65 Hadis
01
Bulughul Maram # 3/532
Abu Hurairah (RA)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-{ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ 1‏ اَللَّذَّاتِ: اَلْمَوْتِ } رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ 2‏ .‏‏1 ‏- هذا اللفظ وقع في بعض الروايات كما هو هنا، وجاء في بعضها "هادم" وفي بعض آخر "هازم".‏ أي: جاء بالذال المعجمة، وبالدال المهملة، وبالزاي، وكل ذلك له وجه فالأول بمعنى القطع.‏ والثاني بمعنى: الهدم.‏ والثالث بمعنى: القهر والغلبة.‏ المراد بذلك كله: الموت.‏‏2 ‏- صحيح.‏ رواه الترمذي (2307)‏، والنسائي (4/4)‏، وابن حبان (2992)‏ وقال الترمذي: "هذا حديث حسن غريب".‏ قلت: ولو اقتصر رحمه الله على التحسين لكان أولى إذ لا وجه للغرابة.‏ والله أعلم.‏ وقد زاد ابن حبان في "صحيحه": "فما ذكره عبد قط وهو في ضيق إلا وسعه عليه، ولا ذكره وهو في سعة إلا ضيقه عليه" وسندها حسن كإسناد أصل الحديث.‏ وإنما صححت الحديث لشواهده الكثيرة.‏ وهي مخرجة في "الأصل".‏
Diriwayatkan dari Abu Hurairah (semoga Allah meridainya), yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Sering-seringlah mengingat penghancur kenikmatan: kematian.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidhi dan An-Nasa’i, dan disahihkan oleh Ibnu Hibban.] [1. Redaksi ini muncul dalam beberapa riwayat seperti yang terdapat di sini, sementara dalam riwayat lain muncul sebagai “penghancur” dan dalam riwayat lain sebagai “penghancur.” Artinya, muncul dengan “dhal” (ذ), “dal” (د), dan “zay” (ز), dan masing-masing memiliki artinya. Yang pertama berarti memotong. Yang kedua berarti penghancuran. Yang ketiga berarti penaklukan dan penaklukkan. Makna yang dimaksud dalam semua ini adalah kematian.] [2. Sah.] Diriwayatkan oleh At-Tirmidhi (2307), An-Nasa’i (4/4), dan Ibn Hibban.] (2992) At-Tirmidhi berkata: “Ini adalah hadits yang baik dan aneh.” Saya katakan: Jika beliau (semoga Allah merahmatinya) membatasi diri untuk mengklasifikasikannya sebagai hadits yang baik, itu akan lebih baik, karena tidak ada alasan untuk menganggapnya aneh. Dan Allah Maha Mengetahui. Ibn Hibban menambahkan dalam Shahihnya: “Tidak ada seorang hamba pun yang menyebutkannya ketika dalam kesulitan kecuali itu meringankan kesulitannya, dan dia tidak pernah menyebutkannya ketika dalam kemudahan kecuali itu mempersulitnya.” Rantai periwayatannya baik, seperti rantai periwayatan hadits aslinya. Saya hanya mengesahkan hadits ini karena banyaknya riwayat pendukungnya. Hadits ini termasuk dalam hadits asli.
02
Bulughul Maram # 3/533
Anas bin Malik (RA)
وَعَنْ أَنَسٍ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-{ لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ اَلْمَوْتَ لِضُرٍّ يَنْزِلُ بِهِ, فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ اَلْحَيَاةُ خَيْرًا لِي, وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ اَلْوَفَاةُ خَيْرًا لِي } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (5671)‏، ومسلم (2680)‏.‏
Diriwayatkan dari Anas (semoga Allah meridainya), yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak seorang pun di antara kalian boleh mengharapkan kematian karena suatu musibah yang menimpanya. Tetapi jika ia harus mengharapkannya, maka ucapkanlah: ‘Ya Allah, peliharalah aku selama hidup masih lebih baik bagiku, dan matikanlah aku ketika kematian lebih baik bagiku.’” Diriwayatkan oleh kedua Nabi. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5671) dan Muslim (2680).
03
Bulughul Maram # 3/534
Buraidah (RA)
وَعَنْ بُرَيْدَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- عَنِ اَلنَّبِيِّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: { اَلْمُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ } رَوَاهُ اَلثَّلَاثَةُ 1‏ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ 2‏ .‏‏1 ‏- ووقع في"أ" : "الترمذي" وهو خطأ.‏‏2 ‏- صحيح.‏ رواه الترمذي (982)‏، والنسائي (4/5‏-6)‏، وابن ماجه (1452)‏، وللحديث إسناد عند النسائي على شرط الشيخين، وله شاهد صحيح عن ابن مسعود.‏
Dari Buraydah (semoga Allah meridainya), dari Nabi (shalawat dan salam kepadanya), yang bersabda: “Orang mukmin meninggal dengan keringat di dahinya.” Diriwayatkan oleh tiga [Imam Hadits] (1) dan disahihkan oleh Ibnu Hibban (2). 1 - Dalam manuskrip “A” tertulis “al-Tirmidhi,” yang merupakan kesalahan. 2 - Sah. Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi (982), al-Nasa’i (4/5-6), dan Ibnu Majah (1452). Hadits ini memiliki sanad dalam al-Nasa’i yang memenuhi kriteria dua Syekh (al-Bukhari dan Muslim), dan memiliki riwayat pendukung yang sah dari Ibnu Mas’ud.
04
Bulughul Maram # 3/536
Abu Said (RA)
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-{ لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ 1‏ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَالْأَرْبَعَةُ 2‏ .‏‏1 ‏- أي: اذكروا وقولوا لمن حضره الموت؛ ليكون آخر كلامه: لا إله إلا الله.‏‏2 ‏- صحيح.‏ أما حديث أبي سعيد: فرواه مسلم (916)‏، وأبو داود (3117)‏، والنسائي (4/5)‏، والترمذي (976)‏، وابن ماجه (1445)‏.‏ وقال الترمذي: "حسن غريب صحيح".‏ وأما حديث أبي هريرة: فرواه مسلم (917)‏، وابن ماجه (1444)‏، وزاد البزار بسند صحيح على شرط مسلم: "فإنه من كان آخر كلمته: لا إله إلا الله.‏ عند الموت، دخل الجنة يوما من الدهر، وإن أصابه قبل ذلك ما أصابه".‏
Dari Abu Saeed dan Abu Hurairah, semoga Allah meridai mereka berdua, mereka berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Beritahukanlah orang-orang yang sedang sakaratul maut kepada kalian untuk mengucapkan: Tidak ada Tuhan selain Allah.” Diriwayatkan oleh Muslim dan empat ulama besar (Abu Dawud, Sunan...). Kata-kata terakhirnya seharusnya: “Tidak ada Tuhan selain Allah.” 2 - Sahih. Adapun hadits Abu Sa’id: diriwayatkan oleh Muslim (916), Abu Dawud (3117), An-Nasa’i (4/5), At-Tirmidhi (976), dan Ibn Majah (1445). At-Tirmidhi berkata: “Ini adalah hadits yang baik, aneh, dan sahih.” Adapun hadits Abu Hurayrah: diriwayatkan oleh Muslim (917) dan Ibn Majah (1444), dan Al-Bazzar menambahkan sanad yang sahih sesuai dengan syarat Muslim: “Barangsiapa yang kata-kata terakhirnya adalah: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah,’ pada saat kematian, akan masuk Surga suatu hari nanti, meskipun ia menderita sebelum itu.”
05
Bulughul Maram # 3/537
Ma'qil bin Yasar (RA)
وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ ‏- رضى الله عنه ‏- أَنَّ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: { اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس } رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ 1‏ .‏‏1 ‏- ضعيف.‏ رواه أبو داود (321)‏، والنسائي في: "عمل اليوم والليلة" (1074)‏، وابن حبان (3002)‏، وله عدة علل فصلت فيها القول بالأصل، وتجد هناك أيضا الرد على تأويل ابن حبان للحديث.‏
Dari Ma'qil ibn Yasar (semoga Allah meridainya), Nabi (shalawat dan salam kepadanya) bersabda: “Bacalah Surah Ya-Sin sebelum meninggal.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i, dan disahihkan oleh Ibn Hibban.<sup>1</sup> <sup>1</sup> - Lemah. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (321), An-Nasa'i dalam “Amal Al-Yawm wa Al-Laylah” (1074), dan Ibn Hibban (3002). Hadits ini memiliki beberapa kekurangan, yang telah saya bahas secara rinci mengenai makna aslinya. Anda juga akan menemukan di sana bantahan terhadap tafsiran Ibn Hibban terhadap hadits tersebut.
06
Bulughul Maram # 3/538
وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { دَخَلَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-عَلَى أَبِي سَلَمَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- وَقَدْ شُقَّ بَصَرُهُ 1‏ فَأَغْمَضَهُ, ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ اَلرُّوحَ إِذَا قُبِضَ, اتَّبَعَهُ الْبَصَرُ" فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ, فَقَالَ: "لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ.‏ فَإِنَّ اَلْمَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ عَلَى مَا تَقُولُونَ".‏ ثُمَّ قَالَ: "اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ, وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي اَلْمَهْدِيِّينَ, وَافْسِحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ, وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ, وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ 2‏ .‏‏1 ‏- قال النووي (5/476‏-477)‏: "بفتح الشين، ورفع بصره، وهو فاعل شق، هكذا ضبطناه وهو المشهور، وضبط بعضهم بصره بالنصب وهو صحيح أيضا، والشين مفتوحة بلا خلاف.‏.‏ وهو الذي حضره الموت، وصار ينظر إلى الشيء لا يرتد إليه طرفه".‏‏2 ‏- صحيح.‏ رواه مسلم (920)‏.‏
Dari Umm Salamah (semoga Allah meridainya), beliau berkata: “Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam memasuki rumah Abu Salamah (semoga Allah meridainya) dan matanya terbuka. Kemudian beliau menutup matanya dan berkata: ‘Ketika ruh diambil, mata akan mengikutinya.’ Sebagian keluarganya menangis, lalu beliau berkata: ‘Janganlah kalian memohon selain kebaikan untuk diri kalian sendiri, karena para malaikat akan mengamini apa yang kalian ucapkan.’ Kemudian beliau berkata: ‘Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya di antara orang-orang yang mendapat petunjuk, lapangkanlah kuburnya, terangilah kuburnya, dan jadikanlah dia pengganti di antara keturunannya.’” Diriwayatkan oleh Muslim 2.1 - An-Nawawi berkata (5/476-477): “Dengan huruf ‘shaen’ diucapkan dengan fatha, dan pandangannya terangkat, dan dia adalah subjek dari kata kerja ‘shaqqa’ (membelah), demikianlah riwayat yang kami catat, dan ini adalah versi yang terkenal.” Sebagian orang mencatat ‘basarahu’ (pandangannya) dengan fatha, dan ini juga benar. Kilauan itu diucapkan dengan fatha tanpa ada perbedaan pendapat… Dialah orang yang berada di ambang kematian, dan dia mulai melihat sesuatu tanpa pandangannya kembali kepadanya.” 2 - Sah. Diriwayatkan oleh Muslim (920).
07
Bulughul Maram # 3/539
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا: { أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (5814)‏، ومسلم (942)‏.‏
Dari Aisyah, semoga Allah meridainya: {Ketika Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam wafat, beliau ditutupi dengan jubah Yaman bergaris-garis.} Disepakati. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5814) dan Muslim (942).
08
Bulughul Maram # 3/540
وَعَنْهَا { أَنَّ أَبَا بَكْرٍ اَلصِّدِّيقَ ‏- رضى الله عنه ‏- قَبَّلَ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-بَعْدَ مَوْتِهِ } رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (8/146‏-147 و 10/166/فتح)‏.‏
Dan berdasarkan keterangannya, {bahwa Abu Bakar as-Siddiq - semoga Allah meridainya - mencium Nabi - semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan - setelah wafatnya}. Diriwayatkan oleh al-Bukhari 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/146-147 dan 10/166/Fath).
09
Bulughul Maram # 3/541
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- عَنِ اَلنَّبِيِّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: { نَفْسُ اَلْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ, حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه أحمد (2/440 و 475 و 508)‏، والترمذي (1078)‏ و (1079)‏، وقال الترمذي: "هذا حديث حسن".‏ قلت: هو صحيح؛ إذ له شواهد عن أربعة من الصحابة ذكرتها "بالأصل".‏
Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridainya), dari Nabi (shalawat dan salam kepadanya), yang bersabda: “Jiwa seorang mukmin tertahan oleh hutangnya sampai lunas.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidhi, yang menilainya sebagai Hasan (baik). Hadits ini sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/440, 475, dan 508) dan At-Tirmidhi (1078 dan 1079). At-Tirmidhi berkata: “Ini adalah hadits Hasan.” Saya katakan: Hadits ini sahih, karena memiliki riwayat pendukung dari empat Sahabat, yang telah saya sebutkan dalam teks aslinya.
10
Bulughul Maram # 3/542
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ فِي اَلَّذِي سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: { اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1265)‏، ومسلم (1206)‏، وتمامه: "ولا تحنطوه، ولا تخمروا رأسه، فإن الله يبعثه يوم القيامة ملبيا.‏ (وفي رواية: فإن الله يبعثه يوم القيامة يلبي)‏.‏
Dari Ibnu Abbas, semoga Allah meridai mereka berdua: bahwa Nabi, صلى الله عليه وسلم, bersabda tentang orang yang jatuh dari tunggangannya dan meninggal: “Mandikan dia dengan air dan daun teratai, dan kafani dia dengan dua lapis kain.” Disepakati. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1265) dan Muslim (1206), dan penyebutannya adalah: “Janganlah kamu mengawetkan jenazahnya, dan janganlah kamu menutupi kepalanya, karena Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dengan membaca Talbiyah.” (Dan dalam riwayat lain: “Karena Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dengan membaca Talbiyah”).
11
Bulughul Maram # 3/543
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { لَمَّا أَرَادُوا غَسْلَ اَلنَّبِيِّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالُوا: وَاَللَّهُ مَا نَدْرِي, نُجَرِّدُ رَسُولَ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا, أَمْ لَا?….‏.‏ } اَلْحَدِيثَ، رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ 1‏ .‏‏1 ‏- حسن.‏ رواه أحمد (6/267)‏، وأبو داود (3141)‏، ولفظه: عن عائشة رضي الله عنها قالت: لما أرادوا غسل النبي صلى الله عليه وسلم قالوا: والله ما ندري أنجرد رسول الله صلى الله عليه وسلم من ثيابه كما نجرد موتانا أم نغسله وعليه ثيابه؟ فلما اختلفوا ألقى الله عليهم النوم حتى ما منهم من رجل إلا وذقنه في صدره، ثم كلمهم مكلم من ناحية البيت لا يدرون من هو: أن اغسلوا النبي صلى الله عليه وسلم وعليه ثيابه، فقاموا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فغسلوه وعليه قميصه، يصبون الماء فوق القميص، ويدلكونه بالقميص دون أيديهم.‏ وكانت عائشة تقول: لو استقبلت من أمري ما استدبرت ما غسله إلا نساؤه.‏
Dari Aisyah, semoga Allah meridainya, beliau berkata: {Ketika mereka hendak memandikan Nabi, shalawat dan salam kepadanya, mereka berkata: Demi Allah, kami tidak tahu apakah kami harus menanggalkan pakaian Rasulullah, shalawat dan salam kepadanya, seperti kami menanggalkan pakaian orang mati, atau tidak?…} Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. 1.1 - Hasan (baik). Diriwayatkan oleh Ahmad (6/267) dan Abu Dawud (3141), dan redaksinya adalah: Dari Aisyah, semoga Allah meridainya, beliau berkata: Ketika mereka hendak memandikan Nabi, shalawat dan salam kepadanya, mereka berkata: Demi Allah, kami tidak tahu apakah kami harus menanggalkan pakaian Rasulullah, shalawat dan salam kepadanya, seperti kami menanggalkan pakaian orang mati, atau tidak. Haruskah kami memandikannya selagi beliau masih berpakaian? Ketika mereka berselisih, Allah membuat mereka tertidur hingga dagu setiap orang menyentuh dadanya. Kemudian sebuah suara berbicara kepada mereka dari suatu arah di dalam rumah, meskipun mereka tidak tahu siapa yang berbicara: "Mandikan Nabi (shalawat dan salam kepadanya) selagi beliau masih mengenakan pakaian." Maka mereka pergi kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) dan memandikannya selagi beliau masih mengenakan bajunya, dengan menuangkan air ke atas bajunya dan menggosokkan baju itu ke tubuh beliau, tanpa menggunakan tangan mereka. Aisyah biasa berkata: "Sekiranya aku tahu saat itu apa yang kuketahui sekarang, pasti istri-istrinya saja yang akan memandikannya."
12
Bulughul Maram # 3/544
وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { دَخَلَ عَلَيْنَا اَلنَّبِيُّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-وَنَحْنُ نُغَسِّلُ ابْنَتَهُ، فَقَالَ: "اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا, أَوْ خَمْسًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ, بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا, أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ"، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ, فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ.‏فَقَالَ: "أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ" } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏
وَفِي رِوَايَةٍ: { ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ اَلْوُضُوءِ مِنْهَا } 2‏ .‏
وَفِي لَفْظٍ ِللْبُخَارِيِّ: { فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ, فَأَلْقَيْنَاهُ خَلْفَهَا } 3‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1253)‏، ومسلم (939)‏ (36)‏.‏
‏2 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (167)‏، ومسلم (939)‏ (42 و 43)‏.‏
‏3 ‏- صحيح.‏ وهذا اللفظ عند البخاري برقم (1263)‏.‏
Diriwayatkan dari Umm Atiyyah, semoga Allah meridainya, beliau berkata: “Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mendatangi kami ketika kami sedang memandikan putrinya. Beliau bersabda: ‘Mandikan dia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu, jika kalian anggap perlu, dengan air dan daun teratai, dan pada mandi terakhir tambahkan kapur barus, atau sesuatu yang mengandung kapur barus.’ Setelah kami selesai, kami memberitahukan kepada beliau, dan beliau melemparkan kain pinggangnya kepada kami dan berkata: ‘Kafani dia dengan kain itu.’” (Diriwayatkan oleh beberapa orang). 1. Dan dalam riwayat lain: {Mulailah dari sisi kanannya dan bagian tubuhnya yang digunakan untuk berwudhu.} 2. Dan dalam riwayat al-Bukhari: {Maka kami mengepang rambutnya menjadi tiga kepang dan melemparkannya ke belakang.} 3. 1 - Sah. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1253) dan Muslim (939) (36). 2 - Sah. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (167) dan Muslim (939) (42 dan 43). 3 - Otentik. Redaksi ini ditemukan dalam al-Bukhari pada nomor (1263).
13
Bulughul Maram # 3/545
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { كُفِّنَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ, لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ.‏ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1264)‏، ومسلم (841)‏.‏ سحولية: بضم السين المهملة ويروى بالفتح، نسبة إلى سحول؛ قرية باليمن، وقال الأزهري: بالفتح: المدينة.‏ وبالضم: الثياب.‏ وقيل: النسب إلى القرية بالضم، وأما بالفتح فنسبة إلى القصار؛ لأنه يسحل الثياب؛ أي: ينقيها.‏ الكرسف: بضم الكاف والسين المهملة بينهما راء ساكنة هو: القطن .‏
Dari Aisyah, semoga Allah meridainya, beliau berkata: “Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mengenakan tiga kain katun putih dari Sahul, tanpa kemeja atau sorban.” Diriwayatkan. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1264) dan Muslim (841). Sahul: dengan huruf damma pada kata "sahul", dan diriwayatkan juga dengan huruf fatha, dinisbatkan kepada Sahul, sebuah desa di Yaman. Al-Azhari berkata: dengan huruf fatha, artinya kota. Dengan huruf damma, artinya pakaian. Dikatakan: dinisbatkan kepada desa dengan huruf damma, sedangkan dengan huruf fatha dinisbatkan kepada tukang cuci, karena ia mencuci pakaian. Yaitu, untuk menyucikannya. "Karsaf" (dengan bunyi "u" pendek pada "k" dan "s" senyap di antara keduanya) artinya katun.
14
Bulughul Maram # 3/546
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ ‏-رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا‏- قَالَ: { لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اَللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ جَاءٍ اِبْنُهُ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-.‏ فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ, فَأَعْطَاه ُ]إِيَّاهُ] } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1269)‏، ومسلم (2400)‏.‏ هذا وقد جاءت أحاديث أخرى يتعارض ظاهرها مع حديث ابن عمر، وجواب ذلك مبسوط في "سبل السلام" وغيره "كالفتح".‏ "تنبيه": أخذ بعضهم كالإسماعيلي وابن حجر وغيرهما من هذا الحديث جواز طلب آثار أهل الخير منهم للتبرك بها!! وأقول: كلا.‏ فهذا يجوز فقط ‏-أي: التبرك‏- بآثار النبي صلى الله عليه وسلم دون غيره من أهل الخير والصلاح، ودليلنا على هذا، هو ذلك الأصل الأصيل، الذي نجهر به ليل نهار، ونعلمه كل الناس، ألا وهو: "على فهم السلف الصالح" وتلك هي التي تميز أصحاب الدعوة السلفية عن غيرهم من أصحاب الدعوات الأخرى، سواء كانت مذهبية فقهية، أو دعوية فكرية، أو منهجية حزبية.‏ وهذا المثال من الأمثلة الواضحة على أنه بدون هذا القيد يلج الإنسان إلى الابتداع من أوسع أبوابه، والعياذ بالله، ففي السنة نجد أن الصحابة رضي الله عنهم تبركوا بوضوئه صلى الله عليه وسلم، وبعرقه، وبغير ذلك من آثاره صلى الله عليه وسلم كما في "الصحيحين" وغيرهما.‏ ولكن هل نجد الصحابة أو السلف الصالح في القرون الثلاثة المفضلة قد فعلوا ذلك بآثار أحد غير النبي صلى الله عليه وسلم؟ لا شك أن كل منصف سيقول: لا لم نجد؟ فنقول: لو كان ذلك خيرا لسبقونا إليه، ولكن لما لم يفعلوا ذلك وجعلوه خصوصية للنبي صلى الله عليه وسلم، وجب علينا أن لا نتعدى فهمهم، وإلا وقعنا في مثل ما يقع فيه كثير من الناس في البدع والضلالة بسبب طرحهم لهذا القيد "على فهم السلف الصالح" وإلا فكثير من هؤلاء ‏-إن لم يكن كلهم‏- مع ضلالهم يقولون بوجوب الأخذ بالكتاب والسنة.‏ وأخيرا أذكر بعض من تصدر المجالس والندوات في أيامنا هذه أن هذا الأصل له أدلته من كتاب الله عز وجل ومن حديث النبي صلى الله عليه وسلم، لا كما ذكر أحدهم في بعض دروسه! من أنه طوال حياته العلمية! لا يعرف إلا الكتاب والسنة وهكذا تلقى من مشائخه! إلى أن ابتدع السلفيون هذا القول.‏ وعلى أية حال كل ذلك مفصل في رسالتي "السلفيون المفترى عليهم" والحمد لله أولا وآخرا.‏
Dari Ibnu Umar (semoga Allah meridhoi mereka berdua), beliau berkata: “Ketika Abdullah bin Ubay wafat, putranya datang kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam dan berkata: ‘Berikan bajumu kepadaku agar aku dapat mengkafaninya.’ Maka beliau memberikannya.” Disepakati. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1269) dan Muslim (2400). Hadits-hadits lain telah muncul yang tampaknya bertentangan dengan hadits Ibnu Umar, dan jawabannya dijelaskan secara rinci dalam “Subul al-Salam” dan karya-karya lain seperti “al-Fath.” Catatan: Beberapa ulama, seperti al-Isma’ili, Ibnu Hajar, dan lainnya, telah menyimpulkan dari hadits ini bahwa memohon berkah dari peninggalan orang-orang saleh tidak diperbolehkan! Saya katakan: Tidak. Memohon keberkahan hanya diperbolehkan dari peninggalan Nabi (shalawat dan salam kepadanya), dan bukan dari peninggalan orang-orang saleh dan taat lainnya. Bukti kami untuk ini adalah prinsip dasar yang kami sampaikan siang dan malam dan ajarkan kepada semua orang, yaitu: “Sesuai dengan pemahaman para pendahulu yang saleh.” Inilah yang membedakan pengikut seruan Salafi dari penyeru lainnya, baik mereka yang menganut mazhab fiqh tertentu, seruan intelektual, atau metodologi partisan. Contoh ini merupakan ilustrasi yang jelas bahwa tanpa batasan ini, seseorang memasuki bid'ah melalui pintu terluasnya, nauzubillah. Dalam Sunnah, kita menemukan bahwa para Sahabat (semoga Allah meridai mereka) memohon keberkahan dari air wudhu Nabi (shalawat dan salam kepadanya), keringatnya, dan peninggalan lainnya, sebagaimana tercatat dalam dua kitab Sahih (Bukhari dan Muslim) dan sumber-sumber lainnya. Tetapi apakah kita menemukan para Sahabat atau para pendahulu yang saleh di tiga abad utama melakukan hal ini dengan peninggalan siapa pun selain Nabi (shalawat dan salam kepadanya)? Tidak diragukan lagi, setiap orang yang berpikiran adil akan berkata: Tidak, kami tidak menemukannya. Kami berkata: Jika ini baik, mereka pasti sudah melakukannya sebelum kami. Tetapi karena mereka tidak melakukannya dan menganggapnya sebagai hak istimewa khusus bagi Nabi (shalawat dan salam kepadanya), kita tidak boleh menyimpang dari pemahaman mereka. Jika tidak, kita akan jatuh ke dalam kesalahan dan kesesatan yang sama seperti yang dialami banyak orang karena penerapan syarat ini, "menurut pemahaman para pendahulu yang saleh." Banyak dari orang-orang ini—jika tidak semua—meskipun sesat, tetap menegaskan kewajiban untuk berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah. Akhirnya, saya mengingatkan sebagian dari mereka yang memimpin pertemuan dan seminar saat ini bahwa prinsip ini mempunyai bukti dari Kitab Allah Yang Maha Tinggi, dan dari hadits Nabi (shalawat dan salam kepadanya), bukan seperti yang diklaim oleh salah seorang dari mereka dalam beberapa ceramahnya! Bahwa sepanjang hidupnya sebagai seorang ulama, beliau hanya mengetahui Al-Quran dan Sunnah, dan itulah yang beliau terima dari guru-gurunya, hingga kaum Salafi mengarang pernyataan ini. Bagaimanapun, semua ini dirinci dalam risalah saya, "Kaum Salafi yang Difitnah." Segala puji bagi Allah, yang pertama dan yang terakhir.
15
Bulughul Maram # 3/547
Ibnu Abbas (RA)
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: { الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ, فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ, وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ } رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه أحمد (3426)‏، وأبو داود (4061)‏، والترمذي (994)‏، وابن ماجه (3566)‏.‏ وقال الترمذي: "حسن صحيح".‏
Dari Ibnu Abbas (semoga Allah meridai keduanya), Nabi (shalawat dan salam kepadanya) bersabda: “Kenakanlah pakaian putih, karena itu termasuk pakaian terbaik kalian, dan kafani jenazah kalian dengan pakaian itu.” Hadits ini diriwayatkan oleh lima penyusun Hadits kecuali An-Nasa’i, dan disahihkan oleh At-Tirmidhi.<sup>1</sup> Hadits ini sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (3426), Abu Dawud (4061), At-Tirmidhi (994), dan Ibnu Majah (3566). At-Tirmidhi berkata: “Hadits ini baik dan sahih.”
16
Bulughul Maram # 3/548
Jabir (RA)
وَعَنْ جَابِرٍ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-{ إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحْسِنْ كَفَنَهُ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه مسلم (943)‏، وأوله: أن النبي صلى الله عليه وسلم خطب يوما.‏ فذكر رجلا من أصحابه قبض فكفن في كفن غير طائل، وقبر ليلا، فزجر النبي صلى الله عليه وسلم أن يقبر الرجل بالليل حتى يصلي عليه.‏ إلا أن يضطر إنسان إلى ذلك، وقال النبي صلى الله عليه وسلم: الحديث.‏ وانظر رقم (593)‏ الآتي.‏
Diriwayatkan dari Jabir (semoga Allah meridainya), yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya, hendaklah ia mengkafaninya dengan baik.” Diriwayatkan oleh Muslim (1).1 - Sah. Diriwayatkan oleh Muslim (943), dan permulaannya adalah: Suatu hari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam menyampaikan khutbah. Beliau menyebutkan seorang dari kalangan sahabatnya yang telah meninggal dunia dan dikafani dengan kain kafan yang kurang bagus dan dimakamkan pada malam hari. Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam melarang menguburkan seseorang pada malam hari sebelum shalat jenazah dilaksanakan, kecuali jika terpaksa. Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: [Hadits berlanjut]. Lihat nomor (593) di bawah.
17
Bulughul Maram # 3/549
وَعَنْهُ قَالَ: { كَانَ اَلنَّبِيُّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-يَجْمَعُ بَيْنَ اَلرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحَدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ, ثُمَّ يَقُولُ:
"أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ?", فَيُقَدِّمُهُ فِي اَللَّحْدِ, وَلَمْ يُغَسَّلُوا, وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِمْ } رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1343)‏.‏
Berdasarkan riwayatnya, beliau berkata: “Nabi (shalawat dan salam kepadanya) biasa mengumpulkan dua orang dari para syuhada Uhud dalam satu pakaian, kemudian beliau berkata: ‘Siapakah di antara mereka yang lebih banyak mengetahui Al-Qur'an?’ lalu beliau meletakkan orang tersebut di dalam kubur terlebih dahulu, tanpa memandikan atau mendoakannya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1343).
18
Bulughul Maram # 3/550
وَعَنْ عَلِيٍّ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: { سَمِعْتُ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-يَقُولُ:
"لَا تُغَالُوا فِي اَلْكَفَنِ, فَإِنَّهُ يُسْلُبُ سَرِيعًا" } رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ 1‏ .‏‏1 ‏- ضعيف.‏ رواه أبو داود (3154)‏.‏
Dari Ali (semoga Allah meridainya), beliau berkata: “Aku mendengar Nabi (shalawat dan salam kepadanya) bersabda: ‘Jangan berlebihan dalam mengenakan kain kafan, karena kain itu akan cepat tersingkap.’” Diriwayatkan oleh Abu Dawud 1.1 - Lemah. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3154).
19
Bulughul Maram # 3/551
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ; أَنَّ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ لَهَا: { لَوْ مُتِّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ } اَلْحَدِيثَ.‏ رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه أحمد (6/228)‏، وابن ماجه (1465)‏، وفي"أ" : "لغسلتك".‏
Berdasarkan riwayat Aisyah, semoga Allah meridainya, bahwa Nabi, صلى الله عليه وسلم, bersabda kepadanya: “Sekiranya engkau wafat sebelum aku, niscaya aku akan memandikanmu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibn Majah, dan disahihkan oleh Ibn Hibban.<sup>1</sup> Hadits ini sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (6/228) dan Ibn Majah (1465), dan dalam versi “A” tertulis: “niscaya aku akan memandikanmu.”
20
Bulughul Maram # 3/552
وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا: { أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا اَلسَّلَامُ أَوْصَتْ أَنْ يُغَسِّلَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اَللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ } رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ 1‏ .‏‏1 ‏- حسن.‏ رواه الدارقطني (2/79/12)‏.‏
Dari Asma’ bint ‘Umays, semoga Allah meridainya: “Fatima, semoga kedamaian menyertainya, memerintahkan agar Ali, semoga Allah Yang Maha Kuasa meridainya, membasuh tubuhnya.” Diriwayatkan oleh Ad-Daraqutni 1.1 - Hasan (baik). Diriwayatkan oleh Ad-Daraqutni (2/79/12).
21
Bulughul Maram # 3/553
وَعَنْ بُرَيْدَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- ‏-فِي قِصَّةِ الْغَامِدِيَّةِ اَلَّتِي أَمَرَ اَلنَّبِيُّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-بِرَجْمِهَا فِي اَلزِّنَا‏- قَالَ: { ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصُلِّيَ عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه مسلم (1695)‏.‏
Dari Buraydah (semoga Allah meridainya) – mengenai kisah seorang wanita dari Ghamid yang diperintahkan oleh Nabi (shalawat dan salam kepadanya) untuk dirajam karena berzina – beliau bersabda: {Kemudian beliau memerintahkan agar salat jenazah dilaksanakan untuknya dan agar dia dimakamkan.} Diriwayatkan oleh Muslim 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Muslim (1695).
22
Bulughul Maram # 3/554
وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: { أُتِيَ اَلنَّبِيُّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ, فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ 1‏ .‏‏1 ‏- حسن.‏ رواه مسلم (978)‏.‏ مشاقص: جمع مشقص، وهو نصل عريض.‏
Dari Jabir bin Samurah (semoga Allah meridai mereka berdua), beliau berkata: “Seorang laki-laki yang bunuh diri dengan pisau dibawa kepada Nabi (shalawat dan salam kepadanya), dan beliau tidak melaksanakan salat jenazah untuknya.” Diriwayatkan oleh Muslim (1). 1 - Hasan (baik). Diriwayatkan oleh Muslim (978). “Mishāqis” adalah bentuk jamak dari “mishqas,” yang berarti pisau lebar.
23
Bulughul Maram # 3/555
Abu Hurairah (RA)
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- ‏-فِي قِصَّةِ اَلْمَرْأَةِ اَلَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ اَلْمَسْجِدَ‏- قَالَ: { فَسَأَلَ عَنْهَا اَلنَّبِيُّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏- ] فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: "أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي"? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا] 1‏ فَقَالَ: "دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا", فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 2‏ .‏
وَزَادَ مُسْلِمٌ, ثُمَّ قَالَ: { إِنَّ هَذِهِ اَلْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا, وَإِنَّ اَللَّهَ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ }‏1 ‏- هذه الزيادة غير موجودة بالأصلين، ولكنها في النسخ المطبوعة وأيضا في "الشرح"، وهي أيضا من الحديث ولذلك أبقيتها.‏‏2 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (458)‏، ومسلم (956)‏.‏
Dari Abu Hurairah - semoga Allah meridainya - dalam kisah wanita yang biasa menyapu masjid - beliau berkata: {Nabi - semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya - bertanya tentang wanita itu - dan mereka berkata: Dia telah meninggal. Beliau berkata: “Mengapa kalian tidak memberitahuku?”} Seolah-olah mereka telah meremehkan urusannya. [1] Maka beliau berkata, “Tunjukkan kepadaku kuburnya.” Maka mereka menunjukkannya kepadanya, dan beliau berdoa di atasnya. [Disepakati] [2] Dan Muslim menambahkan, kemudian beliau berkata, “Kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi penghuninya, dan Allah meneranginya bagi mereka melalui doaku di atasnya.” [1] Tambahan ini tidak ditemukan dalam teks aslinya, tetapi ada dalam versi cetak dan juga dalam tafsir. Ini juga merupakan bagian dari hadits, dan karena itu saya mempertahankannya. [2] Sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (458) dan Muslim (956).
24
Bulughul Maram # 3/556
وَعَنْ حُذَيْفَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- { أَنَّ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-كَانَ يَنْهَى عَنِ اَلنَّعْيِ } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ 1‏ .‏‏1 ‏- حسن.‏ رواه أحمد (5/385 و 406)‏، والترمذي (986)‏، وقال الترمذي: "هذا حديث حسن صحيح".‏ وما في هذا الحديث من النهي عن النعي مطلقا مقيد بأحاديث أخر كالحديث التالي مثلا، فليس المراد بالنهي كل نعي.‏
Dari Hudhayfah (semoga Allah meridainya), bahwa Nabi (shalawat dan salam kepadanya) biasa melarang mengumumkan kematian. Hal ini diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidhi, yang menilai hadits ini Hasan (baik). Diriwayatkan oleh Ahmad (5/385 dan 406) dan At-Tirmidhi (986). At-Tirmidhi berkata: "Ini adalah hadits Hasan Sahih." Larangan mengumumkan kematian secara umum, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, dibatasi oleh hadits-hadits lain, seperti hadits berikut ini. Oleh karena itu, larangan tersebut tidak berlaku untuk setiap pengumuman kematian.
25
Bulughul Maram # 3/557
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- { أَنَّ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-نَعَى اَلنَّجَاشِيَّ فِي اَلْيَوْمِ اَلَّذِي مَاتَ فِيهِ, وَخَرَجَ بِهِمْ مِنَ الْمُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ, وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1245)‏، ومسلم (951)‏ (62)‏.‏
Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridainya), bahwa Nabi (shalawat dan salam kepadanya) mengumumkan kematian Negus pada hari kematiannya, dan beliau membawa mereka keluar dari tempat shalat, mengatur mereka dalam barisan, dan membacakan doa jenazah untuknya empat kali. Disepakati. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1245) dan Muslim (951) (62).
26
Bulughul Maram # 3/558
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: سَمِعْتُ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-يَقُولُ: { مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ, فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا, لَا يُشْرِكُونَ بِاَللَّهِ شَيْئًا, إِلَّا شَفَّعَهُمْ اَللَّهُ فِيهِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ 1‏ .‏‏1 ‏- حسن.‏ رواه مسلم (948)‏.‏
Dari Ibnu Abbas, semoga Allah meridai mereka berdua: Aku mendengar Nabi, صلى الله عليه وسلم, bersabda: “Tidak ada seorang Muslim pun yang meninggal dunia dan empat puluh orang berdiri di atas jenazahnya, tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, melainkan Allah akan menerima syafaat mereka untuknya.” Diriwayatkan oleh Muslim 1.1 - Hasan (baik). Diriwayatkan oleh Muslim (948).
27
Bulughul Maram # 3/559
وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: { صَلَّيْتُ وَرَاءَ اَلنَّبِيِّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-عَلَى امْرَأَةٍ مَاتَتْ فِي نِفَاسِهَا, فَقَامَ وَسْطَهَا } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (3/201/فتح)‏، ومسلم (964)‏.‏
Dari Samurah ibn Jundub (semoga Allah meridainya), beliau berkata: “Aku shalat di belakang Nabi (shalawat dan salam kepadanya) di atas seorang wanita yang meninggal saat melahirkan, dan beliau berdiri di tengah-tengahnya.” Diriwayatkan. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3/201/Fath) dan Muslim (964).
28
Bulughul Maram # 3/560
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { وَاَللَّهِ لَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-عَلَى اِبْنَيْ بَيْضَاءَ فِي اَلْمَسْجِدِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه مسلم (973)‏.‏
Dari Aisyah, semoga Allah meridainya, beliau berkata: “Demi Allah, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mendoakan kedua putra Bayda’ di masjid.” Diriwayatkan oleh Muslim 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Muslim (973).
29
Bulughul Maram # 3/561
وَعَنْ عَبْدِ اَلرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ: { كَانَ زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ يُكَبِّرُ عَلَى جَنَائِزِنَا أَرْبَعًا, وَإِنَّهُ كَبَّرَ عَلَى جَنَازَةٍ خَمْسًا, فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-يُكَبِّرُهَا } رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالْأَرْبَعَةُ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه مسلم (957)‏، وأبو داود (3197)‏، والنسائي (4/72)‏، والترمذي (1023)‏، وابن ماجه (1505)‏.‏
Diriwayatkan dari Abdur-Rahman ibn Abi Layla, yang berkata: “Zayd ibn Arqam biasa mengucapkan takbir empat kali pada pemakaman kami, tetapi dia mengucapkannya lima kali pada satu pemakaman. Maka aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dan dia berkata: ‘Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam biasa mengucapkannya lima kali.’” Diriwayatkan oleh Muslim. Empat [takbir] 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Muslim (957), Abu Dawud (3197), An-Nasa’i (4/72), At-Tirmidhi (1023), dan Ibn Majah (1505).
30
Bulughul Maram # 3/562
وَعَنْ عَلِيٍّ ‏- رضى الله عنه ‏- { أَنَّهُ كَبَّرَ عَلَى سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ سِتًّا, وَقَالَ: إِنَّهُ بَدْرِيٌّ } رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ 1‏ .‏
وَأَصْلُهُ فِي
"اَلْبُخَارِيِّ" 2‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه غير سعيد بن منصور جماعة، وصححه ابن حزم في "المحلى" (5/126)‏.‏
‏2 ‏- رواه البخاري (4004)‏ بلفظ: أن عليا رضي الله عنه كبر على سهل بن حنيف، فقال: إنه شهد بدرا.‏
Diriwayatkan dari Ali (semoga Allah meridainya), bahwa beliau membaca takbir enam kali atas Sahl ibn Hunayf dan berkata, “Dia adalah seorang Badri.” Diriwayatkan oleh Sa’id ibn Mansur. 1. Asalnya ada di “Al-Bukhari.” 2. 1. Sah. Diriwayatkan oleh sekelompok orang selain Sa’id ibn Mansur, dan Ibn Hazm mengesahkannya dalam “Al-Muhalla” (5/126). 2. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4004) dengan redaksi: bahwa Ali (semoga Allah meridainya) membaca takbir atas Sahl ibn Hunayf dan berkata, “Dia menyaksikan Badr.”
31
Bulughul Maram # 3/563
وَعَنْ جَابِرٍ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: { كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-يُكَبِّرُ عَلَى جَنَائِزِنَا أَرْبَعًا وَيَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ اَلْكِتَابِ فِي اَلتَّكْبِيرَةِ اَلْأُولَى } رَوَاهُ اَلشَّافِعِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ 1‏ .‏‏1 ‏- رواه الشافعي في "المسند" (1/209/578)‏ وسنده ضعيف جدا من أجل شيخ الشافعي ابن أبي يحيى فهو "متروك" وأعله الصنعاني في "السبل" بعلة ليست بعلة.‏
Dari Jabir (semoga Allah meridainya), beliau berkata: “Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam biasa mengucapkan takbir empat kali di atas jenazah kami dan membaca Surah Al-Fatihah (Surah Al-Qur'an) pada takbir pertama.” Diriwayatkan oleh Al-Shafi’i dengan sanad yang lemah. 1.1 - Diriwayatkan oleh Al-Shafi’i dalam “Al-Musnad” (1/209/578), dan sanadnya sangat lemah karena guru Al-Shafi’i, Ibnu Abi Yahya, yang dianggap “ditolak.” Al-San’ani menunjukkan kekurangan di dalamnya dalam “Al-Subul” yang sebenarnya bukan kekurangan.
32
Bulughul Maram # 3/564
وَعَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ: { صَلَّيْتُ خَلَفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جَنَازَةٍ, فَقَرَأَ فَاتِحَةَ الكْتِابِ فَقَالَ:
"لِتَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ" } رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1335)‏.‏
Diriwayatkan dari Talhah ibn Abdullah ibn Awf, yang berkata: “Aku shalat di belakang Ibnu Abbas pada suatu pemakaman, dan beliau membaca surah pertama Al-Quran (Al-Fatihah) dan berkata: ‘Agar kalian tahu bahwa itu adalah Sunnah.’” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1335).
33
Bulughul Maram # 3/565
وَعَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: { صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-عَلَى جَنَازَةٍ، فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ: "اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ, وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ, وَاعْفُ عَنْهُ, وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ, وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ, وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ, وَنَقِّهِ مِنْ اَلْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ 1‏ اَلثَّوْبَ اَلْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ, وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ, وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ, وَأَدْخِلْهُ اَلْجَنَّةَ, وَقِهِ فِتْنَةَ اَلْقَبْرِ وَعَذَابَ اَلنَّارِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ 2‏ .‏‏1 ‏- كذا بالأصلين، وهي رواية لمسلم، وهو كذلك "بالشرح".‏‏2 ‏- صحيح.‏ رواه مسلم (963)‏، وزاد: قال عوف: فتمنيت أن لو كنت أنا الميت؛ لدعاء رسول الله صلى الله عليه وسلم على ذلك الميت.‏
Dari Awf bin Malik (semoga Allah meridainya), beliau berkata: “Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam berdoa di atas jenazah, dan aku menghafal dari doanya: ‘Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, berilah dia kesejahteraan, ampunilah dia, muliakanlah tempat peristirahatan terakhirnya, luaskanlah kuburnya, basuhlah dia dengan air, salju, dan hujan es, dan sucikanlah dia dari dosa-dosa sebagaimana Engkau menyucikan pakaian putih dari kotoran, dan berilah dia tempat tinggal di Surga.’ Lebih baik dari rumahnya, dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan masukkanlah dia ke dalam Surga, dan lindungilah dia dari cobaan kubur dan siksaan api neraka. [Diriwayatkan oleh Muslim 2.1 - Beginilah penampakannya dalam teks asli, dan ini adalah riwayat Muslim, dan juga seperti yang dijelaskan dalam tafsir. 2 - Sahih.] Diriwayatkan oleh Muslim (963), dan dia menambahkan: Awf berkata: Aku berharap akulah yang meninggal, karena doa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam terhadap orang yang telah meninggal itu.]
34
Bulughul Maram # 3/566
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: { كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-إِذَا صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ يَقُولُ: "اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا, وَمَيِّتِنَا, وَشَاهِدِنَا, وَغَائِبِنَا, وَصَغِيرِنَا, وَكَبِيرِنَا, وَذَكَرِنَا, وَأُنْثَانَا, اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اَلْإِسْلَامِ, وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اَلْإِيمَانِ, اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ, وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَالْأَرْبَعَةُ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه أبو داود (3201)‏، والترمذي (1024)‏، وابن ماجه (1498)‏، وقد أعل هذا الحديث بما لا يقدح، وبيان ذلك في "الأصل".‏ "تنبيه": وهو الحافظ في عزوه الحديث لمسلم.‏
Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridainya), beliau berkata: “Ketika Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam berdoa di atas jenazah, beliau mengucapkan: ‘Ya Allah, ampunilah orang-orang yang hidup dan yang mati di antara kami, yang hadir dan yang tidak hadir, yang muda dan yang tua, laki-laki dan perempuan. Ya Allah, barangsiapa yang Engkau beri kehidupan di antara kami, berilah ia kehidupan dalam keislaman, dan barangsiapa yang Engkau wafatkan di antara kami, berilah ia wafat dalam keimanan. Ya Allah, janganlah Engkau cabut rahmat-Mu dari kami.’” Pahala beliau, dan janganlah Engkau sesatkan kami setelahnya. Diriwayatkan oleh Muslim dan keempat penyusun Sunan. 1.1 - Sah. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3201), At-Tirmidhi (1024), dan Ibn Majah (1498). Hadits ini telah dikritik karena sesuatu yang tidak membatalkannya, dan hal ini dijelaskan dalam teks aslinya. Catatan: Ini merujuk pada atribusi hadits kepada Muslim.
35
Bulughul Maram # 3/567
Abu Hurairah (RA)
وَعَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: { إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى اَلْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ اَلدُّعَاءَ } رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ 1‏ .‏‏1 ‏- حسن.‏ رواه أبو داود (3199)‏، وابن حبان (3076)‏.‏
Berdasarkan riwayat beliau, Nabi (shalawat dan salam kepadanya) bersabda: “Ketika kalian berdoa untuk orang yang telah meninggal, berdoalah dengan tulus.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan disahihkan oleh Ibnu Hibban. 1.1 - Hasan (baik). Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3199) dan Ibnu Hibban (3076).
36
Bulughul Maram # 3/568
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- عَنِ اَلنَّبِيِّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: { أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ, فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا إِلَيْهِ, وَإِنْ تَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1315)‏، ومسلم (944)‏ (50)‏.‏
Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridainya), dari Nabi (shalawat dan salam kepadanya), beliau bersabda: “Segeralah arak-arakan jenazah, karena jika orang yang meninggal adalah orang yang saleh, maka kalian sedang mengantarkannya ke tempat yang baik, dan jika sebaliknya, maka kalian sedang melepaskan diri dari beban yang buruk.” Disepakati. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1315) dan Muslim (944) (50).
37
Bulughul Maram # 3/569
وَلِلْبُخَارِيِّ: { مَنْ تَبِعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيُفْرَغَ مِنْ دَفْنِهَا فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطَيْنِ, كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ } 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (47)‏ وتمامه: "ومن صلى عليها، ثم رجع قبل أن تدفن، فإنه يرجع بقيراط".‏
Al-Bukhari meriwayatkan: “Barangsiapa mengikuti prosesi pemakaman seorang Muslim karena iman dan mengharapkan pahala, dan tetap bersamanya hingga salat jenazah dilaksanakan dan pemakaman selesai, maka ia akan kembali dengan membawa dua qirat, setiap qirat seperti Gunung Uhud.” 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (47). Versi lengkapnya adalah: “Dan barangsiapa yang mensalat jenazahnya, kemudian kembali sebelum dimakamkan, maka ia akan kembali dengan membawa satu qirat.”
38
Bulughul Maram # 3/570
وَعَنْ سَالِمٍ, عَنْ أَبِيهِ ‏- رضى الله عنه ‏- { أَنَّهُ رَأَى اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ, يَمْشُونَ أَمَامَ الْجَنَازَةِ } رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ, وَأَعَلَّهُ النَّسَائِيُّ وَطَائِفَةٌ بِالْإِرْسَالِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه أحمد (4539)‏، وأبو داود (3179)‏، والنسائي (4/56)‏، والترمذي (1007 و 1008)‏، وابن ماجه (1482)‏، وابن حبان (766 و 767 و 768 موارد)‏.‏ وما أعل به الحديث، فليس بقادح، وقد أجبت عنه في "ناسخ الحديث" (327)‏ لابن شاهين، وأيضا في الأصل.‏
Diriwayatkan oleh Salim, dari ayahnya (semoga Allah meridainya), bahwa ia melihat Nabi (shalawat dan salam kepadanya), Abu Bakar, dan Umar berjalan di depan iring-iringan jenazah. Hal ini diriwayatkan oleh lima penyusun Hadits, dan Ibnu Hibban mengesahkannya. An-Nasa'i dan sekelompok ulama menganggapnya lemah karena mursal (hadits dengan mata rantai periwayatan yang hilang). 1.1 - Sahih (otentik). Diriwayatkan oleh Ahmad (4539), Abu Dawud (3179), An-Nasa'i (4/56), At-Tirmidhi (1007 dan 1008), Ibnu Majah (1482), dan Ibnu Hibban (766, 767, dan 768). Alasan yang diberikan untuk kelemahan hadits tersebut bukanlah... Oleh Qadih, dan saya telah menjawab ini dalam “Nasikh al-Hadith” (327) oleh Ibn Shahin, dan juga dalam teks aslinya.
39
Bulughul Maram # 3/571
وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { نُهِينَا عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ, وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1287)‏، ومسلم (938)‏، وانظر "ناسخ الحديث" (314)‏.‏
Dari Umm Atiyyah, semoga Allah meridainya, beliau berkata: “Kami dilarang mengikuti prosesi pemakaman, tetapi tidak diwajibkan atas kami.” Disepakati. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1287), dan Muslim (938), dan lihat “Nasikh Al-Hadith” (314).
40
Bulughul Maram # 3/572
Abu Said (RA)
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ ‏- رضى الله عنه ‏- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: { إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا, فَمَنْ تَبِعَهَا فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى تُوضَعَ } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه البخاري (1310)‏، ومسلم (959)‏ (77)‏، واللفظ لمسلم، ولفظ البخاري مثله إلا أن عنده: "فلا يقعد".‏
Dari Abu Sa'id (semoga Allah meridainya), Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Ketika kalian melihat iring-iringan jenazah, berdirilah. Barangsiapa yang mengikutinya, janganlah duduk sampai jenazah diturunkan.” Diriwayatkan. 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1310) dan Muslim (959) (77). Redaksi Muslim dan redaksi Al-Bukhari sama, kecuali ia menambahkan: “janganlah duduk.”
41
Bulughul Maram # 3/573
وَعَنْ أَبِي إِسْحَاقَ, أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ يَزِيدَ ‏- رضى الله عنه ‏- { أَدْخَلَ الْمَيِّتَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ الْقَبْرَ، وَقَالَ: هَذَا مِنَ السُّنَّةِ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد َ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه أبو داود (3211)‏.‏
Dari Abu Ishaq, bahwa Abdullah bin Yazid - semoga Allah meridainya - {menurunkan jenazah ke dalam kubur dari arah kakinya, dan berkata: Ini termasuk Sunnah}. Diriwayatkan oleh Abu Dawud 1.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3211).
42
Bulughul Maram # 3/574
Abdullah bin Umar (RA)
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا, عَنِ النَّبِيِّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: { إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقُبُورِ, فَقُولُوا: بِسْمِ اللَّهِ, وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-.‏ } أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ, وَأَعَلَّهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِالْوَقْف ِ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه أحمد (2/27 و 40 و 59 و 69 و 127‏-128)‏، وأبو داود (3213)‏، وابن حبان (3110)‏، وفي رواية: "وعلى سنة رسول الله".‏ وأما إعلال الدارقطني رحمه الله للحديث بالوقف فمجاب عليه "بالأصل".‏ "تنبيه": إطلاق العزو هكذا للنسائي غير جيد، فإن الحديث عند النسائي في "عمل اليوم والليلة".‏
Dari Ibnu Umar, semoga Allah meridai mereka berdua, dari Nabi, صلى الله عليه وسلم, yang bersabda: “Ketika kalian menguburkan jenazah, ucapkanlah: ‘Dengan nama Allah, dan sesuai dengan agama Rasulullah, صلى الله عليه وسلم.’” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i, dan disahihkan oleh Ibnu Hibban. Ad-Daraqutni menganggapnya lemah karena merupakan pernyataan seorang Sahabat (tidak secara langsung dinisbahkan kepada Nabi). 1.1 - Sah. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/27, 40, 59, 69, 127-128), dan Abu Dawud (3213), dan Ibnu Hibban (3110), dan dalam riwayat lain: “Dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah.” Adapun kritik al-Daraqutni (semoga Allah merahmatinya) terhadap hadits yang dianggap terhenti (yaitu, tidak dinisbahkan kepada seorang Sahabat), hal itu dibantah oleh sumber aslinya. Catatan: Menisbahkan hadits kepada al-Nasa'i dengan cara ini tidak baik, karena hadits tersebut terdapat dalam kitab al-Nasa'i “Amal al-Yawm wa al-Laylah” (Perbuatan Siang dan Malam).
43
Bulughul Maram # 3/575
Aisyah (RA)
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: { كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا } رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ عَلَى شَرْطِ مُسْلِم ٍ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه أبو داود (3207)‏.‏
Dari Aisyah, semoga Allah meridainya, bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Mematahkan tulang orang mati sama seperti mematahkan tulang orang hidup.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad perawi yang memenuhi syarat Muslim. 1.1 - Otentik. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3207).
44
Bulughul Maram # 3/576
وَزَادَ ابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ: { فِي الْإِثْمِ } 1‏ .‏‏1 ‏- ضعيف.‏ رواه ابن ماجه (1617)‏، وهذه اللفظ ليست من الحديث، وإنما هي تفسير من بعض الرواة.‏
Ibn Majah menambahkan, dalam sebuah hadits dari Umm Salamah: {dalam dosa} 1.1 - Lemah. Diriwayatkan oleh Ibn Majah (1617). Redaksi ini bukan dari hadits, melainkan interpretasi dari sebagian perawi.
45
Bulughul Maram # 3/577
وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: { أَلْحَدُو ا 1‏ لِي لَحْدًا, وَانْصِبُوا عَلَى اللَّبِنِ نُصْبًا, كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-.‏ } رَوَاهُ مُسْلِم ٌ 2‏ .‏‏1 ‏- بوصل الهمزة وفتح الحاء، ويجوز بقطع الهمزة وكسر الحاء.‏ واللحد: هو الشق تحت الجانب القبلي من القبر.‏‏2 ‏- صحيح.‏ رواه مسلم (966)‏.‏
Dari Sa'd ibn Abi Waqqas (semoga Allah meridainya), beliau berkata: “Galilah sebuah ceruk untukku, dan dirikanlah sebuah pilar di atas batu bata itu, sebagaimana yang dilakukan untuk Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam.” Diriwayatkan oleh Muslim. 1. Dengan hamzah penghubung dan fatha pada huruf ha, dan diperbolehkan juga dengan hamzah dan kasra pada huruf ha. Ceruk tersebut adalah parit di bawah sisi selatan kubur. 2. Sah. Diriwayatkan oleh Muslim (966).
46
Bulughul Maram # 3/578
وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ جَابِرٍ نَحْوُهُ, وَزَادَ: { وَرُفِعَ قَبْرُهُ عَنِ الْأَرْضِ قَدْرَ شِبْرٍ } وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّان َ 1‏ .‏‏1 ‏- رواه البيهقي (3/407)‏، وابن حبان (8/218/6601)‏ وهو معلول.‏
Al-Bayhaqi meriwayatkan sesuatu yang serupa dari Jabir, dan menambahkan: {Dan kuburnya ditinggikan di atas tanah setinggi satu jengkal}. Ibn Hibban membenarkannya. 1.1 - Diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi (3/407) dan Ibn Hibban (8/218/6601), dan riwayat ini tidak lengkap.
47
Bulughul Maram # 3/579
وَلِمُسْلِمٍ عَنْهُ: { نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ, وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ, وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ } 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه مسلم (970)‏.‏
Dan Muslim meriwayatkan darinya: “Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam melarang melapisi kuburan dengan plester, duduk di atasnya, dan membangun bangunan di atasnya.” 1.1 - Sah. Diriwayatkan oleh Muslim (970).
48
Bulughul Maram # 3/580
وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- { أَنَّ النَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-صَلَّى عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ, وَأَتَى الْقَبْرَ, فَحَثَى عَلَيْهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ, وَهُوَ قَائِمٌ } رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ ُ 1‏ .‏‏1 ‏- ضعيف جدا.‏ رواه الدارقطني (2/76/1)‏.‏
Dari 'Amir ibn Rabi'ah (semoga Allah meridainya), bahwa Nabi (shalawat dan salam kepadanya) mendoakan 'Uthman ibn Maz'un, kemudian datang ke kuburan dan melemparkan tiga genggam tanah ke atasnya sambil berdiri. Diriwayatkan oleh Ad-Daraqutni. 1. Sangat lemah. Diriwayatkan oleh Ad-Daraqutni (2/76/1).
49
Bulughul Maram # 3/581
وَعَنْ عُثْمَانَ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: { كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ وَقَالَ:
"اِسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ, فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ" } رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ الْحَاكِم ُ 1‏ .‏‏1 ‏- صحيح.‏ رواه أبو داود (3221)‏، والحاكم (1/370)‏ وفي "أ": "واسألوا".‏
Dari Utsman (semoga Allah meridainya), beliau berkata: “Ketika Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam selesai menguburkan orang yang meninggal, beliau berdiri di samping kubur dan berkata: ‘Mohon ampunan untuk saudaramu dan mintalah agar ia diteguhkan, karena sekarang ia sedang diinterogasi.’” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan disahihkan oleh Al-Hakim. 1.1 - Sah. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3221) dan Al-Hakim (1/370). Dalam versi “A”: “dan mintalah.”
50
Bulughul Maram # 3/582
Damrah bin Habib (one of the Tabi'in or the followers of the Companions) narrated, ‘They (the Companions that he met) recommended that after the grave is leveled and the people leave, that one should stand by the grave and say three times to the deceased,
وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ أَحَدِ التَّابِعِينَ قَالَ: { كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إِذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ, وَانْصَرَفَ اَلنَّاسُ عَنْهُ, أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ: يَا فُلَانُ! قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ.‏ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ, يَا فُلَانُ! قُلْ: رَبِّيَ اللَّهُ, وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ, وَنَبِيِّ مُحَمَّدٌ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-} رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا .‏ 1‏ .‏‏1 ‏- ضعيف.‏
Dari Damrah ibn Habib, salah seorang pengikutnya, beliau berkata: “Mereka lebih suka, ketika kuburan orang yang meninggal telah diratakan dan orang-orang telah meninggalkannya, agar diucapkan di kuburannya: ‘Wahai fulan! Katakanlah: Tidak ada Tuhan selain Allah.’ Tiga kali, wahai fulan! Katakanlah: Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan Nabiku adalah Muhammad (shalawat dan salam kepadanya). Diriwayatkan oleh Sa'id ibn Mansur sebagai pernyataan seorang Sahabat (tidak secara langsung dinisbahkan kepada Nabi). 1.1 - Lemah.