Jami at-Tirmidzi — Hadis #27267

Hadis #27267
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ الْيَتِيمَةُ تُسْتَأْمَرُ فِي نَفْسِهَا فَإِنْ صَمَتَتْ فَهُوَ إِذْنُهَا وَإِنْ أَبَتْ فَلاَ جَوَازَ عَلَيْهَا ‏"‏ ‏.‏ قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ أَبِي مُوسَى وَابْنِ عُمَرَ وَعَائِشَةَ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ ‏.‏ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي تَزْوِيجِ الْيَتِيمَةِ فَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الْيَتِيمَةَ إِذَا زُوِّجَتْ فَالنِّكَاحُ مَوْقُوفٌ حَتَّى تَبْلُغَ فَإِذَا بَلَغَتْ فَلَهَا الْخِيَارُ فِي إِجَازَةِ النِّكَاحِ أَوْ فَسْخِهِ ‏.‏ وَهُوَ قَوْلُ بَعْضِ التَّابِعِينَ وَغَيْرِهِمْ ‏.‏ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ يَجُوزُ نِكَاحُ الْيَتِيمَةِ حَتَّى تَبْلُغَ ‏.‏ وَلاَ يَجُوزُ الْخِيَارُ فِي النِّكَاحِ ‏.‏ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَالشَّافِعِيِّ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ‏.‏ وَقَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ إِذَا بَلَغَتِ الْيَتِيمَةُ تِسْعَ سِنِينَ فَزُوِّجَتْ فَرَضِيَتْ فَالنِّكَاحُ جَائِزٌ وَلاَ خِيَارَ لَهَا إِذَا أَدْرَكَتْ ‏.‏ وَاحْتَجَّا بِحَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَنَى بِهَا وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ ‏.‏ وَقَدْ قَالَتْ عَائِشَةُ إِذَا بَلَغَتِ الْجَارِيَةُ تِسْعَ سِنِينَ فَهِيَ امْرَأَةٌ ‏.‏
Qutaibah meriwayatkan kepada kami, Abd al-Aziz bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Muhammad bin Amr, atas wewenang Abu Salamah, atas wewenang Abu Hurairah, Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, bersabda: “Wanita yatim piatu itu diangkat menjadi wali atas dirinya, dan jika dia diam maka itu izinnya, tetapi jika dia menolak maka tidak boleh baginya.” Dia berkata, dan dalam bab ini Atas wewenang Abu Musa, Ibnu Umar dan Aisha. Abu Issa mengatakan hadits Abu Hurairah adalah hadits hasan. Para ahli berbeda pendapat mengenai pernikahan anak yatim piatu. Sebagian ulama berpendapat bahwa jika seorang anak yatim dikawinkan, maka perkawinannya ditangguhkan sampai ia mencapai baligh. Jika dia mencapai masa pubertas, dia mempunyai pilihan untuk mengambil cuti. Pernikahan atau pembatalannya. Demikian pendapat sebagian Tabi’in dan sebagian lainnya. Ada pula yang berpendapat bahwa tidak boleh mengawini anak yatim piatu sebelum ia baligh. Pilihannya diperbolehkan dalam pernikahan. Demikian pendapat Sufyan al-Thawri, al-Syafi’i, dan ulama lainnya. Ahmad dan Ishaq berkata, jika Apabila seorang anak yatim telah mencapai umur sembilan tahun, maka dia telah menikah dan dia menerimanya, maka pernikahan itu boleh, dan dia tidak mempunyai pilihan lain jika dia menyadarinya. Mereka menggunakan hadits Aisyah sebagai bukti: Nabi Muhammad SAW melakukan hubungan intim dengannya ketika dia berusia sembilan tahun. Aisha berkata, “Jika seorang budak perempuan mencapai usia sembilan tahun, maka dia adalah seorang wanita.”
Diriwayatkan oleh
Abu Hurairah (RA)
Sumber
Jami at-Tirmidzi # 11/1109
Tingkat
Hasan Sahih
Kategori
Bab 11: Pernikahan
Hadis Sebelumnya Lihat Semua Hadis Hadis Berikutnya

Hadis Terkait