Muwaththa Malik — Hadis #35220
Hadis #35220
وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ مَنِ اعْتَمَرَ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ فِي شَوَّالٍ أَوْ ذِي الْقَعْدَةِ أَوْ فِي ذِي الْحِجَّةِ قَبْلَ الْحَجِّ ثُمَّ أَقَامَ بِمَكَّةَ حَتَّى يُدْرِكَهُ الْحَجُّ فَهُوَ مُتَمَتِّعٌ إِنْ حَجَّ وَعَلَيْهِ مَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْىِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعَ . قَالَ مَالِكٌ وَذَلِكَ إِذَا أَقَامَ حَتَّى الْحَجِّ ثُمَّ حَجَّ مِنْ عَامِهِ . قَالَ مَالِكٌ فِي رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ انْقَطَعَ إِلَى غَيْرِهَا وَسَكَنَ سِوَاهَا ثُمَّ قَدِمَ مُعْتَمِرًا فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ ثُمَّ أَقَامَ بِمَكَّةَ حَتَّى أَنْشَأَ الْحَجَّ مِنْهَا إِنَّهُ مُتَمَتِّعٌ يَجِبُ عَلَيْهِ الْهَدْىُ أَوِ الصِّيَامُ إِنْ لَمْ يَجِدْ هَدْيًا وَأَنَّهُ لاَ يَكُونُ مِثْلَ أَهْلِ مَكَّةَ . وَسُئِلَ مَالِكٌ عَنْ رَجُلٍ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ مَكَّةَ دَخَلَ مَكَّةَ بِعُمْرَةٍ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ وَهُوَ يُرِيدُ الإِقَامَةَ بِمَكَّةَ حَتَّى يُنْشِئَ الْحَجَّ أَمُتَمَتِّعٌ هُوَ فَقَالَ نَعَمْ هُوَ مُتَمَتِّعٌ وَلَيْسَ هُوَ مِثْلَ أَهْلِ مَكَّةَ وَإِنْ أَرَادَ الإِقَامَةَ وَذَلِكَ أَنَّهُ دَخَلَ مَكَّةَ وَلَيْسَ هُوَ مِنْ أَهْلِهَا وَإِنَّمَا الْهَدْىُ أَوِ الصِّيَامُ عَلَى مَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ يُرِيدُ الإِقَامَةَ وَلاَ يَدْرِي مَا يَبْدُو لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ وَلَيْسَ هُوَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ .
Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik, dari Abdullah bin Dinar, bahwa Abdullah bin Umar pernah berkata, “Barangsiapa yang melakukan umrah pada bulan-bulan haji, yaitu pada bulan Syawal, Dzul Qada, atau pada bulan Dzulhijjah sebelum haji, lalu tinggal di Makkah hingga tiba waktu haji, maka ia tamattu jika ia kemudian menunaikan haji. dan jika dia tidak dapat menemukannya maka dia harus berpuasa tiga hari pada saat haji dan tujuh hari pada saat kembali.” Malik berkata, “Hal itu hanya berlaku jika dia tinggal sampai haji dan menunaikan haji pada tahun yang sama.” Malik mengatakan, jika ada seseorang yang berasal dari Makkah, namun telah berhenti tinggal di sana dan pindah untuk tinggal di tempat lain, lalu kembali melakukan umrah pada bulan-bulan haji dan kemudian tinggal di Makkah untuk memulai haji di sana, maka dia sedang menunaikan tamattu, dan harus menyembelih hewan kurban, atau berpuasa jika dia tidak dapat menemukannya. Dia tidak sama dengan penduduk Mekah. Malik ditanya apakah seseorang yang bukan dari Makkah dan masuk ke Makkah untuk umroh di bulan haji dengan niat untuk tetap tinggal untuk memulai haji di sana, melakukan tamattu atau tidak, dan dia berkata, "Ya, dia sedang melakukan tamattu, dan dia tidak sama dengan orang-orang Mekah, meskipun dia ada niat untuk tinggal di sana. Hal ini karena dia telah masuk Mekah, dan bukan salah satu dari umatnya, dan berkurban atau berpuasa adalah kewajibannya. pada siapa pun yang bukan dari Mekah, dan meskipun dia bermaksud untuk tinggal, dia tidak mengetahui kemungkinan apa yang mungkin timbul di kemudian hari
Sumber
Muwaththa Malik # 20/765
Tingkat
Mauquf Sahih
Kategori
Bab 20: Haji