah akan menurunkan Wahy Matlu (wahyu Al-Qur'an) dalam kasusku karena aku tidak menganggap diriku begitu penting sehingga Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia akan berbicara dalam hal ini dengan kata-kata yang harus dibaca. Aku hanya berharap bahwa Allah akan memberikan petunjuk tentang ketidakbersalahanku kepada Rasulullah ﷺ dalam tidurnya. Dan, demi Allah, Rasulullah ﷺ tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya dan tidak seorang pun dari anggota keluargaku yang pergi ketika Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia menurunkan wahyu kepada Rasulullah ﷺ saat itu juga dan beliau merasakan beban yang biasa beliau rasakan pada saat menerima wahyu. Beliau mulai berkeringat karena beban firman Allah saat turun. Bahkan di musim dingin pun, keringatnya menetes seperti butiran perak. Setelah menerima wahyu itu, Rasulullah ﷺ tersenyum dan kata-kata pertama yang beliau ucapkan kepadaku adalah: 'Aisyah, ada kabar gembira untukmu. Sesungguhnya Allah telah membela kehormatanmu,' dan ibuku yang berdiri di sampingku berkata: 'Bangunlah (dan ucapkan terima kasih kepadanya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ).' Aku berkata: 'Demi Allah, aku tidak akan berterima kasih dan memujinya kecuali Allah yang telah menurunkan wahyu untuk membela kehormatanku.' Aisyah berkata: 'Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia telah menurunkan: 'Sesungguhnya orang-orang yang menyebarkan fitnah adalah sekelompok orang di antara kalian' dan sepuluh ayat (selanjutnya) mengenai ketidakbersalahanku.' Ia melanjutkan: 'Abu Bakar biasa memberi kepada Mistah (uang saku) sebagai tanda kekerabatan dengannya dan untuk kemiskinannya dan dia (Abu Bakar) berkata: 'Demi Allah, sekarang aku tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk Aisyah berkata: Atas dasar inilah Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia menurunkan ayat ini: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai martabat dan kemudahan di antara kamu bersumpah untuk memberi kepada kerabat dekat" sampai "Tidakkah kamu mendambakan agar Allah mengampuni kamu?" Hibban bin Musa berkata bahwa Abdullah bin Mubarak biasa berkata: Ini adalah ayat yang terdapat dalam Kitab yang paling (sangat) mencerahkan harapan. Abu Bakar berkata: Demi Allah, aku berharap Allah mengampuni aku. Aku tidak akan pernah menghentikan pemberian ini. Maka ia terus memberikan kepadanya pemberian yang telah ditariknya. Aisyah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bertanya kepada Zainab, putri Jahsh, istri Rasulullah ﷺ, tentang diriku apa yang ia ketahui atau apa yang telah ia lihat pada diriku, dan ia berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak akan mengatakan apa pun tanpa mendengar (dengan telingaku) dan melihat dengan mataku. Demi Allah, aku tidak menemukan apa pun padanya selain kebaikan. (Dan ia menyatakan ini) (Meskipun kenyataannya) bahwa dia adalah satu-satunya wanita di antara istri-istri Rasulullah ﷺ yang pernah bersaing denganku, tetapi Allah menyelamatkannya dari tuduhan palsu terhadapku karena ketakwaannya kepada Allah. Namun, saudara perempuannya, Hamna binti Jahsh, menentangnya dan dia binasa bersama dengan yang lain.
Shahih Muslim : 92
Sahih
حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ اللَّيْثِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، - يَعْنِي شَيْبَانَ - عَنْ مَنْصُورِ بْنِ الْمُعْتَمِرِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ،قَالَ نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ بِمَكَّةَ { وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ} إِلَى قَوْلِهِ { مُهَانًا} فَقَالَ الْمُشْرِكُونَ وَمَا يُغْنِي عَنَّا الإِسْلاَمُ وَقَدْ عَدَلْنَا بِاللَّهِ وَقَدْ قَتَلْنَا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ وَأَتَيْنَا الْفَوَاحِشَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِلاَّ مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا} إِلَى آخِرِ الآيَةِ . قَالَ فَأَمَّا مَنْ دَخَلَ فِي الإِسْلاَمِ وَعَقَلَهُ ثُمَّ قَتَلَ فَلاَ تَوْبَةَ لَهُ .
Ibnu Abbas berkata: Ayat ini diturunkan di Mekah: "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali untuk membela kebenaran" sampai kata Muhdana (terhina). Kemudian kaum musyrik berkata: Islam tidak bermanfaat bagi kami karena kami telah menyekutukan Allah dan kami membunuh jiwa yang diharamkan Allah dan kami melakukan perbuatan cabul, dan (pada kesempatan inilah) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia menurunkan ayat ini: "Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta melakukan amal saleh" sampai akhir. Ibnu Abbas berkata: Barangsiapa yang masuk Islam dan memahami perintahnya lalu membunuh jiwa, maka tidak ada taubat baginya.
Shahih Muslim : 93
Sahih
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَاشِمٍ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرٍ الْعَبْدِيُّ، قَالاَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، - وَهُوَ ابْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ - عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ أَبِي بَزَّةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ قُلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ أَلِمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا مِنْ تَوْبَةٍ قَالَ لاَ . قَالَ فَتَلَوْتُ عَلَيْهِ هَذِهِ الآيَةَ الَّتِي فِي الْفُرْقَانِ { وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ} إِلَى آخِرِ الآيَةِ . قَالَ هَذِهِ آيَةٌ مَكِّيَّةٌ نَسَخَتْهَا آيَةٌ مَدَنِيَّةٌ { وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا} . وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ هَاشِمٍ فَتَلَوْتُ هَذِهِ الآيَةَ الَّتِي فِي الْفُرْقَانِ{ إِلاَّ مَنْ تَابَ}
Sa'id bin Jubair meriwayatkan: Aku berkata kepada Ibnu Abbas: Apakah taubat orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja akan diterima? Beliau menjawab: Tidak. Aku membacakan kepadanya ayat Surah Al-Furqan (19): "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali untuk menegakkan keadilan" sampai akhir ayat. Beliau berkata: Ini adalah ayat Mekah yang telah dibatalkan oleh ayat yang diturunkan di Madinah: "Barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka baginya balasannya adalah api neraka di mana ia akan tinggal selama-lamanya," dan dalam riwayat Ibnu Hisham (kata-katanya adalah): Aku membacakan kepadanya ayat Surah Al-Furqan: "Kecuali orang yang bertaubat
Sunan Abu Dawud : 94
Abu Hurairah (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ بِأَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ وَلاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلاَةٍ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ أَوْ يُحْدِثْ فِيهِ " .
Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari [Al-A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pahala shalat seseorang dengan berjamaah melebihi pahala shalatnya di rumah dan di pasar sebanyak dua puluh lima derajat. Hal tersebut, karena apabila seseorang di antara kalian berwudlu, lalu memperbagus wudlunya, kemudian pergi ke masjid semata mata karena untuk mengerjakan shalat, dan kesempatan itu hanya dipergunakan untuk shalat, maka orang tersebut tidak melangkahkan satu langkah, kecuali setiap langkahnya itu diangkat baginya satu derajat, dan dihapus darinya satu dosa, sampai dia masuk ke dalam masjid. Apabila dia telah masuk masjid, maka dia dihitung dalam keadaan shalat selama tertahan karena shalat (tidak keluar dari masjid karena menunggu shalat), dan para malaikat akan bershalawat (memohonkan rahmat dan ampunan) kepada seseorang di antara kalian, selama dia tetap berada di tempat dia mengerjakan shalatnya, mereka (para malaikat) berdoa; Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia dan terimalah taubatnya. Para malaikat itu berdoa demikian selama orang itu tidak mengganggu orang lain di tempat itu atau berhadats
Sunan Abu Dawud : 95
Ali bin Ali Talib (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَمِّهِ الْمَاجِشُونِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، - رضى الله عنه - قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ " وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ لِي إِلاَّ أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِي لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ " . وَإِذَا رَكَعَ قَالَ " اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعِظَامِي وَعَصَبِي " . وَإِذَا رَفَعَ قَالَ " سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ " . وَإِذَا سَجَدَ قَالَ " اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ فَأَحْسَنَ صُورَتَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ " . وَإِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلاَةِ قَالَ " اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ " .
Telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin Mu'adz] telah menceritakan kepada kami [ayahku] telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz bin Abu Salamah] dari [pamannya yaitu Al Majisun bin Abu Salamah] dari [Abdurrahman Al A'raj] dari ['Ubaidullah bin Abu Rafi'] dari [Ali bin Abu Thalib radliallahu 'anhu] dia berkata; "Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hendak mengerjakan shalat, beliau bertakbir kemudian membaca; "WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDLI HANIIFAM MUSLIMA WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIN, INNA SHALAATI WA NUSUKII WA MAHYAAYA WA MAMAATI LILLAHI RABBIL 'AALAMIN, LAA SYARIIKALAHU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANAA AWWALUL MUSLIMIN. ALLAHUMMA ANTAL MALIK LAAILAAHA ILLA ANTA, ANTA RABBI WA ANAA 'ABDUKA DLALAMTU NAFSII WA'TARAFTU BIDZANBII FAGHFIRLII DZUNUUBI JAMII'A INNAHU LAA YAGHFIRUD DZUNUUBA ILLA ANTA WAHDINII LIAHSANIL AHLAAQI LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA WASHRIF 'ANNI SAYYI`AHAA LAA YASHRIF SAYYI`AHAA ILLA ANTA. LABBAIKA WA SA'DAIKA WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIKA WASS SYARRU LAISA ILAIKA ANA BIKA WA ILAIKA TABAARAKTA WA TA'AALAITA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA. (Aku hadapkan muka-Ku ke hadirat Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan tunduk dan menyerahkan diri, dan tidaklah aku termasuk golongan orang-orang Musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah Penguasa seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan demikian aku di perintah, dan aku adalah dari golongan orang-orang Islam (yang menyerah diri). Ya Allah, Enkau adalah Rabbku dan aku dalah hamba-Mu, aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri dan mengakui kesalahanku, maka amnpunilah dosaku semuanya, dan tiadalah yang dapat mengampuni dosaku itu melainkan Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang baik, dan tak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang terbaik melainkan Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang tercela, karena tidak ada yang dapat menjauhkanku dari akhlak yang tercela melainkan Engkau, Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku patuhi perintah-Mu, kebaikan seluruhnya berada dalam kekuasaan-Mu, sedangkan kejahatan tidak dapat di pakai untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Aku ini hanya dapat hidup dengan-Mu dan akan kembali kepada-Mu, Maha Berkah Engakau dan Maha Tinggi, aku meohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu)." Apabila ruku', beliau membaca; "ALLAHUMMA LAKA RAKA'TU WABIKA AAMANTU WALAKA ASLAMTU KHASYA'A LAKA SAM'II WA BASHARII WA MUKHHII WA 'IDZAAMII WA 'ASHABII (Ya Allah, kepada-Mu lah aku ruku', kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku tunduk, dan kepada-Mu lah pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulang belulangku dan urat sarafku tunduk)." Apabila i'tidal beliau mengucapkan; "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANAA WALAKAL HAMDU MIL`US SAMAAWAATI WAL ARDLI WA MIL`U MAA BAINAHUMAA WAMIL`U MAA SYI`TA MIN SYAI`IN BA'DU (Maha Mendengar Allah terhadap siapa saja yang memuji-Nya, Wahai Rabb kami, hanya bagi Engkau jua segala pujian, sepenuh langit, bumi, dan sepenuh isi langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu)." Apabila sujud, beliau mengucapkan; "ALLAHUMMA LAKA SAJADTU WA BIKA AAMANTU WALAKA ASLAMTU, SAJADA WAJHIYA LILLADZII KHALAQAHU WA SHAWWARAHU FA AHSANA SHUURATAHU WA SYAQQA SAM'AHU WA BASHARAHU WA TABAARAKALLAHU AHSANUL KHAALIQIN (Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku tunduk, wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya dan membentuknya dengan sebaik-baik bentuk, membuat pendengaran dan penglihatannya, dan Maha Barakah Allah, sebaik-baik pencipta)." Apabila selesai salam, beliau mengucapkan; "ALLAHUMMAGHFIRLII MAA QADDAMTU WA MAA AKHHARTU WAMAA ASRARTU WAMAA A'LANTU WAMAA ASRAFTU WAMAA ANTA A'LAMU BIHI MINNI ANTAL MUQADDIM WAL MU`AKHHIR LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah, ampunilah daku, dan dosa-dosa yang telah lalu, dosa yang akan datang, dosa yang samar dan dosa yang jelas, serta dosa yang hanya Engkau saja yang mengetahuinya, Engkau lah yang mendahulukan dan mengundurkan, tiada ilah selain Engkau)." Telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin Ali] telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Daud Al Hasyimi] telah mengabarkan kepada kami [Abdurrahman bin Abu Az Zinnad] dari [Musa bin 'Uqbah] dari [Abdullah bin Al Fadl bin Rabi'ah bin Al Harits bin Abdul Mutthalib] dari [Abdurrahman Al A'raj] dari ['Ubaidullah bin Abu Rafi'] dari [Ali bin Abu Thalib] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa; "Apabila beliau hendak mengerjakan shalat wajib, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya, beliau melakukan semacam itu ketika telah usai dari membaca (surat Al Qur'an) yaitu ketika hendak ruku', beliau mengerjakan seperti itu pula ketika bangun dari ruku' (i'tidal), dan beliau tidak pernah mengangkat kedua tangannya waktu duduk dalam shalat, ketika beliau hendak bangkit dari sujud kedua, beliau juga mengangkat kedua tangannya dan bertakbir lalu berdo'a …" sebagaimana hadits (riwayat) Abdul Aziz. Dalam do'anya terdapat penambahan dan pengurangan, namun tidak menyebutkan; "WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIKA WAS SYARRU LAISA ILAIKA" pada lafadznya ada tambahan; "Ketika telah selesai, beliau mengucapkan: "ALLAHUMMAGHFIRLII MAA QADDAMTU WA MAA AKHHARTU WAMAA ASRARTU WAMAA A'LANTU ANTA ILAAHI LAAILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah, ampunilah daku, dan dosa-dosa yang telah lalu, dosa yang akan datang, dosa yang samar dan dosa yang jelas, serta dosa yang hanya Engkau saja yang mengetahuinya, Engkau lah yang mendahulukan dan mengundurkan, tiada ilah selain Engkau)." Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Utsman telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Yazid telah menceritakan kepadaku Syu'aib bin Abu Hamzah dia berkata; Muhammad bin Al Munkadir, Ibnu Abu Farwah dan yang lain dari fuqaha' Madinah telah berkata kepadaku; "Jika kamu mengucapkan (do'a iftitah) tersebut, maka ucapkanlah "WA ANA MINAL MUSLIMIN yaitu (sebagai pengganti) pada lafadz "WA ANA AWWALUL MUSLIMIN
Sunan Abu Dawud : 96
Sa'id al-Khudri (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، - يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ - عَنِ ابْنِ أَبِي هِلاَلٍ، عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّهُ قَالَ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ { ص } فَلَمَّا بَلَغَ السَّجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ مَعَهُ فَلَمَّا كَانَ يَوْمٌ آخَرُ قَرَأَهَا فَلَمَّا بَلَغَ السَّجْدَةَ تَشَزَّنَ النَّاسُ لِلسُّجُودِ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم
" إِنَّمَا هِيَ تَوْبَةُ نَبِيٍّ وَلَكِنِّي رَأَيْتُكُمْ تَشَزَّنْتُمْ لِلسُّجُودِ " . فَنَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدُوا .
Telah menceritakan kepada Kami [Ahmad bin Shalih] telah menceritakan kepada Kami [Ibnu Wahb], telah mengkhabarkan kepadaku ['Amr yaitu Ibnu Al Harits] dari [Ibnu Abu Hilal] dari ['Iyadh bin Abdullah bin Sa'd bin Abu Sarh] dari [Abu Sa'id Al Khudri] bahwa ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di atas mimbar membaca Surat Shaad. Kemudian tatkala beliau telah sampai pada ayat as sajdah beliau turun kemudian sujud, dan orang-orang pun bersujud bersamanya. Kemudian tatkala pada hari yang lainnya beliau membacanya, lalu tatkala telah sampai pada ayat as sajdah orang-orang bersiap-siap untuk bersujud. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya ayat tersebut adalah taubat seorang nabi, akan tetapiaku melihat kalian telah bersiap-siap untuk bersujud, lalu beliau bersujud dan mereka pun bersujud
Sunan Abu Dawud : 97
Ibnu Abbas (RA)
Sahih
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ طُلَيْقِ بْنِ قَيْسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَدْعُو
" رَبِّ أَعِنِّي وَلاَ تُعِنْ عَلَىَّ وَانْصُرْنِي وَلاَ تَنْصُرْ عَلَىَّ وَامْكُرْ لِي وَلاَ تَمْكُرْ عَلَىَّ وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ هُدَاىَ إِلَىَّ وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَىَّ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا لَكَ ذَاكِرًا لَكَ رَاهِبًا لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوْ مُنِيبًا رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي وَاغْسِلْ حَوْبَتِي وَأَجِبْ دَعْوَتِي وَثَبِّتْ حُجَّتِي وَاهْدِ قَلْبِي وَسَدِّدْ لِسَانِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي " .
Telah menceritakan kepada Kami [Muhammad bin Katsir], telah mengabarkan kepada Kami [Sufyan] dari ['Amr bin Murrah] dari [Abdullah bin Al Harits] dari [Thalq bin Qais] dari [Ibnu Abbas], ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdoa dengan mengucapkan: "RABBI A'INNII WA LAA TU'IN 'ALAYYA, WAN SHURNII WA LAA TANSHUR 'ALAYYA WAMKUR LII WA LAA TAMKUR 'ALAYYA, WAHDINII WA YASSIR HUDAYA ILAYYA WAN SHURNII 'ALAA MAN BAGHAA 'ALAYYA. ALLAAHUMMAJ'ALNII LAKA SYAAKIRAN, DZAAKIRAN LAKA, RAAHIBAN, LAKA MITHWAA'AN ILAIKA, MUKHBITAN AU MUNIIBAN. RABBI TAQABBAL TAUBATII WAGHSIL HAUBATII WA AJIB DA'WATII WA TSABBIT HUJJATII, WAHDI QALBII, WA SADDID LISAANII, WASLUL SAKHIIMATA QALBII" (Ya Allah, bantulah aku dan jangan Engkau bantu untuk memusuhiku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong untuk memusuhiku, lakukan tipu daya untukku dan jangan Engkau melakukan tipu daya terhadap diriku, berilah kau petunjuk dan permudahlah petunjuk kepadaku, tolonglah aku menghadapi orang yang berbuat lalim terhadap diriku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang bersyukur kepadaMu, ingat kepadaMu, takut kepadaMu, taat kepadaMu, tunduk kepadaMu, atau kembali kepadaMu. Tuhanku, terimalah taubatku, hilangkan kegelisahanku, dan kabulkan doaku, teguhkan hujjahku, dan berilah petunjuk hatiku, luruskan lisanku, dan cabutlah kedengkian hatiku). Telah menceritakan kepada Kami [Musaddad] telah menceritakan kepada Kami [Yahya] dari [Sufyan], ia berkata; aku mendengar ['Amr bin Murrah] dengan sanad dan maknanya ia berkata; "dan mudahkanlah petunjuk kepadaku" bukan "petunjukku
Sunan Abu Dawud : 98
Zaid, Klien Nabi
Sahih
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الشَّنِّيُّ، حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ مُرَّةَ، قَالَ سَمِعْتُ بِلاَلَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ، مَوْلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُنِيهِ عَنْ جَدِّي أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ
" مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ " .
Nabi Muhammad ﷺ bersabda: "Jika seseorang berkata: 'Aku memohon ampunan kepada Allah, Yang tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Kekal, dan aku bertaubat kepada-Nya,' maka dia akan diampuni, meskipun dia melarikan diri pada saat pertempuran."
Sunan Abu Dawud : 99
Sahih
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيٍّ، - رضى الله عنه - قَالَ مَا كَتَبْنَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلاَّ الْقُرْآنَ وَمَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ . قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" الْمَدِينَةُ حَرَامٌ مَا بَيْنَ عَائِرٍ إِلَى ثَوْرٍ فَمَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ عَدْلٌ وَلاَ صَرْفٌ وَذِمَّةُ الْمُسْلِمِينَ وَاحِدَةٌ يَسْعَى بِهَا أَدْنَاهُمْ فَمَنْ أَخْفَرَ مُسْلِمًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ عَدْلٌ وَلاَ صَرْفٌ وَمَنْ وَالَى قَوْمًا بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ عَدْلٌ وَلاَ صَرْفٌ " .
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir], telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Al A'masy] dari [Ibrahim At Taimi] dari [ayahnya] dari [Ali] radliallahu 'anhu, ia berkata; kami tidak mencatat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kecuali Al Qur'an, dan apa yang ada dalam lembaran ini. Ali berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Madinah adalah haram antara 'Air hingga Tsaur (keduanya adalah nama gunung di Madinah). Barangsiapa yang melakukan perkara dosa atau melindungi orang yang berbuat kejahatan maka baginya laknat Allah, para malaikat serta seluruh manusia, tidak diterima darinya amalan wajib dan yang sunnah. Perlindungan orang muslim adalah satu, orang yang paling rendah dapat memberikannya. Barangsiapa yang membatalkan perjanjian dan keamanan seorang muslim maka baginya laknat Allah, para malaikat serta seluruh manusia, tidak diterima darinya amalan wajib dan yang sunnah. Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Mutsanna], telah menceritakan kepada kami [Abdushshamad], telah menceritakan kepada kami [Hammam], telah menceritakan kepada kami [Qatadah], dari [Abu Hassan] dari [Ali] radliallahu 'anhu dalam kisah ini dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau berkata: "Tidak boleh dipotong tanamannya, tidak boleh di usir hewan buruannya dan tidak boleh diambil barang temuannya, kecuali bagi orang yang mengumumkannya, dan tidak selayaknya bagi seseorang di tempat tersebut membawa senjata untuk berperang dan tidak selayaknya ada sebuah pohon yang ditebang keculai seseorang yang hendak memberi makan untanya
Sunan Abu Dawud : 100
Daif
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ جَاءَ هِلاَلُ بْنُ أُمَيَّةَ وَهُوَ أَحَدُ الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ فَجَاءَ مِنْ أَرْضِهِ عَشِيًّا فَوَجَدَ عِنْدَ أَهْلِهِ رَجُلاً فَرَأَى بِعَيْنَيْهِ وَسَمِعَ بِأُذُنَيْهِ فَلَمْ يَهِجْهُ حَتَّى أَصْبَحَ ثُمَّ غَدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي جِئْتُ أَهْلِي عِشَاءً فَوَجَدْتُ عِنْدَهُمْ رَجُلاً فَرَأَيْتُ بِعَيْنِي وَسَمِعْتُ بِأُذُنِي فَكَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا جَاءَ بِهِ وَاشْتَدَّ عَلَيْهِ فَنَزَلَتْ { وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلاَّ أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ } الآيَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا فَسُرِّيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ " أَبْشِرْ يَا هِلاَلُ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكَ فَرَجًا وَمَخْرَجًا " . قَالَ هِلاَلٌ قَدْ كُنْتُ أَرْجُو ذَلِكَ مِنْ رَبِّي . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " أَرْسِلُوا إِلَيْهَا " . فَجَاءَتْ فَتَلاَ عَلَيْهِمَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَذَكَّرَهُمَا وَأَخْبَرَهُمَا أَنَّ عَذَابَ الآخِرَةِ أَشَدُّ مِنْ عَذَابِ الدُّنْيَا فَقَالَ هِلاَلٌ وَاللَّهِ لَقَدْ صَدَقْتُ عَلَيْهَا فَقَالَتْ قَدْ كَذَبَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " لاَعِنُوا بَيْنَهُمَا " . فَقِيلَ لِهِلاَلٍ اشْهَدْ . فَشَهِدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قِيلَ لَهُ يَا هِلاَلُ اتَّقِ اللَّهَ فَإِنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ الآخِرَةِ وَإِنَّ هَذِهِ الْمُوجِبَةُ الَّتِي تُوجِبُ عَلَيْكَ الْعَذَابَ . فَقَالَ وَاللَّهِ لاَ يُعَذِّبُنِي اللَّهُ عَلَيْهَا كَمَا لَمْ يَجْلِدْنِي عَلَيْهَا . فَشَهِدَ الْخَامِسَةَ أَنَّ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ ثُمَّ قِيلَ لَهَا اشْهَدِي . فَشَهِدَتْ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قِيلَ لَهَا اتَّقِي اللَّهَ فَإِنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ الآخِرَةِ وَإِنَّ هَذِهِ الْمُوجِبَةُ الَّتِي تُوجِبُ عَلَيْكِ الْعَذَابَ . فَتَلَكَّأَتْ سَاعَةً ثُمَّ قَالَتْ وَاللَّهِ لاَ أَفْضَحُ قَوْمِي فَشَهِدَتِ الْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ فَفَرَّقَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَيْنَهُمَا وَقَضَى أَنْ لاَ يُدْعَى وَلَدُهَا لأَبٍ وَلاَ تُرْمَى وَلاَ يُرْمَى وَلَدُهَا وَمَنْ رَمَاهَا أَوْ رَمَى وَلَدَهَا فَعَلَيْهِ الْحَدُّ وَقَضَى أَنْ لاَ بَيْتَ لَهَا عَلَيْهِ وَلاَ قُوتَ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُمَا يَتَفَرَّقَانِ مِنْ غَيْرِ طَلاَقٍ وَلاَ مُتَوَفَّى عَنْهَا وَقَالَ " إِنْ جَاءَتْ بِهِ أُصَيْهِبَ أُرَيْصِحَ أُثَيْبِجَ حَمْشَ السَّاقَيْنِ فَهُوَ لِهِلاَلٍ وَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَوْرَقَ جَعْدًا جُمَالِيًّا خَدَلَّجَ السَّاقَيْنِ سَابِغَ الأَلْيَتَيْنِ فَهُوَ لِلَّذِي رُمِيَتْ بِهِ فَجَاءَتْ بِهِ أَوْرَقَ جَعْدًا جُمَالِيًّا خَدَلَّجَ السَّاقَيْنِ سَابِغَ الأَلْيَتَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " لَوْلاَ الأَيْمَانُ لَكَانَ لِي وَلَهَا شَأْنٌ " . قَالَ عِكْرِمَةُ فَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ أَمِيرًا عَلَى مُضَرَ وَمَا يُدْعَى لأَبٍ .
Telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin Ali], telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun], telah menceritakan kepada kami ['Abbad bin Manshur] dari [Ikrimah] dari [Ibnu Abbas], ia berkata; Hilal bin Umayyah yang merupakan salah satu dari tiga orang yang Allah terima taubat mereka telah datang dari lahan yang ia miliki pada sore hari, kemudian ia mendapati seorang laki-laki bersama isterinya dan ia melihatnya dengan kedua matanya serta mendengar dengan telinganya dan tidak mengganggu serta menperingatkannya hingga pagi hari. Kemudian ia pergi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata; wahai Rasulullah, sungguh saya telah datang kepada isteriku pada sore hari dan saya dapati seorang laki-laki bersamanya. Saya melihat dengan kedua mataku, dan mendengar dengan kedua telingaku. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak menyukai apa yang ia bawa dan terasa berat baginya. Kemudian turunlah ayat: "Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang……." Kemudian beliau merasakan keringanan dan berkata; bergembiralah wahai Abu Hilal, sungguh Allah 'azza wajalla telah memberikan kelapangan dan jalan keluar kepadamu. Hilal berkata; aku telah mengharapkan hal tersebut dari Tuhanku. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kirimkan utusan kepada wanita tersebut!" kemudian wanita tersebut datang dan beliau membacakan ayat tersebut kepada mereka berdua dan mengingatkan serta mengabarkan kepada merekabahwa adzab akhirat lebih keras daripada adzab dunia. Kemudian Hilal berkata; demi Allah, sungguh aku berkata benar terhadapnya. Kemudian wanita tersebut berkata; sungguh ia telah berdusta. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Putuskanlah diantara mereka berdua!" kemudian dikatakan kepada Hilal; bersumpahlah! Maka ia bersumpah empat kali dengan nama Allah bahwa ia adalah termasuk diantara orang-orang yang benar. Kemudian tatkala pada sumpah kelima dikatakan kepadanya; wahai Bilal, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya adzab dunia lebih ringan dari pada adzab akhirat. Dan sumpah ini adalah sesuatu yang dapat menyebabkanmu mendapatkan adzab. Kemudian ia berkata; demi Allah, Allah tidak akan mengadzabku karenanya, sebagaimana beliau tidak akan mencambukku karenanya. Kemudian ia bersumpah yang kelima; bahwa laknat Allah atasnya apabila ia termasuk diantara orang-orang yang berdusta. Kemudian dikatakan kepada wanita tersebut; bersumpahlah; sesungguhnya ia termasuk diantara orang-orang yang berdusta. Kemudian tatkala pada sumpah yang kelima dikatakan kepadanya; bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya adzab dunia lebih ringan daripada adzab akhirat, dan laknat ini adalah sesuatu yang dapat menyebabkanmu mendapatkan adzab. Kemudian wanita tersebut merasa ragu sesaat, kemudian berkata; demi Allah, aku tidak akan mempermalukan kaumku. Lalu ia pun bersumpah ke lima kali; bahwa kemurkaan Allah akan tertimpa atasnya apabila suaminya termasuk diantara orang-orang yang benar. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memisahkan antara mereka berdua, beliau memutuskan anaknya tidaklah dipanggil anak ayahnya, dan wanita tersebut tidak boleh dituduh berzina, anaknya tidak boleh dituduh sebagai anak zina. Barangsiapa yang menuduhnya maka ia mendapatkan hukuman. Dan beliau memutuskan bahwa suami yang mantan suami tidak wajib untuk memberikan rumah serta makan bagi mantan isterinya, karena keduanya berpisah bukan karena perceraian, dan bukan karena sang suami meninggal dunia. Apabila ia melahirkan anak berwarna pirang, antara kedua pundak serta pertengahan punggung berisi, betisnya kecil, maka ia adalah milik Hilal, dan apabila ia melahirkan anak yang berkulit coklat sawo matang, berambut keriting, anggota badannya besar, betis besar dan berisi, pantat besar berisi maka ia adalah milik orang yang dituduh berbuat zina dengannya. Kemudian wanita tersebut melahirkan anak yang berkulit coklat sawo matang, berambut keriting, anggota badannya besar, betis besar dan berisi, pantat besar berisi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Seandainya tidak ada sumpah niscaya aku dan dia memiliki urusan." Ikrimah berkata; kemudian setelah itu anak tersebut menjadi pemimpin Mudhar dan tidak dipanggil dengan menisbatkan kepada ayahnya