Bulughul Maram — Hadis #53063
Hadis #53063
وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ اَلْبَاهِلِيِّ - رضى الله عنه - سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ : { إِنَّ اَللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ , فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ } رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَالْأَرْبَعَةُ 1 إِلَّا النَّسَائِيَّ , وَحَسَّنَهُ أَحْمَدُ وَاَلتِّرْمِذِيُّ , وَقَوَّاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ , وَابْنُ اَلْجَارُودِ 2 .1 - صحيح . رواه أحمد (5 67) ، وأبو داود ( 3565 ) ، والترمذي ( 2120 ) ، وابن ماجه (2713 ) ، وابن الجارود ( 949 ) ، واقتصر ابن الجارود وابن ماجه على ما ذكره الحافظ ، وزاد الباقون : " [ الولد للفراش ، وللعاهر الحجر ، وحسابهم على الله ، ومن ادعى إلى غير أبيه ، أو انتمى إلى غير مواليه ، فعليه لعنة الله التابعة إلى يوم القيامة ] . لا تنفق امرأة من بيت زوجها إلا بإذن زوجها . قيل : يا رسول الله ! ولا الطعام ؟ . قال : ذلك أفضل أموالنا . ثم قال : العارية مؤداة . والمنحة مردودة . والدين مقضي . والزعيم غارم " . والزيادة لأحمد والترمذي . قلت : وسنده حسن ؛ إلا أن الجملة التي ذكرها الحافظ صحيحة لشواهدها الكثيرة . وقال الترمذي : " حديث حسن صحيح ".2 - منكر . رواه الدارقطني ( 4 /98 و 152 ) بسند ضعيف ، بل أعله الحافظ نفسه في " التلخيص " ( 3 / 62 / رقم 1370 ) . قلت : وسبب النكارة هذه الزيادة : " إلا أن يشاء الورثة " فقد ورد الحديث عن جماعة من الصحابة دون هذه الزيادة فلم ترد إلا بهذا الإسناد الضعيف . بل الحديث جاء عن ابن عباس نفسه بسند حسن . رواه الدارقطني ( 4 / 98 ) بدون هذه الزيادة ، بل وحسن الحافظ نفسه إسناده من الطريق التي ليست فيها الزيادة فقال في " التلخيص " ( 3 / 62 / رقم 1369 ) أثناء تخريجه لحديث : " لا وصية لوارث " . " رواه الدارقطني من حديث ابن عباس بسند حسن " . ومن راجع " التلخيص" عرف صواب صنيع الحافظ هناك ، وأيضا عرف وهمه هنا رحمه الله ".
Atas wewenang Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu - aku mendengar Rasulullah - semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian - bersabda: {Sesungguhnya Allah telah memberikan haknya kepada setiap orang, maka tidak ada wasiat. Kepada ahli waris} Diriwayatkan oleh Ahmad, dan keempatnya 1 kecuali Al-Nasa’i, dan digolongkan hasan oleh Ahmad dan Al-Tirmidzi, serta Ibnu Khuzaymah dan Ibnu Al-Jaroud 2.1 - Sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (5 67), Abu Dawud (3565), Al-Tirmidzi (2120), Ibnu Majah (2713), dan Ibnu Al-Jaroud (949). Ibnu Al-Jaroud dan Ibnu Majah membatasi diri pada apa yang disebutkan Al-Hafiz, dan selebihnya menambahkan: “[ Anak itu untuk tempat tidur, dan pezina harus dirajam, dan perhitungannya ada di sisi Tuhan, dan siapa pun yang mengaku milik orang lain selain ayahnya, atau milik orang lain selain kliennya, maka laknat Allah akan menimpanya sampai hari kiamat.] Seorang wanita tidak boleh menafkahkan dari rumah suaminya kecuali dengan izinnya. Suaminya. Dikatakan: Wahai Rasulullah! Atau makanannya? Dia berkata: Itu adalah kekayaan kami yang terbaik. Lalu dia berkata: Pinjaman itu akan dilunasi. Hadiah itu akan dikembalikan. Hutangnya akan dilunasi. Dan pemimpinnya akan terlilit hutang. Penambahannya oleh Ahmad dan Al-Tirmidzi. Saya berkata: Rantai penularannya baik, hanya saja kalimat yang disebutkan Al-Hafiz itu benar karena banyak dalilnya. Al-Tirmidzi berkata: “Hadits yang baik dan shahih.” 2 - Munkar. Diriwayatkan oleh Al-Daraqutni (4/98 dan 152) dengan rantai penularan yang lemah. Sebaliknya, Al-Hafiz sendiri menyatakannya dalam “Al-Talkhees” (3/62/No. 1370). Saya berkata: Alasan penolakannya adalah tambahan ini: “Kecuali jika ahli waris menghendaki.” Hadits tersebut diriwayatkan dari sekelompok sahabat tanpa tambahan tersebut, dan tidak disebutkan kecuali dengan rantai penularan yang lemah ini. Sebaliknya, hadis tersebut berasal dari Ibnu Abbas sendiri dengan rantai penularan yang baik. Diriwayatkan oleh Al-Daraqutni (4/98) tanpa adanya penambahan tersebut, bahkan Al-Hafiz sendiri menyempurnakan mata rantai penularannya dari jalur yang tidak ada penambahan tersebut, sehingga beliau bersabda dalam “Al-Talkhees” (3/62/) No. 1369) seraya menilai haditsnya: “Tidak ada wasiat bagi ahli waris.” Diriwayatkan oleh Al-Daraqutni, dari hadits Ibnu Abbas dengan rantai penularan yang baik. “Dan siapa pun yang mengulas “Al-Talkhis” akan mengetahui kebenaran tindakan Al-Hafiz di sana, dan juga mengetahui kesalahannya di sini, semoga Tuhan mengasihani dia.”
Diriwayatkan oleh
Abu 'Umamah al-Bahili (RA)
Sumber
Bulughul Maram # 7/961
Kategori
Bab 7: Bab 7