Jami at-Tirmidzi — Hadis #26963

Hadis #26963
حَدَّثَنَا بِذَلِكَ، قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، وَعَمْرَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، ‏.‏ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا اعْتَكَفَ الرَّجُلُ أَنْ لاَ يَخْرُجَ مِنِ اعْتِكَافِهِ إِلاَّ لِحَاجَةِ الإِنْسَانِ وَاجْتَمَعُوا عَلَى هَذَا أَنَّهُ يَخْرُجُ لِقَضَاءِ حَاجَتِهِ لِلْغَائِطِ وَالْبَوْلِ ‏.‏ ثُمَّ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي عِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَشُهُودِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَازَةِ لِلْمُعْتَكِفِ فَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَغَيْرِهِمْ أَنْ يَعُودَ الْمَرِيضَ وَيُشَيِّعَ الْجَنَازَةَ وَيَشْهَدَ الْجُمُعَةَ إِذَا اشْتَرَطَ ذَلِكَ ‏.‏ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ ‏.‏ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ لَهُ أَنْ يَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذَا وَرَأَوْا لِلْمُعْتَكِفِ إِذَا كَانَ فِي مِصْرٍ يُجَمَّعُ فِيهِ أَنْ لاَ يَعْتَكِفَ إِلاَّ فِي مَسْجِدِ الْجَامِعِ لأَنَّهُمْ كَرِهُوا الْخُرُوجَ لَهُ مِنْ مُعْتَكَفِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ وَلَمْ يَرَوْا لَهُ أَنْ يَتْرُكَ الْجُمُعَةَ فَقَالُوا لاَ يَعْتَكِفُ إِلاَّ فِي مَسْجِدِ الْجَامِعِ حَتَّى لاَ يَحْتَاجُ إِلَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ مُعْتَكَفِهِ لِغَيْرِ قَضَاءِ حَاجَةِ الإِنْسَانِ لأَنَّ خُرُوجَهُ لِغَيْرِ قَضَاءِ حَاجَةِ الإِنْسَانِ قَطْعٌ عِنْدَهُمْ لِلاِعْتِكَافِ ‏.‏ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ ‏.‏ وَقَالَ أَحْمَدُ لاَ يَعُودُ الْمَرِيضَ وَلاَ يَتْبَعُ الْجَنَازَةَ عَلَى حَدِيثِ عَائِشَةَ ‏.‏ وَقَالَ إِسْحَاقُ إِنِ اشْتَرَطَ ذَلِكَ فَلَهُ أَنْ يَتْبَعَ الْجَنَازَةَ وَيَعُودَ الْمَرِيضَ ‏.‏
Qutaibah meriwayatkan hal ini kepada kami, Al-Layth bin Saad meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Ibnu Shihab, atas wewenang Urwa, dan Amra, atas wewenang Aisyah, dan mengerjakannya. Menurut para ahli ilmu, jika seseorang mengasingkan diri, maka ia tidak boleh meninggalkan khalwatnya kecuali untuk kepentingan manusia, dan mereka sepakat bahwa ia harus keluar untuk mengqadha hari khalwat tersebut. Kebutuhannya untuk buang air besar dan urin. Kemudian para ahli berselisih pendapat mengenai ziarah pasien dan saksi-saksi shalat Jumat serta pemakaman orang yang bertapa, maka beliau melihat ada sebagian orang yang berilmu di antara para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam dan ada pula yang meminta agar orang yang sakit itu kembali, menghadiri pemakaman, dan menghadiri shalat jumat, jika dia menghendakinya. Demikianlah perkataan Sufyan al-Thawri dan Ibnu al-Mubarak. Ada pula yang mengatakan bahwa ia tidak boleh melakukan hal-hal tersebut, dan mereka menyarankan agar orang yang berkhalifah, jika ia berada di Mesir tempat kumpul kumpul berjamaah, maka hendaknya ia tidak berkhalif kecuali di Masjid Jami’, karena mereka tidak menyukai dia keluar dari khutbahnya sampai hari Jumat, dan dia tidak melakukannya. Mereka beranggapan sebaiknya ia meninggalkan salat Jumat, sehingga mereka mengatakan agar ia tidak beritikaf kecuali di Masjid Jami’, agar ia tidak perlu meninggalkan khalwatnya untuk hal lain. Pemenuhan kebutuhan seseorang, karena melakukan apa pun selain memenuhi kebutuhan seseorang dianggap sebagai tanda keterasingan menurut mereka. Demikian pendapat Malik dan Syafi’i. Dan dia berkata Ahmad tidak menjenguk orang sakit atau mengikuti pemakaman, berdasarkan hadits Aisyah. Ishaq berkata, “Jika dia menghendaki hal itu, maka dia boleh mengikuti pemakamannya.” Pasien kembali...
Diriwayatkan oleh
That Was Narrated To Us By Quraibah
Sumber
Jami at-Tirmidzi # 8/805
Tingkat
Sahih - Agreed Upon
Kategori
Bab 8: Puasa
Hadis Sebelumnya Lihat Semua Hadis Hadis Berikutnya

Hadis Terkait