Jami at-Tirmidzi — Hadis #26885
Hadis #26885
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، وَقُتَيْبَةُ، قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلاَقَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُقَبِّلُ فِي شَهْرِ الصَّوْمِ . قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَحَفْصَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَنَسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَائِشَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَغَيْرِهِمْ فِي الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ فَرَخَّصَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي الْقُبْلَةِ لِلشَّيْخِ وَلَمْ يُرَخِّصُوا لِلشَّابِّ مَخَافَةَ أَنْ لاَ يَسْلَمَ لَهُ صَوْمُهُ وَالْمُبَاشَرَةُ عِنْدَهُمْ أَشَدُّ . وَقَدْ قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْقُبْلَةُ تَنْقُصُ الأَجْرَ وَلاَ تُفْطِرُ الصَّائِمَ . وَرَأَوْا أَنَّ لِلصَّائِمِ إِذَا مَلَكَ نَفْسَهُ أَنْ يُقَبِّلَ وَإِذَا لَمْ يَأْمَنْ عَلَى نَفْسِهِ تَرَكَ الْقُبْلَةَ لِيَسْلَمَ لَهُ صَوْمُهُ . وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَالشَّافِعِيِّ .
Hanad dan Qutaibah meriwayatkan kepada kami, mereka berkata, Abu Al-Ahwas meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Ziyad bin Ulaqah, atas wewenang Amr bin Maymun, atas wewenang Aisyah, bahwa Nabi Muhammad SAW, beliau biasa berciuman pada bulan puasa. Katanya, atas wewenang Umar bin al-Khattab, Hafsa, Abu Sa`id, Ummu Salamah, dan Ibnu Abbas. Anas dan Abu Hurairah. Abu Issa mengatakan bahwa hadits Aisyah merupakan hadits yang hasan dan shahih. Para ulama di antara para sahabat Nabi, semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian, berbeda pendapat. Dan ada pula yang mengubah arah kiblat orang yang berpuasa. Beberapa sahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam memberikan izin kiblat diberikan kepada orang tua, namun mereka tidak memberikan izin kepada orang muda. Karena takut puasanya tidak akan melindunginya, dan kontak langsung dengan mereka akan lebih buruk. Sebagian ulama mengatakan bahwa kiblat mengurangi pahala dan tidak membatalkan puasa orang yang berpuasa. Mereka percaya bahwa jika orang yang berpuasa mempunyai hak untuk mencium dirinya sendiri, dan jika dia tidak merasa aman dengan dirinya sendiri, maka dia harus meninggalkan ciuman itu agar aman baginya. Puasanya... Demikian perkataan Sufyan Al-Thawri dan Al-Syafi’i.
Diriwayatkan oleh
Aisyah (RA)
Sumber
Jami at-Tirmidzi # 8/727
Tingkat
Sahih
Kategori
Bab 8: Puasa