Muwaththa Malik — Hadis #36012
Hadis #36012
وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، أَنَّ ابْنَ شِهَابٍ، وَسُلَيْمَانَ بْنَ يَسَارٍ، وَرَبِيعَةَ بْنَ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، كَانُوا يَقُولُونَ دِيَةُ الْخَطَإِ عِشْرُونَ بِنْتَ مَخَاضٍ وَعِشْرُونَ بِنْتَ لَبُونٍ وَعِشْرُونَ ابْنَ لَبُونٍ ذَكَرًا وَعِشْرُونَ حِقَّةً وَعِشْرُونَ جَذَعَةً . قَالَ مَالِكٌ الأَمْرُ الْمُجْتَمَعُ عَلَيْهِ عِنْدَنَا أَنَّهُ لاَ قَوَدَ بَيْنَ الصِّبْيَانِ وَإِنَّ عَمْدَهُمْ خَطَأٌ مَا لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِمُ الْحُدُودُ وَيَبْلُغُوا الْحُلُمَ وَإِنَّ قَتْلَ الصَّبِيِّ لاَ يَكُونُ إِلاَّ خَطَأً وَذَلِكَ لَوْ أَنَّ صَبِيًّا وَكَبِيرًا قَتَلاَ رَجُلاً حُرًّا خَطَأً كَانَ عَلَى عَاقِلَةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُ الدِّيَةِ . قَالَ مَالِكٌ وَمَنْ قَتَلَ خَطَأً فَإِنَّمَا عَقْلُهُ مَالٌ لاَ قَوَدَ فِيهِ وَإِنَّمَا هُوَ كَغَيْرِهِ مِنْ مَالِهِ يُقْضَى بِهِ دَيْنُهُ وَيُجَوَّزُ فِيهِ وَصِيَّتُهُ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ تَكُونُ الدِّيَةُ قَدْرَ ثُلُثِهِ ثُمَّ عُفِيَ عَنْ دِيَتِهِ فَذَلِكَ جَائِزٌ لَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُ دِيَتِهِ جَازَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ الثُّلُثُ إِذَا عُفِيَ عَنْهُ وَأَوْصَى بِهِ .
Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik bahwa Ibnu Shihab, Sulaiman bin Yasar, dan Rabia bin Abi Abd ar-Rahman berkata, “Uang darah pembunuhan adalah dua puluh anak umur satu tahun, dua puluh anak umur dua tahun, dua puluh laki-laki umur dua tahun, dua puluh empat tahun, dan dua puluh lima tahun.” Malik berkata, “Jalan yang disepakati secara umum dengan kita adalah tidak ada pembalasan terhadap anak-anak. Niatnya tidak disengaja. Tidak wajib hudud bagi mereka jika belum baligh. Malik berkata, “Orang yang membunuh seseorang tanpa sengaja, membayar uang darah dengan hartanya dan tidak ada pembalasan terhadapnya. Uang itu seperti segala sesuatu yang lain dari harta orang yang meninggal itu dan hutangnya dibayar dengan uang itu dan dia diperbolehkan untuk mewariskan darinya. melepaskan sepertiganya dan menjadikannya sebagai warisan
Sumber
Muwaththa Malik # 43/1557
Tingkat
Maqtu Sahih
Kategori
Bab 43: Diyat