Jami at-Tirmidzi — Hadis #26925
Hadis #26925
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ، قَالاَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ غَيْلاَنَ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ بِمَنْ صَامَ الدَّهْرَ قَالَ " لاَ صَامَ وَلاَ أَفْطَرَ " . أَوْ " لَمْ يَصُمْ وَلَمْ يُفْطِرْ " . وَفِي الْبَابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ وَأَبِي مُوسَى . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي قَتَادَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ . وَقَدْ كَرِهَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ صِيَامَ الدَّهْرِ وَأَجَازَهُ قَوْمٌ آخَرُونَ وَقَالُوا إِنَّمَا يَكُونُ صِيَامُ الدَّهْرِ إِذَا لَمْ يُفْطِرْ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الأَضْحَى وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَمَنْ أَفْطَرَ هَذِهِ الأَيَّامَ فَقَدْ خَرَجَ مِنْ حَدِّ الْكَرَاهِيَةِ وَلاَ يَكُونُ قَدْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ . هَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ . وَقَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ نَحْوًا مِنْ هَذَا وَقَالاَ لاَ يَجِبُ أَنْ يُفْطِرَ أَيَّامًا غَيْرَ هَذِهِ الْخَمْسَةِ الأَيَّامِ الَّتِي نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْهَا يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الأَضْحَى وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ .
Qutaibah dan Ahmad bin Abdah al-Dhabi meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Zayd meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Ghaylan bin Jarir, atas wewenang Abdullah bin Ma’abad, atas wewenang Abu Qatada, dikatakan, Ya Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang berpuasa lama lalu berkata, “Dia tidak berpuasa dan tidak membatalkan puasanya.” Atau, “Dia tidak berpuasa dan tidak membatalkan puasanya.” Dan mengenai hal tersebut, berdasarkan wewenang Abdullah bin Amr, Abdullah bin Al-Shakheer, Imran bin Husain, dan Abu Musa. Abu Issa mengatakan hadis Abu Qatada Sebuah hadis yang baik. Sebagian ulama tidak menyukai puasa harian, namun ada pula yang mengijinkannya dan berkata, “Puasa seumur hidup hanya sah jika tidak. Dia berbuka pada hari Fitri, hari Al-Adha, dan hari Tashreeq. Barangsiapa yang berbuka pada hari-hari tersebut, maka ia telah lolos dari batas kebencian dan belum berpuasa. Untuk selama-lamanya. Demikianlah diriwayatkan dari Malik bin Anas dan pendapat Syafi’i. Ahmad dan Ishaq mengatakan hal seperti ini dan mengatakan tidak wajib. Itu Hendaknya ia berbuka pada hari-hari selain lima hari yang diharamkan oleh Rasulullah SAW: pada hari Fitri, hari Al-Adha, dan hari Tashriq.
Diriwayatkan oleh
Abu Qatadah (RA)
Sumber
Jami at-Tirmidzi # 8/767
Tingkat
Sahih
Kategori
Bab 8: Puasa