Jami at-Tirmidzi — Hadis #26221
Hadis #26221
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، قَالَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي حَاجِبٍ، عَنْ رَجُلٍ، مِنْ بَنِي غِفَارٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ فَضْلِ طَهُورِ الْمَرْأَةِ . قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ . قَالَ أَبُو عِيسَى وَكَرِهَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ الْوُضُوءَ بِفَضْلِ طَهُورِ الْمَرْأَةِ . وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ كَرِهَا فَضْلَ طَهُورِهَا وَلَمْ يَرَيَا بِفَضْلِ سُؤْرِهَا بَأْسًا .
Mahmoud bin Ghaylan meriwayatkan kepada kami, katanya, Waki’ meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Sufyan, atas wewenang Sulaiman al-Taymi, atas wewenang Abu Hajib, atas wewenang seorang laki-laki, dari Bani Ghifar, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW, melarang keutamaan bersuci seorang wanita. Katanya, dan dalam bab tentang kekuasaan Abdullah bin Sargis. Abu Issa berkata, “Beberapa orang tidak menyukainya.” Para ahli hukum menganggap wudhu sebagai hasil bersucinya seorang wanita. Inilah pendapat Ahmad dan Ishaq: Beliau tidak menyukai akibat bersucinya dan tidak menganggapnya sebagai akibat puasanya. Sangat buruk...
Diriwayatkan oleh
Abu Hajib (RA)
Sumber
Jami at-Tirmidzi # 1/63
Tingkat
Sahih
Kategori
Bab 1: Bersuci