Jami at-Tirmidzi — Hadis #27275
Hadis #27275
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " أَيُّمَا رَجُلٍ نَكَحَ امْرَأَةً فَدَخَلَ بِهَا فَلاَ يَحِلُّ لَهُ نِكَاحُ ابْنَتِهَا فَإِنْ لَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا فَلْيَنْكِحِ ابْنَتَهَا وَأَيُّمَا رَجُلٍ نَكَحَ امْرَأَةً فَدَخَلَ بِهَا أَوْ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا فَلاَ يَحِلُّ لَهُ نِكَاحُ أُمِّهَا " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لاَ يَصِحُّ مِنْ قِبَلِ إِسْنَادِهِ وَإِنَّمَا رَوَاهُ ابْنُ لَهِيعَةَ وَالْمُثَنَّى بْنُ الصَّبَّاحِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ . وَالْمُثَنَّى بْنُ الصَّبَّاحِ وَابْنُ لَهِيعَةَ يُضَعَّفَانِ فِي الْحَدِيثِ . وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ امْرَأَةً ثُمَّ طَلَّقَهَا قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا حَلَّ لَهُ أَنْ يَنْكِحَ ابْنَتَهَا وَإِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الاِبْنَةَ فَطَلَّقَهَا قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا لَمْ يَحِلَّ لَهُ نِكَاحُ أُمِّهَا لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى (وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ ) وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ .
Qutaibah meriwayatkan kepada kami, Ibnu Lahi’ah meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Amr bin Shuaib, atas wewenang bapaknya, atas wewenang kakeknya, bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa laki-laki yang menyetubuhinya, jika ia menyetubuhi seorang wanita, maka tidak boleh baginya mengawini anak perempuannya, jika ia belum pernah menyetubuhinya, maka ia boleh mengawini putrinya. Baik dia menyetubuhinya atau tidak, maka dia tidak boleh mengawini ibunya.” Abu Issa berkata: Hadits ini tidak shahih berdasarkan rantai penularannya, melainkan diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah dan Al-Muthanna bin Al-Sabbah atas wewenang Amr bin Shuaib. Al-Muthanna bin Al-Sabbah dan Ibnu Lahi’ah digandakan dalam hadits. Hal ini ditindaklanjuti menurut sebagian besar orang yang berilmu. Mereka bersabda: Jika seorang laki-laki mengawini seorang perempuan kemudian menceraikannya sebelum melakukan hubungan intim dengannya, maka dia boleh mengawini anak perempuannya, dan jika laki-laki itu mengawini anak perempuannya lalu menceraikannya sebelum melakukan hubungan badan dengannya, maka dia tidak boleh mengawini ibunya, sesuai dengan firman Tuhan Yang Maha Esa. (Dan ibu-ibu istrimu) Demikianlah perkataan Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq.
Diriwayatkan oleh
Amr Ibn Shuayb
Sumber
Jami at-Tirmidzi # 11/1117
Tingkat
Daif
Kategori
Bab 11: Pernikahan