Jami at-Tirmidzi — Hadis #26998
Hadis #26998
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ نُبَيْهِ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ أَرَادَ ابْنُ مَعْمَرٍ أَنْ يُنْكِحَ، ابْنَهُ فَبَعَثَنِي إِلَى أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ وَهُوَ أَمِيرُ الْمَوْسِمِ بِمَكَّةَ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ إِنَّ أَخَاكَ يُرِيدُ أَنْ يُنْكِحَ ابْنَهُ فَأَحَبَّ أَنْ يُشْهِدَكَ ذَلِكَ . قَالَ لاَ أُرَاهُ إِلاَّ أَعْرَابِيًّا جَافِيًا إِنَّ الْمُحْرِمَ لاَ يَنْكِحُ وَلاَ يُنْكِحُ . أَوْ كَمَا قَالَ ثُمَّ حَدَّثَ عَنْ عُثْمَانَ مِثْلَهُ يَرْفَعُهُ . وَفِي الْبَابِ عَنْ أَبِي رَافِعٍ وَمَيْمُونَةَ . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عُثْمَانَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنْهُمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَابْنُ عُمَرَ وَهُوَ قَوْلُ بَعْضِ فُقَهَاءِ التَّابِعِينَ وَبِهِ يَقُولُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ لاَ يَرَوْنَ أَنْ يَتَزَوَّجَ الْمُحْرِمُ قَالُوا فَإِنْ نَكَحَ فَنِكَاحُهُ بَاطِلٌ .
Ahmad ibn Mani` meriwayatkan kepada kami, Ismail ibn Ulayyah meriwayatkan kepada kami, Ayyub meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Nafi`, atas wewenang Nabih ibn Wahb, dia berkata, Arad Ibnu Muammar ingin menikahkan putranya, maka dia mengutus aku kepada Aban bin Utsman, yang merupakan pangeran musim di Mekkah, maka aku mendatanginya dan berkata, “Adikmu ingin menikah.” Putranya Jadi dia ingin kamu menyaksikannya. Dia berkata, "Saya tidak melihatnya sebagai orang Badui yang vulgar. Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah atau dikawinkan." Atau seperti yang dia katakan, lalu dia berbicara tentang Utsman yang mirip dengannya. Dia mengangkatnya. Dan mengenai pokoknya, berdasarkan wewenang Abu Rafi’ dan Maymunah. Abu Issa mengatakan, hadis Utsman adalah hadis yang baik dan shahih. Dan pekerjaannya Hal ini menurut sebagian sahabat Nabi SAW, antara lain Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Umar, dan demikianlah pendapat sebagian ahli hukum Tabi’in. Inilah yang dikatakan oleh Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq: Mereka tidak berpendapat bahwa orang yang ihram harus menikah. Mereka berkata, “Jika dia menikah, maka pernikahannya tidak sah.” .
Diriwayatkan oleh
Nubaih bin Wahb (RA)
Sumber
Jami at-Tirmidzi # 9/840
Tingkat
Sahih
Kategori
Bab 9: Haji