Jami at-Tirmidzi — Hadis #26362
Hadis #26362
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْمُهَاجِرِ، عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ، قَالَ خَرَجَ رَجُلٌ مِنَ الْمَسْجِدِ بَعْدَ مَا أُذِّنَ فِيهِ بِالْعَصْرِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم . قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَابِ عَنْ عُثْمَانَ . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَعَلَى هَذَا الْعَمَلُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَمَنْ بَعْدَهُمْ أَنْ لاَ يَخْرُجَ أَحَدٌ مِنَ الْمَسْجِدِ بَعْدَ الأَذَانِ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ أَنْ يَكُونَ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ أَوْ أَمْرٌ لاَ بُدَّ مِنْهُ . وَيُرْوَى عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ أَنَّهُ قَالَ يَخْرُجُ مَا لَمْ يَأْخُذِ الْمُؤَذِّنُ فِي الإِقَامَةِ . قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا عِنْدَنَا لِمَنْ لَهُ عُذْرٌ فِي الْخُرُوجِ مِنْهُ . وَأَبُو الشَّعْثَاءِ اسْمُهُ سُلَيْمُ بْنُ أَسْوَدَ وَهُوَ وَالِدُ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ . وَقَدْ رَوَى أَشْعَثُ بْنُ أَبِي الشَّعْثَاءِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِيهِ .
Hanad meriwayatkan kepada kami, Waki’ meriwayatkan kepada kami, atas wewenang Sufyan, atas wewenang Ibrahim bin Al-Muhajir, atas wewenang Abu Al-Sha’atha’, yang mengatakan: Seorang laki-laki keluar dari masjid setelah... Adzan dikumandangkan di dalamnya, dan Abu Hurairah berkata, “Orang ini telah mendurhakai Abu al-Qasim, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian.” Kata Abu Issa, dan pada bab tentang kekuasaan Usman. Abu Issa berkata: Hadits Abu Hurairah adalah hadits yang hasan dan shahih. Inilah amalan menurut ahli ilmu di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW, dan orang-orang setelah mereka. Bahwa tidak seorang pun boleh meninggalkan masjid setelah azan, kecuali ada alasan seperti tidak berwudhu atau ada keperluan. Hal ini diriwayatkan. Dari hadis Ibrahim Al-Nakha’i bahwa beliau bersabda, “Dia akan pergi kecuali muazin itu mengambil tempat tinggalnya.” Abu Issa berkata, “Dan ini menurut kami, untuk seseorang yang mempunyai alasan untuk… Keluar darinya. Abu Al-Sha’atha’ bernama Sulaim bin Aswad, dan dia adalah ayah dari Asy’ath bin Abi Al-Sha’atha. Ash’ath bin Abi meriwayatkan pembicaraan shaggy tentang ayahnya ini.
Diriwayatkan oleh
Abu al-Sha'tha' (RA)
Sumber
Jami at-Tirmidzi # 2/204
Tingkat
Hasan Sahih
Kategori
Bab 2: Shalat